TUAN MUDA AKU BENCI KAMU

TUAN MUDA AKU BENCI KAMU
IBU BERTOLAK PULANG


__ADS_3

Luna merapikan rambutnya di depan meja rias. Sisir kiri, sisir kanan, semantara matanya terfokus mata Mark yang terlihat dari kaca yang sedang mengenakan kemejanya. Luna tersenyum, karena dulu dia sering melihat mamanya memasangi dasi papanya. Sepertinya hal sederhana seperti membantu suami berpakaian adalah hal yang menyenangkan. Itulah yang di pikirkannya.


“ Sayang perlu bantuan?” Luna berbalik badan menatap Mark dengan senyum.


“ Boleh.” Senyum cerah terlukis di bibir Mark melihat Luna mendekatinya.


Jantung Luna berdebar lebih cepat, saat melihat dada Mark yang berotot tepat di matanya karena Mark belum selesai memasangkan kancing kemejanya. Dengan tangan yang sedikit gemetaran Luna mulai mengancingi kemeja sang suami. Mark menatap Luna dengan senyum, karena pipi Luna yang tiba-tiba merona.


“ Sayang kenapa kamu masih saja sangat pemalu, lihatlah pipi cantik ini sangat merona. Tapi aku sangat menyukainya.” Menatap Luna dengan lekat.


Setelah selesai memasangkan kancing kemeja, tiba-tiba Luna berhenti sambil menatap tangannya yang memegangi tepi kemeja Mark.


“ Apa perlu aku juga yang merapikan ini?”


Pikir Luna bingung.


Mark hanya diam, dia ingin melihat bagaimana tindakan dari Luna. Luna menggelenggkan kepalanya, tanpa ragu dia merapikan semuanya. Setelah itu beranjak pada dasi, Luna sedikit berjinjit untuk menyeimbangi tubuh Mark yang tinggi. Dan terakhir Luna memakaikan jas sang suami.


Mark tampak menikmati moment sederhana yang manis ini. Begitupun Luna, dia tampak bahagia meski awalnya merasa gugup. Tak ada suara dari keduanya, hanya hati masing-masing yang bersorak gembira.


Sesekali mata mereka bertatapan, Luna hanya menunduk saat mata mereka beradu, dia masih merasa malu meski rasa gugupnya dapat dia padamkan. Mark tersenyum tipis melihat tingkah sang istri yang imut menurutnya, lagi-lagi pipi cantik istrinya merona, membuat dia semakin gemas dan ingin menggigitnya.


Luna mengusap lembut kedua bahu Mark untuk merapikan jas.


“Selesai..” Ucap Luna dengan senyum di ujung kalimatnya, lau dia mendongakkan wajahnya menatap Mark yang sedari tadi terus memandanginya. Tiba-tiba Mark meraih pinggang Luna dan menariknya ke dalam pelukannya.


Luna yang terkejut hingga mengedipkan matanya beberapa kali ketika tatapan mereka semakin dekat. “ Terimakasih kasih sayang.” Mark mengecup lembut bibir Luna. Sementara Luna membatu, diam, masih tanpa berkedip sedikitpun.


“ Apakah berterimakasihpun setelah menikah harus begini?”.

__ADS_1


***


“ Wah bagus, bagus.” Puji Luna pada lukisan dirinya dan Mark yang telah di warnai oleh Chika dan Chici.


Semua orang sudah berkumpul di ruang utama Vila yang biasa di tempati oleh Mark. Bahkan papa dan mama Luna juga berada di sana. Mereka berkumpul karena siang ini ibu Mark dan keluarga Rangga akan bertolak pulang. Terlalu cepat memang, tapi tidak ada yang bisa menahannya untuk menambah hari di sini.


“ Sungguh kak Luna?” Chika dan Chici tampak antusias, memandangi Luna dengan binar mata yang menunggu pujian selanjutnya.


“ Iya sayang. Ini sudah lumayan untuk kalian yang baru belajar.” Luna mengusap pipi si kembar. Lalu Luna melanjutkan penjelasannya, serta memberikan arahan. Agar ke depannya si kembar bisa lebih berkembang lagi.


“ Mark lihatlah istrimu dengan si kembar. Menyenangkan bukan melihat pemandangan ini.” tuan Gu berucap pelan pada Mark yang berada di sampingnya.


“ Heemm.” Jawab Mark singkat dan tanpa meoleh sama sekali. Matanya hanya tertuju pada Luna yang sedang asyik dengan si kembar. “ Jadi kalian kapan akan memberikan cucu pada kami.” Lanjut tuan Gu seraya tersenyum penuh harap.


“ Perkara ini, paman harus bersabar.”


“ Apa maksudmu?” Tuan Gu bertanya dengan suara yang gusar. raut tidak senang terlihat jelas dari wajahnya yang sudah keriput itu.


“ Apa?” Tuan Gu berucap keras memotong kalimat yang belum di selesaikan oleh Mark. Semua orang juga menoleh pada dua pria yang terlihat sedang mendebatkan sesuatu itu. menatap mereka penuh penasaran.


“ Ahaha.. Bukan apa-apa. tadi aku hanya tiba-tiba mengingat sesuatu.” Dalih Tuan Gu sambil mngibaskan satu tangannya. Sehingga orang-orang kembali pada topic pembicaraannya masing-masing serta memperhatikan Chika dan Chici yang sedang di arahkan oleh Luna.


“ Apa kau serius dengan ucapanmu?” tuan Gu melanjutkan pertanyaannya pada Mark.


“ Iya. Aku tidak tega melihat Luna hamil dalam aktivitas yang tidak bisa ku kendalikan. Lagian aku tidak ingin Luna hamil saat berjauhan denganku. SaatLuna hamil, dia harus berada di sisiku, agar aku bisa mengenali anakku dari awal pertumbuhannya.


” Jelas Mark dengan senyum yang melingkar di bibirnya. “ Oleh karena itu, paman harus selalu sehat. Agar bisa bermain lebih lama dengan cucu paman nantinya.” lanjut Mark sambil menoleh pada tuan Gu. Terlihat raut kebahaiaan dan juga haru di wajah tuan Gu, dia menganggukkan kepalannya dengan matanya yang terlihat sedikit berkaca-kaca.


“ Rai Rendra lihatlah putramu, dia benar-benar sangat mencintai istrinya seperti kau mencintai Zia istrimu. Aku sangat senang, akhirnya masa lalu tak lagi membayanginya. Dan meskipun sekarang Zia masih terlihat aneh, tapi aku yakin dalam hati kecilya dia sangat mencintai Mark buah hati kalian satu-satunya serta menantu kalian Luna dari keluarga Aliester teman lamamu. Rai, kau tenang saja! aku akan menjaga putra, menantu dan istrimu dengan baik. Kau tenanglah di sana.”

__ADS_1


“ Permisi Tuan, helicopter sudah siap.” Ucap seorang pengawal yang datang menghampiri Mark.


Semua orang langsung berhenti dan menoleh. Terlihat Chika dan Chici yang saling tatap, seolah mereka tidak mau beranjak. Menyadari hal itu Luna langsung memeluk keduanya.


“ Sayang, ingat ya harus patuh sama ayah dan ibu. Kalian harus kembali, kakak janji di lain kesempatan akan mengunjungi Chika dan Chici di Shanghai. Kalian harus belajar baik-baik ya.” Elus-elus lembut rambut keduanya. Chika dan Chici yang yang hanpir saja meneteskan air mata menganggukkan kepalanya.


Semuanya berdiri dan keluar untuk mengantarkan kepergian ibu Mark dan keluarga Rangga yang akan kembali ke desa Hemu dan Steven serta istri dan si kembar kembali ke Shanghai.


“ Ibu jaga kesehatanmu.” Mark memeluk ibunya erat. Sementara ibu hanya menganggukkan kepalanya lalu melepaskan pelukannya setelah beberapa saat.


“ Pakailah jas yang lebih tebal, di Hemu pasti kan sangat dingin.” sambil mengeratkan syal yang di kenakan ibunya. Terlihat senyum tipis di bibir ibunya. Ibu mengusap pipi Mark tanpa berucap sepatah katapun, lalu dia juga mengusap pipi Luna yang berdiri di samping Mark. Tatapan mata seorang ibu yang biasanya sangat teduh bagi Mark, sekarang lebih lekat dingin dan misterius. Entah apa yang di pikirkannya tidak ada yang tahu.


“ Luna jadilah istri yang penurut.” Suara ibu terdengar lembut dan memeluk Luna.


“ Baik bu.” Jawab Luna dengan senyum. Luna selalu berharap ini adalah hal yang tulus, tapi logikanya kembali mengingatkan tentang kesepakatannya dengan ibu Mark di waktu lalu. Luna hanya bisa menabahkan hatinya, bergantung kuat pada cinta yang telah Mark berikan padanya, karena hanya dengan itu dia akan selalu bisa bertahan menghadapi semua ini.


Setelah beberapa saat ibu melepaskan pelukannya dari Luna, menoleh pada tuan Gu serta orang tua sambil melempar senyum sebagai salam perpisahan. Kemudian dia langsung masuk ke dalam Helikopter yang sedari menunggu.


Semua orang sudah masuk, dan helicopter bersiap untuk terbang.


“ Berhati-hatilah. Dan sampai jumpa kembali.” sorak Tuan Gu sambil melambaikan tangan pada 2 holikopter yang mulai naik. Begitupun dengan yang lainnya juga melambaikan tangannya sebagai pengantar kepergian mereka. Tuan Gu terlihat lega, lalu dia bersitatap dengan tuan Aliester serta Rangga juga, lalu berisyarat untuk segera masuk.


“ Mark, ayo kita segera masuk, bukankah banyak hal yang perlu kita bahas.” Suara tuan Gu terengar serius, tak seperti biasanya. Hingga membuat Luna bingung. Dia menoleh pada Mark, seakan meminta penjelesan apa yang terjadi, namun Mark hanya memberikan isyarat mata yang lembut untuk mengajaknya masuk.


“ Baik paman.” Sambil mengikuti dari belakang. Dan


“ Ada apa ini? papa juga terlihat serius.” Bisik hati Luna yang terus berusaha menyelidik suasana macam apa ini.


.

__ADS_1


.


Bersambung..


__ADS_2