
Malam semakin larut, pesta sudah pada puncaknya, pesta yang megah ini harus tetap usai. Dan semuanya berakhir dengan penuh kebahagiaan.
Para tamu sudah mulai pulang, sementara Mark, Luna dan kedua keluarga berkumpul dalam ruangan yang khusus telah di siapkan. Si kembar tetap bergelayutan pada Luna, sedari kemaren mereka hendak menempel pada Luna, tapi tidak bisa karena sibuknya seoarang pengantin.
Di tengah perbincangan ringan di antara keluarga tersebut Mark melihat Rangga yang baru datang mengodenya.
“ Sayang sepertinya Nindy dan yang lainya ingin menemui kita sbelum mereka pulang.” bisik Mark di telinga Luna.
“ Baiklah.” jawab Luna lembut.
“ Hem.. semuanya boleh kami keluar duluan.” Mark memotong pembicaraan hangat kedua keluarganya. Semua mata langsung melihat pada pasangan pengantin ini.
“ Haha.. baiklah. Kami sangat paham.” Gurau tuan Gu hingga memecahkan gelak semua orang di sana. Pikiran mereka entah lari kemana, hingga kalimat sederhana itu mengundang tawa. Yang mengerti terkekeh, yang tidak mengerti seperti si kembar Chira dan Chici hanya tersenyum cengingisan dan garuk kepala.
" Apa yang Lucu?"
Luna juga cengingisan tak paham, karena di pikirannya sangat lurus. Mereka izin keluar karena ingin menemui teman, tidak ada lagi terpikir hal lebih jauh lagi. Yes.. si kembar ada teman yang tak paham kalimat itu.
“ Kami semua juga akan segera kembali. Kalian nikmatilah malam ini. Jangan pikirkan hal lain.” tuan Gu menambahkan.
“ Baiklah. Jika begitu, semuanya berhati-hatilah di jalan.” Mark menatap semua orang dengan senyum.
Luna berdiri, lalumendekati papa dan mamanya. langsung memeluk dan mencium keduanya.
“ Pa, ma besok Luna kembali ke rumah.” Ucapnya menahan air mata.
“ Iya sayang.” Mama dan papanya terlihat lebih tegar, agar putrinya juga bisa lebih tenang.
Semuanya sudah berpelukan dan perpamitan untuk kembali ke rumah atau vila. Mark dan Luna tidak bisa mengantar mereka ke depan karena masih harus menemui teman mereka di sini. Luna memandangi punggung kedua orang tuanya dan juga ibu mertuanya. Entah kenapa air matanya kembali mengalir.
Mark menyadari itu, langsung menggenggam tangan Luna untuk menenangkan. Luna tersenyum dalam air matanya, lalu mengusapnya.
“ Ayo..” ajak Luna. “ Sudah merasa tenang?” Mark memastikan.
“ Sudah, suamiku sangat pintar menenangkaku.” Luna tersenyum, masih saja mencoba untuk menggoda dengan kalimatnya itu.
Mark gemas dengan Luna, dia mencubit hidung Luna dengan lembut. Setelah itu mereka langsung berjalan menuju tempat Nindy dan yang lainnya menunggu.
***
Didalam ruangan yang besar, di sana sudah terdapat Nindy, Alexa, Hanny, Rangga, Key dan juga Jiang He. Mereka duduk melingkari meja bundar, berbincang sambil menikmati minuman.
Saat mendengar pengawal membukakan pintu semua mata tertuju pada pintu tersebut, bersiap menyambut pemeran utama malam ini.
“ Wah akhirnya pangeran dan putri datang juga.” Ucap Nindy antusias saat Luna dan Mark memasuki ruangan itu.
“ Ayo cepatlah bergabung!” Tambah Key seakan mendesak, tapi di wajahnya seringai senyum bahagia.
Luna melangkah menatap semua orang, dan terfokus pada Jiang He. Karena sampai saat ini dia belum sempat bicara dengan pria itu. Pria yang tiba-tiba menjauhinya sejak kembali dari Prancis terakhir kali.
“ Aku ingin bicara dengan kak Jiang He, saat pesta tadi dia hanya melempar senyum padaku.” bisik hati Luna sambil melirik wajah Mark.
“ Silahkan duduk.” Rangga dan Key menyiapkan Kursi untuk Mark dan Luna.
“ Maaf kan kami mengganggu kalian, seharusnya ini menjadi malam pertama yang panjang untuk kalian bukan.” Key langsung bicara tanpa rem, sehingga mengundang gelak tawa orang di sana.
Luna pipinya langsung merona dan tersenyum malu. Sementara hati yang tersakiti di sana yakni Jiang He hanya tersenyum masam.
“ Ya ya..” yang lainnya senyum angguk-angguk. Untung saja mulut Key yang tidak punya rem itu hanya berucap sampai di situ, jika di lanjutkan lagi, mungkin wajah Luna akan seperti kepiting rebus karena saking malunya.
“ Luna kau pasti sangat lelahkan? Tenang saja kami tidak akan lama. Kami hanya ingin menyerahlan kado special ini untuk kalian.” Hanny menjentikkan jarinyanya, lalu seorang pelayan pria muncul dengan membawa beberapa box mewah.
Luna terkejut, dia merasa ini terlalu berlebihan. Kenapa harus memberinya kado.
“ Aduh kenapa repot-repot sekali. Terimakasih semuanya..” Luna tersenyum, tapi sesekali dia tetap melirik Jiang He yang tampak sangat pendiam sekali dan lebih fokus pada minumannya.
__ADS_1
Ada rasa kecewa di hatinya, rasa bersalahnya semakin membesar. Teringat perkataan Hyena yang mengatakan jika dia tidak mau melepas Jiang He, meskipun dia sadar dari awal dia tidak pernah sekalipun menahan Jiang He di sisinya.
Jika memang melepaskan, mau melapaskan dengan cara apa lagi? Ini sudah di lakukannya secara penuh. Dia sudah menikah dengan pria yang di cintainya, yang menandakan bahwa dia benar-benar tidak ada perasaan lebih pada Jiang He. Tapi apa? Jiang He malah menjauhinya.
Dia tidak ingin kehilangan sosok Jiang He dengan cara menyakitkan, seperti diam, tanpa bicara, tanpa kabar, lalu menghilang seperti butir embun di pagi hari.
“ Kak Jiang He..” Luna memberanikan dirinya untuk memulai pembicaraan.
“ Iya Luna.” Jiang He yang sedari tadi tak memandanginya lagsung menoleh padanya, lalu tersenyum. “ Selamat atas pernikahanmu, aku turut bahagia. Berjanjilah padaku untuk selalu bahagia.” Tambah Jiang He, dengan senyumya yang terlihat di paksakan itu.
“ Terimakasih kak,” Luna menundukkan kepalanya.
Mark mengusap punggung Luna, berharap bisa memberikan ketenangan. Dia tahu bagaimana Luna menganggap Jiang He, meski hatinya cemburu. Tapi dia juga tak ingin egois, dia percaya bahwa Luna pasti tahu batasannya.
“ Sayang bicaralah dengan nyaman, kami semua akan keluar.” bisik Mark. Luna sedikit terkejut, dia memandang lekat wajah suaminya, tatapan penuh terimakasih. Terimakasih atas pengertiannya.
Semua orang berdiri selain Luna dan Jiang He, karena memang ini tujuan dari pertemuan ini. Mark sengaja mengaturnya. Karena Jiang He sangat keras kepala tidak ingin berbicara dengan Luna.
“ Kalian mau kemana? Aku mohon jangan begini. Aku tidak ada hal yang di bicarakan dengan Luna.” Jiang langsung menahan, tatapannya tampak tidak terima. “ Mark, Luna pasti sangat lelah. Lebih baik kalian beristirahat. Jang pedulikan apapun.” lanjutnya.
Semua orang saling tatap bingung, sementara Luna semakin menundukkan wajahnya, sebegitu bencinya kah, hingga tidak ingin berbincang dengannya? apa salahnya, dia hanya melakukan hal yang dia inginkan. kenapa membencinya? Memangnya dia tidak berhak menentukan kebahagiaannya sendiri?.
Mark mengusap bahu Luna, khawatir Luna menangis. Lalu dia menatap Jiang He rasa kecewa.
Tiba-tiba Luna mengangkat kepalanya, dia tidak menagis. Dia malah tersenyum menatap Jiang He dan tangannya menyentuh tangan Mark yang mengusap bahunya. Sepertinya dia sudah membunuh tangisnya saat menundukkan kepala tadi.
“ Baiklah, aku dan suamiku akan segera beristirahat. Kakak dan yang lain juga segera beristirahatlah. Malam semakin larut, hari ini pasti sangat melelahkan. Terimakasih sudah menghadiri pesta pernikahan kami.” Luna berdiri, lalu menggandeng tangan Mark.
Jiang He terdiam, ucapan Luna perkatanya sangat santai dan penuh senyum, tapi terasa menusuk. Dia tahu bahwa ini pertanda bahwa Luna sudah menjatuhkan rasa kecewa padanya.
“ Kenapa hatiku semakin sakit?” bisik hati Jiang He. Sekarang gilirannya tertunduk, diam tanpa kata.
Tak ingin suasana terlalu mencekam, Nindy dengan suara nyaringnya langsung bertindak.
“ Luna setibanya di penginapan kau harus membuka kado dariku, itu yang berwarna BlackGold.” bisik Nindy.
“ Baiklah. kau tenang saja.” jawab Luna dengan tawa kecil.
Selanjutnya, di susul dengan pelukan dari Hanny dan Alexa.
“ Jiang He kami pergi.” ucap Mark pamit, karena Jiang He masih menundukkan kepala.
Jiang tak bersuara, dia hanya menggerakkan tangannya pertanda menyuruh pergi. tentu saja hal itu membuat Luna semakin kesal padanya.
“ Kak kenapa kamu kekanakan begini. Dimana wibawamu selama ini?” bisik hati Luna kecewa, hingga dia manarik tangan Mark untuk segera keluar dari ruangan ini. Tak ingin kecewa lebih banyak lagi.
“ Luna, jika ada waktu bisakah kita bicara.” Suara Jiang He mulai keluar lagi. Dia sudah mengangkat kepalanya dan menatap Mark dan Luna yang mulai menjauh.
Mark dan Luna menghentikan langkahnya, Luna mendesahkan senyumnya merasa lega.
“ Tentu saja kak. Aku akan menghubungimu, jangan blokir lagi nomorku.” Luna bicara sambil tertawa kecil, hingga suasana yang masih mencekam langsung sirna.
Jiang He tersenyum, lalu menganggukkan kepalanya. Begitupun Luna tersenyum, lalu kembali berbalik badan dan pergi.
Pergi dengan perasaan lega. Bersyukur malam ini dia bisa tidur dengan nyenyak, tidak ada lagi beban untuk perkara Jiang He di kepalanya.
***
Mark dan Luna sudah dalam perjalanan menuju penginapan. Entah kemana Mark membawanya , dia juga tidak tahu. Karena urusan ini dia serahkan pada Mark. Padahal Luna hanya ingin langsung pulang ke rumah saja.
“ Aku hanya kita berdua saja malam itu.” begitu kekanakannya jawab Mark waktu mereka berdebat 2 hari sebelumnya.
“ Aaa.. memangnya apa bedanya? Di kamarku juga hanya kita berdua.” Gerutu Luna tiba-tiba kesal mengingat perdebatan mereka waktu itu.
“ Kenapa?” tanya Mark. sadar istrinya mendesah kesal.
__ADS_1
“ Tidak apa-apa. Aku hanya sedikit mengantuk.”
“ Tidurlah!” Mark memperbaiki duduknya, lalu menepuk pangkuannya.
“ Tidak mau.” Menolak kesal. Katanya sayang istri, tapi dia tidak mau memberi tahuku pergi kemana malam ini. Begitu pikir Luna.
“ Hei tuan muda, aku bisa menuntutmu karena menculikku dan membawaku entah kemana.”
“ Eh..” Luna terkejut, karena Mark menariknya hingga jatuh ke pangkuan.
“ Tidurlah, jangan cemberut-cemberut lagi.” sambil mengusap lembut rambut Luna.
“ Huh” Luna berusaha bangkit, sungguh sangat kesal, tidak suka main rahasia-rahasian.
Tapi dengan sigab Mark menahannya,
“ Sayang apa kau ingin menggodaku dengan wajah cemberut ini?” Mark mendekatkan wajahnya.
“ Hei.. siapa yang menggodamu? Jelas-jelas aku sangat kesal.”
Tanpa pilhan lain Luna, kembali merebahkan diri di pangskuan sang suami, masih dengan perasaan kesal dia memejamkan matanya. Mark tersenyum puas, senang bisa membuat Luna penasaran hingga kesal seperti ini.
“ Sayang.”
“ Hemm.”
“ Jangan marah.”
“ Tidak.”
“ Terus?”
“ Terus apa?”
“ Kenapa jawabnya singkat.”
Luna diam.
“ Chu..” Mark mengecup bibir Luna.
Luna terkejut, hingga membuka matanya.
“ Hei tuan Muda, di depan ada sopir. Kau benar-benar tidak tahu malu ya.” batin Luna.
Bersambung..
.
.
Hai semua.. sudah pada taukan jika kita sedang menuju episode-episode terakhir.
Oleh karena itu aku mau ngasih info lagi, kalo aku mau update episode-episode terakhir ini dengan 2 kali tahap.
Aku bakalan up 2 ato 3 eps nantinya, tujuannya agar lebih puas membacanya dan menikmati eps-eps terakhir ini. Dari pada up tiap hri tapi 1 eps, kan rasanya agak gantung-gatung gimana gitukan.
jadwal up:
- Tahap 1: Sabtu, 28 Maret.
- Tahap 2: Rabu, 01 April
Terimakasih.
Jangan lupa like dan komentnya yah.
__ADS_1