TUAN MUDA AKU BENCI KAMU

TUAN MUDA AKU BENCI KAMU
S2 SRIGALA


__ADS_3

“ Apa ini?”


Mata Nindy terbelalak saat dia berada dalam pelukan Jiang He. Wajahnya yang tepat di dada bidang Jiang He, hingga mendengarkan debar jantung Jiang He yang tetap tenang.


Disaat yang bersamaan Luna tampak berjalan di taman, dan di belakannya tampak Mark yang mengikutinya dengan celotehan kesal.


“ Sayang, memangnya harus ya malam ini kamu melihat mawar itu?”


“ Aku ingin sekarang, ya sekarang.” Luna tertawa tipis dengan mempercepat langkahnya. Namun 3 langkah ke depan, tiba-tiba langkah Luna terhenti. Matanya terbelalak dan keningnya juga berkerut.


“ Kak Jiang He? Nindy?” Luna berucap pelan.


Dia melihat moment Jiang He dan Nindy yang berpelukan. Luna memundurkan langkahnya, lalu bersembunyi di balik daun pohon yang tingginya tidak jauh dengannya.


“ Hihihi.. aku tidak menyangka.” Luna mengeluarkan ponselnya. Lalu mengabadikan moment itu tanpa sepengetahuan mereka.


‘ cekrek cekrek ‘ 2 foto sudah berhasil Luna dapatkan.


“ Wah.. manis sekali.” melihat sebentar. Lalu meyimpan ponselnya kembali.


Sementara itu Mark mengangkat alisnya, melihat Luna yang mengendap dan bersembunyi membuatnya penasaran. Dia mempercepat langkahnya.


“ Sayang, kamu ken…”


“ Husshh…” Luna menutup cepat mulut Mark. “ Sayang, kamu jangan jadi pengganggu.”


“Pengganggu?”


Mark semakin bingung. Dia melepaskan tangan Luna dari mulutnya.


” Maks..”


“ Iihhh.. kamu.” Luna menutup cepat mulut Mark kembali. Lalu menarik Mark ke balik pohon itu.


“ Di depan ada sesuatu yang menarik.” Luna tidak bisa menahan senyumnya, lalu dia mengajak Mark untuk mengintip. “ Lihatlah! Ini sangat menarik bukan. Hihi..”


“ Itu Jiang He dan Nindy?” Mark berucap sambil mengangkat alisnya.


“ Iya..” Luna menjawab sambil menganggukkan kepalanya dengan senyum. Raut wajah Luna terlihat sangat lega.


“Aku tidak menyangka jika mereka akan tertarik satu sama lain. Sejak kapan mereka dekat?”


“ Itu tidak penting. Yang jelas...” Luna menghentikan kalimatnya, sepertinya dia mengingat sesuatu. “ Eh, tapi bukankah Nindy punya kekasih di Shanghai?” Luna membulatkan matanya, menatap kembali Nindy dan Jiang He. Lalu dia mentap Mark.


“ Aku mana tahu soal itu.”


“ Tapi itu benaran mereka kan? Aku tidak salah lihatkan?” Luna mengucek matanya, lalu menatap ke depan dengan membesarkan matanya.


“ Kamu tidak salah lihat.” Mark meraih tangan Luna dan menggenggamnya. “ Ya sudah. Sayang, kita pergi saja. Biarkan mereka menikmati kebersamaan dengan nyaman.”


Luna menganggukkan kepalanya. Lalu dengan lembut Mark menyusap kepalanya, merasa gemas melihat wajah penuh penasaran sang istri. Mereka berbalik badan dan pergi meninggalkan tempat itu.


“ Nindy, kau mau berapa lama dalam pelukanku? “


“ Hah?” Nindy mengedipkan matanya. Masih saja belum sadar. Pelukan itu seolah menghipnotisnya.


“ Nindy..” suara Jiang he lebih keras.


“Ah, iya iya. Maaf.” Nindy dengan spontan menarik tubuhnya.


“ Kenapa malah aku yang salah di sini? aku kan korban.”


Nindy melirik Jiang He yag mendengus senyum canggung. Lalu dia kembali menundukkan wajahnya.

__ADS_1


“ Aaaa.. apakah aku harus bersorak bahagia atau bersedih karena telah di rugikan?”


“ Lain kali berhati-hatilah.” Jiang He tampak santai, lalu dia berjalan melewati Nindy yang masih menunduk.


Nindy tetap diam, dia memainkan jemarinya dan menggigit bibir bawahnya. Dia sendiri merasa bingung dan juga merasa sedikit malu.


“ Aku benar-benar merasa bodoh sekarang.” rengek hatinya.


“ Apa kau akan tetap berdiri di sana?” Jiang He menghentikan langkahnya saat menyadari Nindy yang masih membatu.


“ Eh.” Nindy mengangkat kepalanya dan menoleh pada Jiang He.


“ Ini semakin dingin. Ayo kita kembali!” Jiang He melanjutkan langkahnya.


“ Ayo.” Nindy menjawab dengan senyum merekah. Lalu dengan semangat menyusul Jiang He.


“ Kau kenapa berlari?” Jiang He mengerutkan keningnya saat mendapati Nindy nafas tak beraturan karena menusulnya.


“ Aku ingin jalan beriringan dengan kakak.” berucap dengan nada putus-putus, karena dera nafasnya yang tidak beraturan. Dia memegangi dadanya dan berusaha mengatur nafasnya.


Jiang He tersenyum tipis, lalu dia melambatkan langkahnya agar Nindy bisa mengiringinya dan menstabilkan nafas.


“ Kakak besok aku akan menemui pria brings*k itu. Menurut kakak, apa aku perlu tetap menahan diri? aku sungguh ingin meluapkan kekesalanku padanya. Sekali ini saja.”


“ Katakan apa yang ingin kau katakan. Tapi jangan sampai kau merusak image, hanya kerena pria yang berkhianat itu.”


“ Hufftt.. aku harap, aku tidak lepas kendali. Aku mempunyai kebiasaan buruk jika marah pada pria.” Nindy berucap sambil menggaruk kepalanya.


“ Kebiasaan buruk seperti apa?” Jiang He tampak penasaran. Dia menoleh pada Nindy dengan keningnya yang berkerut.


“ Hahaha.. bukan apa-apa.” Nindy mengibaskan tangannya sambil cengingisan.


***


Jika dia seorang paparazi pastilah dia paparazi yang handal. Dan foto yang dia ambil ini pasti akan melambungkan namanya dan akan mendapat bonus yang luar biasa.


Sementara Mark tampak baru keluar dari dressroom dengan menggunakan baju tidur warna hijau lembut kali ini, senada dengan baju tidur dengan di gunakan Luna saat ini.


Luna sedikit melirik, lalu tersenyum tipis. Gemas dengan kepatuhan suaminya yang mau menuruti keinginannya. Baginya setiap melihat Mark mengenakan baju pilihannya adalah hiburannya.


“ Sayang menurutmu kak Jiang He dan Nindy benar-benar sudah pacaran?” tiba-tiba bertanya dengan serius.


“ Kenapa kau sangat penasaran sekali dengan hubungan mereka?” suara Mark terdengar kesal. mendekati Ranjang, lalu merebahkan dirinya di pangkuan sang istri.


“ Apa istriku masih menaruh perasaan pada si srigala itu?” Mark mengambil ponsel Luna dan melemparnya sembarangan.


“ Sayang.. kamu ini ah.” berusaha mengambil ponselnya kembali.


“ Berani mengambil ponsel itu. Akan ku pastikan kamu tidak tidur malam ini.”


Dengan cepat Luna menarik tangannya. bersandar kembali dan menatap Mark yang memejamkan mata di panggkuannya.


“ Mark semakin hari, semakin agresif saja. Aku harus bisa mengontrol emosinya, agar semuanya tetap sesaui rencana. Luna, jadilah anak kucing yang manis. Agar dia cukup mencubit hidungmu saja, dia sudah senang.”


Luna berdehem, lalu mengusap lembut rambut Mark.


“ Sayang, apa kamu cemburu?”


“ Suami mana yang tidak akan cemburu jika istrinya memikirkan srigala.” Mark menjawab dengan mata yang masih terpejam.


“ Hihi.. kamu ini apa-apaan. Mana ada srigala seperti kak Jiang He.”


“ Apa?” Mark mebuka matanya, menatap Luna tajam. Sehingga Luna langsung menghentikan tawa dan menutup mulut dengan tangannya.

__ADS_1


“ Upss!!! salah bicara lagi.”


“ Ulangi kalimatmu tadi!!!”


“ Tidak sayang.” Luna menggelengkan kepalanya cepat.


“ Para pria itu adalah srigala. Tidak terkecuali Jiang He, dia bahkan lebih berbahaya. Karena mampu mengambil alih pikiran istriku padanya.”


Luna tersenyum, entah kenapa merasa lucu dengan kecemburuan Mark.


“ Ada 2 pria bukan sirigala. Yaitu suamiku dan papaku.” Menatap Mark denagn senyum berbingkai di bibirnya.


“ Pada dasarnya kami berdua juga srigala.” Berucap denag santai lalu memejamkan matanya.


“ Apa?” Suara Luna terdengar lantang. Tangannya juga berhenti menusap rambut Mark. Menatap tajam Mark, sementara yang di tatap malah menyunggingkan senyum licik meskipun sedang memejamkan mata.


“ Cih, begini saja emosimu sudah di ubun-ubun, tidak mau di buat cemburu, tapi sangat hobi membuatku cemburu.”


“Minggir sana. Aku tidak ingin tidur dengan pria srigala.”


Luna menggoyangkan kakinya, agar Mark terusik dan beranjak dari pangkuannya. Tapi Mark malah tetap diam.


“ Cih, dia baru saja mengakui dirinya srigala. Jadi selama dia tidak mengunjungi di London….”


Luna menggigit bibirnya, bahkan hatinya tidak sanggup menyelesaikan kalimatnya.


“ Aku tidak ingin tidur denganmu.”


Suara itu terdengar kesal, Luna berinsut dan membiarkan kepala Mark perlahan terjatuh.


Setelah bebas. Dia langsung turun dari ranjang. Mengambil selimut dan bantal di dressroom dengan gumam-gumam kesalnya.


“ Aaaa.. aku bahkan tidak bisa membayangkannya. Aku akan menanyai Rangga.”


Luna keluar dari dressroom, selimut tebal dan bantal di peluknya. Berhenti untuk menoleh ke ranjang. Dia semakin kesal, karena melihat Mark yang sudah tidur dengan benar, memejamkan mata dengan tenang, seperti tidak ada kejadian.


Rasa kesal yang balut cemburu semakin membara. Luna menghentak kuat kakinya, lalu berjalan menuju sofa.


“ Dasar suami srigala, jika kau tidak bisa menahannya ya bilang saja padaku. Kenapa malah…” celotehannya terhenti lagi.


“ Aaaa.. aku benar-benar tidak bisa menerimanya.”


Luna meletakkan bantalnya lalu merebahkan dirinya di sofa, menyelimuti seluruh dirinya dan tidur membelakangi Mark.


1 menit, 2 menit, Luna masih tidak tenang. Hati dan logika yang beradu argument membuatnya pusing. Dia membuka selimutnya, berbalik badan dan mentap Mark yang di ranjang.


“ *A*pakah dia benar-benar tega melakukan ini padaku?” tendang-tendang selimut dengan kesal, lalu tidur telungkup dan membenamkan wajahnya di bantal. Dan memukul-mukul bantal itu dengan kepalan tinjunya.


Tidak terlalu percaya sebenarnya. Tapi hatinya sudah terlanjur dibakar api cemburu.


“ Mama.. dia bahkan tidak membujukku. Membiarkaku tidur di sofa.”


Sementara itu Mark terlihat tersenyum tipis mendengar kegaduhan Luna yang berada di sofa.


“ Nikmatilah rasa cemburumu itu sayang. Maafkan aku, aku hanya memberimu sedikit pelajaran.”


.


.


**Bersambung….


Please LIKE, KOMENT & VOTE, untuk mendukung Author**.

__ADS_1


__ADS_2