
Pembahasan tentang pernikahan Mark Rendra dan Luna Aliester telah berakhir. Sekarang di susul dengan berita mengenai kepulangan orang tuanya. Luna mengangguk anggukkan kepalanya mendengar berita tersebut. Dia telihat tenang tak ada masalah.
Tapi tiba-tiba Luna menyipitkan matanya ketika dia mendengar pembawa acara menyinggung tentang status papanya di Lixing Group.
“ Beberapa waktu lalu Negara kita telah di hebohkan dengan pensiun dini tuan Aliester. Banyak orang-orang bertanya lalu bagaimana status tuan Aliester saat ini?. Oleh karena itu kami dari team Cour media berusaha untuk mencari kejelasan tentang ini. Setelah melakukan beberapa usaha akhirnya tuan Aliester bersedia untuk menerima wawancara kami.
Sebelum memutuskan Mark Rendra untuk menjadi Presdir di Lixing Group, Tuan Aliester mengatakan bahwa Mark Rendra sebagai orang yang kritis, super computer dan berani. Tuan Aliester sendiri tidak meyangka jika Mark Rendra mau mengemban tanggung jawab untuk Lixing sementara dia juga mempunyai kesibukan yang luar biasa sebagai pebisnis besar dunia. Untuk lebih jelasnya mari saksikan video wawancara Cour Media dengan tuan Alister.”
“ A a apa ini? apa maksudnya?” Luna masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat dan dengar. Dia masih menatap layar laptopnya yang menampilkan wajah papanya. Dia tak percaya akan wawancara yang telah di lakukan papanya dengan Cour media.
Di dalam video tersebut Tuan Aliester menjawab satu persatu pertanyaan dengan penuh wibawa dan elegant. Dan akhirnya sampai sampailah pada sesi pertanyaan inti yaitu tentang status tuan Aliester saat ini.
“ Tuan Aliesster sejak berita mengenai pensiun dini tuan, banyak publick berspekulasi. Karena langkah pensiun dini dianggap tidak biasa. Sangat jarang pendiri perusahaan besar dan transformative melakukan pensiun dini. Sampai saat ini publick masih sangat penasaran dengan status tuan saat ini. Bisakah tuan menjawab rasa penasaran public?” tanya pewawancara dengan sangat sopan.
Tuan Aliester terseyum,” Sebelumnya saya minta maaf pada semua orang, karena saya pergi tanpa penjelasan yang detail. Sehingga menimbulkan rasa penasaran dari publick. Tapi sekarang saya akan menebusnya. Di sini saya akan menjawab rasa penasaran itu agar tak ada lagi spekulasi yang simpang siur.” Tuan Alister berhenti sejenak, lalu tersenyum dan melanjukan penjelasannya.
“ Sebenarnya meskipun saya memutuskan untuk pensiun dini, tapi saya tetap menjadi anggota kemitraaan Lixing Group, yaitu otoritas pengarah yang terdiri dari 38 individu yang terpisah dari dewan direksi……"
“ Apa?” Luna semakin terkejut mendengar jawaban papanya, sehingga penjelasan yang masih berlangsung dari papanya tidak dia dengar lagi.
Dia teringat dengan dokumen yang di berikan papanya, yang sampai sekarang masih belum sempat dia lihat. Dia menyingkirkan laptopnya dan mengambil dokumen itu dari laci mejanya.
“ Apa sebenarnya isi dokumen ini?” Luna membukanya dengan tak sabaran.
Meskipun ini bukan kabar buruk, tapi dia merasa aneh saja. Kapan orangtuanya dan Mark membicarakan hal ini. Serta ide ini apakah dari papanya atau memang atas kerelaan dari Mark. Semua di lakukan tanpa sepengetahuannya, itulah yang membuat dia merasa kesal.
Saat membaca dokumen Luna terlihat lebih terkejut dari biasanya, dia bahkan mengucek matanya beberapa kali untuk memastikan apakah dia tidak salah baca.
“ Semua saham Lixing yang dimiliki Mark, sekarang menjadi milikku? A..a. aku adalah pemilik Lixing? semua harta ini milikku?.” Luna mundur, lalu terduduk di kursi meja riasnya. Tangannya tampak gemetaran memegang dokumen yang menyatakan bahwa Lixing, ataupun property lainnya adalah miliknya.
“ Nona..” playan Zhaon segera menghampiri dan memegangi nonanya yang terlihat syok.
“ Nona kita berpindah ke ranjang saja ya.”
Luna tak mampu berucap dia hanya menganggukkan kepalanya.. Pelayan Zhaon memepah Luna meunju ranjang dan membantu Luna untuk duduk.
“ Nona minumlah, ini bisa menenangkan nona.” sambil menyerahkan segelas air putih.
Luna meletakkan dokumen itu di sampingnya. Tangan Luna terlihat masih gemetaran saat dia meraih gelas yang di berikan oleh Zhaon padanya. Oleh karena itu pelayan Zhaon langsung inisiatif untuk membantu nonanya minum agar gelas itu tidak terjatuh.
“ Teriakasih kak Zhaon.” Ucap Luna setelah dia menghabiskan segelas air putih itu. Lalu dia melirik laptopnya yang masih menampilkan acara dari Cour media tapi video papanya sudah berakhir.
Merasa sangat paham dengan perasaan nonanya pelayan Zhaon langsung bertanya,
“ Nona, apa laptopnya di matikan saja?”
“ Iya, boleh. ” Luna menjawab dengan suara pelan dan anggukan kecil. Dia terlihat masih dalam efek syoknya, luna menyandarkan kepalanya sambil mengusap keningya.
“ Kak Zhaon, setelah ini kakak boleh keluar. Aku ingin sedkit menenangkan diri dulu.”
" Baik nona.” jawab pelayan Zhaon yang masih mengotak laptop untuk di matikan. Dia melirik nonanya yang masih memejamkan mata, tapi tangannya sudah melipat di dada.
“ Nona apa perlu saya menyiapkan air mandi anda?” tawarnya, karena seperti yang dia tahu bahwa nonanya sering melakukan itu saat dia sedang banyak pikiran.
__ADS_1
“ Tidak perlu. Aku baik-baik saja, kakak tidak perlu khawatir.” dengan matanya yang masih terpejam.
“ Baiklah nona. Jika begitu panggil saja aku apabila nona membuthkan sesuatu.”
“ Humm..” jawab Luna dengan anggukan.
Pelayan Zhaon membungkkukkan badannya dan langsung permisi keluar dengan sopan.
***
Berita yang di terbitkan oleh Cour Media benar-benar luar biasa menghebohkan, hingga berbagai taggar tentang Mark, Luna dan keluarnganya hingga Lixing menjadi trending China dan dunia di twiter dan social media lainnya. Dalam seketika platform berita dan papan berita juga di penuhi dengan wajah mereka.
Sementara itu di dalam gedung Lixing Group, di sudut ruangan manapun tetap telihat tenang dengan pemberitaan ini. Mereka paham, jadi inilah yang di maksud oleh Mark Rendra selaku Presdir mereka di rapat beberapa waktu lalu.
Beruntung mereka benar-benar mengingatkan setiap anggota teamnya setelah rapat itu. Jika tidak, mungkin Lixing akan menjadi tempat yang paling heboh apalagi bagian resepsionis, yang entah kenapa sangat suka sekali bergosip. Tapi kali ini mereka benar-benar dia dan tenang.
Didalam ruangan paling mewah dan di dambakan semua orang, yang selalu di jaga dengan ketat, tak sembarang orang yang bisa masuk ke dalamnya. Ya.. tentu saja itu adalah ruang presdir.
Di sana Mark terlihat sibuk dengan dokumennya, sementara Rangga sibuk dengan laptopnya.
‘ tok tok ‘ suara ketukan pintu memecahkan heningnya kesibukan itu.
“ Tuan Muda..” belum selesai sekretaris Nana berbicara, tapi tiba-tiba Key langsung masuk dengan suara tawanya.
“ Sekeretaris Nana, anda bisa pegi sekarang!.” ucap Key dengan senyum cerahnya.
Sekretaris Nana terlihat terkejut, dia tahu tuan mudanya sangat sibuk, tak seharusnya di ganggu. Dan menjaga ketenangan adalah tugasnya. Dia berusaha profesional, meski dia sendiri tahu jika Key dari Cour Media adalah teman dari tuan mudanya, itu bukan pengecualian untuk bisa bebas masuk ke ruangan ini.
Sekretaris Nana melirik Mark, untuk memastikan apa yang harus dia lakukan. Mark memberikan isyarat mata untuk menyuruhnya pergi. Dia paham, lalu dia juga meminta maaf pada Key karena sempat menghalangi Key untuk masuk sebelumnya.
Key berjalan menuju sofa, dia duduk dengan melipat kaki dan melipat tangan di dadanya. Tatapnnya tertuju pada 2 sahabatnya yang sedari tadi belum menyapanya dan masih saja berkutik dengan kesibukan masing-masing.
“ Aku sudah menyelesaikan bagianku hari ini, besok kalian harus menang! jangan mengecewakanku!” Key berbicara seolah dialah bosnya di sini.
“ Key mengenai berita adalah investasi dari kami. Kami selalu memberikan berita besar padamu yang tentunya akan berakibat positif pada performa Cour Media dari segala sisi. Jadi tolonglah, kau jangan bersikap seolah tak mengambil manfaat.” Jawab Rangga dengan ketus. Dia perlu menyadarkan temannya yang mulai bersikap angkuh menyebalkan ini.
“ Haha.. Rangga sekarang mulutmu hampir sama pedasnya dengan Mark. Kau belajar dengan baik darinya.” Di ikuti dengan smirknya.
Dalam seketika ocehan adu mulut Key dan Rangga terjadi. Mereka bahkan sudah saling berdiri, adu argument seperti anak kecil, satupun tak mau mengalah.
Mark mengehela keras nafasnya, Sadar dialah yang paling waras di sini. Jadi dia perlu menghentikan 2 sahabatnya ini dalam perdebatan unfaedah yang menyakitkan telinga.
“ Hentikan.!” Dengan suara keras menahan kesalnya.
Sontak Key dan Rangga terdiam. Mereka melihat ke arah Mark dengan pulpen di tangannya yang sudah di ancang ancang akan melayang ke arah mereka.
Key dan Rangga saling melirik, lalu sontak mereka saling mendekap bahu.
“ Haha.. kami sudah berdamai. Kau jangan marah lagi.” Ucap keduanya yang tiba-tiba langsung baikan dan senyum cerahnya tertuju pada Mark.
“ Baiklah. Rangga kau kembali ke mejamu. Dan kau Key duduk tenanglah di sana, jika ingin mengganggu lebih baik kau keluar sekarang.”
“ Haha.. tidak tidak. Aku tidak akan mengganggu.” Rangga dan Key langsung berpisah dan kembali ke posisi awal.
__ADS_1
“ Sekarang Bayiku sudah besar.” Celoteh Key saat menuju sofa.
“ Tidak hanya itu, dia bahkan akan menyelenggarakan pesta pernikahan. Huhu.. aku akan meyerahkan bayiku pada Luna, dia pasti bisa menjaganya dengan baikkan?.“ gumam Key sibuk dengan pemikirannya sendiri. kemudian Key kembali menatap Mark yang kembali sibuk dengan dokumen.
“ Mark sebenarnya aku ingin mengatakan sesuatu padamu.” suara itu terdengar tak terlalu serius.
“ Katakan!”
“ Kau tahu tidak, Luna menghubungi Nindy hanya untuk menanyakan tentang jadwal berita. Mungkin bagi kita ini hal biasa, tapi Nindy bereaksi gila. Dia bilang ini pertama kali Luna mau mengikuti hal semacam ini. Hmm.. sepertinya Luna benar-benar antusias..” jelas Key.
Mark langsung berhenti, matanya juga langsung melirik ponselnya yang terletak di sisi kanan meja. Dia tahu Luna pasti akan sangat terkejut dengan kabar tentang papanya yang menjadi anggota kemitraan yang berpengaruh.
Apalagi mengenenai dokumen itu, pasti akan lebih mengejutkan lagi. Dia tahu bahwa Luna pasti baru membuka dokumen itu setelah melihat kabar ini. Karena sebelumnya Luna tak menanyakan apapun padanya. Semuanya sudah terbayang sempurna di kepala Mark bagaimana reaksi calon istrinya itu.
Mark meraih ponselnya, dia meletakkan ponselnya di atas dokumen yang di abaca, lalu mengirim pesan pada Luna.
“ Sayang, kamu masih bernafaskan?” pesan pertama yang dia kirim.
Sementara itu Luna baru keluar dari kamar mandi dengan masker tertempel di wajahnya. Dia terlihat sudah tenang. dia meraih ponselnya yang bergetar.
“ Cih.. Mark kau masih berani mengejekku setelah mencopot sebagian jantungku.” Gerutu Luna ketika membaca pesan dari Mark.
“ Sayang kau salah, aku sangat puas dengan pemberitaan serta isi dokumen ini, terimakasih. Tapi sayang sepertinya kau lebih suka papa ketimbang aku. Kenapa kau tidak menikahi papa saja, orang yang selalu ada di balik semuanya.”
Wajah Mark terlihat tergelak membaca balasan Luna. Tapi segara berubah dengan cepat. Tak ingin Key dan Rangga memperhatikannya.
“ Sayang jika aku menikahimu, tak cuma menyatukan aku dan kamu. Menikah juga satukan aku dengan papa dan mama mertua. Mana boleh cemburu begini.”
“ Aish.. mulutnya memang selalu manis. Sudahlah aku tidak meladeninya. Cukup kirim satu pesan lagi. Lalu diam. Biar dia tahu betapa kesalnya aku, dan tak bisa di kalahkan dengan kalimat ini.”
“ Mark Rendra sekarang aku tidak butuh untaian kalimat manismu. Capat selesaikan urusanmu, Setelah itu temui aku! kau banyak berutang penjelasan padaku. Sampai di sini saja percakapan kita, jangan membalas pesanku lagi, karena aku tidak akan membacanya apalagi membalasnya!” pesan tersebut di ikuti dengan stiker yang ganas yang menggambarkan batapa kesalnya dia.
Mark tertawa, kali ini dia tak bisa tahan lagi. hingga Key dan Rangga saling lirik dan menatap aneh Mark yang tiba-tiba tertawa.
“ Kau yakin tak akan membalas pesanku? Baiklah, coba aku lihat jika aku mengirim pesan ini.” Gumam Mark, sambil mengetik pesan dengan senyum senyum licik.
‘ zhrtt ‘ Luna tersenyum licik ketika mendapati pesan lagi dari Mark setelah ancamannya tadi.
“ Sekarang kau pasti memohon maaf padakukan??? ayolah aku tak akan membalas pesanmu!” sambil membuka pesan. Seketika matanya langsung terbelalak membaca pesan dari Mark.
“ Sayang kau jangan terlalu galak, nanti putri kita akan pemarah sepertimu. Kasihan calon menantuku nanti, karena harus menghadapi istri dan mertua yang galak.”
“ Aaa.. Mark Rendra sialan. Beraninya menyinggung anak. Awas kau ya!.”
Luna kembali mengirim pesan ancaman.
“ Hey.. siapa yang akan melahirkan anak untukmu? Mimpi saja sana.” Balasnya dengan ketus.
Kemudian di susul dengan pesan kedua darinya.
“Awas saja, jika kau masih membalas pesanku. Melihatmu saja nanti aku enggan, jangan pernah harap untuk menyentuhku!”
Mark kembali tertawa lepas hingga menepuk nepuk meja, dia benar-benar dengan dunianya sendiri. Hal itu tentu saja membuat Key dan Rangga semakin bingung.
__ADS_1
“ Apa dokumennya Lucu?” celoteh keduanya.