
Cahaya ruangan di redupkan, sehingga hanya remang-remang di tambah pantulan cahaya dari layar TV yang menyala.
Film sudah di putar. Ditangan mereka terdapat cemilan pilihan masing-masing. Mengunyah sambil menatapi layar.
Ada sebagian wajah yang menegang dan ada wajah santai luar biasa.
Luna menatap satu-persatu pasangan canggung bin kaku itu.
Key dan Lery di sisi kirinya. Jiang He dan Nindy di sisi kanannya. Rangga dan Zhaon yang memilih duduk di bawah, mereka duduk paling terdepan. Pasangan yang paling santai, karena antara mereka memang tidak ada getaran. Selain itu keduanya juga terlihat paling berani dengan film horror ini.
Film di layar sedang menampilkan adegan jumpscare menegangkan. Suasana sepi, tokoh clingak-cliguk, suara bisikan serta backsound yang membuat bulu kuduk merinding.
Lery menutup mata dengan kedua tangannya, sesekali mengintip dan terkadang dia tampak mengalihkan pandangannya bersembunyi di lengan Key.
Begitupun Nindy, dia juga demikian. Tapi dia lebih berani, dia bahkan tanpa sadar meremas lengan Jiang He karena saking tegangnya.
Sementara Zhaon dan Rangga tampak santai. Tangan tetap bekerja menyuapi makanan ke mulut, walau gerak memelan di adegan yang mengangkan ini.
Luna jangan di tanya lagi, dia sama halnya dengan Zhaon. Tampak berani, namun dia bersandar manja dalam dekapan sang suami.
'Bam... '
"Aaaaaaaaa.... "
Hantu muncul dengan tak terduga. Suara menegang di TV di susul dengan teriakan histeris para penontonnya.
Semua wanita berteriak, tak terkecuali Zhaon yang membuat Rangga kaget. Bahkan makanan yang di pegang Zhaon bertaburan, hingga beberapa cemilan bertengger di kepala Rangga. Terlempar karena menutupi mata dengan kedua tangannya.
Lery yang sudah membenamkan wajahnya di bahu Key. Nindy yang menjadikan tangan Jiang He menutupi matanya.
Luna yang sudah membenankan wajahnya di dada sang suami.
"Zhaonn.. " eram Rangga kesal. Dia mengambil remote controle dan pause film. Rangga melihat kondisi semua orang, berdecih kesal melihat pemandangan mesra sementara dia di kenai cemilan
"Buka mata kalian. Filmnya ku pause." Kesal nada bicaranya. "Lihatlah! hasil dari kerjaanmu Zhaon." langsung memarahi Zhaon yang baru membuka mata.
"Hehe.. maaf tuan." membantu membersihkan cemilan yang menyangkut di rambut Rangga.
Kamu bilang kamu tidak takut. Tapi teriakanmu jauh lebih menyeramkan dari pada di film." celoteh Rangga.
__ADS_1
"Itu karena hantunya tiba-tiba tuan."
"Ya iya lah. Memangnya dia muncul minta izin dulu sama kamu." Rangga terus mengoceh protes. Lalu melanjutkan kembali film yang semoat di pause.
Sementara Lery semakin canggung dan malu-malu pada Key. Berani-beraninya dia bergelayut dia lengan Key.
Untuk Nindy dia hanya cengingisan pada Jiang He, lalu menaruh kembali tangan Jiang He seperti semula.
Luna dan Mark hanya bisa tersenyum dan geleng kepala melihat ini semua.
Semua orang kembali menonton, menikmati setiap adegan yang semakin meningkatkan adrenalin mereka. Suara teriakan dan tindakan spontan menutupi mata berulang kali terjadi seperti tadi benar-benar tidak bisa di elakkan.
Namun hal ini pasti menimbulkan kesan bagi diri mereka masing-masing. Wajah datar mulai mengukir senyum melihat wanita di sampingnya ketakutan. Ya.. ada kesan lain di sini.
Beberapa saat kemudian mereka sudah selesai menonton. Lampu ruangan kembali terang benderang.
"Luna aku tidur denganmu ya." rengek Nindy.
"Bagaimana bisa istriku tidur denganmu. Aku juga membutuhkannya."
"Tapi aku sungguh takut." cemberut seperti anak kecil. "Zhaon, sekretaris Lery kita tidur bersama ya." lanjutnya.
"Aku juga akan bergabung dengan kalian. Malam ini kita tidur bersama." ujar Luna tiba-tiba.
"Tapi sayang.. "
"Sstt... "menutup bibir Mark yang protes dengan telunjukknya. "Malam ini saja sayang. Kasihan, mereka semua ketakutan."
"Itu ide bagus. Dan bagaimana jika kita para pria juga tidur bersama." ujar Rangga semangat dengan idenya.
"Hah? " Mark, Jiang He dan Key menatap Rangga bersamaan. Merasa aneh saja 4 orang pria dewasa tidur bersama. Apalagi setelah menonton horror, terkesan seperti pria penakut. Lain cerita dengan wanita, itu memang hal yang lumrah.
"Tidak-tidak. Aku tidur di kamarku." ujar Key, Mark dan Jiang He menolak penuh. Bahkan Jiang he dan Key langsung beranjak pergi. Rangga cengingisan melihat temannya. Reaksi yang terlalu berlebihan menurutnya.
***
"Sayang, kau sungguh membiarkanku tidur sendirian?" memeluk erat Luna yang memegangi bantal dan selimut untuk di bawa ke kamar Nindy.
"Malam ini saja sayang." jawab Luna kesal, karena sedari tadi Mark tidak mau melepaskannya.
__ADS_1
"Tapi aku juga membutuhkanmu." jawabnya manja.
"Sayang, ayolah. Kau ini pria dewasa jangan kekanak-kanakan."
"Hufft.. baiklah." melepaskan pelukannya. Duduk di ranjang seperti merajuk.
"Ya ampun.. "
Luna menghembuskan nafas frustasinya. Bayi besarnya merajuk. Harus pandai-pandai merayunya.
"Sayang.." menaruh kembali bantal dan selimutnya di ranjang. Duduk di samping sang suami dan memeluknya dengan manja. "Malam ini saja ya. Selebihnya aku akan selalu tidur dalam dekapanmu. Humm.. " bujuknya penuh kelembutan.
Mark tetap diam, bahkan dia tidak menoleh pada Luna. Kesal saja, bagaimana bisa dia di tinggal tidur sendirian, padahal ini masih dalam rangka honeymoon mereka. Lagian kan 3 orang wanita itu tidur bersama sudah cukup.
"Sayang.." rengek Luna.
" Iya, iya pergilah! teman-temanmu sudah menanti. Suamimu bisa urus diri sendiri di sini." ketus Mark sambil melepaskan tangan Luna yang melingkar di pinggangnya.
Berbaring, lalu memejmkan matanya. Benar-benar merajuk.
Luna mendengus kesal, menatap Mark yang sudah memejamkan mata. Diambilnya selimut dan bantalnya kembali. Melangkah dengan kesal.
"Berani meninggalkanku begini saja?"
Tap. Langkah Luna langsung terhenti.
"Mau apa ya sebenarnya? tadi aku sudah membujukmu Mark Rendra.. tapi kau malah mengabaikanku"
Luna berbalik badan, menatap Mark yang masih memejamkan mata.
"Lalu aku harus bagaimana sayang." berusaha tetap lembut walau sebenarnya sangat kesal.
Mark membuka matanya, lalu menunjuk bibirnya dengan telunjuknya.
Luna paham, dia mendekat. Memandang lekat wajah sang suami dengan senyum. " Kenapa genit sekali." ujarnya, lalu mencium lembut bibir sensual sang suami. Cukup lama, karena Mark mengambil kendali.
Dengan sedikit terengah melepaskan pagutan bibir mereka. Mark mengusap lembut pipi Luna. "Malam ini aku lepaskan. Ingat kau berutang padaku. Malam selanjutnya, harus di bayar berkali lipat." bisik Mark dengan nakal.
"Apa? jadi berpisah tidur semalampun harus ada transaksi seperti ini? dasar.. pandai sekali memanfaatkan keadaan."
__ADS_1
Bersambung...