TUAN MUDA AKU BENCI KAMU

TUAN MUDA AKU BENCI KAMU
PELEPASAN RINDU YANG GAGAL


__ADS_3

Semuanya telah berkumpul di ruang tengah dan pelayan meyajikan minuman untuk mereka. Luna duduk di tengah-tengah orang tuanya, sementara Mark dan Rangga duduk di sofa single.


“ Sayang, sudah jangan menangis lagi” mama Luna mengusap air mata dan merapikan rambut putrinya dengan penuh kasih sayang.


Luna menganggukkan kepalanya dengan senyum, lalu dia memegangi dan mengusap tangan mamanya dengan lembut.


“ Terimakasih Mark sudah menjaga putri kami” Tuan Aliester memulai pembicaraan.


“ Sebenarnya ini tidak seperti yang om pikirkan. Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, awalnya saya juga telah banyak menyakiti Luna.”


Mendengar jawaban dari Mark, sontak Luna langsung menatap Mark. Dia tidak menyangka Mark akan mengakui bahwa dia pernah memperlakukannya dengan buruk.


“ Hahah..sudahlah ini semua sudah berlalu dan om paham dengan semuanya. Kamu benar-benar anak yang baik, hingga sekarang Luna bisa lebih dewasa dalam menghadapi masalah.”


Tuan Aliserter memandang wajah Luna.


“ Bagaimana menurutmu Luna?”


“ Untuk beberapa hal mungkin aku tidak akan melupakan hal buruk itu. Tapi untuk alasan yang lebih besar, itu merupakan pengalaman hidup yang luar biasa. Bagiku selama papa dan mama baik-baik saja, hal apapun itu tidak masalah untuk aku hadapi.” Jelas Luna sambil menatap Mark dengan dalam.


Tuan Aliester memperhatikan arah pandang putrinya, dia merasakan sesuatu. Dia memasang mimik wajah mencurigai.


“ Haha..sayang lihatlah! Putri kita semakin dewasa. Bukan hanya itu Mark bilang dia juga sudah bisa mengurus perusahaan.” Sambil mengusap kepala Luna dengan lembut, sementara arah pandang Luna masih tertuju pada Mark.


“ Putriku memang selalu luar biasa.” tegas mama Luna, lalu dia mencium tangan Luna dengan lembut.


“ Eh..” Luna tersadar, lalu dia menatap papa dan mamanya dengan senyum malu-malu.


“ Papa dan mama istirahatlah ke atas, pasti sangat melelahkan selama perjalanan. Luna sudah menyiapkan sesuatu untuk papa dan mama di kamar.”


“ Baiklah. Mark, Rangga beristirahatlah di sini” tawar tuan Aliester dengan ramah.


“ Tidak perlu Om. Aku dan Rangga ada hal yang harus di urus.”


“ Hah..apa maksudnya ini?” Luna merasa bingung dengan situasi ini.


Mama Luna menatap suaminya bingung, tapi suaminya malah mengedipkan mata seperti sebuah kode.


“ Jika begitu, kalian bergabunglah dengan kami saat makan malam nanti.” lanjut mamanya.


“ Baiklah tante.”


Luna semakin bingung, dia menatap kedua orang tuanya dan Mark. Dia berusaha untuk menganalisa percakapan mereka.


“ Sayang, mama dan papa ke atas dulu ya. Antar Mark dan Rangga ke depan.”


“ aah.. iya iya ma..” jawab Luna dengan bingung.


Papa dan mama Luna langsung berjalan menaiki tangga, mereka berjalan saling bergandengan dengan mesra. Luna menatap kepergian papa dan mamanya dengan senyum merekah, karena baginya kemesraan papa dan mamanya merupakan hal yang menyejukkan hati dan matanya.


Setelah papa dan maanya menjauh, Luna kembali menatap Mark dengn ekspresi penuh penasaran.


“ Mark apa maksudnya? Apa kau tidak tinggal di sini lagi?”


“ Aku akan pindah ke vilaku.” dengan santai.


“ Tapi rumah ini milikmu. Apa papa dan mamaku belum mengetahuinya?” Luna sangat penasaran, dia menatap wajah Mark dan mencari jawaban dari ekspersi Mark.

__ADS_1


“ Humm” sambil mengkat bahunya.


“ Ya Tuhan..lalu bagaimana caranya aku menjelaskan pada papa dan mama? Mereka baru saja mengusir pemilik rumah ini dan mengenai perusahaan apakah papa juga belum mengetahuinya?” berbagai pertanyaan langsung berkecamuk di hati dan pikiran Luna sambil menatap Mark dengan canggung.


“ Jika tidak ada hal lain yang ingin kau katakan atau kau lakukan. Aku dan Rangga pergi dulu” sambil berdiri, Mark melirik Luna seperti mengharapkan sesuatu.


Luna juga segera berdiri, mereka berjalan beriringan keluar.


“ Mark kau harus membantuku menjelaskan semuanya pada papa dan mama!”


“ Menjelaskan apa?”


“ Mengenai, properti, perusahaan dan lainnya.” Jawab Luna dengan polos.


Entah pemikiran apa yang digunakan Luna. Dia tahu Mark sangat mencintainya, tapi dia tidak berfikiran atau berharap jika Mark mengembalikan semuanya padanya. Oleh karena itu merasa bersalah dan canggung pada Mark.


“ Baik..” jawab Mark dengan anggukan kecil. Lalu dia mulai merasa kesal, karena Luna tidak memperdulikannya, padahal dia sudah sangat merindukan kekasihnya itu.


Sementara Luna masih saja menatap Mark dengan senyuman yang canggung.


“ Luna kau..” umpat hati Mark menahan kekesalannya.


Mereka sudah sampai di depan mobil, Rangga dengan cepat langsung masuk untuk mengemudi dan pengawal membukakan pintu mobil untuk Mark.


Mark melangkahkan kakinya masuk, tapi tiba-tiba dia berbalik dan memeluk Luna.


“ Hah.?” Pelukan yang tiba-tiba itu membuat Luna terkejut, dia membatu, pupil matanya yang membesar sesaat, kemudian berkedip beberapa kali.


“ Apa kau tidak merindukanku?” bisik Mark di telinga Luna. Mark sudah sedari tadi untuk menahan, tapi Luna masih saja tidak mengerti.


“ Hah..Ba bagaimana tidak, aku sangat merindukanmu.” Balas Luna dengan sedikit terbata-bata, tapi dia melingkarkan tangannya di pinggang Mark dan tersenyum.


“ Aku tidak mungkin memelukmu di depan orangtuaku” dengan suara sedikit kesal.


“ Ketika mereka sudah pergi kau tetap mengacuhkanku. Kau malah menanyakan hal yang tidak penting.”


“ Itu karena aku sedikit terkejut dengan situasi yang kalian bicarakan.”


“ Jangan pikirkan itu. Karena kau masih ingin bersama orang tuamu, maka setelah kita menikah aku akan kembali menemanimu di sini.” sambil mencium lembut puncak kepala Luna.


“ Haha..baiklah” jawab Luna dengan berat. Karena dia masih sensitive dengan kata pernikahan itu.


“ Huh, masih saja mengeluh, aku saja tidak ada yang menyambut.” Ucap Rangga dengan kesal dan sedih.


“ Mark apa kau masih lama?” panggil Rangga dengan sedikit kesal, karena dialah orang yang paling di abaikan disini.


“ Mark kau bilang mau kemana tadi? Sekarang pergilah, nanti kau terlambat.” Sambil melepaskan pelukan dan mendorong Mark untuk masuk ke mobil.


“ Eh tapi Luna, aku masih ingin memelukmu, aku sangat merindukanmu.”


‘ brack’ Luna menutup pintu mobil.


Mark masih saja ingin keluar, tapi Rangga sudah bertindak dia mengunci pintu mobil tersebut.


“ Hehe..” tawa Rangga dengan licik.


“ Rangga kau..” Mark sangat kesal pada Rangga yang tidak mendukungnya untuk mencurahkan rindu pada Luna.

__ADS_1


“ Rangga sekarang kalian pergilah! Mark uruslah urusanmu dengan semangat!” sambil memberikan gestur tangan yang semangat.


“ Baik Luna” Rangga melajukan mobilnya dengan perlahan. Dia melirik Mark dengan menahan tawa, karena Mark masih terlihat sangat kesal.


“ Bye beye..” ucap Luna sambil melembaikan tangannya dengan tawa yang tidak bisa di tahan lagi.


“ Terkadang dia Lucu juga” Gumam Luna dengan senyum yang sulit di control.


“ Rangga kau berani sekali memisahkan kami.” Ucap Mark dengan nada sangat kesal.


“ Itu bukan hanya aku. Tapi sepertinya Luna sudah muak denganmu. Dia mendorong paksa kamu untuk masuk ke mobil.” dengan nada mengejek.


“ Itu karena kau bersuara..” teriak Mark kesal.


“ Kau kenapa meneriakiku, hatiku semakin sedih saja. Tidak ada yang menyambut dan sekarang sahabatku sendiri malah memarahiku. Huhu..”


“ Rangga kau jangan bertingkah begitu. Tidak cocok sama sekali” sambil menyandarkan kepelanya ke belakang dan memejamkan matanya.


“ Huhu..itu karena kau.” Masih saja dengan suara merajuk untuk menggoda Mark.


“ Kau diamlah. Aku masih merindukan Luna, atau aku kan memukulmu jika masih saja bersuara.”


“ Huh, kau memang kejam.”


***


Mama Luna keluar dari kamar mandi sambil mengusap rambutnya dengan handuk kecil. Sementara papa Luna, sedang membaca buku di atas ranjang.


“ Pa, lihatlah desain ini bukankah sedikit berlebihan untuk kita yang sudah berusia.” ucap mama Luna sambil tertawa.


“ Haha..putri kita terlalu bersemangat.”


“ Tapi aku sangat suka.” Sambil duduk di di ujung kaki suaminya


“ Humm.. Aku tidak menyangka akhirnya kita bisa kembali ke rumah dan melihat putri kita. Ketika kecelakaan itu, aku pikir tidak akan ada kesempatan lagi.” lanjut mama Luna.


Tuan Aliester menutup bukunya dan mendekati istrinya.


“ Tuhan masih memberi kita kesempatan untuk menjaga putri kita. Maka kita harus melakukan yang terbaik untuk membahagiakannya. Meskipun sekarang Luna sudah bisa mengelola perusahaan, tapi aku tidak akan memaksanya untuk tetap di perusahaan. Aku benar-benar akan memberinya kebebasan.” Sambil memeluk istrinya.


“ Iya, kita harus membuatnya bahagia." Tapi tiba-tiba mama Luna melepaskan dekapan suaminya.


“ Pa..tapi bukankah rumah dan perusahaan bukan milik kita lagi. Bagaimana bisa papa berkata seperti itu pada Mark?” sambil menatap wajah suaminya, dia tidak sabar untuk mendengarkan jawabannya.


“ Aku melakukannya dengan sengaja.” Dengan senyum penuh intrik.


Mama Luna hanya mengerutkan dahinya. Dia tahu jika suaminya sudah begitu, bagaimanapun cara memaksanya suaminya tidak akan memberitahu apa yang ada di pikirannya. Yang jelas dia cukup mempercayai suaminya saja.


“ Apa yang dia rencanakan untuk orang yang telah membantunya? Suamiku kenapa kau sangat licik?” bisik hati mama Luna dengan kesal.


Bersambung...


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa like dan komentnya ya readers!


__ADS_2