
Ruang meeting di Lixing Group di penuhi dengan tepuk tangan, senyum terukir di bibir mereka sebagai wujud rasa terimakasih pada diri sendiri dan juga semua orang. Karena sudah bekerja keras selama ini hingga mendatangkan hasil yang memuaskan dan mendapat pengakuan atas kemampuannya oleh atasan tentunya adalah hal yang sangat membahagiakan.
Di meeting rutin akhir bulan, dan sekarang sudah menginjak akhir bulan November, Mark selaku Presdir memuji kinerja para karyawannya atas keberhasilan berbagai proyek. Mulai dari proyek kecil hingga proyek besar yang di lakukan dengan sangat baik hingga membawa Lixing ke posisi yang lebih, baik dalam negeri maupun luar negeri.
Namun pujian ini tidak hanya lugas sekedar pujian melainkan di iringi dengan masukan dan juga harapan dari Mark agar mereka tidak menjadi lupa diri agar mereka tidak hanya stagnan dengan kinerja yang sekarang. Terus meningkat kinerja adalah tujuannya.
Atas keberhasilan ini tentunya tetesan keringat, waktu dan pikiran yang sudah para karyawan berikan untuk perusahaan di bayar dengan baik. Gaji dan bonus akan di berikan berkali lipat lebih besar dan akan di susul dengan bonus akhir tahun yang akan lebih besar nantinya. Tak lupa juga semua fasilitas Lixing Group, baik di gedung pusat ataupun setiap anak cabang akan semakin di tingkatkan walaupun selama ini tidak pernah ada keluhan. Mark Rendra sangat tahu bagaimana membayar kerja keras karyawannya dengan baik.
Sebelum rapat di tutup Mark mengingatkan pada karyawannya jika ada isu atau gosip baik kecil atau besar mengenai ruang lingkup Lixig Group harap semua orang untuk tidak menanggapinya. Mark berharap karyawannya tidak terganggu oleh hal-hal semacam itu, fokus saja pada kegiatan akhir tahun yang pastinya akan sangat melelahkan serta membuat laporan tahunan adalah hal yang terpenting, maka buatlah dengan akurat tanpa cela sedikitpun agar tidak menimbulkan masalah ke depannya.
Rapat telah berakhir, semua orang keluar setelah Mark, Luna dan Rangga beranjak. Senyum kebahagiaan setiap orang masih lekat dan tentunya dari mereka juga sudah mulai menyusun rencana pesta atas keberhasilan dari semuanya, semua ini memang patut untuk di rayakan.
***
“ Akhir tahun. Huftt..” ucap Luna terdengar tidak senang. Dia duduk di samping Mark yang sedang membalik-balikkan dokumen yang baru saja di berikan oleh Rangga padanya.
“ Memangnya kenapa? Kau terdengar tidak senang, padahal banyak orang menantikannya.” Mark tetap menanggapi Luna, meski dia tetap membaca dokumen di tangannya.
Lagi-lagi Luna menghembuskan nafas keluhannya, dia melirik Rangga dan Mark yang masih fokus pada dokumen.
“ Mark apa kau tahu apa arti akhir tahun bagiku?” Luna mulai berucap dengan nada serius. Dia menatap Mark yang ada di sampingnya dengan sorot mata sedih.
Sontak Mark lansung berhenti dari aktivitas mata yang membaca dokumen, lau menatap kekasihnya yang sudah sudah menatapnya duluan. Sungguh aku tak suka dengan akhir tahun, begitu isi sorot mata itu Mark menyimpulkan dengan sekali tatap.
“ Katakan. Apa yang mengganggumu hingga tak suka akhir tahun.” Mark menetup dokumennya lalu di ambil oleh Rangga.
“ Kenapa dia bereaksi seperti ini? aku hanya ingin mengatakan jika tahun berakhir maka usiaku genap bertambah 1 tahun dan esoknya akan berjalan ke tahun berikutnya. argh… aku sangat benci mengingat hari ulang tahunku. Jikapun ingin melupakan, tapi tetap saja ingat karena semua orang menyambut tahun baru tersebut.” bisik hatinya. Tapi ketika melihat Mark bereaksi seperti itu dia langsung memutar otaknya untuk mengerjai Mark.
“ Jamuan di kerajaan Inggris, aku sungguh tak suka itu.” Jelasnya, lalu dia menundukkan kepalanya.
Mendengar Hal itu, pikiran Mark dan Rangga langsung tertuju pada pangeran Tris, dimana satu-satunya pria yang dekat dengan Luna dan kedekatan mereka hanya menjadi perbincangan kalangan atas masa itu. Tak sampai mencuat ke public karena tekanan kekuatan dari orang-orang berkuasa pada media, seperti yang telah di jelaskan sebelumnya oleh Key selaku pemilik Cour Media.
“ Apakah Luna masih menaruh perasaan pada pangeran Tris?” bisik hati mereka. Pertanyaan itu tak terelakkan lagi melihat Luna yang seperti ini.
“ Luna tahun ini kita pergi bersama, apa kau masih tidak suka?”
“ Bukan seperti itu.” Luna menggelengkan kepalanya.
Lalu dia mengangkat kepalanya dan kembali menatap Mark yang sudah menantikan jawaban darinya,
“ Aku tidak yakin jika kak Key belum mengatakannya padamu dan Rangga mengenai hubunganku dengan pengeran Tris di masa lalu.” Luna berhenti sejenak. Kemudian dia melanjutkan setelah melihat respon Mark dan Rangga hanya diam yang berarti mereka memang sudah mengetahuinya.
“ Hubungan itu hanya masa lalu. Tapi mengakhiri hubungan itu masih berlanjut hingga sekarang.” Luna memberikan jawaban penuh analisa, jika di dengarkan saja pasti akan menimbulkan kesalahpahaman bahwa benar Luna masih sangat mencintainya.
Mark tetap diam , dia tidak berspekulasi, sorot matanya masih meminta penjlesan yang lebih detail.
“ Maksudku, kami mengakhiri hubungan itu dengan syarat dariku dan syarat darinya. Dia selalu memenuhi syaratku, oleh karena itu aku juga harus selalu memenuhi syaratnya. Pesta perjamuan itu sama saja dengan undangan bagi untuk menemui pangeran Tris secara pribadi dan berbincang secara pribadi. Mark maafkan aku.” Permintaan Maafnya terdengar sangat lirih penuh salah.
Mark mengangkat dan menggenggam erat tangan Luna dengan kedua tangannya, lalu menggenggamnya dengan penuh sayang.
__ADS_1
“ Luna terimakasih sudah terbuka mengenai hal ini, aku pasti akan mengakhiri perjanjian syarat bodoh itu. Luna kau hanya milikku.” Mark menundukkan kepalanya di tangan Luna.
Luna menundukkan kepalanya, dia terlihat sedang menahan tawa. Dia ingin membuat Rangga yang polos 2x lebih penasaran. Selain itu dia juga bisa lebih bebas mentertawai Mark dengan sepusnya. Rencana yang sempurna dari ide yang dia dapat dengan sekilas melihat wajah Mark dan Rangga yang serius dan khawatir.
Kemudian dia mengangkat kepalanya lagi, dia menyuruh Rangga untuk keluar dengan kode matanya.
Rangga terlihat terkejut, tapi dia tetap keluar meski dengan sedikit terpaksa. Sesungguhnya dia ingin melihat bagaimana Mark bisa bertekuk lutut di depan Luna.
“ Kenapa aku tidak beruntung lagi.” celotehnya, saat sudah sampai di luar. Kemudian di pergi ke ruangannya dengan rasa penuh penasaran, apa yang akan terjadi setelah dia keluar.
Luna sudah berhasil mengusir Rangga, dia tersenyum lalu mengusap kepala Mark yang masih menunduk di depannya.
“ Mark tapi aku melanjutkan studiku di inggris, dia pasti akan mengetahui ini dengan cepat.” Lanjut Luna, dia berusha untuk menambah kobar api kekhawatiran di hati Mark.
“ Aku bisa melindungumu.” Mark masih menjawab sesuai akal sehatnya. Hey Luna sadarlah dia ini Mark Rendra pebisnis nomor 2 di dunia. Dia pasti selalu punya cara untuk hal ini.
“ Tapi Inggris adalah wilayah kekuasaannya, apa ini tidak akan sulit?” Luna masih berusaha menggoyahkan jawaban Mark yang sudah dia jawab dengan tegas tadi.
“ Aku selalu punya cara, jangan khawatirkan itu.” Mark masih belum goyah.
“ Tapi aku harus tetap menemuinya. Menemuinya setiap kali aku berkujung ke Inggris merupakan salah satu syarat yang di ajukan. Lalu bagaimana jika aku tinggal di inggris untuk melanjutkan Study?. Bisa-bisa dia membawaku ke istananya.”
“ Luna sekarang aku malah berfikir kau yang sangat ingin menemui Tris.” Nada bicara Mark mulai kesal.
Hati Luna berteriak gembira, merasa puas dengan prestasi kali ini. Kebahagiannya seperti artis yang baru saja debut dalam dunia akting.
Luna memilih untuk diam, tak menanggapi perkataan Mark, agar kemarahan si tuan muda itu memuncak hingga ke ubun-ubun. Heh, mengerjai Mark selama ini dia tidak pernah menang. Kali ini dia punya kesempatan maka harus di manfaatkan sebaik mungkin.
“ Bagaimana bisa di putuskan begitu, University College London adalah yang terbaik. Aku ingin melanjutkan studyku di sana. Kau kenapa sekarang melarangku, bukankah sebelumnya kau bilang selalu mendukung apa yang aku inginkan?” Dengan nada lirih dan cara penolakan yang menyakitkan. Semua ini demi drama ini agar terlihat alami.
Mark diam menahan amarah, untuk menjawabpun tidak bisa. Karena yang di katakan Luna benar adanya. Tapi ketika mengatahui hal ini, dia benar-benar tidak terima.
Sementara itu Luna sudah menahan tawa hingga rasanya tak bisa di control lagi.
“ Mark.,” panggilnya sambil tertawa.
Mark tetap diam, baginya saat ini Luna memang sedikit aneh. Apa Lagi dengan tawanya setelah suara lirih yang baru dia keluarkan beberapa detik lalu lalu. Mark mengangkat kepalanya dan menatap bingung Luna yang masih tertawa.
“ Mark jika aku boleh tahu, apa yang kau pikirkan mengenai hubunganku dengan pangeran Tris?” masih tertawa.
“ Apa ini? apa dia mengerjaiku? “ bisik hati Mark sudah mulai menduga. Tapi dia tidak menjawab Luna, dia masih menatap Luna dengan ekspresi bingung.
“ Mark apa kau berfikir aku dan pangeran Tris adalah sepasang kekasih dulunya? Haha.. hubungan kami tidak sejauh itu.” tawa Luna benar-benar lepas.
“ Jadi mnegerjaiku?, apa begini aku merasa puas? Jangan harap!”
Tiba-tiba Mark mendakat pada Luna yang masih saja tertawa, tentu saja jarak yang begitu dekat membuat Luna langsung berhenti.
“ Ya.. ini satu satunya senjata.” Sorak hati Mark gembira. Dia menemukan cara membalas Luna yang sudah mentertawainya dengan puas.
__ADS_1
Luna memundurkan tubuhnya dengan tangan yang menahan tubuhnya di belakang. Tapi Mark juga terus mendekat. Dan jika dia lanjutkan untuk mundur dia akan benar-benar merebahkan diri di sofa, lalu dengan Mark yang terus mendekat pasti akan berakhir dengan posisi yang memalukan. Luna tak hal itu terjadi.
“ Hahaha.. sayang, apa yang kamu lakukan? bukankah papa sudah sudah memperingatimu sebelumnya.” Dengan tawa canggung. Hatinya berteriak, kenapa karma selau cepat menimpanya setiap kali dia ingin mengerjai Mark. Bahkan kali ini dia mengerjai Mark tanpa rencana, dia hanya berdia mengerjai ketika meliha ekspresi Mark dan Rangga tiba-tiba serius ketika dia menyinggung akhir tahun.
“ Sekarang papa tidak di sini, aku bisa melakukan apa saja.” bisik Mark.
“ Mark kau gila ya, ini kantor bagaimana bisa kau seperti ini.”
“ Tidak akan ada yang berani membicarakanku.” Jawabnya santai.
“ Mark awas saja jika kau berani, aku akan teriak.”
“ Jika kau teriak sama saja kau yang memberitahu mereka tentang apa yang kita lakukan.”
“ Eh.. dia benar-benar jadi brengsek. Hey..kembalikan Markku yang lembut.” Bisik hati Luna. Dia benar-benar merasa kalah. Luna menutup matanya dan menguci bibirnya dengan kuat, terlihat dari ekspresinya.
“ Haha..” sekarang giliran Mark yang mentertawainya. Mark bangkit dan kembali duduk seperti semula.
“ Luna kau masih belim punya kemampuan untuk mengalahkanku. Kau haus banyak berlatih.” Ucapan sombong itu di ucapkan dengan masih tertawa.
Luna membuka matanya dan memandang kesal Mark yang mentertawainya. Dia juga kembali duduk seperti semula tapi dia sedikit bergeser untuk memberi jarak yang jauh dari Mark. Dia melipat tangannya dengan memanyunkan bibirnya dan menatap Mark dengan kesal.
“ Hem hem..” Mark berdehem setelah puas tertawa. Lalu dia kembali mendekati Luna.
“ Sayang jangan marah.” bujuknya sambil mengusap kepala Luna.
“ Aku tidak marah. aku hanya kesal.”
“ Maafkan aku. Aku tidak akan mulai jika kau tidak memancingku.” Dengan sedikit tertawa.
“ Aish..” Luna semakin kesal.
“ Sayang.. mulai besok aku akan sibuk. Apa kamu tega membuat kesan hari ini jadi aneh, humm?”
Setelah beberapa saat Mark membujuknya, akhirnya Luna luluh. Mereka kembali berbincang dengan serius, dan Luna tanpa di minta menjelaskan bagaimana hubungannya dengan pangeran Tris yang sebenarnya.
“ Hubunganku dengan pengeran Tris waktu itu memang baik, hingga orang mengira kami mempunyai hubungan yang special. Tapi saat itu aku tak punya keberanian untuk memastikan apakah aku layak dengan dia, mengingat statusnya sebagai pengeran. aku hanya menganggapnya sebagai kakak meski dia meski aku tahu dia menganggapku lebih dari itu.
Ternyata keraguanku bukan tanpa alasan, beberapa waktu kemudia aku mengetahui bahwa ayahnya tidak menyetujui hubunganku dengannya. huh, kehidupan dia sebagai pangeran sudah dia atur, dia sudah mempunyai calon istri bahkan saat dia masih dalam kandungan.
Aku maklum dengan hal itu, tapi suatu hari ketika aky pergi ke kantor untuk menemui papa, aku mendengar papa sedang di ancam oleh orang pangeran Tris yang memaksa papa untuk tetap menikahkan aku dengannya. sejak itulah aku semakin membencinya.
Boleh saja dia berjuang dan tak menyerah untuk bersikeras menininkanku, tapi jika sudah mengancam orang tuaku, apapun alasannya aku tidak akan terima.” Jelas Luna panjang lebar.
“ Humm.. “ gumam Mark sambil menganggukan kepalanya. dia terigat dengan perkataan Key bahwa Luna pernah menampar pangeran Tris. Meski terbesit dan ingin tahu, tapi dia tidak ingin terlalu banyak bicara, yang bisa saja itu membangkitkan Luka yang ingin Luna lupakan.
“Lalu bagaimana dengan syarat yang kau maksud?” Mark bertanya sesuai dengan hal yang di singgung oleh Luna saja.
“ Sebenarnya itu bukan apa-apa. di pertemuanku dengannya terakhir kali, Kami sudah banyak berbincang. Dia berusaha untuk tidak memaksakan keinginan atas aku. Lalu dia memintaku untuk tidak saling menghindari lagi.”
__ADS_1
Mark mendekap Luna dan mengusap bahu Luna dengan lembut. Dia tersenyum paham dengan semua ini. Pertemuan terakhir kali itu tentu saja saat di Cartagena waktu itu. Mark merasa lega, jadi inilah isi pembicaraan Luna denga Pangeran Tris waktu itu.