
“Lukisan? Pameran?” James mendengus, matanya menyipit heran. “Apa maksudmu Luna? aku tidak mengerti sama sekali.” mengerutkan keningnya bingung.
“James.. kamu jangan berakting.” Luna memutar bola matanya malas. “Aku sudah menyelidiki semuanya. Wanita tua yang bernama Margareth Crush, apa kau mengenalnya?”
Luna diam-diam memang mengirim seseorang untuk menyelidiki tentang Margareth Crush. Saat itu Mark terlihat tenang dan lega saat membicarakan ini padanya, tapi Luna tetap merasa janggal saat itu. Tenyata inilah yang janggal.
James kembali mendengus senyum, kemudian mengusap keningnya. “Tentu saja aku kenal. Dia sudah seperti orangtuaku sendiri.” jelasnya. “Dia memang menyukai lukisan..” james Lu menggantungkan kalimatnya. Dia menyipitkan matanya kembali menatap Luna yang terlihat sangat tidak puas dengan jawabannya.
“Ini sudah kesekian kalinya dia membeli lukisanmu. Haah, aku pikir dia adalah penggemarmu.” James menatap Luna lembut. Tapi Luna masih menatapnya kesal.
Perihal Magareth Crush menyukai karyanya dia masih ragu, karena sebelumnya tidak ada yang membeli lukisanya atas nama itu. Menurutnya James Lu hanya beralasan dan asal bicara saja.
Mengetahui dengan mudah info tentang adanya keterkaitan James Lu di balik wanita tua itu sangat janggal. Mendapatkan informasi orang misterius seperti ini, bukankah sangat mencurigakan? Apa yang di rencanakan pria ini?
“Jangan membohongiku Jamesss..” ucap Luna kesal. “ Menyebalkan sekali.” lanjutnya dengan mengalih pandang.
“Ayolah Luna…”
“James, memangnya kau sudah kehilangan keahlian untuk menjadi misterius?” tanya Luna memotong kalimat James. Lagi-lagi James dibuat bingung. Dia memiringkan kepalanya gelagat penuh tanya dengan apa yang maksud oleh Luna.
Dia memang sangat berbakat untuk berakting.
“Selama ini sangat sulit menemukan informasi apapun tentangmu. Lalu tiba-tiba kau dengan mudah di temukan dalam penyelidikan orangku. Memangnya kau pikir itu tidak mencurigakan?” tutur Luna sakarstik.
James tersenyum. “Ternyata kau sangat perhatian ya Luna. Sudah berapa kali kau menyelidiku?”
“Siapa yang perhatian? aku tidak pernah berniat menyelidikimu. Aku hanya ingin mengetahui siapa yang membeli dengan harga tinggi dan misterius lukisanku. Tapi siapa sangka, kamu dibaliknya.” Ketusnya.
“Dan satu lagi perlu kau ingat. Aku adalah wanita yang sudah menikah, untuk apa perhatian padamu.” guraunya dengan sedikit mencibir.
“Hmm..” tidak lagi berkata. James Lu menunduk dengan senyum kecut.
“Ada apa dengan pria ini. Kenapa dia beraksi seperti ini?”
Luna melirik reaksi James yang menurutnya aneh. Apa nada bicaranya keterlaluan?
James pria misterius yang lembut, kenal dengan tidak sengaja dalam sebuah perjamuan beberapa tahun lalu. Selain nama tidak ada lagi yang dia ketahui. Bahkan James juga bukan berasal dari keluarga Marga Lu yang terkenal di kota ini. Jadi James Lu yang di depannya ini, entah dari keluarga Lu yang mana. Ditambah James hanya muncul satu kali dalam 3 tahun, memang sungguh misterius.
“James.. bukan begitu maksudku.” Tutur Luna menyesal. Pria lembut ini tidak boleh sampai di lukainya. Dia hanya ingin James jujur saja, tapi melihat James terus menyangkal membuat dia tiba-tiba kesal.
“ Maafkan aku, jika itu melukaimu. Jika saja kau jujur aku tidak akan seperti ini, aku seharusnya berterimakasih. Tapi.. aku juga butuh penjelasan karena orangnya kamu.”
“Apa maksudmu butuh penjelasanku?” tanya James Lu tidak senang.
“Ya.. kenapa kau membeli begitu banyak lukisanku.”
“Memangnya butuh alasan?”
“Hah?” Luna membulatkan matanya. “ Jadi kau mengakuinya, jika itu memang kau?” senyum-senyum Luna berucap.
James Lu mendesah pelan. “Ya itu aku.” Menoleh pada Luna yang senyum penuh kemenangan. “Apa kau benar-benar ingin mengetahui alasanku?” tanyanya yang di jawab Luna dengan anggukan antusias.
“Itu karena aku menyukai apapun tentang dirimu.” Luna tercekat. Tatapan mata yang tadi antusias, tiba-tiba pias. Tidak nyaman dengan kalimat James.
“Haha..” James tertawa melihat reaksi Luna. “Luna. kau jangan berfikiran yang aneh-aneh. Aku tidak akan menganganggu kehidupanmu dengan suamimu.” Jelasnya.
“Si-siapa yang berfikiran aneh?” elak Luna.
“Luna, kau adalah temanku. Aku akan selalu mendukung kebahagianmu. Jadi aku tidak akan pernah merusaknya. Aku bahkan akan melindungimu.”
“Aku sudah punya seseorang yang melindungiku James.” Luna sambil tertawa. Ada-ada saja pria misterius ini, pikirnya.
__ADS_1
“Haha.. Aku tahu.” James menyesap minumannya. Dia menatap Luna yang menundukkan kepala.
“Jadi apa alasannya atas dengan mudahnya mencari iformasimu kali ini?”
Kalimat ini yang sangat ingin Luna tanyakan. Sepertinya tidak perlu di bahas lagi.
Luna berdiri. “ James, aku harus segera kembali ke pesta. Orang-orang akan mencariku jika terlalu lama menghilang.”
“Baiklah. Oh iya, aku ada hadiah untukmu.” James mengeluarkan sebuah kotak beludru warna maroon dari balik jasnya. Kotak itu terlihat sangat mewah. “ Terimalah. Anggap saja ini hadiah atas pernikahanmu yang tidak bisa ku hadiri.” Alasan ini tentu membuat Luna tidak akan menolak pemberiannya.
James tahu, Luna tidak akan mudah menerima pemberiannya. Sedangkan hadiah yang dia kirim secara misterius tahun lalu saja dengan mudah Luna membuangnya begitu saja. Dia mengetahui banyak tentang Luna.
“Baiklah.” menerimanya dengan senyum, meski sebenanya hati Luna berat menerimanya.
“Terimakasih banyak atas hadiahnya.”
“Tidak perlu sungkan. Aku tidak memaksamu untuk mengenakannya. Tapi setidaknya kau selalu menyimpannya.” pinta James.
Luna mengangguk setuju. Dia juga tidak mungkin langsung menolak, itu sungguh tidak sopan.
“Jika begitu, aku pergi.”
“Ya, berhati-hatilah. Maaf aku tidak mengantarmu ke depan.”
“Tidak apa-apa.” Luna tersenyum, berbalik badan langsung meninggalkan James.
“James, kenapa kau tiba-tiba membuatku tidak nyaman? Dan apakah pria yang ku lihat di bandara waktu itu kamu? jika iya, sejak kapan semuanya telah dimulai?”
Bisik hati Luna saat dia teringat dengan sosok pria yang dilihatnya sekilas di bandara beberapa waktu lalu.
James menatap punggung Luna yang menjauh.
***
“Nona.” ucap Zhaon setengah berteriak saat melihat nonanya keluar. Dia bergegas mendekat.
“Apa semuanya aman?” tanya Luna.
“Aman nona. Tidak ada mata-mata selain aku, hihi.”
“Bagus.” Luna menepuk lembut bahu Zhaon.
“ Jika begitu, ayo kita kembali.”
“Baik nona.” Ucap Zhaon sambil mengikuti Luna dari belakang. Namun di balik badannya Zhaon mengacungkan jempolnya pada Key dan Jiang He yang yang berada di dalam mobil.
“Sekarang giliran kita.” Key sambil merapikan dasinya.
“Berhati-hatilah.” Jiang He memperingati.
“Kau tenang saja.”
Key keluar dari mobil dan langsung memasuki Villa tempat Luna dan James Lu bertemu. Sementara Jiang He tetap menunggu di dalam mobil.
***
“Maaf, anda mencari siapa tuan?” tanya seorang wanita menghampiri Key.
“Aku ingin bertemu dengan pria yang bernama James Lu.”
“Apa tuan sudah membuat janji?"
__ADS_1
“Belum.” Jawab Key santai.
“Maaf tuan. Jika begitu buatlah janji terlebih dahulu.” Wanita itu tersenyum.
“Aku tidak perlu membuat janji.” Suara Key mendingin, membuat wanita itu menyjpitkan matanya.
“Katakan saja pada tuanmu, aku Key Wu ingin menemuinya.”
“Ta..”
“Sssttt..” Key manaruh tangannya dibibir. Memotong alimat penlakan wanita itu. "Anda tidak percaya padaku?”
Wanita itu ingin menjawab. Tapi ponselnya berdering. Dia sedikit menjauh dari Key untuk menjawab panggilan itu.
“Baiklah.” jawab singkat wanita itu pada orang yang menelvonnya.
Wanita itu menyimpan ponselnya kembali.
“ Tuan, mari ikuti aku.” Ucapnya pada Key.
Key mendengus senyum, dia sudah mengira perihal ini.
“Mari tuan.” Ucap wanita itu kembali. Key segera mengikutinya.
Saat sampai di sebuah lorong dengan pembatas kaca, Key dengan jelas melihat James duduk di area kolam renang. Key menyunggingkan senyum melihat James yang sedang minum disana.
“Silahkan tuan.” Ucap wanita tadi mempersilahkan Key masuk ke ara kolam renang tersebut.
“Selamat datang tuan Key.” Sambut James dengan menyunggingkan senyum dinginnya. Tangannya masih bermain dengan gelas.
“Aku sudah mengiranya, jika kau juga memperhatikan gerak-gerik kami tuan James Lu.” Tutur Key tidak kalah sengit.
“Itu hal yang biasa kita laukan untuk berjaga-jaga tuan. Mari duduklah, dan minum bersama.” ucap james santai sambil menuangkan anggur untuk Key.
“Jika begitu aku tidak akan sungkan.” Key segera duduk dan menyesap minumannya.
“Temanmu luar biasa. Dia berhasil mengorek informasi tentangku.” James memulai pembicaraan.
“Kau hanya manusia, itu bukan hal yang sulit untuknya.” jawaban Key berhasil membuat James tertawa.
"Alasan khusus apa yang membuat tuan muda Key menemuiku?"
"Aku hanya ingin menemuimu saja. Penasaran dengan rupamu." Key berucap dengan sedikit tertawa.
James ikut tertawa. Tidak masalah baginya. Dia sangat tahu, bahwa ini merupakan peringatan dari Mark untuknya. Sehebat apapun dia bersembunyi pria itu pasti menemukannya.
"Baiklah, jika begitu mari bersulang untuk pertemuan kita."
Key mengangkat gelasnya.
"Semoga kita bisa berteman." kemudian 2 gelas beradu, menghasilkan bunyi yang khas.
James mengangguk kecil atas kalimat Key. Dia menatap Key yang tampak santai dan tenang menikmati minumannya.
"Berteman? menarik sekali metodenya."
.
.
Bersambung....
__ADS_1