
Mark mengehala napas perelahan. Perlahan dia mulai melangkahkan kakinya. Tiba-tiba Mark merasakan menginjak sesuatu yang aneh.
BOOMMM…..
Ledakan yang amat keras. Berbagai jaring perangkap juga terlihat dari bebrapa sisi.
Mark mengeryitkan dahi memandang arah bunyi ledakan yang tidak begitu jauh darinya itu. Asap pekat juga menggumpal di sana. Mark menoleh pada benda yang tengah di pijakinya itu, sesuatu yang berbentuk tombol control.
Mark sempat memperhatikan sekeliling sebelum menunduk dan melihat lebih jelas benda di bawahnya itu. Benar! Ternyata yang dipijakinya adalah sebuah control yang terpusat yang sengaja di pasang di hutan ini. Dan sebab tombol ini juga ledakan ini terjadi. Dapat Mark pastikan jika dia telah dalam pantauan James Lu sekarang.
Tidak lama, terdengar derap langkah mendekatinya. Secepat kilat orang itu juga sudah berada di belakang Mark. Sebuah senjata api juga dia todongkan di belakang kepala Mark.
“Angkat tangan anda Tuan!”
“Heh,” Mark tersengih seraya patuh mengangkat kedua tangannya.
***
Sampai saja di perkarangan villa mewah di pulau itu. Mark berjalan dengan kedua tangan diangkat ke atas. Dua orang berbadan kekar dengan pakaian serba hitam di belakang Mark, senjata api juga masih ditodongkan.
Mark mulai meliarkan mata memperhatikan sekeliling. Villa ini di jaga sangat ketat. Disetiap sudut ada yang berjaga. Tidak masalah dia ditangkap, yang terpenting dia berada di sini. Toh tujuannya juga memang ingin ke sini menjemput istrinya. Mata Mark terpaku pada sebuah jendela yang ada di tingkat 3 villa itu. Ada bayangan seorang perempuan dari gorden itu.
“Kenapa? apa yang anda lihat, Tuan?” tanya seorang pria berbadan kekar itu menyentakkan Mark.
“Bukan apa-apa. Kalian akan membawaku bertemu Tuan kalian kan?” tanya Mark sambil menoleh.
Pecah tawa kedua pria itu. Ingin bertemu Tuan kami? Memangnya siapa anda siapa? Tidak semudah itu Tuan!
“Hei, Tuan dengar baik-baik.. meskipun diluar sana anda adalah orang kehormatan, namun di sini anda adalah tahanan. Jadi tidak perlu banyak tingkah. Tuan kami tidak punya waktu untuk itu sekarang. Ada hal yang lebih menarik untuk dia lakukan.” remeh saja mereka berucap. Mereka berdua juga saling tersengih menatap. Senjata mereka juga diturunkan.
“Maksud kalian?” tanya Mark pelik.
“Anda lihat itu Tuan.” telunjuknya di arahkan pada jendela tingkat tiga tadi.
Mark menoleh. Tirai dari jendela itu perlahan tebuka separuhnya. Luna! dia tersenyum, namun tiba-tiba senyum itu mati tatkala di sana juga terlihat James Lu. Tirai itu juga kembali tertutup. Sehingga yang terlihat hanya bayangan dua orang yang tampak mesra. Bergetar tangan Mark mengepal dengan tangannya yang masih terangkat di atas kepala.
Dua orang itu terlihat puas melihat emosi Mark.
“Tuan, ayo lanjut.” Arah mereka dengan kembali menodongkan senjata.
Mark patuh saja. Matanya memerah melihat pemandangan tadi.
“Luna…”
***
Sementara itu…
“Kamu mau apa lagi James?” Bentak Luna keras. Tangannya juga ditarik dari tangan pria itu. Dia berundur beberapa langkah menjauhi James. Dia semakin tidak mengenal James Lu yang sekarang. Sebelumnya, mungkin dia terlalu terburu-buru menilai James itu pria baik. Padahal hanya beberapa kali bertemu. Ternyata inilah, sifat asli pria ini. Biadap! Tega memisahkan dia dengan suami dan anaknya yang masih sangat kecil.
“Calm donw Luna.. kamu tidak perlu ketakutan seperti itu.” James sempat melirik ke kaca jendela yang kembali sedikit terbuka itu. tampak olehnya Mark yang tidak lagi menoleh. Pria itu pasti sudah sangat sakit hati atas tipuan bayangan tadi, “Aku hanya ingin memberikan ini padamu.” amplop coklat di lemparkan di atas ranjang. Lalu langkah kakinya kembali dibawa keluar dari kamar itu.
Luna masih kaku berdiri. Hanya memberikan itu kenapa mesti menarik dirinya seperti tadi? Luna baru bisa kembali bernapas setelah James Lu benar-benar keluar dari kamarnya. Luna bernapas dengan dada yang sedikit berombak. Perlahan dia mendekati amplop coklat di atas ranjang itu. Ketika amplop itu dia raih, entah kenapa Luna merasa tidak tenang. Namun dia beranikan juga untuk membukanya.
Alangkah terkejutnya Luna melihat apa yang ada di dalam amplop itu. Foto Mark dengan Misya sangat tidak senonoh diatas ranjang. Luna serasa bagai di sambar petir ketika itu. Dia hanya mampu menggeleng, air matanya yang juga cepat keluar tanpa permisi.
***
Sudah larut malam. James Lu mengatur langkah menuju lorong panjang. Dua orang di belakang juga mengikutinya. Derap langkah mereka memenuhi ruang sunyi itu. Tidak lama, sampai saja mereka di tempat tujuan. Dua orang berbadan kekar bersama Mark tadi langsung berdiri ketika melihat James Lu datang.
“Tuan.” mereka berbaris dengan menegapkan tubuh.
James Lu sekedar megangguk dan tangannya mengarah untuk menyuruh membuka pintu. Cepat saja salah satu dari mereka bergerak.
Mark langsung angkat wajah ketika mendengar suara pintu dibuka. Dia hanya memasang wajah tenang ketika James Lu muncul dari pintu itu.
“Tinggalkan kami.” Arah James Lu.
Orang-orang itu mengangguk dan menutup pintu. Sekarang tinggallah Mark Rendra dan James Lu di ruangan besar itu.
__ADS_1
“How are you Mark?” James Lu membalas tatapan tenang Mark. Dia juga melangkah dengan satu tangan di dalam saku celana. Topi cowboynya di lepaskan ketika mengambil duduk di hadapan Mark. Dia ikut duduk Mark yang menyilang tangan dan kaki.
“Aku memang sudah dapat mengira, jika kau pasti datang. Tapi tidak di sangka secepat ini kau bisa pecahkan teka-teki keberadaanku. Pulau ini banyak jebakannya. Namun sekali langkah saja kau bisa melewatinya. Kau bahkan tidak terkena jebakan di hutan itu, kau malah menemukan salah satu control.”
“Kembalikan Luna padaku.” ujar Mark tanpa basi. Dingin! Dia malas membahas perkara tidak penting sekarang ini.
James Lu sekedar mengangguk tenang. Dia tahu bagaimana karakter Mark, “Kau mau Luna? lalu aku mudah saja memberikannya padamu?” tanya James Lu sinis diakhir kalimatnya, “Kau seharusnya tahu akan kesalahanmu. Kau tidak layak di sisi Luna lagi.”
“Lantas, kau layak?” Mark tarik bibir sinis. Aku tidak layak, dan kau layak? Dari mana perhitungannya? Hayolah James Lu..
James Lu bangkit dari kursinya. Tangan diletakkan di belakang. Dia mencoba menelaah wajah tenang Mark, dia yakin Mark hanya berlagak tenang sekarang. Di dalam sana, hati pria itu pasti panas setalah melihat tipuan bayangan mesra dia dan Luna tadi.
Mark hanya menatap tenang, menunggu apa yang hendak diucapkan James Lu.
“Kau terlalu percaya diri Mark Rendra.” James Lu tersenyum sinis. kedua pria itu saling beradu tatap. Tajam.
“Percaya diri itulah yang membuat aku layak bersamanya. Apapun itu, kau tidak ada hak mengambil Luna dariku. Kau hanya orang luar James Lu.”
Ckck.. James Lu menggertakkan gigi mendengar kalimat Mark. Okey.. mari kita lihat Mark Rendra. Akan aku tunjukkan bagaimana pedulinya orang luar ini!
***
Mark berjalan mengikuti seorang pelayan di hadapannya.
“Hanya satu kali Mark. Jika Luna menolakmu. Maka, tidak akan mudah lagi untuk mu. Dan Luna juga harus resepsi denganku!”
Kalimat James Lu kembali di reka ulang oleh Mark. Dia merasa lain. Apa yang di rencanakan oleh James Lu? Pikirannya juga silih berganti akan bayangan di tirai malam itu. Tidak mungkin Luna semudah itu mengkhianatinya kan? Lalu resepsi?
“Tuan,” suara pelayan itu menyentakkan Mark, “Kita sudah sampai.” Ujar pelayan itu lagi.
Mark menoleh pada pintu kamar tepat di samping dia berdiri sekarang. Pelayan itu tengah membukakan pintu itu dengan card.
“Terima kasih.”
Pelayan itu mengangguk, lalu meninggalkan Mark seorang diri di situ. Tugasnya sudah selesai.
Dalam masa yang sama, James Lu sedang memantau di layar. Dia sengaja memasang camera tersembunyi di kamar Luna. James Lu tersenyum penuh makna. Setelah keduanya dibuat salah paham, pasti akan ada tontonan yang menarik bukan? Keduanya memang pasangan saling mencintai, namun belum pernah diuji dengan hal seperti ini. Hah, mari kita lihat. Dia sangat tidak sabar.
Mark sedikit tercegat melihat kamar yang ditempati Luna benar-benar gelap kali ini. Tidak biasanya seperti ini. Selalunya satu lampu yang menyala, minimal lampu di nakas. Mark menekan saklar lampu yang ada di sana.
“Luna..” berdesir darah Mark melihat istrinya itu tengah duduk di tepi ranjang. Mata istrinya itu juga memandang tajam padanya. Mata istrinya itu juga sembab seperti habis menangis.
Darah Mark semakin menggelegak, ketika melihat selembar foto di tangan istrinya itu. Ya, dia langsung tahu. Aish.. sudah! Pantas James Lu berkata seperti tadi. Ternyata ini muslihat pria itu. Bajing*n!
Tapi apakah karena ini Luna mudah saja berpaling darinya? Dalam bersamaan bayangan di tirai kembali teringat olehnya. Apalagi melihat Luna yang tidak antusias akan kedatangannya.
“Luna..” Mark perlahan mendekati istrinya itu. Luna berdiri dan tetap diam menatap Mark tajam. Foto ditangan juga sudah di remas.
“Mark…”
Mark terkedu ketika Luna tiba-tiba langsung menghambur memeluk dirinya.
“Kenapa kamu lama? aku rindu. Aku merindukan Allart kita.” ujar Luna terisak. Dada suaminya itu juga di pukul-pukul.
Mark tersenyum lega. Jadi Luna tidak marah padanya? Perlahan tangannya naik membalas pelukan istrinya itu.
“Don’t cry, sekarang aku sudah di sini. Humm..” ubun-ubun istrinya itu di kecup dengan hangat.
BRACK…
Hancur semua barang di atas meja itu dibaling oleh James Lu. Jadi usahanya sia-sia saja? Luna tidak mempermasalahkan sama sekali foto itu? James Lu tertawa keras. Beberapa orang yang berada di ruangan itu merinding dengan tingkah Tuannya itu.
Sesuai janji, Mark dan Luna dibiarkan bersama malam ini. Wajah cantik istrinya itu tidak lepas dari tatapannya.
“Sayang terima kasih karena tidak cepat mengambil kesimpulan dengan foto itu.”
Luna tersenyum manis, “Mark, sejak aku memutuskan untuk bersamamu, sejak itu juga aku tidak pernah mempermasalahkan masa lalumu. Semua orang punya masa kelamnya sendiri, jika hal itu di permaalahkan di masa depan, maka tidak akan ada rumah tangga yang bahagia. Yang terpenting bagiku, kamu yang sekarang.”
__ADS_1
Mark sangat lega. Ya! inilah cinta. Inilah pentingnya saling percaya dan saling menerima tulus pasangan masing-masing.
“Tapi bagaimana kamu bisa tahu jika itu foto lama?” sengaja Mark bertanya.
“Tentu saja aku tahu. Kamu hanya terlihat tampan setelah bertemu denganku.”
“Wait?”
“Apa? memangnya aku salah? Ini mataku yang menilai.” suara Luna rada merajuk.
Mark tertawa. Tubuh istrinya itu di dekap lebih erat.
“Ya kamu benar. Aku menjadi lebih tampan karena kamu di sisiku. Itu karena hatiku selalu bahagia. Tapi percayalah.. apa yang ada di foto itu ceritanya tidak seperti itu.”
“Hah?” Luna mendongak menatap suaminya itu.
“Luna, aku tidak pernah menyentuh Misya. Di foto itu, dia menjebakku karena aku memutuskan hubungan kami.”
Luna mengedipkan matanya beberapa kali. Jadi dia tetap yang first kan? Hei.. kenapa dia malah memikirkan first or second? Tolong lah Luna…
“Seriously?”
“Yes. Aku tidak pernah menyentuh perempuan manapun. Your first.” Teduh saja mata Mark ketika itu.
Luna tersenyum, wajahnya dibenamkan di dada suaminya itu. Entah kenapa hatinya berbunga-bunga. Dia jatuh cinta ke sekian kalinya pada pria ini. Thank’s.. Dia benar-benar tidak sia-sia mempercayai suaminya ini.
Mark juga mengusap lembut punggung istrinya itu. Dalam masa yang sama Mark juga teringat akan resepsi yang di maksud oleh James tadi. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Luna menanggapinya nanti. Sebuah keluhan ringan Mark keluarkan perlahan.
Meskipun Mark belum dapat mengira apa ingin James Lu yang sebenarnya. Yang pasti dia akan upayakan segenap kemampuannya. Walau hanya seorang diri di daerah kekuasaan James Lu, sedikitpun dia tidak akan bimbang. Meski neraka yang akan dia dapatkan di sini. Dia tidak akan pernah takut. Apapun caranya, dia akan membawa Luna kembali. Keluarga kecilnya harus segera berkumpul kembali.
Bersabarlah sedikit lagi.
“Sayang, apapun yang terjadi besok ikuti saja. Aku akan selalu mengawasimu.” Ujar Mark perlahan.
Luna awalnya merasa pelik. Namun perlahan dia mengangguk saja. Dia tidak ingin banyak bicara. Terlalu rindu dengan suaminya sekarang ini.
***
Java Moor turun dari jet pribadi mewah itu. Senyumnya mengembang ketika melihat perempuan super girly tengah menghampirinya.
“Hello, baby..” anak gadisnya itu di peluk.
“Welcome, Daddy.” Ujar Nicia.
“Nicia you so look beautiful. Tapi.. maafkan Daddy memberimu tugas yang cukup berat kali ini. Kamu bisa saja mendapatkan beberapa luka menjalan misi ini.”
“Don’t worry.. it’s not problrm. Zaman sekarang semuanya sudah semakin canggih. Kulit bekas luka bukan hal besar.”
Java Moor tertawa mendengar jawaban putrinya itu. Lalu pelukan di urai.
“Kamu memang anak Daddy.” Ujarnya bangga.
“Bos,”
Seorang pengawal mendekati Java Moor.
“Ada apa?” tanya Java Moor tidak berpuas hati. Dia belum puas berbincang ramah dengan putrinya.
“Ada informasi baru. Mark Rendra ternyata pergi ke pulau itu.”
Berkerut kening Java Moor seketika. Cepat juga.
“Tidak apa. Itu malah akan semakin menarik. Kita langsung berlayar. Ini pasti sangat meyenangkan.”
Pengawal itu mengangguk dan mempersilahkan Java Moor dan Nicia untuk memasuki mobil.
“Satu perluru mematikan dua mangsa sekaligus. Bukankan ini menarik?” ujar Java Moor pada putrinya.
“Tentu saja Daddy. Kali ini kita pasti berhasil. Beberapa langkah lagi.” Nicia tersenyum iblis. Diapun sudah tidak sabar.
__ADS_1
Bersambung...