
“Silahkan masuk.” Senyum ceria mengembang di bibir Luna sambil membuka pintu.
“Terimakasih.” Zhaon dan Lery masuk duluan.
“Luna sebenarnya kita mau melakukan hal apa?” tanya Nindy yang masuk bersamaan dengan Luna.
“Hal yang sederhana saja.”
“Sederhana?” langkah Nindy langsung terhenti saat melihat tatanan makanan dan minuman di meja. Lalu dia melirik Luna di sampingnya.
“Nona, kenapa banyak makanan?” tanya Zhaon kegirangan. “Apa kita akan berpesta?” tanyanya lagi.
“Makanan? Pesta?” sauara Rangga yang membuat para wanita menoleh padanya.
“Rangga, masuk saja dulu. Kau sungguh tidak sabaran hingga jalan duluan.” Mark melewati Rangga yang masih berdiri di pintu. Begitupun Jiang He dan Key melewatinya.
“Kalian.” gerutu Rangga yang juga mengekor.
Sekarang semuanya sudah di dalam, berdiri menatapi makanan. Masih bingung dengan ini. apa hanya akan makan-makan? lalu kenapa mengenakan baju tidur? Sungguh aneh istri Mark Rendra ini.
“Kalian masih bingung ya. Baiklah, aku akan mengatakannya. Aku mengajak kalian ke sini untuk menonton bersama.” jelasnya santai.
“Hah? Menonton?” Respon mereka bersamaan. Hanya menonton, kenapa di siapkan dengan cara misterius. Begitulah ekspresi bingung mereka menggambarkan.
“Luna, kau bilang menonton. Lalu dimana layarnya? Apa akan pantulkan ke dinding.” Tanya Key sambil mengamati ruangan besar tapi minim furniture.
“Oh itu,” Luna mengambil sebuah remote controle, menekannya ke arah dinding samping mereka. Perlahan dinding terbuka dan dari sana muncul set lemari yang lengkap dengan tv layar besar, “Bagimana?” menatap Key dengan senyum bangga.
“Ya ya.. kau memang sudah menyiapkan semuanya dengan baik.” Key duluan duduk di sofa yang di ikuti oleh yang lainnya. “Lalu kenapa kita menonton harus mengenakan baju seperti ini?” tanyanya kembali.
“Ya, aku ingin tau alasan ini.” Rangga menimpali sambil mencomong sepiring potongan buah.
Semua orang memandangi Luna, benar-benar menantikan jawaban yang akan di berikannya.
“Karena kita akan menonton film yang menguji adrenalin. Aku khawatir jika kalian takut untuk berganti pakaian setelah menonton ini.” jelasnya sambil duduk di samping Lery.
__ADS_1
“Memangnya kita akan menonton film apa?” Lery memandang lekat wajah Luna. Dia tampak khawatir.
“Ekspresi apa ini? ayolah, aku bahkan belum mulai.”
Luna menahan tawanya melihat kekahwatiran Lery yang mungkin sudah mengerti maksudnya. Sepertinya rencananya akan sukses besar.
“Horor. Aku sudah menyiapkannya, ini film terbaru. Aku sungguh penasaran.” Jelasnya dengan semangat, tidak peduli dengan raut wajah Lery yang semakin menegang.
“A-aku tidak terlalu berani menonton film horror.” Ujar Lery sedikit terbata dan suara memelan di akhir kalimatnya. Dia menatap semua orang yang tidak satupun protes, hanya dia seorang yang keberatan.
“Aduh, kenapa aku protes. Kan jadi canggung.”
Lery menyesali kalimatnya sendiri. menggigit bibir bawahnya, lalu senyum canggung pada Luna.
“Baiklah. jika begitu kita menonton film romantis saja.” sambil berdiri.
“Jangan!!!” soarak Rangga dan Key bersamaan, hingga membuat Luna yang berdiri langsung terduduk kembali. Kaget ya Tuhan..
“Film Romance jauh lebih menyeramkan dari pada melihat hantu.” Gerutu Rangga dengan ekspresi kesalnya.
“Cih,” Rangga berdecih kesal. tidak ingin melawan, tidak ada gunanya. Toh juga sama-sama jomblo.
“Lalu bagaimana?” Luna menatap semua orang.
“Aku dan Jiang He terserah saja. sekarang tergantung putusan para wanita.” Ujar Mark. menoleh pada Jiang He, yakin bahwa Jiang He sependapat dengannya.
Jiang He mendegus senyum lalu menganggukkan kepalanya. “Iya aku sependapat dengan Mark.”
“Horor saja.” Lery membuka suara kembali. sadar bahwa hanya dirinya yang keberatan.
“Kakak yakin?” tanya Luna memastikan.
“Iya. Tapi aku harus duduk di tengah ya.” pintanya dengan cengingisan.
“Baiklah, tapi kami semua juga penakut. Bukankah begitu?” Luna menatap Zhaon dan Nindy. memberi kode untuk menyetujuinya.
__ADS_1
“Iya. Aku sangat penakut. Aku ingin duduk di samping kak Jiang He.” Ujar Nindy tanpa malu.
Tampak Luna menahan tawanya, sepertinya dia tidak perlu repot-repot lagi.
“Aku?” Jiang He menunjuk dirinya.
“Iya.” dengan tegas Nindy membenarkan.
“Duduk saja berdasarkan pasangan kalian.” tambahnya.
“Pasangan? Aku tidak punya.” Wajah polos Lery kebingungan.
“Tidak punya? Lalu bagaimana dengan kakakku?”
“Tuan?” semakin bingung. Lalu menoleh pada Key.
“Sejak kapan tuan menjadi pasanganku? Kami hanya atasan dan sekretaris.”
“Aku akan bersamamu.” Key berdiri mendekati Lery. Sontak Luna dan Nindy langsung menyingkir dengan senyum-senyum. “Ini hanya sekedar menonton.” Sudah duduk di samping Lery.
Deg, jantung Lery mulai berdebar tidak beraturan. Dia mengedipakan matanya, lalu mengalihkan pandangannya ke depan.
“Baik tuan.”
“Ya Tuhan.. ada apa dengan jantungku?”
Gugup sungguh gugup. Lery menelan ludahnya saja terasa tertahan.
Sementara itu Nindy langsung duduk di samping Jiang He. “Jangan gugup kakak. meskipun aku sedang mengejarmu, tapi aku tidak akan memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan.” Bisik Nindy yang membuat Jiang He mengangkat alisnya.
“Tuan, sepertinya kita akan menjadi pasangan yang paling kaku.” Bisik Zhaon pada Rangga yang sibuk dengan potongan buah yang sudah hampir habis di piringnya.
“Aku setuju denganmu.” Menyodorkan buah pada Zhaon. “Beruntung ini hanya film horror. Wanita seperti mu, mestinya tidak akan takutkan?” Lanjutnya .
“Tentu saja tidak.” Ikut makan sambil mengamati pasangan lainnya.
__ADS_1
Bersambung...