
Semua menu kesukaan Luna sudah tertata di meja makan, tak lupa steak dan sup teratai yang aromanya sangat menggiurkan. Mark yang duduk memimpin, sementara Luna berada di sisi kanannya serta beberapa orang pelayan juga berdiri di sana.
“ Bagaimana ya caranya bisa membalas si tuan muda ini, sebentar lagi kami akan jadi suami istri tapi aku masih saja sering di buat kesal. Rasanya aku ingin sekali menggigitnya.” Gumam Luna sambil menatap Mark dengan kesal.
“ Kenapa kau menatapku? Apa aku terlihat lebih menggoda dari pada makanannya?”
“ Huh..” Luna mengalihkan pandangannya. Dia mengambil pisau dan garfunya, lalu memotong steak daging dengan kesal serta gumam-gumam kecilnya.
“ Lihat saja, di lain kesempatan aku pasti akan membalasmu Mark Rendra. Aku harus belajar bermulut manis sepertimu. Tapi.. darimana aku bisa belajar hal seperti itu?” Luna menghentikan gerak tangannya yang memotong, lalu melirik Mark yang sudah makan dengan tenang.
“ Ada apa?” Mark tiba-tiba juga menatapnya.
“ Huh..” Luna kembali memalingkan wajahnya.
“ Kalau aku bisa membalasnya aku pasti akan merayakannya. Aku harus bekerja keras untuk bisa membalasnya." Sambil memasukkan potongan daging ke mulutnya.
“ Steaknya enak sekali.” Tiba-tiba bersemangat.
“ Eh keceplosan.” Luna memejamkan matanya sejenak karena malu.
Tapi pujian dari Luna tentu saja pembuat para koki yang masih berdiri tersenyum senang. Karena hal ini menandakan mereka pasti akan mendapatkan bayaran yang lebih tinggi.
“ Aku pasti sudah gila, bisa-bisanya keceplosan dengan kalimat itu? memangnya selama ini aku tidak pernah makan steak seenak ini ya? aish.. memalukan.” Lanjut dengan potongan kedua, dia berusaha untuk santai seperti tidak ada kejadian.
“ Eh.. tapi tunggu dulu. Rasanya steak ini tidak asing.” Luna menginyahnya dengan pelan sambil mengingat-ingat.
“ Sirlon Steak dan Mushroom Sauce.” Mark menggantung kalimatnya, lalu menatap Luna.
“ Aaa.. aku ingat. Waktu di kereta gantung. Tapi apakah kau membawa kokinya kemari?” Luna menoleh pada 5 orang koki pria yang sedang berdiri dengan rapi.
“ Humm..”
“ Ke kenapa kau melakukan itu?” dengan sedikit terbata-bata.
“ Karena kau menyukainya. Waktu itu kau terlihat lahab memakannya.” Jelasnya dengan polos.
“ Ya ampunn..” Luna memukul keningnya pusing. Dia menaruh pisau dan garfunya, lalu pergi begitu saja. Entah kenapa dia terlihat tidak senang.
Mark juga meletakkan pisau dan garfunya. Dia mengusap kening.
Suasana menjadi tegang pelayan dan para koki menundukkan kepala dengan khawatir. apakah ini bertanda buruk untuk mereka?. Meskipun Luna mengakui bahwa masakan itu enak, tapi melihat situasi ini, rasanya sangat tidak menguntungkan.
***
Luna menelusuri Villa, dia melangkah kemana saja kakinya hendak melangkah. Sepenjang jalan dia terus menggerutu.
“ Kenapa dia selalu seenaknya? Ternyata sifat asli ini sulit di rubah ya? masih sama seperti saat pertama kali bertemu, egois. Membawa koki seprofesional itu ke Villa yang jarang di tempati. Sementara restoran itu pasti lebih membutuhkan mereka atau... bagaimana jika restoran itu menggantungkan nasibnya pada keahlian 5 orang koki tadi. Aaaa.. kan kasihan. Dasar calon suami egois, memangnya jika kaya bisa seenaknya.”
“ Sayang kau berani mengumpatiku? ”
“ Hah..” Luna langsung berbalik badan dan melihat Mark yang berdiri tak jauh darinya.
“ Kau kenapa mengikutiku?” berbalik kembali dan berjalan dengan cepat. Di depannya Luna melihat pancuran air yang indah dan di sana juga ada bangku untuk bersantai.
“ Kali ini kau mau bicara apa padaku? kau pasti tidak tahu dimana salahmu kan?”
__ADS_1
“ Aku bisa jelaskan.”
“ Jika begitu coba katakan, sebagai seorang pebisnis kau lebih paham dengan ini. Kenapa kau mengambil SDM dari restoran itu.?” Luna duduk, dengan melipat tangan di dadanya. ekspresinya sangat kesal. Begitupun Mark juga duduk di sampingnya.
“ Luna kenapa sekarang kau menjadi pemarah 10x lipat dari biasanya? Bukankah tadi pagi kau baru saja berjanji pada ayahku untuk menjagaku dan selalu mencintaiku.” Dangan nada memelas.
“ Mark Rendra.. kau jangan mengalihkan pembicaraan.”
“ Baiklah, aku menjelaskannya. Tapi kamu harus membayarnya setelah ini, karena telah mengumpati calon suamimu yang budiman ini.”
“ Budiman apanya ? Sudah jelas jahat.”
“ Jahat? Akan ku tunjukkan apa itu jahat.” Duduk lebih dekat.
“ Mark kau bahkan belum menjelaskannya, sudah mau menghukumku saja.” Sambil mendorong.
“ Ooo.. jadi setelah aku menjelaskannya, aku boleh menghukummu?”
“ Jika memang kau tidak salah.” Sambil memalingkan wajahnya.
“ Kau pasti akan menyesal Luna.”
“ Katakan saja, jangan banyak bicara!”
“ Jika aku bilang restoran itu milikku, bagaimana?”
“ Hah?” Luna terkejut hingga menelan ludahnya.
“ Aaaa.. apa aku mencari masalah untuk diriku sendiri? kenapa aku tidak sampai berfikiran seperti itu?."
“ Apa kau meragukan perkataan calon suamimu ini?”
Luna terdiam, dia memutar otaknya, harus bisa mencari ide untuk tetap bisa menjawab.
“ Tapi meskipun itu restoranmu, tetap saja kau menyusahkan manager restoran tersebut. kau membawa koki mereka, bagaimana mereka bisa mencari koki yang sama hebatnya.” berusaha untuk terlihat tidak bersalah.
“ Luna .. memangnya kau pikir cuma mereka koki yang ada di restoran itu?”
“ Ya walau bagaimanapun kau telah telah menyusahlan mereka, karena kau mereka harus bekerja 2x lipat lebih extra cepat.” Sambil melirik khawatir.
“ Luna jangan bicara emang kosong, aku rasa kau tidak sebodoh ini.”
Tiba Luna mendekat dan memegangi tangan Mark, lalu tersenyum cerah bak matahari.
“ Ok ok aku salah. Sekarang aku minta maaf” sambil mengusapkan tangan Mark ke pipinya.
“ Setidaknya dengan begini kau tidak akan menghukumku kan? Lihatlah sekarang aku menjadi anak kucing yang imut untukmu. Kau senangkan?” gumamnya dengan percaya diri.
“ Sayang apa kau ingin menggodaku sebelum pernikahan kita.”
“ Hah? Apa maksudnya?” merasa malu sendiri.
“ Maaf sayang, aku tidak tahu jika kau tidak suka seperti ini.” sambil meletakkan kembali tangan Mark dengan pelan.
“ Sayang jika begitu aku masuk dulu ya, hembusan anginnya dingin.” sambil mengusap kedua lengannya, lalu berdiri. Dia ingin segera kabur dari situasi canggung ini.
__ADS_1
‘ sreet..’ Mark menahan tangan Luna.
“ Selangkah saja jalan. Lihatlah, aku sunggah akan menghukummu.”
“ Dasar sial, aku memang selalu jadi orang yang di tindas di sini. Calon suamiku sendiri sangat suka menindasku. Papa juga begitu. Huhu.. mama tolonglah putrimu yang malang ini.”
“ Duduk di sini!” sambil menepuk-nepuk bangku. Tanpa ada pilihan lain, Luna hanya bisa menurut, namun dia tetap berusaha tersenyum cerah pada Mark.
“ Kau belum menghabiskan makananmu, sudah main pergi saja. sayang kau tidak boleh kurus. Apa lagi besok akan bertemu ibu, ibu akan mengira aku menyiksamu.” Elus-elus lembut kepala Luna.
“ Mark aku tidak makan sekali, tidak akan kurus. Dasar suami bodoh.” sambil tertawa.
“ Lihatlah, kau berani mengumpatiku, bahkan tak segan lagi di hadapanku.” Menarik Luna agar bersandar padanya. Kemudian dia lanjut mengelus dan memainkan rambut Luna.
“ Haha.. mau bagaimana lagi. Suamiku memang bodoh.”
“ Kau panggil aku apa?”
“ Pesta pernikahan kita cuma tinggal 6 hari lagi, panggil suami dari sekarang juga tidak dosakan?”
“ Belejar darimana?”
“ Belajar apanya?”
“ Bicara manis begini.”
“ Eh.. jadi seperti ini sudah bisa di bilang manis. Ok sekarang aku tahu strategi, baiklah Mark untuk selanjutnya aku yang akan membuat jantungmu copot.” penuh kebanggaan.
Luna mengangkat sedikit kepalanya untuk menatap Mark.
“ Belajar dari kamu suamiku.” Dengan senyum secerah mungkin.
“ Istri Mark Rendra memang pintar.” Sambil mencubit hidung Luna. Lunapun menyeringaikan senyum lembutnya.
“ Luna malam ini menginap di sini saja ya. Aku sudah menghubungi papa untuk minta izin. Dan besok pagi kita juga langsung berangkat dari sini ke desa Hemu.”
“ Baik suamiku.” Sambil tertawa.
“ Merasa aneh ya?”
“ Sedikit suamiku.” Masih tertawa
“ Haha.. panggil sayang saja, jika merasa aneh.”
“ Aku akan menggunakan keduanya. Bagaimana menurutmu suamiku sayang?” penuh percaya diri.
“ Boleh boleh. Terserah istriku sayang saja.”
Gelak tawa mereka langsung pecah.Kemudian mereka tetap lanjut dengan lelucon panggilan itu. Memainkan kalimat yang selalu di akhiri dengan "Suamiku sayang/Istriku sayang." sampai sampai keduanya terkekeh hingga memegangi perut karena lelucon yang mereka lakoni ini.
Di tengah gelak tawa itu, bayangan kehidupan rumah tangga yang hangat tergambar di pikiran mereka masing-masing.
Bersambung…
Jangan lupa likenya wahai Readers kuh... 😊
__ADS_1