
Di ruang tengah rumah keluarga Aliester, terlihat beberapa orang pengawal terkapar sudah tak sadarkan diri lagi di lantai.
Lalu di sudut lainnya juga terdapat para pengawal dan para pelayan yang masih sadarkan diri, tapi tangan dan kakinya di ikat dan mulut mereka di perban. Mereka semua duduk di lantai menyaksikan Nona dan Nyonya mereka yang masih belum sadarkan diri sedang di ikat di kursi.
Terlihat para pelayan wanita terutama bi Ina meraung menangis menyaksikan itu. Tapi apa daya mereka tidak bisa menolong. Tangan, kaki di ikat bahkan jerit tangis merekapun tak terdengar samak sekali. Hanya air mata mereka yang bercucuran dengan deras menyaksikan ini semua. Sementara di luar terdapat lebih banyak orang yang berjaga dari biasanya.
“ Tuan besar, Tuan muda tolonglah segera kembali. Tolong nyonya dan dan nona.” jerit hati bi Ina di sela air matanya yang terus bercucuran.
“ Hahaha bagus, bagus. Aku sangat puas dengan kerja kalian.” Hyena muncul sambil bertepuk tangan. Tawa itu jelas terdengar sangat puas. Lalu setelah itu muncul pelayan Zhaon dan 2 orang pengawal yang biasa bekerja untuk keluarga Aliester mengikuti Hyena dari belakang.
“ Apa?” para pelayan dan pengawal yang di ikat tampak ribut, tak percaya dengan apa yang mereka lihat. Zhaon dan 2 orang pengawal tersebut terlihat santai, bahkan dia juga ikut tersenyum licik.
“ Apa-apaan ini. Jadi mereka berkhianat?”
BI Ina menggertakkan giginya di balik perban yang menutupi mulutnya, tangannya mencengkram erat tali pengikatnya.
“ Zhaon, kamu berpenampilan polos sehingga nona dan lainnya percaya padamu. Tapi ternyata kamu adalah penghianat. Sampai matipun aku tidak akan pernah memaafkan kalian bertiga.”
Bi Ina mengutuk tiga orang penghianat tersebut. Tatapan matanya nanar dan sangat merah.
“ Huh,” tatapan Hyena terfokus pada bi Ina yang memandang pelayan Zhaon dan dua orang pengawal di belakangnya.
“ Bi Ina, apa anda sangat marah sekarang? humm?.” Ucap Hyena penuh ejekan. Bi Ina langsung menoleh pada Hyena, wanita yang sempat dia layani. Dia menatap Hyena dengan penuh kebencian, dengan sorot mata tajam, serta kulitnya yang sudah keriput itu memerah.
“ Berani sekali melototiku.” Hyena terlihat kesal dan tak terima di pelototi oleh kepala pelayan yang sudah tua itu.
“ Zhaon buka perban wanita tua ini. sepertinya begitu banyak yang ingin dia sampaikan padaku.”
“ Baik nona.” Zhaon mendekati bi Ina dan menarik perban di mulut bi Ina denga kasar. Sehingga bi Ina terlihat menahan sakit.
“ Zhaon beraninya kau mengkhianati nona.” itulah kalimat pertama yang di ucapkan bi Ina, dengan sorot mata yang penuh kemarahan pada Zhaon.
“ Itu bukan urusan anda bi ina.” Jawab pelayan Zhaon, yang masih terlihat kaku dan menundukkan kepalanya.
“ Haha.. Zhaon, bukankah sudah ku ajari agar kamu lebih berani, saat berbicara dengan musuhmu. Kenapa sangat susah sekali mengajarimu.” Hyena tergelak, lalu dia duduk di kursi yang sudah di sediakan oleh orangnya. Duduk tepat di depan Luna dan nyonya Aliester yang masih belum sadarkan diri. Tapi dia mengubah arahnya menghadap kumpulan pelayan dan pengawal yang di ikat.
“ Maaf nona, saya masih belum terbiasa. Ke depannya saya akan belejar lebih keras lagi.”
“ Cih, kalian memang 2 orang wanita ular. Tidak berprasaan dan tidak tau terimakasih. Ingatlah Hyena, dulu tuan dan nyonya membawamu kemari dan menganggapmu sebagi anaknya sendiri. Serta nona juga selalu menganggapmu sebagai sahabat baiknya. Tapi kau malah melakukan hal tidak bermoral untuk kedua kalinya.” Suara bi Ina terdengar sangat lantang.
“ Dan kau Zhaon, bukankah tuan Muda yang mempekerjakanmu? Dia mempercayakan nona padamu untuk menggantikanku. Selama ini nona selalu memperlakukanmu dengan baik, tapi kenapa kau menjadi wanita tidak berterimakasih begini? Apa yang kau inginkan hah?”
Hyena memandangi Zhaon seolah memberikan perintah. Pelayan Zhaon berjalan mendekati bi Ina, menunduk untuk menatap lekat lalu dia menampar bi Ina dengan keras. Sehingga semua pelayan dan pengawal berteriak di balik perban mereka.
__ADS_1
“ Zhaon..” teriak bi Ina semakin tidak percaya.
“ Bi Ina, mulai sekarang aku bukan Zhaon yang lemah lembut dan polos lagi. Bi Ina bisa membuang pandangan itu terhadapku.” Pelayan Zhaon memegangi dagu bi Ina lalu mencengkramnya dengan kuat.
“ Bi Ina, kau sudah tua. Jangan buang-buang tenaga lagi hanya untuk menangisi hal tidak berguna ini.” lalu dia memasang kembali perban di mulut bi Ina.
Bi Ina berusaha meronta, belum puas mengeluarkan semua kemarahannya, 2 orang pengawal pria itu saja belum dia katai. Tapi apa daya mulut wanita tua itu sudah di tutup dengan rapat. Sekarang dia hanya bisa memaki dengan sorot matanya.
Tampak seringai senyum puas di bibir Hyena menyaksikan aksi Zhaon. Merasa cukup puas telah bisa mempengaruhi dan mengajari pelayan yang polos ini.
Hyena berdiri, lalu dengan cepat pengawal membalikkan kursinya menghadap Luna dan nyonya Aliester. Dengan seringai liciknya, Hyena kembali duduk.
“ Barapa banyak obat yang kau berikan untuk mereka Zhaon?”
“ Tidak banyak nona.” jawab pelayan Zhaon cepat.
“ Baiklah. Jika begitu ambil air dan siram mereka.”
“ Baik nona.” Pelayan Zhaon, dan satu orang pengawal langsung bergegas untuk mengambil air di dapur.
Dua menit kemudian pelayan Zhaon dan pengawal tersebut kembali dengan membawa air di ember masing-masing.
“ Ini nona.” ucapnya sambil menyerahkan.
Sontak semua pengawal dan pelayan di sudut sana gelisah, menjerit tapi tak bersuara. Meminta untuk tidak melakukan itu.
Hyena menoleh, dia malah semakin puas melihat reaksi heboh pengawal dan pelayan yang setia itu.
“ Ayo lakukan.” Printah Hyena lagi.” Bukankah akan sangat menyenangkan bisa menghukum mantan nona dan nyonya kalian." suaranya sangat jelas memprovokasi semua orang.
“ Baik nona.”
Dengan tanpa ragu-ragu, Zhaon dan pengawal tersebut langsung menyiram dengan kasar. Sementara pelayan wanita kecuali bi Ina langsung menunduk. Tidak sanggup melihat adegan ini, tidak tega melihat majikannya di siksa. Lagi-lagi air mata bi Ina mengalir di pipinya.
“ Huk huk “ Luna dan Nyonya Aliester terbatuk-batuk. Terlihat masih belum sadar seutuhnya. Tapi beberapa saat dia baru sadar, ketika merasa tangan mereka di ikat ke belakang.
Dengan cepat Luna langsung menoleh pada Hyena yang tepat di depannya.
“ Ka kamu,” suara Luna terdengar bergetar, ekspresi wajahnya penuh dengan ketidakpercayaan.
“ Selamat berjumpa kembali Luna Aliester.” Ucapnya dengan tersenyum.
Luna tampak menggertakkan giginya, tapi dia langsung menoleh pada mamanya yang masih terbatuk. “ Ma, mama tidak apa-apakan?” . Nyonya Aliester hanya menganggukkan kepalanya, belum bisa bicara karena masih batuk.
__ADS_1
“ Hey kalian, ambilkan air untuk mamaku.” Teriak Luna, sambil menoleh kedepan.
Duaraarrtt. Langit seolah bergemuruh, ketika tatapannya bertemu dengan Zhaon, dan selanjutnya 2 orang pengawal yang sangat dia kenali.
“ Kalian?” suara Luna terdengar bergetar kembal, hingga Luna menundukkan kepalanya.
“ Aku mohon, ambilkan air untuk mamaku.” Ucap Luna pelan. Lagi-lagi dia menerima pengkhianatan. Sakit ini sungguh menyakitkan.
“ Haha.. kau sangat terkejut? haha aku sangat suka ekspresi itu. Zhaon bawakanlah air, tapi air dari kran. Kasihan nyonya Aliester yang mulai menua ini.” Hyena tampak puas dengan tontonan dan ini.
“ Baik nona.” pelayan Zhaon pergi bergegas. Lalu saat dia kembali dia langsung memberikannya bahkan membantu nyonya Aliester untuk minum.
“ Siapa yang menyuruhmu membantunya minum?” bentak Hyena yang membuat pelayan Zhaon terperanjak.
“ Maafkan saya nona.” dia menarik kembali gelas itu yang belum sempat di cicipi oleh nyonya Aliester.
Dengan gelagat angkuhnya Hyena megulurkan tangan meminta gelas itu pada pelayan Zhaon dan dengan cepat pelayan Zhaon menyerahkan.
“ Ini nona.”
“ Huh, aku tidak akan memberinya dengan mudah.” sambil menatap Luna dengan seringai senyum licik.
“ Tante mau minumkan, mendekatlah!” sambil mengulurkan dengan memberi jarak kira-kira 30cm dari nyonya Aliester. Nyonya Aliester hanya memandangi Hyena dengat sorot mata membunuhnya, meski dia masih berdehem-dehem untuk menetralkan tenggorakannya yang masih gatal.
“ Hyena apa maumu sekarang? apa kau benar-benar ingin membunuh keluargaku?” Luna menatap tajam Hyena. Begitupun Hyena yang tadinya memandangi nyonya Aliester, juga langsung menatap Luna dengan tajam. Cukup lama meraka saling menatap tajam, seolah berperang dengan tatapan itu. Lalu tiba-tiba Hyena tersenyum saat dia mendengar suara mobil dari luar.
“ Luna, kau jangan pernah meragukan kemampuanku. Jika dulu aku menyiksamu di tempatku. Sekarang lihatlah aku menyiksamu di rumahmu yang banyak menyimpan kenangan. Bahkan kenanganku juga ada di sini. Oleh karena itu, untuk semakin hikmatnya mengenang masa lalu, alangkah baiknya menyambut orang ini.”
Hyena menjentikkan jarinya. Lalu pengawal membuka pintu dan dari sana muncullah sosok tuan Aliester yang sedang di todong dengan senjata kepalanya oleh pria yang menggunakan penutup kepala.
“ suamiku.”
“ Papa.”
“ Tuan.”
Ucap Luna dan nyonya Aliester bersamaan dengan ekspresi yang sangat terkejut. Begitupun dengan pengawal dan pelayan juga tampak sangat terkejut.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung..