TUAN MUDA AKU BENCI KAMU

TUAN MUDA AKU BENCI KAMU
HATI DAN PEMIKIRAN YANG SAMA


__ADS_3

“ Luna terimakasih telah menerima lamaranku, mau menikah denganku, menghabiskan waktu bersamaku, menjadi ibu dari anak-anaku. Serta jadilah sebagai nama yang akan tertera di sebelah nisanku, hingga di penutupan usia di peristirahatan terakhir kita tetap bersama.” Mark mengusap kepala Luna dengan penuh kelembutan dan perasaan yang sangat mendalam.


Luna mengangkat kepalanya dan mendongak menatap wajah kekasihnya, sepertinya adahal yang ingin dia sampaikan tapi hal itu tak terucap lagi, karena begitu dalamnya kalimat terakhir yang Mark ucapkan.


Luna memilih untuk mengangguk dengan menunjukkan perasaannya yang sangat tulus sebagai bentuk kesediaannya untuk mengarungi apapun bersama kekasihnya bahkan sampai roh terpisah dari badan. Dia benar-benar tersentuh, hingga kedua bola mata indahnya mulai berkaca-kaca, lalu meneteskan air mata kebahagiaan.


“ Bodoh, kenapa kau menangis?” sambil menugusap air mata yang mengalir di pipi Luna.


“ Ini air mata kebahagiaan. Mark terimakasih untuk semuanya.” Dengan air mata yang masih mengalir.


Mark tersenyum dengan mengedipkan matanya dengan lembut. Tangannya memegang tengkuk Luna, dia mendekatkan wajahnya begitupun Luna seolah mengarti, lalu dia memejamkan matanya bersiap menerima kecupan dari kekasihnya.


“ Hem hem.. “ tiba-tiba tuan Aliester dan istrinya datang menggagalkan semuanya . Mereka memandangi Mark dan putrinya.


Sontak Mark langsung behenti dan Luna membuka matanya. Mereka langsung berdiri dengan tegap menghadap tuan Aliester dan nyonya Aliester. Rasa canggung terasa sangat kuat, Luna yang sangat Malu, Serta Mark yang mulai khawatir karena dia teringat ketika tuan Aliester melemparnya keluar karena salah berucap mengenai hubungan dewasa.


“ Papa mertua, apa kau juga akan melemparku kali ini?” sorot matanya khawatir dengan senyum canggung di bibirnya.


“ Sangat malu sekali hal seperti ini di lihat papa dan mama.” Luna yang sudah keringat dingin berusaha untuk tersenyum.


“ Melihat hal ini sepertinya ada kabar gembira, tapi kalian tahanlah. Sebentar lagi juga akan menikah.” Dengan nada dan ekspresi kesal.


Mark dan Luna hanya diam membatu seperti anak keci yang di marahi, mereka menundukkan kepala lalu saling melirik. Maafkan kami, kami hilang kendali. Begitu ekspresi mereka mengatakan.


“ Papa jangan seperti ini pada putri dan menantuku, papa seperti tidak pernah muda saja. Sekarang ayo kita mulai makan malamnya,” Nyonya Aliester berjalan mendekati Luna dan Mark.


“ Menantuku, kau duduk di samping mama ya. Sekarang mama sangat bahagia.” Lanjut nyonya Aliester. Dia menggandeng Luna dan Mark, dan berjalan bersama menuju meja makan.


Ini seperti aksi balas dendam, karena dia tidak memperdulikan suaminya sama sekali. dia melewati begitu saja suaminya sambil berbincang ceria dengan Luna dan Mark.


“ Mama akan melakukan yang terbaik untuk pesta pernikahan kalian. Mama sudah sangat tidak sabar.” dengan tawa bahagia.


Tuan Aliester menatapi mereka dengan kesal, lalu mengikuti dari belakang.


“ Istriku, apa kau lupa dengan suamimu. Kenapa kau kejam sekali.” Rengek hatinya.


Saat sampai di meja makan, nyonya Aliester menyuruh Mark dan Luna untuk duduk dan menikmati saja, sedangkan dia menyajikan semuanya di piring Mark dan Luna. Dia benar-benar memberi service terbaik pada putri dan calon memantunya.


“ Istriku suamimu juga mau di layani.” Rengek tua Aliester dengan ekspresi memelas.


“ Ahaha.. maaf suamiku, aku terlalu bahagia hingga melupakanmu.” Dia tersenyum ramah tapi sorot matanya memberikan isyarat memperingati.


“Ini balasan kecil dariku suamiku. Lain kali apa kau masih mau memperlakukan putri dan menantuku dengan kejam.”


Namun aksi balas dendam antara nyonya Aliester pada suaminya hanya sampai di situ saja. Karena dia tidak ingin merusak moment bahagia putri dan menantunya. Sesaat setelahnya dia kembali bersikap hangat, hingga suasana menjadi begitu hidup dan penuh canda.


Huh.. wanita memang pondasi dari kebahagiaan dan kehangatan. Jika hati wanita terusik, jangan harap akan ada kehangatan dan canda tawa.


***


Luna menghempaskan dirinya di ranjang. Dia sudah berganti pakaian dengan baju tidur , senyum di bibirnya masih merekah.

__ADS_1


“ Ini sungguh di luar dugaanku. Ternyata hatiku sangat senang dengan fakta bahwa aku dan Mark akan segera menikah.” dia merasa malu sendiri dengan sikapnya yang sempat ingin menolak.


“ Aaa.. aku harus bagaimana? aku sangat bahagia hingga tak bisa mengontrol senyumku.” Luna berguling-guling seperti anak kecil di ranjangnya.


‘ zhrrtt ‘ tiba-tiba ponselnya bergetar.


“ Hah?” Luna langsung berhentikan berguling. Dia langsung meraik ponselnya.


“ Mark..,” Nama kontak di layar panggilan membuat dia tersenyum, lalu dia menjawabnya dengan tenang.


“ Ya Mark.. ada apa?“


“ Aku hanya ingin menyapa calon istriku sebelum dia terlelap.” Goda Mark, dia duduk dengan menyandarkan punggungnya di kepala ranjang. Di tangannya juga terdapat sebuah buku.


“ Mark kau jangan menggodaku! ” Luna sudah sangat tersipu malu dengan panggilan itu.


“ Haha.. memangnya apa yang salah. Bukankah faktanya seperti itu. Luna kau masih saja malu pada calon suamimu?” Mark makin menjadi jadi untuk menggoda.


“ Mark jika kau terus begini, aku akan memutuskan panggilan dan memblokir kontakmu.” Jawab Luna dengan cetus, dia tidak ingin terus di goda seperti itu.


“ Baiklah. Aku akan berhenti.” Sambil tertawa. Sementara Luna sudah memanyun manyunkan bibirnya karena kesal.


“ Luna pesta pernikahan kita akan di adakan 2 minggu lagi. Tapi..,”


“ Mark aku paham." Luna memotong kalimat Mark.


"Aku tahu kau akan sibuk, aku tidak apa-apa aku punya papa, mama, kak Hanny dan Nindy yang akan membantu. Urus saja urusanmu, jangan terbebani oleh ini.” nada bicara Luna sangat lembut dan menenangkan. Hati Mark yang semulanya merasa bersalah karena tidak punya banyak waktu untuk menemani Luna dalam menyiapkan pesta pernikahan mereka.


“ Karena kau adalah Mark Rendra, aku pasti tenang.” dengan senyum.


“ Kau memang yang terbaik.” Mark merasa sangat lega.


“ Mark. aku punya permintaan.” Nada bicara Luna tiba-tiba terdengar canggung.


Mark mengerutkan keningnya, “ Katakan, Mark Rendra pasti akan memenuhi semua permintaan calon istrinya.”


“ Tapi kau harus janji tidak akan marah padaku.”


“ Luna memangnya yang kau minta hal yang tidak bisa ku penuhi ya? apa kau meminta ikan yang terbang di langit dan ayam yang berenang di laut lagi padaku? jika memang itu keiginanmu, maka aku menyiapkannya untukmu.”


“ Haha.. ini bukan hal yang mustahil lagi. Tapi kau harus janji dulu.”


“ Baiklah, aku janji.”


Luna mengambil nafas dalam dang mengeluarkannya dengan perlahan.


“ Mark ini hubungan kita setelah menikah,” terdengar ragu ragu. Sementara Mark diam dengan mengerutkan dahi, dia penasaran apa yang ingin sampaikan Luna.


“ Kita perlu mendiskusikan ini. Tapi aku berharap kau akan menyetujui usulanku.”


Mark masih diam mendengarkan, tapi hal ini membuat Luna malah merasa bersalah.

__ADS_1


“ Mark kau tidak marahkan? Aku bahkan belum mengatakannya.” Suaranya terdengar bersalah.


“ Luna katakan saja, aku tidak marah. Aku diam karena mendengarkanmu.”


“ Mark..” tiba-tiba Luna berhenti, dia seperti tak ada keberanian untuk berbicara.


“ Bagaimana aku biasa memulai pembicaraan ini, sangat canggung sekali. Lidahku juga terasa berat mengatakannya” Luna berguman penuh keraguan. Luna mengambil bonela kelincinya lalu main-mainkannya sesuai gejilah emosinya.


Mark tersenyum.. dia seolah tau dengan keraguan kekasihnya itu.


Luna mengumpulkan segenap keberaniannya, hatinya terus meyakinkan bahwa dia pasti mengeluarkan kaliamat ini.


“ Mark karena aku akan melanjutkan pendidikanku setelah kita menikah.. kau tidak keberatankan jika kita menunda untuk memiliki bayi.” Luna langsung menggigit bibirnya setelah menyelesaikan kalimat yang di ucapkan dengan sangat canggung itu. Dia berharap respon positif dari Mark, dia berharap Mark tidak akan mentertawakannya atau menggodanya.


“ Please Mark.. setuju dengan usulanku.” Bisik hatinya penuh harap.


Mark menyeringaikan senyum, seolah tebakannya benar bahwa Luna pasti akan membahas ini.


“ Baiklah, aku tidak masalah dengan ini. Luna, aku tidak akan pernah memaksamu untuk melakukan apa yang tidak ingin kau lakukan. Aku sangat mencintaimu, aku hanya akan melakukan hal yang membuatmu nyaman. Kita bisa menundanya, kau belajarlah tanpa beban.” Dengan nada yang sangat lembut.


“ Sungguh? Mark aku sanga berterimakasih padamu. sekarang aku bisa lega.” Luna mulai bersemangat lagi, karena beban pikiran itu sudah dia lepaskan.


“ Mark tapi bukankah akan sangat menyedihkan, setelah kita menikah lalu kita berpisah.” emosinya tiba tiba menyulut sedih.


“ Aku akan sering mengunjungimu, jangan khawatir.”


“ Terimakasih Mark.” ucapnya Manja, sambil memeluk boneka kelincinya. Jika saja Mark berada di sampingnya mungkin dia sudah bergelayutan di tubuh Mark.


“ Itu memang sudah seharusnya aku lakukan. Hum.. Luna sekarang kamu istirahatlah, jaga kesehatanmu dengan baik.”


“ Kau juga.. selamat malam sayang. Love You..” Ucap Luna malu, lalu dia langsung memutuskan panggilan. Dia merasa malu dan geli sendiri dengan sikapnya.


Semantara Mark tersenyum hingga menggelengkan epalanya, karena Luna memang masih saja malu-malu dalam mengekspresikan perasaannya.


Mark memilih kontak Luna di ponselnya, lalu dia melakukan pengeditan.


Di waktuu yang bersamaan, setelah beguling-guling karena malu sendiri, Luna mengambil ponselnya, lalu melakukan pengeditan pada kontak Mark.


“ Future Wife.” Mark menubah nama Kontak kekasihnya.


“ Future Husband.“ Begitupun Luna juga melakukan hal yang sama.


Kemudian senyum kebahagian terukir di bibir mereka.


Meskipun berjauhan tapi mereka mempunyai pemikiran yang sama dan bertindak melakkan hal yang manis itu dalam waktu yang bersamaan.


Bersambung...


.


.

__ADS_1


Jangan lupa asupan Like dan komentnya ya readers.


__ADS_2