
Luna terus membayangkan hal bahaya yang telah dia lewati itu.
“ Tapi tunggu dulu. Suara wanita itu bukankah terdengar seperti suara Camelia?” biski hati Luna.
Luna terkejut dengan penemuannya sendiri hingga menutup mulunya.
“ Apakah itu benar-benear Camelia?” gumam Luna.
Mark melirik Luna.
“ Kau kenapa? Apa yang kau pikirkan hingga bereaksi seperi itu?” tanya Mark.
Luna mentapa Mark, lalu tersenyum.
“ Ah haha,, bukan apa-apa. Aku hanya mersa mengantuk saja” dalih Luna berusaha untuk membohongi Mark.
“ Luna jika ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu, kau ceritakan saja padaku. Jika bisa, kau jangan menyembunyikan apapun dariku” pinta Mark.
“ Aku tidak menyembunyikan apapun darimu.”
“ Aku harap kau berkata yang sesungguhnya” jawab Mark dingin.
Luna melirik Mark.
“ Ada apa ini, kenapa dia tiba-tiba dingin lagi. huh benar benar, suasana hatinya lebih cepat berubah daripada membalikkan buku” gumam Luna kesal.
Beberapa menit kemudian Mark dan Luna telah sampai di rumah. Luna melepaskan sabuk pengamannya lalu melirik Mark yang juga membuka sabuk pengaman.
“ Mark apa kau tidak ke kantor?” tanya Luna bingung.
“ Tidak. Aku akan menemanimu untuk beristirahat” dengan santai.
“ Hah,, menemaniku? Yang benar saja, aku bukan anak kecil lagi yang harus kau temani. Lebih baik sekarang kau ke kantor, pasti sudah banyak hal yang perlu kau urus” ucap Luna denga tertawa masam
“ Memangnya kau siapa berani memerintahku?” dengan arrogant.
“ Eh,, benar juga . Aku ini siapa, aku dimana?. Dasar, dia selalu menyadarkanku untuk mengingat statusku saat ini ” bisk hati Luna kecewa.
“ Haha,, maaf Tuan Muda, aku bukan bermaksud seperti itu. Aku hanya tidak ingin merepotkanmu” dengan senyum yang di paksakan.
“Bukankah sebelumnya aku sudah bilang, kau tidak apa meropotkanku tapi jangan merepotkan orang lain. Mulai dari sekarang aku mengizinkamu untuk merepotkanku dalam hal apapun ”
“ Siapa juga yang ingin merepotkanmu ” umpat Luna dalam hatinya.
“ Haha,, Tuan muda sungguh mulia sekali hatinya. Atapi aku benar benar,,,,”
Luna belum menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba Mark langsung keluar dari mobil tanpa menghiraukan sanggahan Luna.
“ Aaaaaa,,, benar-benar menyebalka . Dia hanya bisa memerintah dan mengatur saja. memangnya dia pikir aku ini kucing peliharaannya? . Di suruh makan ya makan, di suruh istirahat yang istirahat.” Gumam Luna kesal.
Luna keluar dari mobil dan mengikuti Mark.
“ Hey, Mark Rendra aku bukan orangmu ataupun kucing peliharaamu yang harus tunduk dan patuh padamu. Aku akan beristirahat, tapi kau tidak perlu menemaniku. Hanya suami istri yang bisa tidur bersama” Teriak Luna.
Mark menjentik kening Luna ‘ takk’
“ Wwww,, sakit ” jerit Luna sambil memegangi keningnya.
“ Siapa juga yang akan menemanimu tidur. Aku hanya menemanimu berada dirumah saja.” jelas Mark.
“ Eh… berarti aku yang berfikir telalu banyak. Oh Tuhan,,, aku benar-benar sangat malu. Rasanya aku ingin menghilang saja ” gumam Luna sangat malu.
“ Dasar otak mesum” ucap Mark dan berjalan pergi.
“ A aa apa? kau bilang aku otak mesum?. Itu bukan otakku yang mesum, tapi perkataanmu saja yang ambigu” teriak Luna.
“ Sudahlah, kau hanya menghabiskan tenagamu saja berteriak seperti itu. sekarang lebih baik bersihkan dirimu dan beristirahatlah” sambil melambaikan tangan dan berjalan pergi menuju ruang kerjanya.
Lunapun segera berlari menuju kamarnya,
“ Aaaa,,, ini benar-benar memalukan. Bagaimana bisa aku mempermalukan diriku sendiri ” umpat Luna pada dirinya sendiri.
Mark melirik Luna yang yang melewatinya dan tersenyum.
“ Luna.. Luna..” sambil menggelengkan kepalanya.
Mark membuka pintu ruang kerjanya dan langsung melakukan panggilan pada Rangga.
“ Apa kau sudah memeriksanya?”
“ Sudah. Semuanya sesuai dengan dugaanmu”
__ADS_1
“ Baiklah. Lakukan langkah selanjutnya” sambil memutuskan panggilan.
Selanjutnya Mark kembali melakukan panggilan sambil berjalan menuju meja kerjanya.
“ Halo, atur beberapa orangmu kemari!”
“ Untuk apa? jangan bilang kau akan menyerang duluan?”
“ Aku hanya ingin menambahkan api untuk mereka. Kau jangan khawatir.”
“ Baiklah”
“ Lakukan dengan cepat. Semakin cepat semakin baik”
“ Aku paham.”
“ Terimkasih, kalau begitu aku akan menutup telvonnya”
“ Tunggu dulu Mark. Paman Gu bilang dia ingin berkunjung ke sini”
“ Kenapa tiba-tiba sekali?”
“ Aku rasa ada hal penting yang harus dia pastikan. Kau jangan menyembunyikan apapun lagi darinya. Ingatlah dia orangtua kita sejak hari itu” dengan dingin.
“ Aku mengerti. Kau, apa juga meragukanku seperti paman Gu meragukanku?”
“ Aku memang selalu meragukanmu. Tapi tidak dengan Paman Gu, dia selalu mempercayaimu. Dia hanya mengkhawatirkanmu.”
“ Semoga saja begitu. Baiklah, aku akan menutup telvonnya”
“ Ok. Tetap jaga kesehatanmu”
Mark memutuskan panggilan, lalu menggenggam ponselnya dengan erat. Tatapan matanya berubah menjadi dingin.
***
Malam harinya suasana hati Luna terlihat tidak senang, entah kenapa semenjak dia keluar dari kamarnya pada saat makan malam dia sudah terlihat murung.
Biasanya, di saat makan bila tidak ada Mark dia selalu bertanya kenapa Mark tidak ikut makan, separah apapun mereka bertengkar dia pasti selalu bertanya. Tapi malam itu dia tidak bertanya sepatahkatapun.
Melihat kondisi Luna yang seperti itu, bi Ina langsung melaporkan pada Mark. Bi Ina masuk ke ruang kerja Mark dengan alasan mengantarkan kopi.
‘ tok tok ‘
“ Ya, masuklah!”
‘ krack ‘ bi Ina membuka pintu.
“ Ada apa bi Ina?” tanya Mark dengan masih sibuk dengan dokumen tanpa melihat kea rah bi ina.
“ Ini tuan saya ingin mengantarkan kopi untuk tuan”
“ oo, letakkan saja di meja sana.”
Bi Ina meletakkannya di meja. Dia melihat Mark yang masih saja sibuk, dia merasa segan untuk bicara, tapi hal ini harus tetap dia laporkan,
“ Tuan..sebenarnya saya juga ingin mengatakan sesuatu pada tuan” ucap bi Ina memberanikan diri.
Mark berhenti dengan aktivitasnya dan menatap bi Ina,
“ Katakanlah, hal apakah itu?”
“ Tuan, apakah tuan bertengkar lagi dengan nona Luna?”
Mark mengerutkan dahinya mendengar pertanyaan bi Ina,
“ Memangnya ada apa bi Ina, kenapa tiba-tiba bertanya seperti ini”
“ Itu,, nona Luna saat makan malam terlihat sangat murung. Dia tidak bicara sama sekali. Dia bahkan tidak menanyai tuan yang tidak bergabung untuk makan”
“ Bukan itu biasa? Dia memang selalu tidak memperdulikanku, dia bahkan lebih senang bila tidak melihat aku”
“ Tidak tuan. Anda salah, nona Luna cukup peduli pada tuan. Biasanya dia selalu menanyai tuan jika dia tidak melihat tuan. Tapi malam ini dia sedkit aneh. Dia bahkan tidak menatap siapapun dia hanya fokus pada makanannya, lalu kembali lagi ke kamarnya”
“ Dia peduli padaku? ” bisik hati Mark.
“ Hmmm,, baiklah. Saya mengerti maksud bi ina. Nanti saya akan mengunjunginya, mungkin dia hanya gelisah karena sampai sekarang Hyena belum sadarkan diri”
“ Terimakasih tuan. Kalau begitu saya undur diri dulu” bi Ina segera bergegas keluar.
Bi Ina merasa lega, karena Mark mau membujuk Luna.
__ADS_1
“ Nona, meskipun tuan Mark kadang kasar. Tapi saya merasa sebenarnya dia sangat peduli pada nona. Saya bahkan berharap nona dan tuan berjodoh. Tuan dan nyonya, aku harap kalian cepat kembali dan lihatlah, sekarang di sisi putri kecil kalian sudah ada seorang pria yang sangat memperdulikannya.” bisik hati bi Ina sambil berjalan pergi dengan senyum yang terukir di bibirnya.
Mark membereskan berkas-berkasnya dan dia pergi ke kamar Luna.
‘ tok tok ‘
Luna terkejut ketika mendengar ada mengetuk pintu kamarnya.
Dia yang sedang menangis langsung mengusap air matanya dan berjalan untuk membuka pintu.
‘ Crak ‘
“ Kak Zha..”
Kata Luna langsung terhenti, karena yang di depan pintu buka pelayan Zhaon melainkan Mark yang berdiri dengan senyumnya yang ramah.
“ Mark, ada perlu apa kau ke kamarku?” tanya Luna tidak senang.
Mark langsung menerobos masuk ke dalam,
“ Hey, kau tidak punya telinga ya. Aku sedang menanyaimu. Tapi kau malah menerobos begitu saja” ucap Luna kesal
Di balik punggunya itu expresi Mark terlihat sedih dan penuh tanda tanya.
“ Apa tadi dia menangis? Mataya terlihat bengkak” bisik hati Mark.
Mark berbalik badan menghadap Luna, dia mencoba untuk mengusap pipi Luna, tapi Luna dengan sigap menangkis tangan Mark.
“ Mark, saat ini aku benar-benar tidak ingin melihatmu. Jadi keluarlah dari kamarku” ucap Luna dingin tanpa menatap wajah Mark sama sekali.
“ Luna ada apa sebenarnya, kenapa kau begini?”
Luna menggigit bibirnya dan akhirnya bulir jernih itu tak bisa lagi dia bendung.
Luna menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan menangis.
‘ hiks hiks ’
Mark mendekatI Luna, “ Kau kenapa?”
“ Mark, aku benar-benar membencimu. Sampai sekarang kau masih saja tidak memberitahuku mengenai orang tuaku. Aku benar-benar sangat merindukan mereka” dengan tersedu-sedu.
Mendengar ucapan Luna, hatinya tertegun dan dia juga merasa sakit. Dalam kondisi ini diapun tak bisa berbuat apa-apa.
Mark mendekati Luna dan memeluknya.
“ Luna maafkan aku. Kau boleh membenciku, tapi untuk saat ini aku benar-benar belum bisa mempertemukanmu dengan orang tuamu” jelas Mark.
“ Oleh karna itu aku membencimu, sangat benci.”
“ Bencilah. Tidak apa-apa” sambil mengusap kepala Luna.
Luna melepaskan dirinya dari pelukan Mark, lalu mengusap air matanya.
“ Boleh aku menanyakan sesuatu?”
“ Tanyakanlah hal yang ingin kau ketahui”
“ Apa kau sudah menemukan bukti bahwa orang tuaku tidak bersalah?”
“ Untuk hal ini aku belum bisa memastikannya” dengan dingin.
Luna mengangkat kepalanya dan melihat ke atas. Dia berusaha untuk menahan air matanya, tapi tetap saja mengalir.
“ Baiklah, jika masih belum bisa mengatakan apa-apa padaku. Maafkan aku telah menyinggung ini, padahal sebelumnya aku sudah berjanji tidak akan menanyaimu sampai kau menemukan bukti bahwa orang tuaku tidak bersalah”
“ Luna, maafkan aku. Aku tidak bermaksud membuatmu sesedih ini”
Luna berusaha tersenyum dalan tangisnya itu.
“ Tidak apa-apa. aku akan tetap bersabar. Mark aku akan mempercayaimu mengenai orang tuaku. Aku harap kau tidak akan mengecewakanku. Di dunia ini tidak ada lagi yang lebih berharga selain papa dan mamaku. Semua orang boleh mengambil apa saja dari sisiku, tapi tidak dengan orangtuaku”
“ Aku pasti akan menjaga mereka dengan baik. Kau tidak perlu khawatir. Luna, terimakasih sudah mempercayaiku”
“ Sangat melegakan mendengarnya” ucap Luna dengan matanya yang masih berkaca kaca.
Mark mengambil tangan Luna dan memasangkan kembali cincin pertunanganan mereka.
“ Luna, jangan pernah lepaskan lagi cincin ini ya”
“Tapi kau mempunyai trik licik dalam cincin ini.”
“ itu karena aku peduli padamu. jangan menghilang lagi, kau membuatku benar-benar khawatir”
__ADS_1
“ *A*pakah dia benar-benar tulus. Kenapa aku bisa selemah ini padanya, sekarang aku tak bisa untuk benar-benar membencinya. Setiap hatiku sedih, dia selalu bisa menenangkanku, dia membuatku merasa di lindungi. Aku bahkan sudah menaruh kepercayaan, bahwa orangtuaku baik baik saja di tangannya. Sejak kapan aku mempunyai perasaan seperti ini” bisik hati Luna sambil menatap wajah Mark.