TUAN MUDA AKU BENCI KAMU

TUAN MUDA AKU BENCI KAMU
S2 TMABK


__ADS_3

Mark memandang tajam ke arah bibit dan pot yang sudah hancur itu di atas meja. Tidak lain itu mereka dapatkan di TKP Luna di culik. Semua orang tegang, pemilik toko dan karyawan di sana hanya tunduk menekur lantai. Terutama sang pemilik terlihat sangat resah. 


“Mark,” Muncul Rangga di situ. Sontak semuanya menoleh, kecuali Mark yang tetap pada ekspresi dinginnya. 


Rangga berdiri di depan Mark, “Semua video di CCTV telah mereka hapus. Menit Luna di culik mereka potong.” Terang Rangga.


Mark memejamkan setelah mendengar penjelasan Rangga.     Jemarinya yang berada di bahu kursi bergerak-gerak. Rangga memperhatikan setiap reaksi Mark, dia sedikit bingung kali ini.


“Mark..” panggil Rangga lagi.


Mark berdiri, “Jika begitu ayo kita pergi.” Langkah langsung diayun menuju pintu keluar. Semua orang di sana bingung dan saling tatap. 


Rangga mengeluh perlahan, dia tidak tahu apa yang dipikirkan oleh Mark sekarang. Tidak biasanya Mark seperti ini jika menyangkut perkara Luna. 


“Nona Shi, mohon kerja samanya. Orang-orang ku akan menindak lanjuti pencarian bukti lainnya di sini.” 


“Ba-baik tuan.” jawab Nona Shi sebagai pemilik toko itu.


Setelah itu Rangga juga langsung keluar menyusul Mark. Sempat dia berbincang dengan orangnya ketika di depan pintu toko. Masih ada 3 orang personel yang akan melanjutkan pencarian bukti di sana.


Rangga langsung memasuki mobil. Dia melirik Mark yang duduk di kursi belakang, melalui  kaca spion tengah. Sahabatnya itu hanya diam dengan ekspresi dingin.


“Mark ada apa? apa kau mengetahui sesuatu?” tanya Rangga. 


Diam. Hening.


Rangga menggeleng. Baiklah, sepertinya Mark butuh waktu untuk rencananya sendiri. Rangga yakin, Mark demikian karena mengetahui sesuatu. Mobil mulai di nyalakan dan mereka meninggalkan area toko bunga itu.


Sebaiknya mobil memasuki jalan raya, Mark langsung mengalihkan pandangannya keluar. 


“Rangga.” Mark tiba-tiba bersuara.


“Ya, ada apa Mark?” cepat Rangga menjawab serta melirik di kaca spion untuk melihat wajah sahabatnya itu.


“Luna baik-baik saja.”


Rangga langsung buat ekspresi blur. Apa maksudnya? dia keliru. Mark mengajukan pertanyaan atau mengungkapkan sebuah pernyataan?


“Iya. Semoga saja begitu. Luna bukan perempuan lemah.” jawab Rangga mengambil jalan tengah.


“Aku tidak sedang mengajukan pertanyaan ataupun sedang mengungkap harap.”


“Maksudmu?” tanya Rangga tanpa berkira-kira lagi.


“Cincin pernikahanku dengan Luna. Menurutmu apakah sembarangan orang yang mengetahui rahasianya?”


Rangga langsung menghentikan mobil saking terkejutnya akan kalimat Mark. Dia menoleh ke belakang menatap sahabatnya itu.


“Jadi menurutmu, apakah dia?” tanya Rangga pelik.


Perlahan Mark mengangguk, “Aku punya dua asumsi. Namun, aku yakin Luna aman sekarang. Jadi kita tunggu saja kabarnya.”


Rangga telan ludah. Berbagai hal di fikirannya sekarang.


“Baiklah.” mobil kembali dia lajukan.

__ADS_1


Mark membuka kaca mobil. Dia membiarkan similir angin menyapu wajah dan rambutnya.


Jam tangannya di tatap. Sebuah titik merah yang biasanya menyala, tidak lagi aktif sekarang. Titik yang menghubungkan dimana posisi Luna seharusnya. Titik itu baru terputus setalah 2 jam istrinya itu menghilang.


Situasi ini tidak asing. Mengingatkan Mark akan kasus-kasus dulu, ketika dia berhadapan dengan Hyena yang ahli teknologi. Sama dengan sekarang, Mark yakin sekarang Luna juga berada dengan orang yang juga mengerti teknologi dan juga banyak tahu tentang mereka.


Kebanyakan orang ketika melihat cincin yang dikenakan Luna, mungkin hanya akan merasa kagum akan kemewahannya yang melekat saja. Tidak akan mencurigai apapun akan teknologi canggih yang tertanam di sana. Selain merampas, menyimpan dan yang terburuk membuang. Intinya GPS tidak akan mati.


Namun sekarang cincin Luna non-aktif setelah 2 jam kejadian. Tentu saja Mark dapat mengira siapa orang yang bersama istrinya sekarang.


***


Luna membuka matanya perlahan. Dia melihat seseorang yang sedang menatapnya, namun kabur.


“Kamu sudah bangun?” 


Mata Luna langsung terbuka lebar mendengar suara itu.


James Lu!


Pria itu tengah tersenyum manis pada Luna.


“James..” Luna langsung duduk dan tersenyum lebar. Tangan James juga langsung di pegangnya.


“Terima kasih James. Terima kasih. Aku kira aku tidak akan berjumpa dengan anak dan suamiku lagi.” lancar saja air mata Luna keluar. Dia merasa sangat lega, meskipun bukan Mark yang datang menyelamatkannya sekarang.


Tiba-tiba James manarik tangannya perlahan. Luna mendongak menatap pria itu. Tangan James naik mengusap air mata Luna yang menetes di pipi. Pun Luna tidak menolak, karena dia memang baru bangkit dari rasa rapuh yang tadi menghujam. Lagian James Lu juga bukan orang lain baginya.


Luna meleret senyum dalam air mata kelegaan itu.


Luna tertegun. Aneh kalimat James ini. perlahan kepalanya digelengkan.


“Tidak James! Mark tidak pernah gagal. Mark selalu melindungiku, Mark selalu melakukan semua yang terbaik untukku. Aku saja yang kurang mawas diri dan nasibku kurang beruntung.”


Tiba-tiba James Lu tertawa dengan keras. Bulat mata Luna menatap James, Keningnya juga berkerut. Wajahnya di jauhkan dari tangan James yang masih mengusap air matanya itu.


“James.. kamu kenapa? jangan membuat aku takut.” Bergetar suara Luna keluar.


 “Luna apa yang kamu fikirkan sekarang? apa kamu berfikir aku menyelamatkanmu?”


Cepat Luna menganggukkan kepala. Ya! memang itu yang dipikirkannya.


Pecah tawa James sekali lagi.  Ada apa ini? Luna semakin takut. 


James menatap Luna yang penuh tanya itu.


“Kamu tidak salah Luna. Ya benar, aku menyelamatkanmu. Aku menyelamatkanmu dari orang yang di sakiti oleh Mark Rendra!” tajam James menatap Luna kali ini.


“A-apa maksudmu James?”


*4 Jam sebelumnya*


Mobil James Lu memasuki toko bunga itu. James tersenyum sendiri, karena tidak sabar ingin menemui gadis yang mempunyai tempat khusus di hatinya. Sebuah bag paper bermerek serta sejambang bunga rose yang terletak di kursi sebelahnya di pandang. Ah, James semakin tidak sabar untuk menemui Luna. Dia ingin memberi kejutan serta mengucapkan salam perpisahan, sebelum dia menghilang lagi.


Sesuai gelarnya yang misterius, pastinya dia menemui Luna tanpa sepengetahuan siapapun, termasuk Mark. Meskipun mereka akur, namun masalah prinsip dia tidak akan main-main. Lagian dia juga tidak merebut paksa Luna dari pria itu. So santai saja, dia sangat profesional. 

__ADS_1


Rambut dan jas di rapikan. Senyumnya merekah ketika melihat Luna keluar dari toko bunga dengan wajah ceria, serta dengan satu pot bibit bunga di tangan gadis itu. 


James Lu kembali merapikan rambutnya. Dia ingin perfect, karena dia juga harus menagih gelar baru dari gadis itu. Merasa puas dengan penampilannya, James Lu mengambil sejambang bunga rose dan bag paper tadi. Namun tiba-tiba pandangannya tertuju pada sosok yang sedang menekup hidung dan mulut Luna.


“Darn it!” mendidih darah James ketika melihat Luna kehilangan kesadaran, serta pot bunga di tangan Luna yang tengah jatuh.


James Lu langsung keluar dari mobilnya. 


Sosok yang menekup hidung dan mulut Luna itu tersenyum puas. Misya!


“Akhirnya Luna, kau ku dapatkan juga. Jika aku tidak bisa memiliki Mark, maka wanita manapun tidak boleh memilikinya. Waktumu sudah habis Luna!” Misya tersenyum miring. Tidak sabar untuk menyingkirkan Luna sekarang juga.


“Oh ya?” James Lu muncul dari belakang.


Berdesir darah Misya. Perlahan dia menoleh ke belakang.


“Siapa ka…”


Bugh!


Belum sempat Misya menghabiskan kalimatnya. Satu pukulan langsung melayang di wajahnya. James Lu menyambut tubuh Luna yang terlepas oleh Misya dan membiarkan Misya yang ambruk ke beton itu. Topi Misya terlepas. Hidungnya langsung mengeluarkan banyak darah.


Tangan Misya naik mengusap hidung. Selain berdarah, sepertinya hidungnya itu patah. Tidak hanya hidung, wajahnya juga terasa sangat sakit. James Lu memang tidak terkira-kira menghujam tinju padanya. Misya meringis menahan sakit sambil mencoba untuk bangkit.


Namun, belum sempat Misya bangun, James telah menginjak leher gadis itu dengan penuh amarah. Matanya memerah dan berapi-api.


Lidah Misya terjolok keluar dan wajahnya sudah merah padam. Urat-uratnya terlihat dengan jelas. Tangannya sedaya mungkin berusaha melepaskan kaki pria itu dari lehernya.


*Flashback end*


Luna memejamkan matanya setelah mendengar penjelasan James Lu. Air matanya berlinangan.


“Itu bukan salah Mark. Misya, gadis itu... sudah pergi dengan cara baik-baik. Kami mengira dia memang tidak punya rencana jahat apapun. Karena selama di villa pun, dia tidak pernah bertingkah.” Ujar Luna dengan terisak.


“Sudah lah Luna... jangan terus-terusan membela Mark Rendra. Berada di sampingya, hanya akan membuatmu selalu dalam bahaya.”


“A-apa maksudmu?” Luna mengangkat wajah menatap James Lu. Suara jengah James membuat Luna tidak berpuas hati.


“Kamu akan tetap di sini bersamaku!”  James Lu langsung keluar dari kamar itu.


Luna menggeleng, “Tidak James…” dia bangkit dari ranjang itu. Dia kejar James Lu semampunya. Namun apa daya pintu sudah tertutup.


 Luna terus mengetuk pintu dan memohon.


“James lepaskan aku. Mark tidak salah, aku yang salah. James.. aku mohon. James….”


Pintu terus di gedor-gedor sekuat tenaganya.


“James aku harus pulang. Aku rindu anakku. Aku rindu Allard…” isaknya kuat. Namun tidak ada sedikitpun tanggapan.


"James.. aku ini seorang ibu. Allard, anakku.. aku tidak bisa hidup tanpanya. James..."


Bersambung….


 

__ADS_1


__ADS_2