
Bagi yang puasa, bacanya pas sudah berbuka saja ya!!!!
--------------------------
Hari keempat festival musim semi. Sesuai perencanaan, Luna harus kembali ke London untuk persiapan pengukuhan gelarnya.
Selama liburan ini, memang tidak banyak yang Luna lakukan dengan dengan teman, keluarga maupun suaminya. Namun untuk segala sesuatunya, Luna sudah menceritakan semuanya pada Mark, termasuk tentang Nindy yang sedikt banyaknya telah dia ketahui.
Menanggapi cerita Luna perihal Nindy, kemudian Jiang He. Mark menyarankan untuk tidak ikut campur terlebih dahulu.
“ Biarkan benih cinta mereka tumbuh secara alami. Dengan begitu, hubungan mereka akan lebih kuat dan hebat nantinya. Seperti kita. Tidak mengetahui dengan jelas kapan dan bagaimana kita telah saling jatuh cinta. Yang jelas, aku ingin selalu melindungimu. Aku Mark Rendra tidak akan pernah membiarka wanitaku diusik oleh orang lain.” Nasehat Mark pada Luna dan hal itu juga sangat di setujui oleh Luna.
Begitupun Mark juga telah menceritakan, apa yang yang harus dia ceritakan. Yang pastinya hal yang tidak mengkhawatirkan Luna akan dirinya. Termasuk tentang orang yang telah membeli lukisan Luna ketika pameran. Mark sudah mengetahui siapa orangnya dan memberitahu Luna.
Di dalam kamar, tampak Luna sedang mengemasi barangnya dalam koper. Sementara Mark yang baru keluar dari dressroom memandangi kesibukan sang istri.
“ Sayang, kenapa tidak memanggilku?” Luna menoleh dan mendekati Mark yang sedang memasang dasi. “ Sini!” Luna mengambil alih.
“ Sayang, jika aku tidak marah. Sesibuk apapun aku, panggil saja saat dibutuhkan.” Luna berucap sambil tertawa. “ Kamu tau tidak, aku sangat senang bisa melakukan hal seperti ini untukmu. Mmmuach.” Cium di bibir Mark. Luna tersenyum malu saat mata mereka beradu.
Luna berdehem, lalu lanjut memasang dasi sang suami. Sementara Mark semakin usil. Dia menundukkan kepalanya dan menempelkan keningnya di kepala Luna. Lalu menariK Luna lebih dekat saat Luna telah selesai dengan dasinya.
“ Sayang.” Suara Mark terdengar berat. Bibirnya menelusuri wajah Luna, berhenti saat hidung meraka saling menempel. Saling tatap penuh cinta dan dera nafas masing-masing, lalu Mark mencium lembut bibir Luna.
Mata Luna tampak berkaca-kaca, dia sangat mengerti jika suaminya berat melepaskan dia pergi. Meski pergi kali ini sangat singkat dan Mark juga akan segera menyusulnya dalam 8 hari ke depan.
Luna mempererat pelukannya dan Mark mulai agresif. Kedua tangannya memengangi tengkuk Luna. Luna membalas ciuman Mark sambil memejamkan matanya. Mereka menikmati ciuman yang menggairahkan sebelum perpisahan.
***
“ Sayang selalu perhatikan kesehatanmu.” Nyonya Aliester memeluk putrinya. Sekarang mereka sudah berada di depan jenjang pesawat pribadi yang siap di naiki.
“ Iya ma. Aku akan selalu menjaga kesehatan.” Luna mengeratkan pelukannya.
Setelah beberapa saat, melepaskan pelukan. Nyonya Aliester mengusap rambut putrinya dan mencium pipi kiri dan kanan. Kemudian Luna beranjak pada papanya.
“ Pa..” mereka saling berpelukan. “ Luna sayang papa.”
“ Papa juga sangat menyayangi putri papa. Jaga kesehatan dan jangan ceroboh. Hal apapun ceritakan pada suamimu!” melepaskan pelukan, lalu mencium kening putri tercintanya.
“ Baik pa.” jawab Luna sambil menganggukkan kepalanya. Tuan Aliester gemas dengan putrinya mengusap pipi, lalu kepala.
“ Sayang..” terakhir, Luna bermanja dalam pelukan sang suami. “ Jaga papa dan mamuku ya.”
“ Pasti sayang.” Elus-elus lembut punggung sang istri, kemudian mencium keningya.
Tiba saatnya Luna harus berangkat. Luna menaiki tangga dengan langkah berat. Di tangga terakhir Luna menoleh ke belakang, lalu melambaikan tangannya. Dimana suami dan orangtuanya juga melambaikan tangan untuk mengantar kepergiannya.
__ADS_1
Tepat setelah peswat Luna mendarat. Ponsel Mark bergetar dan itu adalah panggilan dari Zhaon. Mark menghela nafasnya, mempersilahkan kedua mertuanya untuk jalan duluan, lalu dia menjawab panggilan dari Zhaon.
“ Tuan.. bagaimana? Apa anda sudah mengambil keputusan?” tanya Zhaon seketika Mark menjawab telvon darinya. Sekarang Zhaon tampak sedang berada di lapangan latihan menembak.
“ Baiklah. Kau boleh menemui istriku. Jaga istriku dengan baik.”
“ Terimakasih tuan. Aku sangat senang mendengarnya.” Tawa kebahagiaan sangat jelas dari Zhaon. “ Tuan aku sebulan penuh menemani nona Luna ya?” pintanya.
“ Apa?” Mark meninggikan suaranya. Sehingga tuan dan nyonya Aliester menoleh padanya. Tapi Mark tidak menyadarinya sama sekali. Dia tetap lanjut dengan pembicaraannya dengan Zhaon.
“ Luna tidak cukup 2 minggu lagi di London. Kau jangan berharap banyak.”
“ Aish.. iya, iya. kenapa aku bisa lupa.” Zhaon berhenti sejenak untuk berfikir. “ Jika begitu, aku ikut nona ke China dan menemani nona seperti biasanya. Aku tidak masalah mengenakan baju pelayan kembali.” Zhaon berucap dengan semangat dan penuh harap.
“ Tidak, tidak!!!” Mark mengusap keningnya, cukup rumit menghdapi sikap Zhaon yang suka memaksa. “ Setelah urusan di London selesai, tidak ada yang boleh mengganggu Luna. Luna hanya akan bersamaku.”
“ Hah? Maksud tuan?” bertanya dengan polosnya.
Mark mengelangkan kepalanya, lalu mengusap keningnya. Akan semakin rumit jika menjawab bertele-tele seperti ini.
“ Aku dan Luna akan pergi liburan. Kau dengar itu! jangan ganggu kami!” tegas Mark.
“ Berlibur?” Zhaon menjeda kalimatnya.
” Tuan anda liburan.. atau Honeymoon?” Zhaon mencoba menggoda Mark dengan tawa menyebalkannya.
“ Tuan, saya tidak berani. Maaf, maaf sudah menyinggung tuan.” Zhaon cengingisan, sudah mulai merasa kicut.
“ Ya sudah sekarang ku tutup.”
“ Baik tuan. Tuan, tapi jika tuan membutuhkan bantuan seperti persiapan penginapan, aku …” Zhaon berusaha berucap secepat mungkin. Tapi telvon sudah terputus, sebelum kalimatnya selesai.
“ Aaaa.. tuan. Kenapa anda sangat kejam?” rengek Zhaon. Tapi tangannya tiba-tiba mematikkan senjata ke arah target sasaran tembak.
‘ dorr dorr.’ 2 kali tembakan yang sempurna mengenaik pusat sasaran di 2 target sasaran yang berbeda.
Setelah selesai dengan aksinya, Zhaon kembali langsung duduk sambil melepasakn kaca matanya.. Dia tampak memikirkan sesuatu dan menyandarkan kepala di sandaran kursi.
“ Apa yang harusku lakukan?” Zhaon memejamkan matanya lesu. Namun beberapa saat kemudian dia membuka matanya lebar. Dia seperti sudah menemukan jawaban dari pertanyaannya. Dia tersenyum lalu memejamkan matanya kembali dengan bingkai senyum yang masih melekat di bibirnya.
Mark dan mertuanya sudah berada di depan 2 buah mobil yang menantinya. Karena mereka beda arah, maka akan berpisah di sini.
“ Hati-hati pa, ma.”
Nyonya Aliester tersenyum, lalu dia meraih tangan menantukan.
“ Mark, benar kalian sudah merencanakan honeymoon kalian?” nyonya Aliester bertanya tanpa basa-basi sambil menatap dalam menantunya.
__ADS_1
“ Benar ma.” Mark tersenyum dengan hangat. Melihat tatapan mertuanya sangat nayaman rasanya.
“ Syukurlah. Mama sangat senang mendengarnya. Maaf sekaligus terimakasih padamu menantuku.”
Mark mengangkat alisnya. Merasa bingung dengan kalimat nyonya Aliester.
“ Maaf karena permintaan sulit dari Luna dan terimakasih sudah menjaga janji itu. Harimu pasti berat.” Suara nyonya Aliester terdengar lirih hingga tuan Aliester mendekap bahunya.
“ Ma.. jangan seperti ini. Mark bisa salah paham.” Mengelus lembut bahu istrinya.
“ Mark aku telah menyerahkan putriku padamu. sebagai gantinya berikan kami cucu yang lucu dengan segera.”
“ Kami akan berusaha pa.” jawab Mark dengan senyum lembut.
Tuan Aliseter menepuk bahu Mark dengan anggukan kecil dan senyum lembutnya. Tampak kenahagiaan dari raut wajah mereka semua.
***
Epilog
Tuan Aliseter mengantarkan Mark hingga ke pintu mobil sambi berbincang.
“ Mark bagaimana kau bisa menahan diri selama ini?” matanya menatap Mark menyelidik.
“ Kenapa papa menanyai hal ini?” keringat dingin. Karena tuan Aliester menatapnya aneh.
“ Kau yakin pria normal?”
“ Papa, kau meragukan ku?” senyum-senyum canggung sambil menahan emosi. Genggam erat tangan dan memeganginya. Untung mertua.
“ Haha..” tertawa, lalu menatap tajam Mark.
“ Lalu apa kau terlalu takut pada putriku?”
“ Papa…” tahan-tahan, sungguh menahan kekesalan. Telinga dan ubun-ubun sudah berasap.
“ Haha.. menantuku sangat pemarah sekali.” Tuan Aliester tertawa, lalu merangkul menantunya yang sudah di buat kesal.
.
.
Bersambung....
Kemana nih pergi readers? likenya makin lama, makin miris aja liatnya, hiks. Padahal viewers stabil kok.
Ayo readers tinggalan jejak ya. Minimal like, udah bikin autor senang kok. Ayor readers, tempelin lagi jempolnya di sini!!!!!
__ADS_1
Oh iya readers, untuk part Honeymoon besok, author bakalan atur up pas di jam buka puasa ya. Supaya gak ganggu ibadah puasanya 😊