TUAN MUDA AKU BENCI KAMU

TUAN MUDA AKU BENCI KAMU
S2 TMABK


__ADS_3

Luna membuka perlahan matanya. Seketika dia merasa hampa jika Mark tidak ada lagi di sisinya. Luna menghela napas perlahan. Ini pasti ulah James Lu, pikirnya.


Tiba-tiba Luna di kejutkan dengan suara pintu dibuka. Dia semakin bingung karena begitu ramai yang memasuki kamarnya. Peliknya lagi mereka membawa sebuah gaun berwana putih yang begitu mewah.


“Kalian mau apa?” tanya Luna tidak senang.


“Nona, anda harus segera bersiap-siap dan kenakan gaun ini.” jawab Chifei, wanita yang berdiri paling dekat pada Luna.


Kening Luna berkerut, “Aku mengenakan gaun ini? but, for what?” tanyanya pelik. Bukankah ini gaun pengantin?


Chifei tersenyum lembut, “Nona, hari ini adalah pernikahan anda dengan Tuan.”


Apa? berdesir darah Luna, matanya juga membulat.


“Tu.. Tuan siapa maksud kalian?” terbata-bata Luna bertanya.


“Pastinya Tuan James. Memangnya siapa lagi Tuan di sini.”


Tidak! Luna bagaikan hilang energy sekarang. Dadanya seketika juga berombak. 


“Sayang, apapun yang terjadi besok ikuti saja. Aku akan selalu mengawasimu.”


Jadi inikah yang dimaksud oleh Mark semalam? Tangan dibawa ke dada. Tapi kenapa begini? Matanya di pejamkan. 


“Nona,” Chifei kembali bersuara.


“Ya,” jawab Luna sambil menganggukkan kepala. Pertanda dia setuju.


Chifei langsung memberi kode perintah pada yang lainnya. Dua orang langsung membantu Luna bangkit dari ranjang itu. Luna pasrah. Semuanya Luna pertaruhkan sekarang. 


***


“Kita sudah sampai Daddy.” Ujar Nicia sambil menoleh ke luar jendela helicopter itu. 


“Sudah sampai? Hah, okey..” Java Moor menarik diri dari sandarannya. Matanya juga memandang pulau misterius ini. Perlu banyak masa untuk menemukan pulau ini.


Senyum mengembang di bibirnya. Tabir kemenangan seolah telah berada di depan mata. Persiapannya sudah sangat matang, di laut orang-orangnya juga sudah bersiap  di sana. Berbagai jebakan juga sudah dirancang dan tentunya, orang-orangnya juga tidak sedikit berada diantara pengawal dan pelayan di villa itu. Kehancurannya dulu kembali terbayang olehnya.


New York City~ Dunia bisnis dihebohkan akan keberhasilan EDDEN Group dikancah international. Tahun ini EDDEN ikut bebraris dalam jajaran 10 perusahaan global. Banyak yang memuji kinerja orang kepercayaan Tuan Gu. Mark Rendra! namun kala itu Mark masih menutupi identitasnya. 


Di tengah kebahagian bagi EDDEN, namun ada pihak yang merasa sangat tidak terima. Yaitu Java Moor. Semua itu karena dia kalah tender dari EDDEN dan mengakibatkan perusahaannya bangkrut. Paling menyakitkannya lagi, perusahaannya mau tidak mau juga di akuisisi oleh EDDEN.


Tidak sampai di situ saja, tidak lama setelah itu dia mendapat kabar dari Italy bahwa gang gelapnya juga sudah diluluh lantahkan oleh orang misterius. 


Darn it!!! James Lu tidak bisa lagi menahan amarah dan kebenciannya. 


“Kenapa selalu ada yang mengacau hidupku? Satu belum selesai, satu lagi juga sudah datang lagi.” Teriak Java Moor frustasi. Kenapa dia mesti kehilangan segelanya. Perusahaan serta gang gelapnya juga di hancurkan.


Gelas barisikan anggur di raih, lalu dia remas dengan mudahnya. Pecah dan tangan Java Moor juga sudah penuh dengan darah.


“Aku bersumpah akan membalas kalian. Aku akan buat perhitungan!” tekadnya.


Java Moor tertawa keras. And then.. hari ini datang juga. Setalah mengetahui kedua identitas penghancurnya dulu. Java Moor langsung mengatur banyak starategi. Dia juga selalu memantau dua orang itu dan menikmati berbagai peliknya kisah-kisah yang terjadi di hidup Mark dan James Lu. Dia tahu banyak hal. Termasuk cinta segitiga, Mark Rendra, James Lu dan Luna Aliester yang semakin mencuap akhir-akhir ini. Ini tontonan yang sangat menarik. 


Java Moor sangat bersemangat ketika mendapat info bahwa hari ini James Lu akan menikahi Luna Aliester. Bukankah sangat menarik? dua orang musuhnya juga saling bermusuhan. Jadi kerjanya tidak akan berat, dia cukup menjadi penonton saja dulu, setelahnya baru dia akan mengambil bagian. HAHA…


Ketika Helicopter berhasil mendarat, Java Moor, Nicia dan beberapa orangnya langsung turun. Nicia yang memimpin jalan di depan.


***


Semua orang tengah berada di Villa kediaman Mark. Semuanya cemas, hanya Allart yang tenang dalam gendongan Nyonya Aliester.


Ini sudah siang. Namun masih belum ada kabar dari Mark. Jaringan di pulau itu juga tidak bisa di akses semenjak subuh tadi. Ya Lord.. apa yang telah terjadi di sana? namun mereka tidak bisa berbuat apa-apa karena Mark telah berpesan pada pilot malam itu. Apapun yang terjadi, tidak perlu menyusul.


“Apa kita benar-benar tidak bisa melakukan sesuatu?” tanya Nindy gusar.


Key dan Jiang He menoleh. Serentak dua pria itu menggeleng. Nindy gigit bibir kecewa. 


“Nindy, kita percayakan saja pada Mark. Kita bertindak setelah mendapat signal darinya.” Jiang mencoba menenangkan calon istrinya itu.


Nindy mengangguk patuh. Ya! Suami Luna memang selalu bisa diandalkan. Kali ini semoga juga bisa. Mohonnya dalam hati.


Suara getar ponsel Rangga memecah kesunyian disitu. Cepat Rangga membuka ponsel dan alangkah terkejutnya Rangga membaca email yang diterimanya.


“Siapa?” tanya Key pelik melihat Rangga yang tiba-tiba membatu.


Perlahan Rangga memperlihatkan layar ponselnya pada semua orang. Foto Luna yang tengah mengenakan pakaian pengantin.


“Hari ini Luna dan James Lu akan resepsi.”


“Apa?” semuanya terkejut.


***


 Luna membawa langkah keluar dari ruang rias. Dia terlihat sangat cantik dalam balutan gaun mewah dan soft look make up itu. Beberapa orang juga tengah memegangi ekor gaun yang menyapu lantai itu. Katanya resepsi akan diadakan di indoor. Luna perlu beberap menit juga melenggok menuruni Villa ini. 

__ADS_1


Sampai saja di depan pintu utama. Orang-orang juga langsung membukakan pintu. Langsung saja terdengar tepukan meriah dari luar. Ramai juga. Dari mana  James dapatkan orang-orang ini? sempat Luna berfikir demikian. Carpet merah terbentang panjang menuju area tempat pengucapan janji suci. 


James tersenyum puas menatap Luna di depannya sekarang. sangat cantik. Lalu tangannya diulurkan penuh romantic pada Luna. Mau tidak mau Luna memberikan tangannyanya pada James. Saat pria itu berdiri di sampingnya, Luna juga hanya patuh memaut lengan pria itu. Namun ketika itu matanya juga meliar mencari sosok suaminya. 


Mark.. mana dia?


“Mencari Mark?” tanya James yang seolah sudah paham.


Luna mendengus sinis, “ Menurutmu?”


James Lu sekedar mengangguk kecil. Lalu menoleh, “Mari kita mulai.” Ujarnya. Perlahan langkah mulai di bawa menuju Archbishop.


“Luna apa kamu berfikir penikahan ini bohongan?” James Lu kembali bersuara.


Luna seolah tercekat dengan pertanyaan James Lu. Mana tidak? sosok suaminya masih belum dia temukan.


“Apa Archbishop itu sungguhan?” tanya Luna juga.


James Lu menoleh dengan teduh. Lalu mengangguk.


What? Yang benar saja? Luna serasa mau pingsan saja sekarang. Namun dia tetap berusaha berlagak tenang. Dia harus percaya pada Mark. Suaminya itu pasti sudah punya rencana. 


Luna langsung melarikan anak matanya dari menatap James Lu. Dasar biadap! Semakin besar kebenciannya pada pria ini. Namun dia tidak bisa berbuat apa-apa sekarang. Satu tindakannya bisa membahayan dia dan suaminya nanti.


Sampai saja di depan Archbishop. Luna semakin tidak karuan, Keningnya bulai bertaburan keringat dingin. Tolonglah… jangan sampai lafaz janji suci ini terjadi.


“James apa rencana kamu sebenarnya? Dimana suamiku?” tanya Luna penuh penekanan dan geram. 


“Tuan dan Nona…”


“Wait Archbishop.” Ujar Luna memotong. Lalu dia kembali menatap James. Tangannya juga dilepaskan dari memaut lengan pria itu. Seketika orang-orang juga sedikit ribut melihat hal seperti tidak beres itu.


“Luna kau jangan mempermalukan aku.” Dingin suara James Lu.


“Kamu masih ada rasa malu James? Bukankah seharusnya semua orang di sini hanya orang-orang mu saja? sejak kapan orang misterius mengundang banyak orang luar?” Luna masih berucap dengan nada tercontrol. Hanya mereka bertiga di depan ini saja yang dapat mendengarnya.


“Luna jangan terlalu menguji kesabaranku. Jangan keterlaluan.”


“Aku keterlaluan? Cish.. kamu yang keterlaluan James! Kamu benarkan segala cara untuk mencapai tujuanmu. Aku sudah menikah dan punya anak. Aku dan keluargaku tidak pernah mengusikmu, namun egois mu yang malangit itu tega menghancurkan kebahagian orang lain. Kamu biadap James!” bergetar bibir Luna. Matanya juga memerah. Keringat juga semakin lebat menitik di keningnya. Semesta saja yang tahu betapa lemahnya dia sekarang. Kakinya saja terasa tidak bertulang. Kapan saja bisa tumbang. Namun dia harus tetap kuat untuk menantang James, agar bisa mengulur waktu.


“Mark.. please help me.” Jerit hati Luna.


James Lu tidak lagi mau melawan Luna. Tangan gadis itu kembali dia paut. 


“Archbishop.. segara saja pelafasan janji suci.” Pintanya.


Diantara tamu-tamu di situ terlihat Java Moor dan Nicia yang tengah menyamar. Meraka saling berbisik.


“Daddy, hanya satu mangsa di sini. Orang kita melaporkan jika Mark Rendra sudah habis dibantai James Lu subuh tadi.” 


“Seriously? Hah, jika begitu kita tidak perlu mengulur waktu lagi.”


 Nicia mengangguk setuju. Earpodnya di aktifkan. 


“Java Black, Ready?” 


Beberapa orang di sana tampak saling mengangguk setelah menerima signal dari Nicia. Mereka mulai mengeluarkan pistol. Pun Nicia demikian.


“Shoot!” perintah Nicia.


Dor, dor, dor..


Suara pistol mulai beradu. Tamu-tamu di sana tampak langsung terbagi menjadi dua kubu.


Luna terkedu bukan main. Matanya langsung terbelalak mendengar suara tembakan itu. Luna menoleh ke belakang dalam masa yang sama dia dapat melihat seorang perempuan dan pria paruh baya mengarahkan pistol ke arah dia dan James.


Dalam waktu bersamaan tiba-tiba tubuh Luna di tarik dan dan di dekap oleh Archbishop.


Dor…! Dapat Luna pastikan peluru itu mengenai tubuh Archbishop dan juga James. 


“Argh.. sakit juga.” 


Kening Luna berkerut. Dia keliru dengan suara Archbishop itu. Tapi tunggu! Apa dia bilang tadi? sakit juga? bukankah seharusnya dia bisa langsung mati sekarang? Luna juga menoleh pada James yang tersenyum padanya.


What? Ada apa ini? masih sanggup tersenyum habis di tembak. Eh, tapi pria itu masih berdiri tegap.


“Bulletproof.” Ujar Achbishop dan James Bersamaan.


“Oh, hah?” Luna mengangguk dan kembali keliru manatap sang Archbishop. Suara itu, dia kenal. 


“Luna ini aku.” ujarnya.


Luna ternganga dan tidak bisa berucap. Dia sedang tidak mimpikan? Sempurna sekali penyamaran suaminya ini hingga dia tidak mengenalinya.


“Cih,” Nicia berdecih saat menyadari tembakannya gagal. Dia dan Java Moor langsung menyelundup balik tiang besar yang ada di sana. 

__ADS_1


“Darn it! Daddy mereka pakai bulletproof. Apa mereka sebanarnya sudah tau rencana kita?” tanya Nicia tidak berpuas hati.


“Itu tidak penting. Bulletproof itu hanya melindungi tubuh saja. Kita bisa tembak kepalanya.”


“Tapi Daddy siapa Archbishop itu sebenarnya? kenapa dia juga tidak terluka dan juga melindungi gadis itu?” Nicia masih mengintip.


“Daddy tidak peduli Nicia. Sekarang kita hanya perlu tumbangkan siapa saja di sini.” Dua kubu di sana juga masih pukul dan tembak.


“Apa kalian akan tetap seperti itu?” tanya James. Dia kesal melihat Mark dan Luna. 


Mark menoleh malas. Sibuk saja! 


Seorang perempuan datang mendekat. Chifei,  “Amankan istriku.” Mark membuka jas anti pelurunya, lalu di pasangkan pada bahu Luna. Luna masih tampak blur dengan apa yang barusan terjadi. Dia hanya menurut saja ketika Chifei membawanya. Serasa mimpi!


Mark dan James langsung berbalik badan sambil mengeluarkan senjata masing-masing. Dua pria itu langsung tepat menembak ke arah Nicia dan Java Moor yang kala itu juga sedang menembak ke arah mereka


Dor! Mark dan James Lu lebih cepat sehingga Nicia dan Java Moor kembali bersembunyi dibalik tiang itu. Beruntung Mereka dapat menghindar.


“Berhenti!” pekik Mark kuat. 


Semua orang terkedu. Bahkan orang-orang Java Moor. Pertempuran sengit tadi terhenti. Mereka melirik arah Mark dan kembali mawas diri pada musuh dihadapan masing-masing. Perlahan meraka mundur untuk berkumpul dengan kubu masing-masing. 


James Lu melirik Mark. Wah, luar biasa Mark Rendara ini. Satu teriakan saja, semuanya terkedu. James tarik bibir miring. Bukan petama kali baginya melihat keganasan pria ini. Hanya saja melihat Mark yang masih lengkap dengan penyamaran sebagai Archbishop membuatnya sedikit menahan tawa.


Mark berdecih ketika menyadari James menahan tawa. Perlahan dia membuka rambut palsu, kumis dan bebarapa kulit palsu yang tepasang diwajahnya. 


Nicia dan Java Moor mengintip dan tersengih kesal. Ternyata, semuanya tipuan. Mereka ditipu mentah-mentah. Darn it! 


 “Java Moor, kamu bermain kotor!” ujar Mark tenang. Sekarang wajahnya telah sempurna sebagai Mark Rendra.


Java Moor tersengih. Dia dan Nicia keluar dari balik tiang itu. Orang-orang meraka juga langsung berkumpul melindungi mereka. Pun di belakang Mark dan James juga sudah berkumpul orang-orangnya.


“Siapa yang bermain kotor duluan, Mark Rendra, James Lu?” Java Moor menyeringai, “Apa kalian sudah lupa, beberapa tahun lalu kalian telah merebut segalanya dariku. Kalian tidak punya hati.” pekik Java Moor murka.


Waw… James Lu seketika tertawa. Dasar tua bangka, tidak tahu malu!


“Java Moor jangan membuang waktu dan tenagamu untuk hal yang lebih merugikanmu . Aku tidak menyangka kau berdendam karena masa lalu. Coba kau pikirkan baik-baik, dalam dunia gelap apakah ada benar dan salah? Yang kita perlukan hanya siap yang lebih tanggap. Siapa cepat dia dapat. Siapa yang kuat dia yang berkuasa."


“Halnya bisnis, ketika kau kalah tender kau tidak sepatutnya menyalahkan EDDEN. Yang pasti pebisnisman pasti memilih perusahaan yang lebih potensial. Dan EDDEN pilihan mereka.”


“Jangan munafik kalian. Mark Rendra, lalu setelah aku kalah tender kenapa kau semakin menyerangku? James Lu kenapa kau menghancurkan satu-satunya harapan ku kala itu. Kalian tahu betapa hancurnya aku kala itu? aku bahkan kehilangan nyawa istriku karena tidak punya  uang. Hanya anakku yang dapat di selamatkan, jika saja aku punya uang lebih, para dokter itu pasti akan berusaha lebih untuk meyelamatkan istriku juga.” 


Sontak Nicia menoleh pada Daddy nya kala itu. Ya! dia ingat kejadian itu. Hatinya serasa panas sekarang.


Mark diam. Kehilangan istri? Mark juga kembali teringat masa dimana dia anatara pilihan nyawa istri dan anaknya. Ya, itu memang sangat menyakitkan. 


“Java Moor aku turut berduka apa yang menimpa istrimu. Namun apapun kamu tidak bisa menyalahkan semua orang. Kepergian istrimu memang sudah takdir.”


Java Moor tertawa. Takdir dia bilang? 


“Semua ini karena kau Mark Rendra!” pekiknya tidak terima.  Dia kembali mengangkat senjata namun tembakannya dengan mudah dihindari oleh Mark.


“Kau Nicia.. “ James Lu kembali bersuara.


Nicia menoleh ketika namanya di sebut. 


“Java Moor sekarang lebih baik redam dendammu. Kamu mempunyai 2 orang anak perempuan, apa kamu tidak ingin melihat dia tumbuh dan berkeluaraga? Apa kamu ingin kamu dan putrimu hilang nyawa di sini? selagi aku berbaik hati, kembalilah. Dendammu tidak bertempat Java Moor.”


Darah Java Moor menggelegak bisa di hina seperti itu. Dua pria ini memang sangat angkuh. Pelatuk senjatanya kembali ditarik, namun tiba-tiba Nicia menahan.


“Daddy..” Nicia menggeleng.


“Why?”


“Aku rasa kita lebih baik menyerah.”


“Nicia!” bentak Java Moor.


“Daddy, please..!”


Java Moor akhirnya akur. Dia menurunkan senjatanya. Dia langsung berbalik badan meningggalkan kawasan itu dengan lunglai. Pun Nicia dan orangnya membungkuk dan memberi hormat pada Mark dan James Lu. Kemudian beranjak dari situ. 


Sebaiknya setelah menjauh dari area villa itu, Nicia dan Java Moor tersenyum sinis. Nicia menghitung mundur 5 jarinya.


“5, 4, 3, 2, 1” tombol control di tekan.


BOOMMMMM! 


Ledakan yang sangat kuat dari dalam di belakangnya. Villa. Ya, bom memang sudah ditanam di sana. Bukan Nicia namanya jika dia mengalah seperti tadi.


Nicia dan Java Moor menoleh ke belakang. Keduannya terkedu. Villa itu baik-baik saja. Jadi ledakan tadi? dia hanya melihat seonggok mobil yang sudah hangus. Whats wrong?


“Kenapa masih di sini? kalian ketinggalan sesuatu?” 


Nicia dan Java Moor menoleh pada sumber suara.

__ADS_1


Glek! Mereka telan ludah. Kelat kesat.


Bersambung....


__ADS_2