TUAN MUDA AKU BENCI KAMU

TUAN MUDA AKU BENCI KAMU
S2 TEMAN LAMA


__ADS_3

Mark dan Luna sudah berada di toko peralatan Lukis. Beberapa kotak cat juga sudah tertumpuk di meja kasir.


“Sayang, sungguh hanya membeli cat saja?” tanya Mark memastikan.


“Iya sayang.” Jawab Luna dengan senyum. Lalu dia kembali menoleh pada wanita yang sedang menghitung belanjaannya.


Luna memperhatikan nametag karyawan tersebut. “Kian,” gumamnya, saat membaca nametag tersebut. Luna tampak ingin bertanya, tapi terhenti karena seseorang memanggilnya.


“Luna?”


“Hah?” Luna langsung menoleh pada sumber suara. Tampak seorang wanita yang baru keluar dari ruang khusus toko tersebut. Beberapa detik menoleh, Luna dan wanita itu langsung sumbringah. Saling mendekat dan berpelukan.


“Ya ampun.. ini sudah lama sekali. Kau semakin cantik saja.” Puji wanita tersebut.


“Jangan berlebihan Lily. Aku baru saja ingin menanyaimu pada karyawanmu. Tiba-tiba kamu datang, jodoh sekali.” sambil tertawa.


“Benarkah? Aku juga tiba-tiba ingin mengunjungi toko hari ini. Ternyata pertemuan ini yang menuntunku ke sini. hihi..” terang Lily dengan sekilas dia melirik Mark yang mendekati mereka.


“Luna, itu suamimu kan? Wah.. aku tidak menyangka aku akan bertemu langsung dengan pebisnis global hari ini.” bisik Lily dengan antusias.


Luna tersenyum, menoleh pada Mark yang sudah berdiri di sampingnya.


“Sayang, kenalkan ini temanku Lily.”


“Mark, saya suami Luna.” mengulurkan tangan yang di sambut dengan antusiaas oleh Lily.


“Lily. Mantan team pameran Luna.” senyum-senyum manis dengan binar mata bahagianya.


Mark merasa risih dengan Lily yang seperti megidolakannya. Dengan senyum dan anggukan kecil, Mark segera menarik tangannya yang masih di pegangi Lily.


“Senang bertemu dengan anda nona Lily.” Ujarnya ramah.


“Saya lebih senang tuan. Ini sungguh hari keberuntungan.”


“Ya ampun.. ramah sekali. Jadi presdir EDDEN yang dingin dan kejam itu hanya rumor ya. beruntung sekali bisa bicara dan memegang tangannya. Saat pesta pernikahan mereka, aku hanya bisa melihat dari kejauhan.”


Bisik panjang dalam hati Lily. Tangan kirinya terus mengusap tangan kanannya yang tadi bersalaman dengan Mark. Berharga sekali sentuhan tadi.


Luna tersenyum rada kesal karena Lily terus memandangi suaminya. Tidak salah juga Lily demikian, karena Lily memang di kenal pemuja pria tampan. Salah suaminya yang terlalu tampan, pikirnya.


“Lily, bagaimana kita ke café sebelah untuk berbincang. Aku rindu dengan semua team. Ingin tau kabar mereka.” Luna berusaha membuayarkan pandangan Lily pada suaminya.

__ADS_1


“Boleh.” Jawabnya singkat dengan tatapan yang tidak teralihkan. Masih memandangi siluet wajah Mark, membuat Luna pusing hingga menepuk jidatnya.


“Hah?” Lily tiba-tiba tersadar. Dia membualatkan matanya.


“Ya Ampun.. dia suami temanku sendiri. Mana boleh seperti ini.” plak, dia menampar pipinya sendiri. Tentu saja hal itu membuat Mark dan Luna terkejut seketika.


“Maafkan aku Luna, maafkan aku tuan.” Pinta Lily sambil menangkupkan kedua tangannya. Dia benar-benar merasa tidak sopan.


Luan terkejut, kemudian tergelak mendengar perkataan Lily. Lepas control hingga menampar pipinya sendiri. Kasihan sekali, bekas tamparan itu memerah di pipi Lily. Dia benar-benar menamparnya dengan keras.


“Ya ampun.. kamu benar-benar tidak sayang diri sendiri ya. Kenapa menamparnya dengan keras.” Usap-usap pipi Lily dengan lembut.


“Tidak apa-apa.” mengulum senyum dan menundukkan wajahmya.


“Ya jika tidak di tampar dengan keras. Jiwa ini tidak akan sadar. Salah siapa punya suami mempesona begini, sungguh membuatku lepas kendali saja. hihi.”


“Oh iya, kamu ke sini membeli apa?” mengangkat kepalanya, kembali menatap Luna.


“Aku membeli beberapa cat minyak.”


“Belanjaan anda sudah selesai di hitung nona.” panggil kasir bersamaan.


Luna menganggukkan kepalanya dengan senyum, kemudian dia lanjut berbincang dengan Lily sambil menuju tempat duduk yang tersedia, agar berbincang lebih nyaman.


“Luna, banyak hal yang tejadi setelah kamu tidak bergabung lagi.” wajah Lily terlihat murung. Gurat kesedihan terukir di sana.


“Maksudmu apa Lily? Bicaralah lebih jelas.” tatap Luna menyelidik. Dia memang tidak mengetahui apapun lagi tentang team pamerannya, setelah Mark datang dengan mengancam kehidupannya waktu itu.


Lily membuang nafasnya kasar, besiap membuka mulut untuk bercerita. Namun tiba-tiba Lily mendapat panggilan dari kakeknya, menyuruhnya untuk segera pulang. Hingga akhirnya tidak ada pembicaraan lebih lanjut lagi. Tampaknya panggilan itu sangat penting, kerena setelah menerima panggilan, Lily langsung pamitan pada Luna.


“Sayang sekali, padahal aku sangat ingin berbincang denganmu.” Memeluk sayang Luna dan beranjak pergi dengan langkah sedikit berat.


3 langkah kepergiannya, Lily berbalik badan. “Bye-bye.” Ujarnya pada Luna sambil melambaikan tangan. Luna tersenyum hangat, mengangguk dan juga melambaikan tangannya. Lily tersenyum, berbalik badan dan melangkah cepat.


“Apa yang terjadi dengan team?” bisik hati Luna dengan masih memandangi Lilly yang sekarang memasuki mobil. dia merasa tidak tenang mengingat bagaimana murungnya ekspresi Lily tadi.


“Ada apa sayang? Kenapa temanmu terlihat buru-buru.” Tanya Mark yang sudah selesai urusan di kasir menghampiri Luna.


“Tidak tau sayang,” menggelengkan kepalanya lemas. “Lilly mendapat telvon dari kakeknya dan segera bergegas pergi.” masih menatap mobil Lily yang sudah menjauh.


Mark memandangi Luna yang menghembuskan nafasnya perlahan. Luna bangkit dengan senyum menghadap Mark.

__ADS_1


“ Sudahkan sayang. Ayo pergi.” ajak Luna sambil menggandeng tangan sang suami.


Luna dan Mark menuju mobil dengan diam. Begitu banyak tanya di hati Luna mengenai teamnya. Tentu saja Mark menyadari kegundahan istrinya, namun tidak ingin bertanya. Dia memberikan ruang untuk Luna bergelut dengan pikirannya itu sejenak.


Di dalam mobil yang sudah melaju Luna masih tampak murung, sesekali dia berdecis meyangkal argument antara hati dan pikirannya mengenai kemungkinan kabar buruk teamnya.


Wall we chat yang sedari tadi dia buka belum dia ketik apapun. Ingin bertanya pada team lainnya, tapi tidak tau bagaimana cara memulainya. Dia sangat minim informasi, bagaimana jika pertanyaannya malah melukai temannya itu. Apalagi komukasi mereka terputus sudah lama, pasti sangat tidak sopan memulai komunikasi kembali dengan menyinggung masalah.


“Ada apa sayang?” Mark mulai membuka percakapan setelah merasa cukup memberi waktu untuk Luna berfikir.


“Entahlah. Aku merasa gelisah saja. Tadi Lily bilang jika banyak hal yang telah terjadi pada team pameran, dia bicara dengan ekspresi yang murung.” Terang Luna dengan mentap Mark, lalu beralih pandang pada ponselnya yang bergetar karena notifikasi. Mark terus memperhatikan dengan sesekali melirik Luna di sampingnya.


“Jangan berfikiran negative tentang ucapanku tadi Luna. Semuanya baik-baik saja. Aku akan menceritakan semuanya. 2 hari kita bertemu ya.” pesan dari Lily.


Luna menghembuskan nafasnya lega. Meski belum ada kejelasan di sini, namun dengan kalimat semuanya baik-baik saja, itu sangat menenangkan.


“Baiklah. Tentukan saja tempatnya.” Balas Luna yang diiringi dengan senyum saat mengirimnya.


“Hufft.. syukurlah,” sambil menoleh pada Mark yang meliriknya.


”Semuanya baik-baik saja sayang. Lily bilang akan menemuiku 2 hari lagi. Aku saja yang berfikir terlalu jauh.” Jelas Luna. Dia tahu bahwa Mark pasti menyadari kegudahannya tadi. Harus segera di tenangkan, apalagi Mark besok segera terbang ke Norwegia, dia tidak boleh mengganggu fokus suaminya untuk mengurus urusan di sana.


“Sungguh?” tanya Mark memastikan sambil mengusap pipi Luna.


“Iya sayang, Lily baru saja mengirimi ku pesan.” Meraih tangan Mark yang memegangi pipinya, lalu menciumnya dengan lembut.


“Sayang bagaima sebelum pulang kita jalan-jalan ke Golden Resourse Ling Shopping Mall? Rindu dengan proyek pertamaku yang sekarang sudah menjadi pusat perbelanjaan terkenal.” ajak Luna semangat.


“Ok, aku akan menghubungi manager Jae.”


“Untuk apa sayang?” tanya Luna bingung, sambil memperhati Mark yang sudah melakukan panggilan pada manager Jae.


“Menyuruh dia untuk mengosongkan pelanggan. Agar kita lebih leluasa berbelanja.” Ucap Mark dengan polosnya.


“Apa?” Luna dengan segara memutuskan panggilan manager Jae yang baru saja tersambung. Membuat manager Jae yang berada di seberang sana bingung. Baru hendak berucap tapi sudah di tutup kembali.


“A-apa yang terjadi?” gumamnya bingung. “Aku tidak melakukan kesalahankan?” mengingat apa saja yang telah dia lakukan. Manager Jae melihat ponselnya kembali, apakah benar ini atasannya yang menelvon. “ Benar, ini presdir.” Sambil mengerjabkan matanya beberapa kali.


Bersambung....


Maaf kemaren gak up tanpa pemberitahuan ya kakak. Maklum, Lebaran pada sibuk nih hehe...

__ADS_1


__ADS_2