
“Apa mama sehebat ini mengetahui kehamilanku?”
Hati Luna dipenuhi rasa was-was.
Nyonya Aliester tersenyum lembut. “Ini sebulan lebih.” Tuturnya dengan tawa ringan, membuat Luna semakin bingung.
“Mama sudah mengingatnya. Sudah sebulan lebih sejak bulan madu kalian.”
“Huufftt...” Luna bernapas lega dan memejamkan matanya. Dia ingin mamanya ikut merasakan sensasi kejutan makan malam besok.
“Apa belum ada perkembangan sayang?” lanjut nyonya Aliester.
Luna menggeleng. Tidak enak hati sebenarnya.
“Tidak apa-apa. Kalian masih muda, nikmati saja dulu.”
Luna bergeming. Hatinya terenyuh.
Luna membuka matanya kembali, mengusap punggung tangan nyonya Aliester yang masih di perutnya.
“Ma, jika Luna hamil mama mau cucu laki-laki atau perempuan?” tanyanya dengan senyum ceria.
“Mama terserah saja, yang terpenting kamu dan bayimu sehat.”
“Aku akan selalu menjaga diriku ma.”
Nyonya Aliester tertawa gemas melihat Luna yang bermanja.
“Baiklah, sekarang kita tidur.”
Luna mengangguk. Bangkit dari pangkuan sang mama.
“Good night sayang.” Elus dan cium di kening Luna.
“Too Mom.” Jawab Luna dengan mencium tangan nyonya Aliseter.
Mereka memejamkan matanya. Memulai dunia mimpi indah dengan senyum terukir di bibir.
***
“Sayang..” rengek Mark yang keluar dari dressroom. Kemeja dan dasinya berantakan. Sengaja, dia ingin mencari perhatian Luna yang sedari tadi tidak mengacuhkannya.
“Humm…” jawab Luna yang masih berbaring di ranjang. Tidak menoleh sama sekali, dia sibuk dengan ponselnya.
Mark mendekat, duduk di tepi ranjang. Memperlihatkan pakaiannya yang berantakan. Tapi sialnya, Luna tidak menoleh sama sekali.
“Sayang, apa tidak akan mengurusku?” tanyanya kecewa.
“Hari ini aku lelah, Mark. Sendiri saja ya, lagian sebelumnya kamu bisa mengurus diri sendiri.” Masih sibuk melihat layar ponsel. Tangan satunya mengusap pelipisnya. Kepalanya memang terasa berat.
Mark menahan geram, dia berdiri dengan gelagat merajuk.
“Dasar istri tidak peka. Aku baru seminggu meninggalkannya, tapi perubahannya sangat drastis.”
Mark merapikan dirinya sendiri di depan kaca. Hati dan pikirannya penuh dengan ocehan kesalnya.
Luna mengintip. Tawa tertahan melihat Mark yang sangat kesal. Rencananya akan sekses besar malam nanti.
“Sreet..” dasi robek karena Mark memasangnya dengan gerakan asal dan kuat.
“Aish… dasar dasi payah.” Gerutunya sambil melepsakan dan membuangnya sembarangan.
Mark menoleh pada Luna. Sial, Luna masih tidah mengacuhkannya.
“Hah, semuanya menyebalkan hari ini.” ucapnya menyindir Luna, tapi yang di sindir hanya diam seperti tidak ada kejadian.
“Ya, ya.. aku bisa urus diri sendiri.” sindirnya lagi. Berjalan menuju dresroom dengan sedikit mengintip Luna. Berharap akan ada tanggapan.
Nihil. Luna masih diam, bahkan sekarang dia bernyanyi kecil seolah tidak ada kejadian.
“Brack..” Mark menabrak pintu.
“Aish…” desah Mark mengusap kepalanya.
“Aku marah……” gumam Mark tertahan. Telinganya memerah karena saking kesalnya. Dia masuk ke dalam dressroom, membanting pintu kuat.
“Hahaha…” Luna tertawa puas, tapi cepat dia menutup mulutya kembali, Mark tiba-tiba menyembulkan kepalanya di balik pintu.
“Kau tertawa?” tanya Mark.
“Aku? Tidak.” Jawab Luna santai. Memiringkan badannya agar raut wajahnya tidak terlihat oleh Mark. Dia menahan tawa.
“Cih,” Mark kembali membanting pintu.
“Oh God, lucu sekali. Kasihan papa ya sayang. Humm.. Sabar, hanya beberapa jam lagi.”
Luna mengelus perutnya dengan senyum.
Di sisi lain tuan Aliester juga sibuk mengurus dirinya. Istrinya tidak tahu kemana, tidak ada kembali ke kamar sedari tadi.
Hari ini ada rapat besar di kantor. Tuan Aliester sebagai otoritas pengarah ikut hadir. Presdir Lixing masih atas nama Mark Rendra dan saham atas nama Luna Aliester yang hanya di ketahui beberapa orang saja.
“Apa benar-benar akan membiarkaku seperti ini? baiklah, sepertinya aku harus melakukan sesuatu agar kamu memohon padaku.” seringai licik di bibirnya.
Tuan Aliester selesai merapikan diri. Dia mengambil ponsel dan melakukan panggilan.
“Li bekukan semua kartu nyonya.”
“Hah?” Li di seberang sana sangat heran.
“Kau tidak mendengarkaku?” bentak tuan Aliester.
“I-iya tuan. Segera saya lakukan.”
Tuan Aliester menyeringai senyum licik saat mengakhiri panggilan.
***
“Ma kenapa papa dan Mark belum pulang?” Luna cemas sambil melirik jam tangannya.
Ini sudah pukul 5 sore. Berdasarkan informasi yang Luna dapatkan dari Rangga, seharusnya Mark dan papanya tidak ada kesibukan lagi di kantor.
“Tenang saja. Sebentar lagi pasti pulang.” Nyonya Aliester menenangkan.
Luna mengangguk, “Yang itu langsung saja bawa ke kamarku. Selebihnya ke kamar mama.” Perintah Luna pada pengawal yang membawa beberapa bagpaper.
“Baik Nona.”
Luna dan Nyonya Aliester baru saja pulang dari Shopping untuk membeli dresscode yang akan mereka kenakan untuk kejutan nanti.
“Sayang kamu lebih baik istirahat sebentar sekarang. Mama akan ke dapur mengecek menu yang sudah di siapkan.”
“Humm.. baik ma.” Luna patuh, dia mengekor pada pengawal yang sudah menaiki tangga.
“Ma,” Luna menghentikan langkahnya.
“Iya sayang. Ada apa?”
“Nanti minta bi Ina untuk mengantarkan potongan buah ke kamar ya.” Luna tersenyum kecil.
“Baik sayang. Istirahatlah.”
Luna melanjutkan langkahnya dan nyonya Aliester segera menuju dapur.
“Bagaimana bi Ina. Apa semuanya sudah siap?” tanya Nyonya Aliester pada bi Ina yang mengawasi para koki yang memasak.
“Semuanya dalam pengerjaan nyonya.” Bi Ina menunduk memberi hormat. Begitupun yang lainnya ikut memberi hormat.
“Taman dan kolam renang bagaimana?”
“Sudah siap nyonya.”
Nyonya Aliester mengangguk paham. “Bi Ina, tolong antarkan beberapa potongan buah ke kamar Luna. Aku akan mengecek tempat.”
“Baik nyonya.”
Nyonya Aliester mengusap bahu bi Ina, kemudian berlalu pergi menuju taman kolam. Mereka akan mengadakan makan malam di sini. Tempat terbuka di bawah taburan bintang yang menghiasi langit malam. Itulah yang di deskripsikan Luna pada nyonya Aliester.
“Semoga saja nanti malam ada bintang.”
Gumam nyonya Aliester saat menatap semuanya sudah tertata rapi di sana.
***
“Kenapa lama?” tanya Luna sambil membantu Mark melepaskan jas. Mark terdiam. Heran saja, tadi pagi istrinya sangat tidak peduli. Lalu sekarang kembali seperti semula, melayaninya.
“Mark..” geram Luna, karena Mark tidak menjawab.
“Hah,” Mark tersadar. Tersenyum menatap Luna yang sekarang sedang melepaskan dasinya.
“Tadi ada sedikit urusan.”
Kening Luna berkerut. Tadi dia menghubungi Rangga, dia bilang Mark dan papanya sudah dalam perjalanan pulang. Tapi nyatanya, papanya lebih dulu sampai di rumah, sedangkan Mark datang 45 menit setelahnya. Dan tidak biasanya juga Mark pulang tanpa diantarkan oleh Rangga.
“Urusan apa?”
__ADS_1
Hanya terucap di hati Luna. Tidak di suarakan, karena takut hal ini akan membuatnya kesal. Emosinya tidak stabil, takutnya malah berdampak untuk kejutan nanti.
“Humm.. baiklah, sekarang mandilah. Aku sudah menyiapkan air hangat, dan air rendaman. Mandi sedikit lama tidak apa-apa.” senyum dan berbalik badan untuk pergi.
“Grabb…” Mark menarik Luna dalam dekapannya. Memeluknya dari belakang. Seperti biasa yang dia lakukan.
“Luna, aku sangat merindukanmu.” Dara napas Mark yang yang berbau mint menyapu pipi Luna.
Jantung Luna berdesir, tapi perutnya tidak enak mencium aroma parfum Mark yang sangat menyengat di indra penciumannya. Padahal dulu dia sangat menyukai aroma tubuh suaminya ini, bahkan kadang di sengaja berlama-lama bermanja sebelum menyuruh Mark mandi.
“Sayang lepaskan. Mandi sana, kamu bau tau tidak.” Ronta Luna berusaha melepaskan diri.
“Kenapa? biasanya juga seperti ini.” masih memeluk erat.
“Iya, tapi sekarang kamu bau.” Kening Mark berkerut. Dia mengendus mencium aroma tubuhnya.
“Tidak bau. Masih seperti biasa.”
“Aku bilang bau, ya bau.” Meronta lebih kuat.
“Oke, oke.” Mark melepaskan pelukannya, mengangkat tangan diantara bahu tanda menyerah. “Aku mandi sekarang.” berjalan mundur memasuki kamar mandi.
Luna tersenyum puas. Dia segera bersiap-siap dan meletakkan pakain yang akan di kenakan Mark di atas ranjang. Luna mengenakan dress hitam kali ini, entah kenapa dia menginginkan warna ini. Begitupun dengan Stelan Mark juga dengan warna senada.
“Selesai.” sambil memperhatikan hasil riasan tipisnya di cermin.
“Krackk” pintu kamar mandi terbuka. Luna menoleh menatap Mark yang bingung melihatnya sudah rapi.
“Mau kemana?”
“Makan malam.”
“Dengan siapa? Kenapa aku tidak tau?” tanya Mark tidak senang.
“Siapa lagi, kalau bukan dengan kamu.” mendekati Mark yang semakin bingung. “Sayang, jangan hanya mematung. Ayo kenakan bajumu. Nanti kemalaman.” Menarik Mark.
“Kita makan malam dimana?” Mark masih bingung.
“Dimana-mana hati ku senang.” Ketus Luna. “Kenakan ini.” mengulurkan stelan yang sudah dia siapkan.
“Sayang…” menggerakkan tangannya yang memegang stelan jas, karena Mark malah dia menatapnya.
Mark mengedipkan matanya.
“Ayo!” Luna mengarahkan matanya pada stelan jas yang sedari tadi menggantung di tangannya.
Mark mengambilnya dengan gerak pelan, dia mengenakannya serta di bantu Luna saat mengancingkan kemejanya.
“Dia aneh lagi sekarang. Apa Luna kemasukan roh? Sifatnya berubah-ubah. Sekarang baik, nanti hal kejam apa lagi yang akan dia lakukan padaku?”
Memperhatikan wajah ceria Luna yang sekarang memasangkan jas untuknya.
“Tampan..” puji Luna, sambil menyapu bahu kiri kanan Mark.
“Kenapa sayang?” tanya Luna saat melihat Mark yang hanya diam memperhatikannya. “Sayang..” melambaikan tangannya di depan mata Mark.
“Hah? Apa sudah siap?” tanya Mark sedikit terkejut.
Luna mengangguk. ” Sekarang ayo kita ke bawah.”
“Eh, tunggu dulu.” Menahan tangan Luna yang menariknya keluar.
“Apa lagi?” menatap Mark yang mengarahkan pandangannya pada kakinya yang masih mengenakan sandal kamar.
Luna tertawa kecil. “Tidak apa-apa. Begini saja.” Menunjukkan kakinya yang juga hanya mengenakan sandal kelinci andalannya.
“Kamu serius?” Alis Mark terangkat.
“Ayo..” menarik tangan Mark kembali.
Mark mengusap pelipisnya frustasi. Ternyata inilah hal aneh selanjutnya. Mau taruh dimana wajahnya jika orang-orang melihatnya seperti ini. Stelan jas rapi, tapi di bawahnya menganakan sandal tidur, terlebih dengan hiasan kepala kelinci yang lucu.
“Sayang kamu kenapa aneh begini.” Protes Mark yang hentak menuruni tangga. Namun seketika dia melongo melihat kedua mertuanya juga sudah rapi di lantai dasar. Mereka juga mengenakan pakaian dengan warna senada.
“Mama sekarang sama ya gilanya dengan putri kita. Ingat ma, mama itu sudah tua jangan bertingkah aneh begini. Ini apa? sejak kapan sandal anak-anak begini kita gunakan” Protes panjang tuan Aliester sambil melepas dan menendang kesal sandal yang di kenakannya.
Tuan Aliester tidak terima dengan penampilannya rapinya di kacaukan dengan sandal kelinci yang aneh menurutnya.
Mark menoleh pada Luna, dimana Luna mengedipkan matanya. Sekarang dia pasrah saat Luna menggandeng tangannya mengajak ke bawah.
“Papa bilang mama tua? Enak saja, mama masih muda begini di bilang tua. Kulit mama masih kencang. Papa saja yang sudah tua.”
“Sudah, sudah jangan bertengkar lagi.” tegur Luna.
Tuan Aliester dan nyonya Aliester menoleh.
“Kenapa papa mentertawakan diri sendiri?” tuan Aliester lang berhenti mendengar kalimat Mark.
“Aku mentertawakanmu. Haha..”
“Itu sama saja mentertawakan diri sendiri. Lihatlah penampilan papa.”
“Hem hem..” tan Aliester berhenti. “Luna ini ide kamu?” menatap Luna menyelidik.
“Iya, memangnya kenapa?”
“Dasar anak-anak.”
“Sudah. Kamu kenapa hobi sekali berlawanan dengan putri kita.” memukul lengan tuan Aliester dengan sandal yang baru di di ambilnya.
“Mama..”
“Apa? ayo cepat kenakan. Mama sudah lapar. Ayo Luna, langsung saja.”
“Garang sekali. apa dia sudah tahu jika aku membekukan kartu-kartunya?”
“Kemana?” tanya Mark dan tuan Aliester serentak. Heran melihat dua wanita berjalan ke arah kolam.
“Melaut!!!! Ya makan malam ZHAN ALIESTER……” ucap nyonya Aliester geram.
“Pintu keluarnya di sana istriku tercinta. Apa karena semakin tua hingga pintu keluar saja kau sudah lupa?”
“Kita makan malam di taman kolam papaku sayang.” Mengedipkan matanya untuk memojokkan.
Mark dan tuan Aliester saling pandang. Cukup lega, karena menyelamatkannya dari tampilan sandal kelinci ini. Tapi kenapa harus mengenakan pakaian formal begini jika hanya makan di taman rumah?
“Ayo cepat. Kenapa malah melamun.” Tutur Luna yang sekarang sudah mengandeng Mark. Begitupun dengan mamanya yang sudah menggandeng papanya.
Dua pria itu patuh seperti anak kecil. Teka-teki di kepala masing-masing.
“Apa ini?” Mark meoleh pada Luna. Heran melihat meja yang hanya berisikan hiasan lilin dan bunga mawar merah.
“Clap.” Lampu sorot kolam menyala saat Luna bertepuk tangan sekali. kolam di hiasi dengan lilin aroma terapi dan taburan kelopak bunga mawar.
“Ooouw..” decak tuan Aliester membulatkan bibirnya.
“Ayo duduk.” Ajak Luna. “Bagaimana?” tanya Luna menatap papa dan suaminya.
Seperti pengharapan bintang bertabur megah di langit, menambah rasa kehangatan di relung hati Luna.
“Apanya yang bagaimana? Katanya mau makan malam, tapi mana menunya?” protes tuan Aliester.
Luna tersenyum, menggenggam tanga Mark dengan lembut. “Ada apa sebenarnya?” tanya Mark.
生日快乐,亲爱的。
Shēngrì kuàilè, qīn'ài de
Selamat ulang tahun, sayang.
Mark terkejut. matanya membulat sempurna. Ini pertama kalinya setelah sekian lama tidak menerima hal semacam ini. Sejak usia 7 tahun, Mark tidak pernah menginginkan kalimat ini, apalagi merayakannya. Sama sekali tidak pernah terbesit di hatinya.
祝你生日快乐
(zhù nǐ shēng rì kuài lè)
Happy Birthday to You
祝你生日快乐
(zhù nǐ shēng rì kuài lè)
Happy Birthday to You
祝你幸福, 祝你健康
(zhù nǐ xìng fú, zhù nǐ jiàn kāng)
Here’s to your happiness, Here’s to your good health
祝你前途光明
(zhù nǐ qián tú guāng míng)
May your future be bright
__ADS_1
祝你生日快乐
(zhù nǐ shēng rì kuài lè)
Happy Birthday to You
祝你生日快乐
(zhù nǐ shēng rì kuài lè)
Happy Birthday to You
祝你幸福, 祝你健康
(zhù nǐ xìng fú, zhù nǐ jiàn kāng)
Here’s to your happiness, Here’s to your good health
有个温暖家庭
(yǒu gè wēn nuǎn jiā tíng)
Here’s to your family.
Suara nyanyian dari para pelayan dan pengawal yang membawakan kue tar putih dengan hiasan strawberry menggoda.
Luna, Nyonya Alister dan Tuan Aliester otomatis ikut bernyanyi. Meski Mark tidak suka perayaan, tapi kali ini dia cukup bahagia melihat Luna yang tersenyum bahagia saat mengambil alih kue dari tangan bi Ina.
“Tiup lilinnya, tiup lilinya..” Mark segera meniup lilin.
“Kenapa tiba-tiba?” bisik tuan Aliester pada istrinya.
Nyonya Alister mengangkat bahu, “Luna yang menginginkan.”
“Selamat ulang tahun sayang.” Memeluk Mark setelah meletakkan kue di meja. Tepuk tangan pecah oleh pelayan dan pengawal.
“Semoga panjang umur, sehat dan semakin tampan.” Tutur Luna yang membuat orang-orang tersenyum.
Mark mendengus senyum, mengurai rambut Luna dengan usapan lembutnya Luna yang sekarang sudah melepaskan pelukan.
“Selamat ulang tahun menantu.” Tuan Aliester mengedipkan mata.
“Selamat ulang tahun, Mark semoga kalian bahagia selalu.”
“Selamat ulang tahun tuan.” sambung pelayan dan pengawal bersamaan.
“Terimakasih pa, ma dan semuanya. Ini mengejutkan, setelah beberapa tahun tidak merayakannya.”
“Tapi apa kau suka?” tanya Luna penasaran.
“Humm.. aku suka. Aku suka melewati apapun asalkan bersamamu. Sepertinya mengingat usia semakin bertambah bersama tidak buruk. Ini akan menjadikanku untuk selalu menambah cintaku padamu setiap waktunya.” Mencium sayang tangan Luna.
Luna tersipu, wajahnya memerah.
“Kriyuuuk..” perut tuan Aliester berbunyi membuat semua orang menoleh padanya.
“Lapar.. hehe.” Tuan Aliseter cengingisan. Orang-orang menahan tawa.
Bi Ina memberi kode pada pelayan dan pengawal. Waktunya meraka bubar, melaksanakn tugas selanjutnya.
“Ini kado dari mama. Maaf tidak seberapa.” Menyodorkan sebuah kotak berwarna Black mewah.
“Apapun aku suka ma. Tidak masalah soal harga.” Menerima kotak tersebut dan membukanya.
Mark tersenyum melihat isi kotak mewah itu berisikan Tie Clip aksesoris dasi yang super mewah ini keluaran terbaru dari merek terkanal.
“Terimakasih banyak ma, ini sangat berharga. Aku suka.” Langsung memasangkan ke dasi yang di bantu oleh Luna.
Tuan Aliester menoleh pada istrinya. Heran, dimana istrinya mendapatkan uang. Padahal dia sudah membekukan semua kartu milik istrinya.
“Apa? papa mau main-main ya sama mama. Berani membekukan kartu mama.” Sungut nyonya Aliester.
“Habis mama aneh. Lalu dapat uang dari mana?”
“Kartu papa.”
“Hah?” tuan Aliester terkejut dan langsung memeriksa dompetnya. Yah benar, satu kartu berkurang. Tidak di sangka dia kecolongan. Tuan Aliester hanay bisa pasrah melihat istrinya yang tersenyum penuh kemenangan.
“Aku juga punya sesuatu untukmu.” Ucap Luna yang langsung membuat orang menatapnya. Terutama tuan Aliester, dia penasaran apa kali ini yang berikan putrinya.
Luna sangat buruk dalam memilih kado, dia tidak tahu apa yang cocok untuk di berikan pada pria dan apa untuk wanita. Lebih tepatnya dia memberi kado sesuai apa yang dia suka, bukan apa yang di sukai oleh orang akan di beri hadiah.
Sebut saja saat perayaan ulang tahun pangeran Tris ketika masih sekolah dulu, dengan polosnya Luna menghadiahi bandana, baju tidur, sandal kamar pokoknya pernak-pernik dengan tema kelinci.
Haha.. sangat lucu mengingat hal itu.
“Apa?” sungut Luna pada papanya menatapnya seolah mengejek.
“Tidak ada. Lanjutlah!” tuan Aliester mempersilahkan.
Semua orang tidak sabar menunggu kejutan dari Luna. Lebih tepatnya tidak sabar untuk memecah tawa, membayangkan kekonyolan Luna.
Luna mengatur napasnya. Dia gugup. Luna menjentikkan jarinya, seorang pelayan datang membawakan sebuah kotak mewah berwarna gold dengan pita berwarna merah. Pelayan tersebut langsung undur diri saat Luna mengambil alih.
Tuan Aliester dan nyonya Aliester saling tatap. Putri mereka sudah ada perkembangan. Bisa memilih kado yang tepat sepertinya.
“Aku sangat bahagia bisa memberikan kado ini tepat di hari ulang tahunmu. Terimalah, ini adalah sebagian dari dirku.” Meletakkan di meja. Tepat di depan Mark.
Suasana menjadi sedikit tegang. Rasa penasaran yang kuat. Mark menatap kedua mertuanya, lalu berakhir pada Luna yang tersenyum sangat manis padanya.
Mark meraih kotak tersebut. Entah kenapa tangannya sedikit gemetaran. Semuanya gugup.
Perlahan Mark membukanya. Debar jantungnya semakin tidak karuan.
DAN…. SURPRISE….
Mata Mark membulat sempurna melihat testpack yang bergaris 2.
“Sayang?” menatap Luna dengan binar mata bahagianya. Luna mengangguk, dengan senyum yang sangat manis.
“Terimakasih sayang.” Mark Langsung memeluk Luna.
Nyonya Aliester dan tuan Aliester yang belum mengerti bengong manatap Mark yang menghujami Luna dengan ciuman.
“Pa, ma.. aku akan jadi ayah. Kalian punya cucu. Luna hamil, istriku hamil.” Air mata Mark menetes begitu saja. Sangat alami.
“Sungguh?” tuan Alister langsung meraih kotak yang ada meja.
“Ma, papa akan jadi kakek.”
“Mama jadi nenek.” Tuan Aliester juga saling berpelukan sangat bahagia. Air mata bahagia menetes tanpa disadari.
“Sayang, akhirnya kamu hadir di perut mama. Sehat-sehat ya sayang, akhirnya papa punya patner untuk melindungi mama.” Tutur Mark yang sekarang sudah menunduk mengelus dan mencium perut Luna yang masih rata.
Pelayan dan pengawal yang tidak jauh di sana ikut merasa bahagia mendengar hal yang membahagiakan ini.
“Ternyata saya tidak salah. Nona Luna benaran hamil.” Bi Ina mengusap air matanya.
Luna mengusap lembut rambut Mark yang masih sibuk mengajak calon bayi mereka berbicara. Lega dan bahagia menyatu melihat orang-orang terkasih menantikan kehamilannya ini. Tuan Aliester dan nyonya Aliseter bangkit dan ikut memeluk putri satu-satunya.
“Kriyuukk..” perut tuan Aliester kembali berbunyi.
“Bayi papa minta makan.” gurau nyonya Aliester yang sukses memecah tawa semua orang.
Sebuah tirai di sisi kanan terbuka. Di sana sudah tertata semua menu.
“Ayo kita makan dulu.” Ajak Luna. Semuanya mengangguk dan berpindah menuju meja makan.
Mark memperlakuakn Luna sangat lembut, dia menaruh semua menu kesukaan di piring Luna.
“Makan yang banyak sayang. Agar kamu dan bayi kita sehat.”
Luna tersenyum, lalu menerima makanan yang di suapkan oleh Mark. Aman.
“Aaa’..” Mark kembali memberikan suapan keduan. Luna menerimakanya , tapi kali ini dia merasa mual.
“Bau. Mengengat sekali. Hoek..”
“Sini sayang keluarkan saja.” tangan Mark menampung makanan yang di keluarkan kembali oleh Luna.
“Hah?” Tuan dan Nyonya Aliester terkejut melihat tindakan menantunya.
“Tidak apa-apa sayang.” Ucap Mark saat melihat Luna yang juga menatapnya heran.
Mark menaruh makanan yang di keluarkan Luna itu ke piring kosong, lalu me-lap bersih tangannya.
3 orang itu masih menatapnya tanpa berkedip. Bagaimana tidak? Biasanya orang jijik, tapi tidak dengan Mark yang terlihat enteng melakukannya.
“Sayag minum dulu.” Membantu Luna minum.
“Iya.” minum dengan tetap memandangi wajah Mark yang di hiasi senyum.
“Mark aku sangat mencintaimu.”
“Sayang, terimakasih telah membuahi sebagian diriku dalam tubuhmu. Aku sangat bahagia. Ini adalah kado terindah yang hanya akan ku terima darimu.”
__ADS_1
Bersambung....
Koment yang banyak dong kakak. Supaya aku semangat kembali untuk Up 😊