
“ Apa? pengganti sekretaris Ketrin?”
Key tampak terkejut, sorot matanya
mengatakan tampak tidak percaya. Dia menatap wajah Lery yang yang lembut, bahkan terlihat polos. Riasan wajahnya sangat natural. Lalu beranjak pada penampilan Lery, memperhatikan dari atas hingga ke bawah.
Penampilan yang begitu sederhana. Kemeja berwarna putih mengkilat yang di padukan dengan rok pensil berwarna hitam, rambut panjang yang di kuncir tinggi dan satu-satunya aksesoris yang melekat di tubuhnya hanyalah jam tangan bertali kecil di tangan Lery. Haha.. penampilan ini tidak ubahnya seperti anak magang yang masuk di hari pertama.
Penampilan Lery sungguh berbeda, tidak seperti sekretaris lainnya, dan bahkan reporter atau wartawan yang bekerja di luar lebih terlihat fashionable dari ini.
Semua karyawan Cour selalu meperlihatkan penampilan terbaiknya, apalagi yang sering berhadapan dengan para atasan, harus berpenampilan sesempurna mungkin.
“ A-apa yang yang anda liat tuan?” Lery terbata-bata seraya gerak tangannya yang satunya mengilang menutupi dadanya.
Key mengerutka keningnya, lalu terkekeh melihat reaksi Lery yang begitu spontan. Tentu saja hal itu membuat Lery menjadi kesal, merasa sedang dipermankan.
“ Dasar Presdir gila.”
“ Sekarang kau keluarlah!” Perintah Key dengan masih tertawa. Dia melepas tangan Lery, lalu memberikan gerak tangan agar Lery segera keluar dari ruangannya.
“ Sungguh begini saja? dia tidak menghukumku?”
Lery memegang pergelangan tangannya yang memerah karena cengkraman Key yang cukup kuat. Matanya menatap Key bingung dengan berbagai pertanyaan di hatinya.
Apa ini sungguhan? Benarkah atasan ini melepaskkannya begitu saja?, sementara dia sudah lancang menyentuh pipi atasannya yang tertidur.
Ada kelegaan, tapi juga sedikit khawatir. Karena biasanya hal yang berjalan terlalu mulus itu pasti ada sesuatunya.
“ Kenapa kau masih berdiri di sini? silahkan keluar!” suara Key terdengar lembut, tapi gerak tangannya menunjuk kearah pintu.
“ Hah?” Lery tersadar.
“ Baik tuan. Terimakasih.” Ucap Lery sambil membungkukkan badannya. Lalu berbalik badan dan berjalan dengan cepat menuju pintu.
“ Aaaa.. kenapa perasaanku tidak menentu?”
“ Tunggu!” panggil Key.
“ Eh” langkah Lery langsung terhenti, saat itu juga rasa khawatirnya semakin membesar. Dia berbalik badan dan berusaha untuk tetap tersenyum.
“ Ada apa lagi tuan?”
“ Mana dokumen yang ku minta?”
__ADS_1
“ Di meja anda tuan, tepat di hadapan anda.” Lery berbicara sambil menunjuk dokumen yang tepat di depan Key.
“ Oh, baiklah.”
“ Kalau begitu, saya permisi tuan.”
Lery sudah berbalik badan, namun tiba-tiba Key memanggilnya lagi.
“ Ada apa lagi tuan?” kali Ini suara Lery terdengar kesal.
“ Urusan kita belum selesai. Aku memberimu waktu malam ini untuk merenungkan kesalahanmu. Maka manfaatkanlah dengan sebaik mungkin.” Key berucap dengan santai dan dia bahkan menatap Lery dengan senyum.
“ Apa maksudnya?”
Ekspresi Lery terlihat semakin kecemasan. Dia menatap Key yang sudah meraih dokumen dan membacanya. Lery berbalik badan dan berjalan keluar dari ruangan itu dengan ekspresi seolah kehilangan roh.
“ Apa yang harus aku lakukan? apa aku mengundurkan diri saja?”
Lery berjalan seolah tidak bertenaga menuju mejanya. Hati dan logikanya saling beradu argument. Yang satu menyuruh untuk bertahan dan satunya menyuruhnya untuk keluar saja.
“ Aaa.. kalian diamlah.” Teriak Lery dalam hatinya sambil memegang kepalanya yang menggeleng. Sungguh argument yang tak sejalan ini membuat dia semakin pusing.
“ Sekarang lebih baik aku pulang dan meminta pendapat sekretaris Ketrin.”
Sementara itu, Key yang masih berada dalam ruangannya tampak sedang memegangi ponselnya. Geser-geser layar dan mengambil nomor sekretaris Ketrin. Ketik-ketik untuk membuat pesan.
***
Luna dan Mark tampak sudah rapi dengan Outfit Of The Day (OOTD) masing-masing.
Mark berbusana dengan gaya stelan 3 potong (celana panjang, rompi dan blazer), tapi dipadupadankan dengan lengan baju panjang. Serta dilengkapi dengan outwear, Long coat .
Begitupun dengan Luna, dia tampak mengenakan stelan nuansa monokrom yang senada dengan sang suami. Blazer dan Blus turleneck dengan bernuansa lebih muda sebagai dalamannya, yang di padukan dengan celana. Dan tidak lupa long coat yang sama dengan sang suami.
Selanjuntya, Luna hanya mengikat sedikit bagian rambutnya dan membiarkannya tergerai. Di tambah dengan riasan tipis, sudah membuatnya terliat begitu elegant.
Ya.. memang beginilah penampilan favorit Luna jika menyelenggarakan pameran. Dia lebih suka fashion yang simple dari pada mengenakan gaun untuk kegiatan seperti ini.
Luna dan Mark keluar dari apartement menuju lift. Tangan mereka saling menggenggam seakan tidak mau lepas. Saat di dalam lift, Luna terus memandangi siluet wajah Mark yang berdiri di sampingnya.
“ Sayang, kamu memang sangat tampan.” Luna tersenyum sambil menyandarkan kepalanya di bahu Mark. “ Untung aku juga sangat cantik.” Lanjutya dengan tawa ringan di akhir kalimatnya.
“ Ternyata istriku juga narsis.” Goda Mark dengan senyum.
__ADS_1
“ Ini bukan narsis, tapi percaya diri.” jawab Luna meniru jawaban Mark saat pulang dari kampus kemarin.
“ Ya ya, istriku memang sangat cantik.” Mark mengusap lembut kepala sang istri, sementara Luna tampak senyum-senyum bahagia.
Saat sampai di bawah apartement, Luna dan Mark memasuki mobil yang berbeda. Jika mereka datang bersamaan pasti akan menjadi berita besar dan mengejutkan semua orang, karena selama ini Luna tidak mengungkap identitasnya sebagai istri dari Mark Rendra sebagai pebisnis global.
***
Di gallery seni tempat pameran diadakan sudah terlihat ramai, tamu-tamu datang dan menitipkan mantel di tempat yang khusus yang telah di sediakan dan di layani oleh orang-orang khusus di sana. Karena Galery ini di lengkapi dengan penghangat ruangan, oleh karena itu tidak perlu mengena mantel di dalamnya.
Sementara di dalam ruang pameran, terlihat sejumlah seniman, pebisnis dari berbagai kalangan dan lainnya sedang melihat-lihat lukisan yang terpajang.
Pameran ini bertujuan untuk membantu para anak-anak malang yang berada di panti asuhan di berbagai tempat. Dimana setiap pelukis menyumbangkan minimal 50% dari hasil penjualan lukisan.
Sejumlah pelukis terkemuka ikut ambil bagian dalam pameran ini, serta Luna dan beberapa pelukis handal dari collage juga berkontribusi.
Dalam pameran ini Luna memajang 5 lukisannya dan tidak tanggung-tanggung dia juga akan menyumbangkan 100% dari hasil penjualan lukisannya itu.
Luna tampak sedang berbincang-bincang dengan pasangan suami istri. Mereka adalah salah satu peserta pameran. Mereka berdiri di depan sebuah lukisan abstrak yang berwarna seperti gelapnya malam. Dimana lukisan tersebut berjudul “ Shadow Home”.
“ Tuan Habert dan nyonya Habert tertarik dengan lukisan ini?” tanya Luna dengan senyum ramah.
“ Iya, ini sangat unik. Kami ingin mendengar penjelasan langsung dari sang pelukis. Pesan atau makna apakah yang ada dalam lukisan ini.” nyonya Habert menatap Luna dengan senyum penasaran. Dia tidak sabar mendengar penjelasan Luna.
“ Lukisan ini mempunyai makna yang sangat dalam bagi saya. Garis dan titik nuansa gelap malam dengan biru gelap ini, jika di perhatikan akan membentuk seperti sebuah rumah megah lengkap dengan taman bunga dan pohon.
Rumah megah ini seolah serasa abstrak, atau seperti tidak mempunyai makna. Ini mewakilkan perasaan seseorang sang pemilik ketika di landa masalah.
Namun bagaimanapun itu, jangan lupakan satu hal. ada yang tersimpan di balik itu” Luna berhenti sejenak dengan penjelasannya. Serta pasangan suami istri Habert memberikan respon yang baik, namun masih penasaran.
“ Saya berbicara demikian karena ini.” Luna menunjuk lukisannya yang menujukkan seperti cahaya.
“ Ini adalah pantulan cahaya. Jika diperhatikan, kita bisa melihat cahaya dari jendala rumah ini. Saya memaknai ini adalah kebahagiaan dari rumah yang terlihat suram ini. Seberapapun hancur atau sesuram apapun kenangan dan keadaan dari rumah ini, Namun di sana telah tersimpan semua kenangan dan juga akan selalu bersedia menyiapkan kebahagiaan di masa berikutnya. ”
“ Apakah semua yang tergambar di sini adalah ungkapan dari pengalaman pribadi anda nona Luna?” tanya tuan Habert. Pasangan ini terlihat tampak sangat penasaran.
Luna tersenyum melihat respon dari pasangan ini. Namun ketika dia ingin menjawab, tiba-tiba seorang pria datang dan menyapa. Sehingga Luna dan pasangan suami istri Habert menoleh padanya.
“ Selamat Luna, kelima lukisanmu telah terjual dengan harga yang fantastis.” Ucap Pria itu dengan senyum merekah.
“ Apa?” Luna tampak terkejut hingga membulatkan kedua bola matanya. Bahkan acara ini baru di mulai beberapa menit, bagimana bisa terjual secepat itu?
.
__ADS_1
.
Bersambung..