
“Kenapa tegang begitu? santai saja.” Rangga mendengus senyum melihat ekspresi Zhaon. “Sini, sini!!!” ucapnya dengan menggerakkan telunjuknya penuh perintah.
“Tuan. Apa kau akan memukulku? Kau tidak sekasar itu pada wanita polos sepertiku kan?”
Masih senyum-senyum bodoh, Zhaon mendekati Rangga.
“Kenapa lambat sekali.” suara lembut dan senyum lembut. “Ayo kita cari tempat yang nyaman untuk berbincang.” Berjalan sambil merangkul bahun Zhon dengan bersahabat. Sontak saja hal itu membuat Zhaon terkejut. Dia mengedipkan matanya beberapa kali dan menundukkan kepalanya.
“Perlakuannya lembut, tapi aku serasa akan di eksekusi mati.”
Zhaon langsung mengingat list dosanya dalam hal menguntit itu. Argh... itu tidak bisa di hitung. Karena daru awal dia mendekati Mark juga hasil dari menguntit. Zhaon semakin frustasi mengingat hal ini.
***
“Siapa tujuanmu? Mark atau Luna?” tanya Rangga dengan santai sambil menyerahkan sebotol minuman pada Zhaon.
Sekarang meraka masih di gurun. Mereka bersandar di kendaraan 4WD. Tidak jauh juga dari Luna dan Mark, yang sekarang masih sibuk dengan elang pemburu.
“Hah? Zhaon mengedipkan matanya menatap Rangga. “Aku tidak mengerti maksud tuan.” Mengambil botol minuman cepat dan segera mendeguknya.
“Kenapa tuan bertanya seperti ini? yang benar saja… aku harus menjawab apa ya?”
“Tidak mengerti?” menoleh pada Zhaon.
”Baiklah. Jika begitu, akan aku perjelas.” Kembali menatap ke depan dengan seringai liciknya.
“Jika kau wanita normal, kau melakukan ini karena menyukai Mark. jika kau tidak normal kau malakukan ini karena tertarik pada Luna.”
“Aku wanita normal.” Jawabnya cepat dan menatap Rangga. “ Tapi bukan berarti aku menyukai tuan Mark.” Rangga mengerutkan keningnya mendengark jawabn Zhaon.
“Maksudku..” Zhaon menghentikan kalimatnya. Tidak tau harus bagaimana menjelaskannya. “Arh..” desahnya frustasi. Menggigit bibirnya dan menggaruk-garuk kepalanya.
“Sepertinya aku tidak bisa mengelak lagi.”
Zhaon meletakkan botol minumannya di atas mobil. Lalu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket kulitnya.
“Tidak ada wanita yang bisa menolak pesona tuan muda Mark, begitupun aku. Tapi aku sadar, aku tidak pantas untuk itu. Aku sangat menghormati tuan muda dan aku juga menghormati nona Luna sebagai istri dari tuan muda. Aku tidak ada maksud jahat, ataupun seperti yang tuan katakan tadi.” melirik Rangga dengan kesal, tapi dia langsung beralih senyum, saat Rangga menoleh padanya.
“Lalu?” tanya Rangga butuh penjelasan detai.
“Hufftt..” Zhaon menghembuskan nafas kasar. Lalu menoleh pada Rangga. “Aku akan menceritakannya pada tuan. Tapi aku mohon, agar tuan merahasiakannya. Termasuk dari tuan muda Mark.” lama menatap wajah Rangga, karena Rangga tidak merespon sama sekali.
“Ayolah, aku tau apa yang tuan pikirkan. Pasti tidak mau kan? Tapi setidaknya aku mencoba. Walaupun sangat kecil kemungkinan. Jujur aku sebagai putri gang Elang Darah, merasa malu jika tuan mengetahui bahwa wanita menyedihkan pada malam itu adalah aku. Hiks.”
“Sayangnya, Kamu tidak bisa bernegosiasi. Kamu tidak punya pilihan selain berterus terang. Jika tidak, kami akan benar-benar tidak mau berhubungan dengan kelompokmu. Dan kamu juga akan di blacklist. Kamu tidak akan bisa bertemu kami lagi.” Senyum cerah dengan kalimat ancamannya itu.
Zhaon cengingisan. Dia juga sudah menebak ini semua. Tidak punya pilihan lain dan diapun mulai menceritakan kenapa dia bisa sangat mengagumi Mark sebagai penolongnya saat itu. Pria yang menolongnya, disaat kondisi terlemahnya.
Zhaon bercerita panjang lebar. Tampak Rangga mengangguk-anggukkan kepalanya paham.
“Jika boleh tau siapa orang yang ingin menghabisimu waktu itu?” tanya Rangga penasaran.
Zahaon tersenyum kecut, lalu menggelengkan kepalanya. “Untuk ini aku tidak bisa menceritakannya.” Suaranya terdengar sedih. Dia juga memainkan jemari tanggannya.
Rangga paham dengan itu. Dia melirik Zhaon yang menunduk sedih. “ Rute ke Jepang besok apa kamu akan tetap menguntit?” Rangga merubah pembahasan. Tidak ingin membuat gadis kecil ini larut dalam kesedihan akibat pertanyaannya.
“Jepang? Bukankah seharusnya Hawai?” tanya Zhaon yang secepat kilat berubah ekspresi.
__ADS_1
“Kau memang mengetahui jadwal dengan baik ya. Dasar penguntit.” Ejek Rangga.
“Hehe..” Zhaon tertawa tanpa rasa malu.
“Tapi sayangnya kau kurang update.”
“Hah? Maksud tuan?” bertanya penuh penasaran. Kenapa dia kurang update? Setahunya dia sudah menyelidiki dengan sebaik mungkin.
“Huftt... karena aku sedang berbaik hati sekarang. Maka aku akan memberitahumu informasi penting, bahwa jadwal ke Hawai di batalkan dan akan pergi ke Jepang lebih awal. Sepertinya Luna mengidam lebih awal. Dia ingin segera menikmati musim semi di Hitachi Seaside Park.”
“Haha.. terimakasih banyak informasinya tuan. Ini benar-benar sangat berguna.”
Wajah ceria Zhaon telah kembali. Senyum terimakasihnya tampak cerah.
***
Mark dan Rangga berdiri di balkon hotel. Kali ini mereka menginap di Burj View Suite, Manzil Downtown Dubai.
Di tempat mereka berdiri menyuguhkan suasana kemegahan nuansa Arab. Di temani dengan pemandangan Burj Khalifa yang mempesona. Burj yang menampilkan pertunjukan cahaya warna warni, sebagai latar belakang Dubai Fountain yang spektakuler.
“Ternyata dia adalah wanita pada malam itu.” Mark tersenyum tipis. Mendengar cerita Rangga tentang Zhaon membuatnya sangat lega, walaupun sekalipun dia tidak pernah berfikir jika Zhaon mempunyai niat buruk padanya.
Tapi karena dia sudah menganggap Zhaon sebagai adik, informasi ini tentu membuatnya tenang. Dia juga bersyukur, karena tindakannya malam itu, mendatangkan kebaikan.
Menghadirkan Zhaon yang setia padanya, walaupun kadang sangat menyebalkan dalam berbagai hal. Seperti terus memaksanya untuk menjadi bagian Elang Darah salah satunya.
“ Tapi Mark, Zhaon seperti menyembunyikan sesuatu di balik kejadian dia di kejar. Saat aku menanyainya. Dia langsung berubah raut sedih.”
"Pasti itu benar-benar hal menyakitkan baginya."
"Apa perlu kita menyelidikinya Mark?"
Rangga menganggukkan kepalanya pelan. Dia sendiri tau bagaimana Mark menganggap Zhaon.
"Ya sudah, sekarang kau beristirahatlah. Besok kita harus melakukan perjalanan lagi."
"Baiklah. Kau juga."
"Oh iya. Untuk di Jepang, ku harap kalian mengajak pasangan kalian. Akan terlihat aneh jika kalian hanya mengikutiku."
"Mark.." kesal suara Rangga terdengar.
"Haha.. aku sungguh sangat menyarankan. Setidaknya, bersama dengan teman wanita. Agar suasana tidak terlalu kaku. Aku sudah menghubungi Key perihal ini. Dia tidak keberatan. Sekarang kau... berjuanglah! haha.. "
"Aish.. aku penasaran siapa yang akan di bawa Key."
"Jangan pikirkan orang lain. Pikirkan saja dirimu." Mark melebarkan senyum yang membuat Rangga semakin kesal.
"Aku pergi dulu. Aku harus berolahraga." berjalan meninggalkan Rangga yang sudah di buat kesal olehnya.
"Kau mau olahraga? aku ikut denganmu." Menyusul Mark dengan cepat.
"Aku olahraga di kamarku. Jomblo seperti kau mana bisa mengerti tentang ini."
"Apa? " Langkah Rangga langsung terhenti. Paham apa yang dimaksud oleh Mark. Dia benar-benar telah dipermainkan.
"Bye.. tidurlah dengan nyenyak." membuka pintu dan berlalu pergi.
__ADS_1
Sepeninggalan Mark, Rangga langsung memutar otaknya mengenai siapa teman wanita yang akan di ajaknya. Karena dia memang sangat jarang berinteraksi dengan wanita. Apalagi dia pria yang mempunyai gengsi tinggi. Oleh karena itu dia akan kewalahan jika Mark menggodanya perihal wanita.
Dia terus berfikir di setiap aktivitasnya. Mulai dari mengganti pakaian tidurnya, mengambil minum, menggosok gigi dan mencuci wajah sebelum tidur.
Dari sekian banyak aktivitasnya, dia masih belum jaga menemukan solusi.
"Siapa? " teriaknya frustasi. Dia menghempaskan dirinya di Ranjang. Memejamkan mata dan mengusap kepalanya seperti beban berat di pikirannya.
Sesaat kemudian Rangga membuka matanya semangat. Dia seperti sudah menemukan jawaban dari beban pikirannya ini.
"Kenapa tidak dari tadi saja." ucapnya semangat sambil bangkit dan mengambil ponselnya.
Otak-atik ponsel dan melakukan panggilan.
"Halo tuan.. " suara wanita yang tidak asing menjawab panggilannya.
"Zhaon.. " ucap Rangga sedikit ragu.
"Iya tuan, ada apa? apa terjadi perubahan jadwal lagi?"
"Tidak. Aku hanya mengajakmu bekerjasama." suaranya terdengar arogant.
Ayolah Rangga!! sekarang kamu yang butuh. Tapi masih saja arogant. Humm..
"Kerjasama bagaimna maksud tuan?" suara Zhaon terdengar bingung.
"Aku akan membuatmu tidak bersembunyi lagi saat di Jepang. Jadilah teman wanitaku."
"Apa??? " Zhaon semakin terkejut. Dia yang sedang makan di kamarnya langsung berhenti seketika.
"Kau jangan salah paham.."
"Tidak, tidak. Aku tidak salah paham! tapi aku sudah punya orang yang ku suka tuan. " jawabnya cepat memotong kalimat Rangga.
"Zhaon... aku tidak memintamu menjadi wanitaku." geram kalimat itu terdengar.
Zhaon diam sejenak, dia memutar otaknya. Merasa hal ini juga sangat menguntungkan baginya.
"Haha.. aku hanya bercanda tuan. Jika begitu, bagaimana jika kita berangkat bersama saja besok." tawarnya. Dia sungguh pandai memanfaatkan keadaan.
"Baiklah. Akan aku bicarakan dengan Mark. Ku tutup telvonnya. Ingat kau jangan berfikiran aneh-aneh. Aku melakukan ini hanya karena terdesak."
"Ba.. " tuut.. telvon langsung terputus sebelum Zhaon selesai menjawb.
"Aiish... menyebalkan." Gerutu Zhaon. Kemudian dia melanjutkan makannya.
Sementara Rangga di kamarnya tampak semakin kesal.
"Lihatlah, wanita memang menyebalkan." melempar ponselnya sembarangan. Tarik selimut dan memejamkan matanya.
Namun sesaat kemudian Rangga kembali teriak kesal. Hal tadi benar-benar merusak imagenya. Apalagi awalnya Zhaon sempat mau menolaknya.
"Menyebalkan... " tendang selimut dan gulingnya.
.
.
__ADS_1
Bersambung...