TUAN MUDA AKU BENCI KAMU

TUAN MUDA AKU BENCI KAMU
MALAM PERTAMA (2)


__ADS_3

Luna merebahkan dirinya di ranjang menatap langit-langit kamar, cukup lama tanpa ada perdebatan dalam hati atau pikirannya. Mendesah lalu berbaring ke samping dan memejamkan matanya. Dalam sekejab Luna kembali membuka matanya, karena dia meihat tumpukan kotak kado dari Hanny dan yang lainnya sudah tertata rapi di meja. Bisikan Nindy juga langsung terlintas di pikirannya, hingga membangkitkan rasa penasarannya.


“ Ok, mari kita lihat apa yang meraka berikan padaku.” Luna bangkit dan duduk di sofa dengan semangat. Luna menatap kado-kado itu dengan senyum sejenak. Kotak kado Blackgold ada di urutan 3 dari atas, Luna tersenyum dan langsung mengambil kotak blackgold itu.


Dengan rasa penuh penasaran Luna membukanya perlahan.


“ Eh..” Luna terkejut, kotak mewah itu berisik lipatan kain berwarna hitam. “ Apa ini?” mengangkatnya.” Ya ampun, lingerie?” mengangkatnya lebih tinggi menerawang lingerie yang tembus padang itu. Luna semakin terkejut dan membalik lingerie itu berulang-ulang, memastikan bahwa matanya tidak salah lihat.


“ Apa maksdunya? Apa dia berharap aku memakai ini dan memperlihatkannya pada Mark?”


Luna memejamkan matanya, jemarinya mencengkram erat lingerie itu. Rasanya ingin sekali dia berteriak untuk menghempaskan kekesalannya.


“ Huft… sabar Luna. Dia tidak paham dengan situasi ini. Memangnya dia pikir aku akan langsung berani berpenampilan seperti ini di depan Mark. aku gila apa? iiih..” Luna bergedik ngeri sambil melempar lingerie itu di meja. Lalu dia merebahkan dirinya di sandaran sofa.


“ Ada-ada saja.” matanya menatap langi-langit kamar, berusaha menetralkan emosinya. Tapi malah bayangan dia mengenakan lingerie yang terlintas di otaknya. Sangat tembus pandang dan bahkan dia merasa sangat seksi mengenakannya.


“ Aaaa..” mengeliat ke kiri dan ke kanan, berharap pikiran aneh ini segera hilang.


“ Nindy, kenapa kamu tidak menyuruhku telanajang saja.” teriaknya.


“ Telanjang?” Mark sudah keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk yang melingkar di pinggangya, dia sedang mengusap rambut basahnya dengan handuk kecil.


“ Aaa.. kenapa dia mendengar kata memalukan ini dari mulutku?” Luna menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Tapi tiba-tiba matanya terfokus dengan pemandangan indah di depannya. Kulit putih, dada bidang lengkap dengan sixpack ala roti sobek yang menggoda, di tambah gerakan tangan Mark yang mengeringkan rambut sambil mengibaskannya. Benar-benar pemandangan indah surgawi.


“ Sial, kenapa dia bisa setampan ini.”


“ Sayang apa kamu tidur telanjang malam ini.” Mark berjalan mendekat.


Jleb. Ini sungguh serangan mental, malu sudah di ambang batas.


“ Tidak sayang, kamu salah dengar.” Luna memperbaiki duduknya dan menelan ludah.


“ Aku tidak yakin.” Mark sudah duduk di sampingnya. Mata Luna membesar, melirik lingerie memalukan itu masih meja.


“ Aaa sial.” Dengan gerak cepat Luna mengambilnya dan memasukkannnya kembali ke dalam kotak.


“ Apa itu?” mata Mark menyelidik tingkah aneh Luna.


“ Bukan apa-apa sayang. Tadi aku membuka kado.” Luna berbalik badan dan menyembunyikan kotak itu di belakangnya. Kau diam di sana, jangan bersuara. Jangan sampai membuatku malu. Begitulah raut wajah Luna mangatakan.


“ Sial aku terpaksa memandangi tubuh indahnya ini. Tidak apa-apakan, dia kan suamiku.” Luna bergumam sambil senyum-senyum pada Mark.


Mark mengerutkan dahinya, tangannya berhenti beraktifivitas. Baginya senyum Luna sangat mencurigakan.


“ Apa isinya?” Mark mendekat. “ Bukan apa-apa sayang.” Luna memundurkan badannya,sementara tangannya di belakang memegangi kotak itu penuh kekhawatiran namun bibirnya tetap melebarkan senyum.


“ Sini aku mau lihat.” Mark meraih kotak itu.


“ Sayang jangan .” Luna memeluk Mark, membenamkan wajahnya di dada bidang Mark.


Mark telihat menahan tawa, tapi dengan cepat dia merubahnya. “ Kenapa?” bertanya dengan suara dingin. Dia sungguh semakin penasaran, kenapa bereaksi seperti ini? Apa yang mereka berikan?, hal itu juga memenuhi pikiran Mark. Mark kembali meraih hingga kotak itu berhasil di rebutnya.


“ Sayang aku mohon.” Luna memeluk semakin erat. Tidak peduli lagi jika si tuan muda ini masih telanjang dada.


“ Aaa.. aku pasti sudah gila.”


“ Sayang please..” memohon dengan sangat. “ Baiklah.” Mark melepaskan kotak tersebut.


“ Tapi kau harus membayar rasa penasaranku.” Mereka saling menatap dengan sangat dekat.


“ Bagaimana caranya?” Luna tertabata-bata, wajahnya memerah, untung saja cahaya lampu remang-remang. Jika tidak, habislah! Mark pasti akan semakin senang mengerjainya.


“ Caranya..” Mark melepaskan tangan Luna yang melingkar di pinggangnya.


“ Kenapa, apa pelukanku tidak enak?” Luna menatap bingung.


“ Kita lanjutkan saja di atas ranjang.” Bisik Mark, lalu dia menggendong Luna.


“ Ra-ranjang?” Luna membeku. Dalam gendongan Mark dia tidak bergerak sama sekali, matanyapun tak berkedip. Kata ranjang seakan membuat dia kehilangan saraf geraknya.


“ Di sini akan lebih menyenangkan.” Mark membaringkan Luna dengan lembut.


Glek. Luna menelan Ludah.


“ Ahaha.. sayang. Apa kau akan tidur dengan seperti itu?”


“ Kenapa? Bukankah kau menyukai tubuhku?”


“ Aaa.. Tuhan. Aku bisa gila.”


“ Sayang, bukankah malam ini kita memakai baju tidur couple? Sangat sayang sekali jika tidak menggunakannya, padahal kita sangat jarang punya hal semacam ini.” satu-satunya ide yang dia punya. Luna bangun dan duduk sambil menatap Mark dengan senyum penuh harap.


“ Cih, pandai sekali membujukku.”


“ Baiklah. Dimana bajunya?”


“ Di rak kamar mandi sayang” dengan seringai senyum kemenangan.


Luna langsung berdiri saat Mark pergi ke kamar mandi, memastikan bahwa Mark sudah masuk.


“ Jadi bukan dia yang menyiapkan? Terus siapa? orang hotel? bagaimana bisa mereka tahu warna kesukaanku?” masih melihat arah pintu. “ Arh.. masa bodoh siapa yang menyiapkan. Yang jelas sekarang aku harus menyelamatkan diri.”


Luna kembali ketempat tidur dia menarik selimut yang terbentang, menjatuhkan diri dan berguling hingga selimut tebal itu mebalut seluruh tubuhnya.


“ Ini satu-satunya cara menyelamatkan diri.”


Brugh. Dia terjatuh ke sisi lain ranjang karena semakin bersemangatnya berguling.


“ Aaa.. sial sekali. untung kepalaku tidak terbentur.” jatuhnya tidak sakit karena selimut tebal yang membalutnya. Tapi tubuhnya itu sudah seperti bayi besar yang di bedong.

__ADS_1


“ Sayang ada apa? aku mendegar suara benturan.” Mark keluar dari kamar mandi.


“ Eh, sayang kamu dimana?” terkejut karena tidak mendapati Luna di ranjang.


“ Aish.. cepat sekali dia datang. Apa yang harus aku lakukan? ah pura-pura tidur saja.” memejamkan matanya cepat.


Mark menghembuskan nafas Sangat kesal, menggelengkan kepalanya, melihat gulungan aneh di balik ranjang. Dia sudah menebak semua ini pasti ulah aneh Luna. “ Sayang apa kau ingin bermain bayi-bayian denganku?” langkah kakinya mendekat.


“ Pfft..” Luna menahan tawanya. Merasa lucu dengan kata bayi-bayian. “ Kenapa suamiku bisa berfikiran aneh seperti ini?” senyum-senyum tipis, lalu melanjutkan drama tidurnya. Tidak sadar dengan kekesalan Mark.


“ Sayang sangat dinginkah hingga melakukan hal bodoh ini?” menggendong dan melempar Luna ke atas ranjang. Sangat kesal, dengan hal yang di dapatinya.


Luna kembali menahan tawanya, baginya lemparan di kasur super empuk itu sangat menyenangkan.


“ Katanya main bayi-bayian, kenapa malah di lempar.”


Luna menggeliat pulas dalam balutan selimut itu , agar aktingnya semakin sempurna.


“ Baiklah sayang, sepertinya kau memang sangat dingin. Maka aku akan memberikanmu kehangatan yang lebih.” Sudah menjatuhkan diri di samping Luna. Tangannya menyibak rambut Luna, lalu bibirnya mencium dan menggigit lembut telinga Luna.


“ Apa-apaan ini. Apa aku malah memancingnya?” Luna menggigit bibirnya.


“ Sayang sepertinya malam ini akan sangat panjang.” Bisiknya. Bibirnya mulai menelusuri leher Luna.


“ Sayang, sayang aku belum tidur.” Berucap cepat dan membuka matanya.


Mark tergelak dan menghentikan aktivitasnya. “ Bagus. Belajar dari mana menggodaku seperti ini.” manatap Luna lekat.


“ Menggoda? Sejak kapan menggoda dengan cara seperti ini? bukankah menggoda itu seperti memakai lingerie yang di berikan Nindy?” Luna terdiam dengan bisikan hatinya.


Cletak! Sentilan keras di kening Luna, membuat dia mengerang menahan sakit.


“Argh..” Luna memasang ekspresi cemberut dengan memanyun-manyunkan bibirnya.


“ Katanya sayang istri, tapi keningku selalu di jadikan lahan penumpah emosi.” Sangat ingin mengusap. Panas dan rasa ngilu yang menjalar di sana.


“ Kenapa tidak menjawabku?”


Luna mengedipkn matanya, nada suara Mark terdengar seperti saat mereka pertama kali bertemu. Angkuh dan dingin. Sakitnya sentilan seolah menguap, dia sangat kesal. Lalu dia meniup keras semampunya ke wajah Mark, berharap kesadaran suaminya kembali. Hai iblis yang merasuki tubuh ini, keluarlah!!!!. Seperti itulah harapnya.


“ Hei hei.. apa yang kau lakukan?” menghalangi tiupan Luna dengan tangannya.


“ Memantraimu.” Lanjut meniup.


Mark tak tahan lagi, dia terkekeh hingga menjatuhkan tubuhnya ke samping. Berhenti dan tertawa lagi menatap wajah Luna yang memandanginya kesal.


“ Ada berapa iblis di tubuhnya?” Sudut bibir atas Luna terangkat karena saking kesalnya.


“ Memang sangat menyenangkan melihat istrimu ini kesal ya. Ok, Tertawalah sepuasnya! jika tersedak jangan salahkan aku.”


‘ uhuk uhuk.’ Benar saja, doa Luna terkabul Mark terbatuk hingga menepuk dadanya.


Mark melirik tajam. “ Eh.” Sontak saja tawa Luna berhenti, lalu memingkemkan bibirnya. Tahu dengan posisi dan situasinya yang sangat tidak menguntungkan sekarang.


“ Senang ya melihat suami menderita?” Mark meraih gelas yang berisikan air putih di meja sampingnya.


“ Salahmu sendiri. wek!” hanya bisa meledek dalam hati.


“Tidak sayang. Mana mungkin.” Senyum-senyum manis.


“ Wah wah, kau mau menggodaku dengan senyuman itu?”


“ Apa menggoda? Kenapa banyak sekali jurus menggoda baginya? Jadi aku harus bagaimana? Jelas ini pertahanan diriku tuan muda bodoh” kedip kedip mata bingung.


“ Lihatlah, kau menggodaku lagi.” menaruh gelas yang sudah kosong.


“ Lagi? bahkan berkedip adalah jurus menggoda?”


Luna menutup rapat bibirnya, menatap Mark gemas gemas kesal. Ingin sekali menggigit kuat tuan muda ini rasanya. Tak tahan Lagi Luna berusaha memiringkan badannya ke sisi lain, namun hanya kepalanya yang bergerak badannya sama sekali tidak karena lilitan selimut karena ulahnya sendiri.


Grap. Tangan Mark memeluknya, mendekap kuat Luna dibalik selimut tebal itu, lalu memejamkan matanya.


“ Sayang kau benar-benar membuatku marah, tapi aku tidak bisa memarahimu.” Suara lirih Mark di telinga Luna, di sambungkan dengan nafas berat yang hangat berhembus di telinganya.


“Apa?”


Luna tertegun, entah kenapa hatinya yang malah sakit mendengar suara lirih itu. Luna menolehkan wajahnya kembali, hingga bibir Mark tepat pipinya.


“Dia marah? aku tidak merasakannya sama sekali?”.


“ Sayang..” Luna menggerakkan kepalanya, meminta Mark membuka matanya.


“ Apa yang membuatmu marah?” lanjut Luna, karena Mark tak meresponnya.


Lagi-lagi Mark tak menjawab, sehingga Luna berinisiatif ingin menggigit bagian manapun wajah Mark.


“ Sayang apa lebih nyaman seperti ini?” tangan Mark menepuk-nepuk selimut tebal yang membalut tubuh Luna.


“Apa?”


Luna kembali menutup mulutnya yang sudah terbuka untuk menggigit. Dia mencerna kalimat Mark.


“ Sayang apa kamu berfikir aku akan memaksamu? Bukankah aku sudah bilang bahwa aku tidak akan pernah memaksamu. Lagian aku juga sudah menyetujui persoalan bayi di tunda.”


Deg. Jantung Luna seolah berhenti di detakan terakhir, baru sadar akan kesalahannya. Sikap yang dia anggapnya untuk melindungi diri ternyata malah menyakiti hati suaminya yang sama sekali tak melupakan kesepakatan mereka. Meskipun bisa melakukannya dan meminum pil kontrasepsi setelahnya, tapi Mark sendiri yang melarang Luna waktu itu. Dia tidak ingin membahayakan Luna, menurutnya itu tidak baik untuk kesehatan Luna.


Luna memejamkan matanya penuh penyesalan , marah pada diri sendiri. Dialah yang merusak malam pertama ini. Malam yang seharusya tetap indah.


“ Sayang maafkan aku.” Suara lembut penuh penyesalan.

__ADS_1


“ Kenapa minta maaf?”


“ Aku tahu aku salah.”


Mark mendengus senyum “ Tidak apa-apa. Maaf sudah menakutimu.” Membuka mata dan mencium kening Luna.


Luna tersenyum pahit, sungguh merasa sangat bersalah. “ Sayang aku ingin tidur dalam pelukanmu.”


“ Ini sudah.” Mark tersenyum tipis.


“ Bukan begini. Aku benar-benar ingin dalam pelukanmu.”


“ Tidak takut padaku?” Mark memastikan, tidak ingin Luna melakukannya karena terpaksa atau sebagai pembayar rasa bersalahnya. Meskipun itulah hal yang dia inginkan saat menggendong Luna ke ranjang, tapi malah salah diartikan oleh Luna. Tentu saja dia ingin marah, dia adalah pria normal, tidak mudah untuk menahan semua ini atas istri sendiri.


“ Tidak sayang, aku sangat mencintaimu mana mungkin aku takut.” Mark hanya memandangi Luna, dia merasa gemas, sungguh tidak bisa marah sedikitpun pada istrinya yang imut ini. “Sayang, hum” suara manja Luna dan menatap Mark dengan kesungguhan.


“ Baiklah. aku akan membantumu keluar dari selimut sialan ini.” mencubit hidung gemas Luna, lalu dia bangkit dan menurunkan kakinya dari ranjang. Tapi Luna malah berinisiatif berguling sendirian.


Brugh. Lagi-lagi dia terjatuh.


“Ada apa?” Mark terkejut dan menoleh ke belakang.


“ Hehe..” Luna menongolkan kepalanya dari balik sisi ranjang lainnya.


“ Ya ampun.. sayang.” Mark berjalan cepat mendekati Luna. “ Kau punya tulang seberapa kuat hah? Berani-beraninya menjatuhkan diri.” menggendong dan membaringkan Luna di ranjang.


“Ini tidak sakit sama sekali sayang.” Melingkarkan tangannya di leher Mark. seolah tidak rela Mark beranjak.


“ Sungguh?” Mark menajamkan mata untuk menyelidik.


“Iya. ini percobaan ku yang kedua kalinya.” Kedip kedip seperti menggoda yang di katakan Mark.


“ Arhg.. sebenarnya ini sedikit sakit. punggung berdenyut.” jerit hatinya. Tentu saja sakit. tadi dia berguling untuk menutupi diri. sekarang dia berguling untuk melepaskan diri dari selimut itu.


“ Bodoh. Apa sakit di sini?” tangan Mark mengelus punggung Luna.


“ Iya sayang.” Dengan anggukan manjanya.


“ Mau ku pijat?” masih mngelus punggung Luna.


“ Tidak sayang.” Menarik Mark, hingga terjatuh di atasnya. Mark terkejut hingga membelelakkan matanya. Ada apa ini, apa yang merasuki istrinya. Berani Sekali.


“ Aish.. kenapa aku terlalu agresif?” Luna menggit bibirnya. Malu sebenarnya, tapi ini sudah terlanjur.


“ Sayang, sayang.” Mark beringsut ke samping Luna. Masih belum bisa mencerna apa yang di lakukan Luna. “ Sungguh tidak apa-apa?” melepaskan tangan Luna yang masih bergelantung di lehernya. Suara Mark terdengar canggung, seluruh wajah hingga telinganya memerah. Sekali lagi cahaya remang menyelamatkan insan yang tersipu malu ini, hingga tidak telihat dengan jelas.


“Kenapa suaranya canggung. Apakah Mark juga bisa merasa malu? Ayolah.. suamiku. Ternyata begini ya rasanya bisa mengerjai orang. Pantas kau senang sekali mengerjaiku. Sekarang giliranmu. hihi”


“ Sayang aku sangat mencintaiku.” Luna mendekat dan memeluk Mark dan memebenamkan wajahnya didada Mark.


Deg. Suara detak jantung Mark terdengar semakin jelas. Sangat tidak beraturan.


“ Aaaa.. sungguh dia tersipu malu?” Luna meneriaki kemenangannya.


“ Sayang peluk aku!” pintanya semakin berani.


“ Hah? Iya sayang.” Mark menelan Ludah dan memeluk Luna, tapi senyum kebahagian terukir di bibirnya.


“ Wah.. aku mendengar dia menelan ludah. Sangat tersipukah? Hihi.” Luna mengangkat kepalanya dan menatap Mark.


“ Sayang. Kamu sangat imut mengunakan baju ini.” jari telunjuk Luna menekan-nekan dada Mark.


“ Benarkah? Kenapa seleramu sangat jelek? Warnanya menyakitkan mata.” suaranya terdengar santai tapi sedikit kesal, sepertinya sudah bisa menguasi dirinya.


“ Enak saja. Ini warna terbagus sayang.” Masih memainkan telunjuknya di dada Mark, membentuk garis-garis sesuka hatinya.


“ Besok aku akan menyiapkan semua baju tidur dengan warna ini.” sambil tertawa.


“ Aku tidak akan memakainya.” tolak Mark dengan sambil menatap Luna seakan menantang.


“ Baiklah. jika begitu kau tidak perlu tidur denganku. Pakai saja baju serba gelapmu itu. wek.” lagi-lagi Luna mencibir penuh ejekan.


“ Wah wah, kau semakin berani ya sayang.” Memegang telunjuk Luna yang sedari tadi bermain di dadanya.


“ Sayang, jika ingin tidur denganku. Maka ikuti aturanku.” Luna menarik tangannya. tapi Mark menahannya dan menatap Luna dengan tatapan menggoda.


“ Sial, apa aku kalah?”


“ Baiklah, akan kulihat seperti apa aturan istriku.” Berhenti sejenak, namun tatapan matanya makin tidak bisa di tebak dan dia mencium tangan Luna. “ Lalu bagaimanakah aturan ranjang istriku nanti?” lanjut Mark menahan tawa.


“ Mark.. kau ini.” Luna meronta. “ Haha.. aku hanya bercanda” Memegangi Luna tak tahan melihat tingkah Luna yang meronta ini sangat imut baginya. Hingga Akhirnya mendekap dan mengunci tubuh Luna dalam pelukannya.


“ Sayang jangan marah. sakarang tidur ya.” menghujani kening Luna dengan ciuman. Luna patuh dan menganggukkan kepalanya.


“ Apa kita perlu memakai selimut?” melirik melimut yang yang sebagiannya masih terdampar di lantai.


“ Tidak perlu. Ini sudah sangat hangat.” Mengusap wajahnya dada Mark.


“ Baiklah. Selamat malam sayang.” Cium lembut kening Luna penuh dengan senyum kebahagiaan.


“ Humm.. selamat malam juga sayang.”


Malam semakin larut, sepasang pengantin baru ini melalui malam pertama yang manis dengan caranya.


Bersambung...


.


.

__ADS_1


Jangan lupa like dan komentnya.


__ADS_2