TUAN MUDA AKU BENCI KAMU

TUAN MUDA AKU BENCI KAMU
S2 BERDEBAT


__ADS_3

Segala sesuatu tentang Luna memang tak luput dari pengawasan Mark. Meski dia menanggapi dengan acuh, tapi kenyataannya dia menyelidikinya.


Seperti kotak hadiah yang di terima Luna sebelum mereka menikah. Ketika Luna menyuruh para pelayan untuk membuangnya, Mark menyuruh orangnya untuk menyelidikinya.


Saat itulah dia mengetahui nama James Lu, tapi tidak ada informasi lebih yang dia dapatkan, karena setelah tidak ada tindakan lain dari James Lu.


Pikir dan terus berfikir, hingga Mark punya insting jika pangeran Tris seharusnya tau tentang James Lu. Mengingat dulu pangeran Tris sudah lama bergaul dan juga cukup dekat dengan Luna.


Oleh karena itu ketika Mark mngunjungi pangeran Tris untuk sekedar memancing pengakuan pangeran Tris.


Saat pameran, lukisan Luna laku keras. Saat itu Mark juga langsung menyelidiki. Dari hasil menyelidikan ternyata Lukisan Luna di beli oleh perempuan tua yang bernama Margareth Crush, berasal dari Prancis.


Di selidiki lebih jauh ternyata di balik semua itu mengarah pada James Lu. Namun Mark tidak mengatakan tentang James Lu pada Luna. Karena ingin memastikan terlebih dahulu.


‘Ceklek’ Luna langsung menoleh pada Mark yang baru datang. Masih mengenakan handuk kimono, dia duduk di tepi ranjang sambil mengusap rambutnya yang basah.


“Sayang dari mana saja?” terus mengusap rambutnya. ”Aku sudah menyiapkan air hangat. Mandilah!”


Mark tidak menanggapi perkataan Luna, dia hanya diam mendekat lalu memeluk erat Luna dari belakang. Membuat Luna terkejut dan menghentikan aktifitasnya. “Ada apa sayang?” tanyanya heran, karena dera nafas berat Mark berhembus di telinganya.


“Kenapa mandi duluan?” menggigit kecil telinga Luna, hingga membuat gadis itu mengigit bibirnya.


“Gerah sayang. Lagian saat aku bangun, kamu tidak ada.” menatap Mark dengan memanyunkan bibirnya. “Memangnya kamu dari mana? Humm? Kamu masih belum menjawab pertanyaanku sayang.”


“Aku ke ruang baca sebentar.” Menaruh dagu di bahu Luna. “Sayang ada berapa list pria yang mengagumimu?” tanyanya tiba-tiba.


“Hah?” Luna bingung. Mengedipkan matanya beberapa kali. Tiba-tiba tersenyum karena muncul ide untuk mngusili suaminya.


“Pria yang mengagumiku ya? hmmm… 1, 2..” berhitung dengan jemarinya hingga membuat Mark mengangkat alisnya kesal.


“Sungguh menghitungnya? Semangat sekali membuat suamimu ini cemburu.”


“Cemburu?” menatap Mark lekat dengan binar mata bahagia. “ Hmm.. baiklah akan ku hitung lagi baik-baik. 1, 2, 3..” semakin bersemangat.


“Sungguh bersemangat ya...” Mark menggelitiki Luna dengan nakal.


“Sayang, aku sangat senang jika kamu cemburu. Hahaha..” mereka berdua bercanda ria di atas ranjang. Tawa dan omelan menyatu, namun akan membuat iri hati bagi yang mendengarnya.


***


Sesuai agenda yang telah di ubah, menghilangkan Hawai dari list destinaty untuk liburan Honyemoon. Maka hari ini merupakan H-1 berakhirnya liburan.


Berdasarkan agenda yang di atur Luna, hari ini merupakan hari kebebasan para wanita. Maksudnya, wanita bebas pergi kemana saja tanpa ada di temani pria. Sengaja mengatur ini, karena benar-benar ingin menikmati kebersamaan dengan teman-temannya.


Nindy, Lery dan Zhaon sudah memasuki mobil. Menungunggu Luna yang berpamitan dengan Mark.


“Sayang, kami pergi ya.” Mark mencium kening Luna. Antara ikhlas dan tidak ikhlas melepaskan istrinya keluar tanpa dirinya.


“Ya ampun.. sayang. Aku pergi dengan Nindy, kak Lery dan Zhaon. Kenapa memasang wajah tidak ikhlas begini.” Tertawa dan mencubit gemas pipi suaminya.


“Jaga diri baik-baik.” tapi masih memegangi tangan Luna. Membuat Luna mendengus senyum, lalu melirik Zhaon agar bersuara.


“Tuan, saya akan menjaga nona dengan baik. Dengan keahlian saya, apa tuan masih khawatir.” Zhaon melebarkan senyumnya saat Mark menatapnya datar.

__ADS_1


“Ya sudah aku pergi ya.” Luna mengusap pipi Mark dan memasuki mobil.


“Hey Zhaon, kau juga harus mejaga adikku dan sekeretarisku.” Teriak Key tiba-tiba.


“Haha.. pasti tuan.” Melebarkan senyumnya.


“Cih, benar-benar tidak ada yang peduli ya dengan ku?”


Zhaon mengasihani dirinya sendiri. Menyalakan mobil, klakson 2 kali dan melaju dengan kecepatan sedang.


“Baiklah mereka tanggung jawabku. Lalu aku tanggung jawab siapa? Hiks.”


Mulai merasa menjadi wanita ahli bela diri ternyata tidak begitu menguntungkan.


Empat pria yang di tinggalkan menatap mobil yang melaju menjauh. Sudah menghilang dari pandangan, Mark langsung membalikkan badannya.


“Masuklah. Kita bisa mulai.” Jalan duluan dan langsung di ikuti oleh Rangga, Key dan Jiang He.


Sepanjang jalan Key melirik Rangga, berharap Rangga tau, hal apa yang ingin di bahas oleh Mark. Karena semalam Mark mengirimi mereka pesan untuk berkumpul siang ini. Namun Rangga hanya mengangkat bahu pertanda tidak tau apa-apa.


“Tidak mungkin membahas Jhon kan? Sementara Jiang He di ikut sertakan untuk diskusi.” Key.


“Duduklah!.” Mark mempersilahkan saat mereka sudah berada di ruang baca.


Mark meminum jus buah dan memakan potongan buah yang di siapkan oleh pelayan. Membuat rasa penasaran Key semakin menggebu.


“Suasana apa ini? Apa yang terjadi? Kenapa aku merasa... aku sendiri yang tidak tau apa-apa di sini?”


Potongan ketiga, Mark berhenti. Menatap Key, Rangga dan Jiang He bergantian.


“Sungguh kau tidak mengenal pria yang bernama James Lu?” menatap Jiang He datar.


Key dan Rangga langsung melirik Mark dan Jiang He bergantian. Tenyata 2 pria ini sudah lebih dulu membahas apa yang akan di bicarakan.


“Tidak. Memangnya siapa prita itu.” balik bertanya. Karena ini sudah kedua kalinya Mark menanyainya. Pertama kali melalui pesan yang di kirimi Mark semalam padanya.


“Tentu saja tidak tau. Aku sendiri kesulitan mencarinya.”


“Dia pria aneh.” Tertawa kecil sambil mengusap keningnya. Membuat Jiang He yang tidak tau apa-apa semakin bingung.


“ Semalam Tris menghubungiku.” Smirk. Meraih kembali potongan buah dan memakannya.


“Apa yang dia katakan?” tanya Rangga sangat penasaran.


Rangga dan Key menatap serius. Sementara Jiang He masih bingung. Siapa James Lu? Kenapa 3 pria ini tertari membahasnya? Pertanyaan beruntun di pikirannya.


"Dia memberikan informasi mengenai James Lu padaku.” melirik Jiang He yang semakin bingung. “ Tris bilang James Lu tidak bisa di tebak. Entah dasar apa dia selalu memperhatikan Luna diam-diam, juga tidak di ketahui alasannya.”


“Seperti pengangum rahasia?” Jiang He memotong kalimat Mark. Mata kedua pria itu beradu.


“Ya bertindak demikian. Sesekali, namun tindakannya di atur dengan baik.” Mark menganalisa tindakan James Lu yang selalu pada moment penting. Pasti ada rencana di baliknya.


Jiang He mendengus senyum. Dia mulai paham pembahasan mengenai James Lu ini. Ada gurat bahagia di wajahnya, karena Mark benar-benar melindungi Luna.

__ADS_1


“Tris juga mengirim fotonya padaku.” meletakkan di meja. Rangga, Key dan Jiang He langsung melihatnya. Kening mereka saat melihat foto tersebut.


“Aku pikir dia akan memiliki tampang misterius seperti penguntit. Ternyata tidak, dia elegant. Hah, buat penasaran saja.” bibir atas Key terangkat. “Lalu apa rencanamu?”


“Aku ingin bertemu dengannya. Tris bilang dia akan muncul sekali dalam 3 tahun. Tahun ini seharusnya dia muncul.”


“Itu bagus.. semisterius apapun dia. Kau pasti bisa bertemu dengannya.” ujar Rangga.


“Tapi akau tidak yakin.” Mark membuang nafasnya kasar. Membut 3 pria itu menatapnya heran. Sejak kapan seorang Mark Rendra menjadi tidak percaya diri begini? Pikir mereka.


“Sepulang dari sini. Aku akan menyusul Louis ke Norwegia. Jadi..” menoleh ada Rangga.


“ Aku percayakan Luna padamu.” menepuk bahu Rangga pelan.


“Tapi…” sangat gusar Rangga ingin menyanggah. Tapi dipotong cepat oleh Mark.


“Sekali ini saja. Aku bersama Louis di sana. kalian tidak perlu khawatir!”


Rangga tetap tidak senang. Dia melirik Key yang tampak tatapannya mendingin.


“Mark, urusan di Norwegia sangat berbahaya.”


“Lalu bagaimana dengan keamanan istriku?” suara Mark meninggi memotong kalimat Rangga. ”Tidak ada yang bisa menjamin jika istriku akan selalu aman.” Menatap Rangga jengah.


“Urusan di Norwegia akan aku atasi dengan cepat. Lagian ini adalah dendamku. Kalian cukup sampai di sini membantuku. Biar aku sendiri yang mengakhiri.” Lanjutnya.


“Dendammu? Kau pikir itu hanya dendammu?” Key menatap Mark tajam. “Mark sejak kejadian di Amerika. Semua urusanmu juga menjadi urusan kami juga.” Tegasnya.


“Aku tidak mengizinkan sejauh ini. Sudah cukup sejauh ini Membantuku. Serangan akhir biarkan aku yang maju sendiri.”


“Mark..”


“Key..”


Kedua pria itu saling meninggikan suara. Mata mereka bersistatap tajam.


Jiang He menatap Mark, Key dan Rangga bergantian. Meski tidak banyak yang dia ketahui. Tapi sangat jelas, bahwa 3 orang sahabat ini saling peduli. Itulah ini dari perdebatan ini.


“Mark, biar aku yang menjaga Luna.” 3 pria itu langsung menatapnya. ”Aku akan menjaganya dengan baik. kalian bisa urus urusan di Norwegia dengan tenang.” lanjutnya.


“Bukannya aku tidak mempercayaimu Jiang He.” mengusap wajah hingga rambutnya kebelakang. “Tapi aku merasa James Lu bukan orang yang mudah. Oleh karena itu aku meminta 2 orang ini untuk tetap tinggal. Kalian bertiga yang menjaga Luna.” jelasnya. Sungguh dia merasa tidak tenang untuk meninggalkan Luna tanpa orang-orang yang dia percayai.


“Tidak! Aku akan tetap ikut denganmu.” Tegas Rangga. masa bodoh dengan penolakan Mark.


“Aku selalu mengikutimu. Mendengarkan setiap titahmu. Jadi aku juga akan menyelesaikan tugasku bersamamu. Jangan buat aku terhenti. Itu menyakitkan.” pinta Rangga dengan bibirnya yang bergetar.


“Key.. kau percaya padaku?” menoleh pada Key. “Biar aku dan Mark yang pergi. Kau dan Jiang He tetap tinggal untuk menjaga situasi sekitar Luna.”


Key mengusap wajahnya kasar. Membuang tatap ke lain arah. Dera nafasnya semakin tidak beraturan.


"Cih.. " decisnya gusar.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2