TUAN MUDA AKU BENCI KAMU

TUAN MUDA AKU BENCI KAMU
S2 MEMBALAS PENGHIANAT


__ADS_3

Di sebuah restoran mewah, di lantai 3 tampak Luna sedang duduk di meja 37. Wajah Luna terlihat cemas. Aduk-aduk busa kopi hot latte, lalu melihat ponselnya. Hal ini tak lain karena cerita penghianatan yang telah di ceritakan Nindy padanya saat sepenjang perjalanan menuju restoran ini.


Balkon restaurant ini hanya terdapat Luna seorang. Dan sebagian dari balkon tersebut sudah di hias dengan mewah.


“ Kenapa Nindy belum kelihatan juga. Apa mereka pergi ke tempat lain?” Luna mengigit jarinya, berdiri untuk melihat ke arah pintu masuk. “ Ah mana mungkin. Lean sudah menyiapkan semuanya di sini.” bertanya sendiri jawab sendiri.


Nindy dan Luna berpisah di tengah jalan. Nindy yang sudah mencari tahu rencana Lean dan mendapatkan alamat restoran yang telah di pesan.


Dimana Nindy dan Luna sepakat bahwa Luna pergi duluan dengan membawa mobil Nindy. Sementara Nindy pergi naik taksi ke tempat dimana dia meminta Lean untuk menjemputnya. Hal ini Nindy lakukan agar aksinya nanti tidak mencurigakan dan Luna dapat menyaksikannya.


Sebenarnya Luna menolak untuk melihat pertengkaran mereka, karena menurut Luna itu adalah privasi. Tapi Nindy malah memohon.


“ Aku akan berbagi privasi padamu dan beberapa orang yang akan melihatnya di sana nanti.” itulah kalimat yang di lontarkan Nindy padanya. Hingga akhirnya Luna mau mengikuti kemauan Nindy.


“ Ya Tuhan.. ini benar-benar membuatku cemas saja.” Luna kembali ke tempat duduknya, lalu menyesap minumannya.


“ Jika seandainya tidak ada penghianatan di sini, pasti Nindy sangat bahagia. Lean sudah menyiapkan semuanya dengan baik.” Luna tersenyum miring, sambil melihat sebagian dari tempat itu sudah di hias dengan nuansa romantis. Hatinya ikut sakit mendengar cerita Nindy. Tapi dia tidak mengenal Lean, dia hanya mengetahui bama, wajah dan sedikit cerita tentang Lean dari Nindy.


Berdasarkan cerita itu , Luna bisa menangkap bahwa Nindy sangat mencintai Lean. Tapi untuk sekarang Luna malah mendengar Lean menghianati Nindy. Tentu saja sebagai wanita, Luna sangat paham apa yang dirasakan oleh Nindy. Jika seandainya dia mengenal Lean, mungkin dia juga akan ikut memaki Lean.


“ Permisi Nona.” suara pelayan restoran yang membuyarkan lamunan Luna. Sontak saja pelayan tersebut langsung minta maaf, karena melihat Luna yang sedikit terkejut.


“ Ahk.. tidak apa-apa. Hidangkan saja makanannya.” Ucap Luna. Karena 2 orang pelayan sudah datang dengan troli makanan.


Pelayan tersebut mengangguk dan dengan penuh kesopanan menghidangkan beberapa menu yang telah di pesan oleh Luna.


“ Nona, apa anda perlu hiburan atau mengubah suasana di sini?” tanya pelayan setelah menghidangkan makanan.


“ Haha.. tidak perlu. Seperti ini saja cukup.”


“ Tapi nona, di sebelah sana nanti akan ada perayaan Anniversary. Apa nona tidak keberatan dengan itu?” sambil menunjuk ke samping, pelayan bertanya seolah memastikan sesuatu. “ Jika nona keberatan, kami akan menyiapkan tirai pembatas. Sehingga nona cukup terfokus dengan pemandangan di depan.” tawarnya.


“ Hah? Apa mereka berfikir bahwa aku adalah wanita yang sedang patah hati dan ingin menenangkan diri?”


Luna tersenyum simpul. Dalam hatinya dia hanya bisa mentertawakan diri sendiri.


“ Sungguh aku tidak membutuhkan apapun dan itu tidak akan menggangguku.”


“ Anda yakin nona?” pelayan masih mencoba memastikan.


“ Iya.” Luna menganggukkan kepalanya. Kali ini dia terlihat tersenyum masam. “ Sekarang kalin sudah boleh pergi.” lanjut Luna dengan gerak tangannya yang mempersilahkan pelayan tersebut untuk segera pergi.


“ Maafkan kami nona.” suara pelayan tersebut terdengar penuh rasa bersalah, karena menyadari bahwa Luna kesal. Mereka berdiri tegap dan menundukkan kepala, lalu membungkuk. Saat Luna menjawab baru mereka berjalan mundur dan beranjak pergi dengan cepat.


“ Memangnya di wajahku tersimpan kesedihan ya? sehingga mereka berfikir aku butuh hiburan dan sebagainya.” Luna mendengus sambil menggelengkan kepalanya.


‘ tap tap ‘ terdengar suara langkah kaki dan juga suara pria.


Luna langsung menoleh kebelakang dengan cepat. Di pintu masuk terlihat Nindy dan Lean yang masuk. Dimana mata Nindy di tutupi dengan kain lembut dan Lean memandunya berjalan. Serta di belakang mereka juga tampak pengiring musik yang mengikutinya.


“ Hati-hati sayang.” Lean berucap lembut sambil memegang tangan Nindy dan bahu Nindy. Sangat jelas Lean memperlakukan Nindy penuh kasih. Sungguh hebat dia melakoni perannya.


“ Cih, sangat jijik dengan tangan ini. tapi aku harus tahan.”


Nindy berusaha untuk menahan diri. sikap lembut Lean yang penuh kepalsuan ini benar-benar membuat dia membenci hingga ke tulang.


“ Sayang kejutan seperti apa yang kamu siapkan untukku?”


“ Kau tunggu saja. Kita sudah sampai.” Ucap Lean dengan mengangkat satu tangannya. bersiap-siap ntuk memberi aba-aba.


Sementara Luna terlihat memperhatikan sambil memasukkan bahan dalam kuah hot pot yang sudah disiapkan di mejanya.


Lean memberikan intruksi tanpa suara, cukup gerak tangannya dengan hitungan mundur.

__ADS_1


“ 3, 2, 1.” tepat hitungan 1 dia menarik penutup mata Nindy dan alunan musik yang romantis juga mengiring.


“ Happy anniversary 1st sayang.” Lean berucap penuh senyum serta merentangkan tangannya. Berharap Nindy untuk segera menghambur dalam pelukannya.


Tapi semua itu tidak akan terjadi. Nindy hanya diam, dan memandangnya dengan senyum . sehingga membuat Lean merasa aneh dengan sikap Nindy.


“ Sayang, kamu tidak bahagia? A-aku sudah mempersiapkan semua ini untukmu” tanya Lean terdengar gusar sambil mengedarkan pandangannya pada semua yang sudah dia siapkan.


“ Tentu. Aku sangat senang.” Mata Nindy menatap dalam Lean, lalu memandang suasana romantis di depannya. Dia memperluas pandangannya. Saat dia sudah melihat Luna, dia kembali menatap Lean.


“ Terimakasih. Aku sangat terharu.” Ucap Nindy dengan senyum pahit yang semakin sulit untuk dia tahan. Dan hali ini, membuat Lean semakin bingung. Hingga dia menyuruh pengiring musik untuk berhenti dan menyuruh mereka pergi.


“ Nindy kamu kenapa? apa yang salah? Kenapa kamu terlihat tidak senang?” meraih kedua tangan Nindy dan ingin menciumnya. Tapi sebelum aksinya berhasil, Nindy dengan cepat menarik tangannya.


“ Kamu tidak pantas untuk itu.” suara Nindy sudah mulai marah. Nindy menatap tajam penuh kebencian, sementara Lean masih terlihat seperti tidak bersalah.


“ Lean, lebih baik sekarang kamu jujur padaku.” Nindy melewati Lean dan duduk di kursi yang telah di siapkan. Kursi untuk perayaan anniversary, namun kini telah berubah sebagai kursi panas penumpah emosi.


Luna yang berada di sisi lain masih menatap, dia makan pelan sambil menajamkan pendengarannya.


“ Apa maksudmu sayang.” Lean berbalik badan, lalu dia duduk di depan Nindy.


“ Sayang jangan marah tidak jelas begini.” masih berusaha meraih tangan Nindy yang berada di atas meja.


“ Jangan sentuh aku.” Nindy menarik cepat.


“ Sudah aku ingatkan. Kamu tidak pantas.”


“ Nindy katakan lebih jelas padaku. Aku tidak bisa mengartikan semua perkataanmu tadi.” Suara Lean mengeras. Dia telihat emosi, namun sesaat kemudian dia terlihat menyesal.


“ Maafkan aku.” Ucapnya lembut. “ Aku sungguh tidak mengerti apa maksudmu. Selama ini hubungan kita baik-baik saja, tapi kenapa hari ini kamu sangat marah padaku?” Lean mengusap kepalanya tampak frustasi.


“ Cih, baiklah. jika kamu masih ingin berpura-pura maka aku tidak akan basa basi lagi.”


“ Bisakah kamu menjelaskan ini!” Nindy melempar ke atas begitu banyak lembaran foto. Sehingga foto-foto tersebut berhamburan di udara dan melayang.


Lean tampak terkejut, dia menatap foto-foto yang berhamburan tersebut. Terlihatlah foto-foto dia dengan wanita lain dengan berbagai moment.


“ Wah..” Luna yang menyaksikan juga kaget hingga dia menutup mulutnya. Matanya membulat, dia merasa tindakan Nindy sangatlah keren.


Lean tampak sejenak memejamkan matanya dan menggertakkan giginya. Foto-foto tersbut jatuh berserakan, bahkan mengenai kue anniversary yang sudah di siapkan.


Lean menatap beberapa foto yang tepat jatuh di hadapannya. Foto saat makan malam, saat naik mobil bersama bahkan foto mereka berciuman juga ada.


“ Kenapa kamu diam? Kenapa sekarang kamu seperti anj*ing bodoh yang tidak berani lagi mengeluarkan taring? Lean, kamu benar-benar sudah melakukan kesalahan besar.”


“ Nindy.. ini tidak seperti yang kamu fikirkan.”


“ Apa? tidak seperti yang aku fikirkan? Dengan semua bukti ini, mulut kurang ajarmu itu masih berucap demikian? Hah. Kau pikir aku ini bodoh? Lean, aku adalah Nindy Wu salah satu pewaris Cour Media, apa kau masih berfikir jika aku akan mendapatkan informasi yang salah?” Sangat marah. Hingga Nindy tampak menggenggam erat tangannya.


“ Lean, aku sungguh tidak butuh penjelasan apapun lagi. Aku sudah mengetahui semuanya. Kau mendekatiku hanya untuk memperlancar hubungan kerja sama kan? Cinta dan ketulasan yang kau dramakan padaku, sudah cukup untuk memanjakanku selama ini. Dan itu juga sudah cukup untuk menyokong dana Cour untuk perusahaanmu.”


“ Nindy.”


“ Kau jangan memanggil namaku lagi!” teriak Nindy penuh kemarahan, nafasnya cepat dan matanya memerah.


“ Mulai sekarang tidak punya hubungan apa-apa lagi. Kau tenang saja untuk kerjasama aku tidak akan melibatkan parasaanku padamu. Tapi aku tidak yakin dengan kakakku, jika dia mengetaui ini. Aku sendiri tidak bisa membayangkan apa yang akan dia lakukan padamu dan perusahaanmu.”


Lean hanya diam, dia hanya menatap Nindy tanpa berkedip.


“ Aku sudah tidak punya apapun lagi untuk di bicarakan.” Nindy mengambil tasnya dan beranjak pergi. Tapi tiba-tiba Lean menarik Nindy dalam pelukannya.


“ Nindy aku mohon, jangan tinggalkan aku. Aku akan meninggalkan wanita itu dan hanya akan mencintaimu seumur hidupku.”

__ADS_1


“ Sialan..” Nindy meronta, mendorong kuat tubuh Lean, lalu menamparnya keras. Tidak sampai di situ, dia bahkan menendang milik Lean.


“ Akh..” Lean langsung meringkuh kesakitan dan wajahnya lansung merah padam.


“ Sudah ku ingatkan. Jangan menyentuhku!.” Nindy mengambil gelas yang berisikan anggur lalu menyiram Lean juga pada dirinya.


“ Jangan sampai aromaku melekat di tubuhmu. Dan aku akan segera membersihkan diri. Aku sangat benci aromamu.” Nindy berbalik badan dan meninggalkan Lean yang masih meringkuh kesakitan.


Tampak Luna mendekati Lean, hingga Lean yang masih mengaduh mendongak menatap Luna.


“ Kau tahu, kau itu sangat jahat?” ucap Luna, tapi Lean tidak menanggapinya karena dia berfikir jika Luna hanya tamu restoran ini.


“ Nindy melihatmu saat kalian merayakan anniversary. Dia ke Shanghai berencana untuk merayakannya bersamamu. Tapi dia malah medapatkan kado terpahit darimu.”


“ Apa?” Sontak saja mata Lean langsung membulat. Sementara Luna langsung berlalu mengusul Nindy. Meninggalkan Lean dengan meyedihkan di sana. Beruntung tidak ada orang lain, jika ada pasti malunya berlipat-lipat.


“ Nindy..” panggil Luna mengikuti Nindy cepat. Nindy menghentikan langkahnya, tangannya tampak meraih dinding untuk bersandar. Tau dengan apa yang terjadi, Luna berlari dan memegangi Nindy.


“ Nindy, jangan di tahan. Jika ingin menangis, menangislah!!” Luna mengusap-ngusap punggung Nindy.


“ Hiks hiks.. hatiku sangat sakit.” tangisnya pecah, lalu dia berjongkok, menunduk dan memeluk lututnya.


“ Iya aku tahu. Itu pasti sangat menyakitkan. Menangislah! Tidak apa-apa.” peluk dan elus-elus lembut dari Luna.


Beberapa saat setelah merasa sedikit tenang, Nindy mengangkat kepalanya. “ Luna, apa aku terlalu jahat?”


“ Tidak. Kau terlihat keren.” Melapaskan pelukan dan memandang wajah Nindy yang sembab.


“ Aku menendangnya.”


“ Iya. Tapi masih terlihat keren, seperti masa sekolah.” Luna berucap dengan senyum lembut dan mengusap air mata Nindy.


“ Sangat sulit menghilangkan kebiasaan itu. dan lebih parahnya aku pernah melakukannya pada kakak.”


“ Kak Key juga?” Luna membulatkan matanya.


“ Iya. Aku sangat kesal karena dia menarikku untuk masuk ke kamar. hingga.. Duark. Ya terjadilah.” Nindy berucap dengan polos seperti anak kecil.


“ Ya ampun..”


“ Kakak sangat marah dan berkata jika dia tidak bisa mendapatkan keturunan. Maka dia akan melakukan hal yang sama pada suamiku nantinya.”


“ Maka kau harus melindungi suamimu nanti.” Luna mengelus pipi Nindy.


“ Kau tenag saja. Aku rasa kakak tidak akan punya kesempatan. Aku rasa, aku akan lebih dulu menikah darinya. Hihi..” berusaha tertawa.


“ Aku rasa juga begitu. Jadi jangan bersedih lagi, cepat temukan calon suami.”


Nindy menganggukkan kepalanya, lalu mereka saling berpelukan dalam posisi jongkok tersebut.


“ Luna jika aku serius untuk mengejar kak Jiang He, apa tidak masalah bagimu?”


Bisik hati Nindy. Karena untuk part tentang Jiang He belum dia ceritakan pada Luna.


“ Nindy bantu kak Jiang He agar lepas dari bayang-bayang tentangku. Bantu dia menyembuhkan lukanya. Aku tidak egoiskan, jika aku meminta hal ini padamu?”


Bisik hati Luna sambil memejamkan matanya dalam pelukan Nindy.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


LIKE, KOMENT & VOTE


__ADS_2