TUAN MUDA AKU BENCI KAMU

TUAN MUDA AKU BENCI KAMU
S2 SECRET BUYER


__ADS_3

“ Haha.. sepertinya kami terlambat. Sayang sekali.” Tuan dan Nyonya Habert tertawa kecil, namun rasa kecewa juga tidak bisa di sembunyikan dari tawa dan ekspresinya. Sepertinya mereka memang tertarik dengan lukisan Shadow Home ini.


“Saya juga tidak menyangka secepat ini.” Luna terseyum, namun hatinya penuh penasaran. Siapa yang membeli semua lukisannya.


“Maaf tuan dan nyonya, jika begitu nikmatilah lukisan-lukisan di sini. Saya permisi dulu.” Luna berucap dengan ramah.


“Iya, silahkan.”


Luna kembali tersenyum, lalu pamit undur diri dengan sopan.


“Ikut aku!” Luna berucap pelan saat dia melewati pria yang mengabarinya tadi. Sementara pria itu masih memandangi pasangan Habert dengan senyum-senyum. Tetap diam memandangi pasangan Habert yang masih memandangi Lukisan Luna.


Luna menghentikan langkahnya karena merasa temannya tidak mengikutinya. Menoleh kebelakang dengan ekspresi menahan kesal.


“Ya Tuhan..” Luna menggelengkan kepalanya saat melihat temannya yang masih berdiri. Sambil memandangi pasangan Habert, senyum-senyum seolah terpesona.


Luna mengeluarkan ponselnya, lalu melakukan panggilan pada kontak dengan nama Zico.


‘ Drtt drrtt ‘


Tampak pria yang berdiri itu merogoh jasnya, mengambil ponsel dengan mata yang masih menatap pasangan Habert. Namun matanya langsung terbelelak saat melihat nama pemanggil di layar ponselnya. Dia langsung menoleh pada Luna dengan cengingisan bodohnya.


Luna menajamkan matanya dengan ekspresi kesal, lalu berbalik dan lanjut berjalan. Dengan cepat Zico mengejarnya.


“Luna maafkan aku.” Pinta Zico dengan senyum penuh bujukan. Sementara Luna hanya diam lanjut berjalan.


“ Hei hei.. Luna. Kau tahu bahwa Dewi tidak pernah marah.” godanya.


Luna tidak menanggapinya sama sekali, tapi dengan seketika dia menatap tajam Zico hingga membuat Zico langsung membungkam mulutnya.


“Ini pameran, tidak boleh ribut.” Ucap Luna pelan, lalu dia berjalan cepat meninggalkan Zico.


Zico adalah pria pribumi London, dia merupakan patner Luna dalam mengatur lukisannya di gallery ini. Hubungan pertemanan mereka cukup dekat, karena Zico adalah pria yang humoris dan juga friendly.


“Salah lagi.” ucap Zico mengiba, menghela nafas, lalu dia menyusul Luna yang sudah menjauh.


Di sisi lain tampak Mark sedang memperhatikan Luna dan Zico dari kejauhan. Di samping Mark ada 2 orang pelukis terkemuka dan 1 orang pebisnis muda.


Mereka tampak berbincang-bincang di depan sebuah lukisan. Dan tidak jauh dari sana juga terlihat para wanita dari beberapa sudut, saling berbisik memuji ketampanan para pria tampan yang ada di sana.


“Bagiamana tuan Mark?” tanya dari salah satu pelukis tersebut, hingga menyadarkan Mark dari tatapannya yang masih tertuju pada Luna yang sudah mulai tak terlihat. Dia memutar kepalanya menatap lawan bicaranya.


“Ini sungguh mengagumkan.” Mark berucap dengan senyum. Pelukis itu tertawa puas, lalu mereka melanjutkan penjelasannya.


Dari jarak yang tidak jauh dari Mark, terlihat Rangga sedang berbicara lewat earpodsnya. Setelah selesai berbicara, dia langsung mendekati Mark dan membisikkan sesuatu. Mark tampak tersenyum sinis mendengar bisikan Rangga.


“Maaf tuan, aku permisi dulu. Orangku akan mengurusi lukisan ini nantinya.”


“Baik, kami paham dengan kesibukan anda tuan Mark.” ucap mereka dengan ramah.


Mark juga membalas dengan tersenyum ramah, lalu dia dan Rangga langsung beranjak pergi.


***


“Kenapa kamu tidak tahu siapa yang membeli lukisanku?” Luna menggerutu dengan langkah kakinya cepat menuju bagian administrasi pembelian. Sementara Zico tampak garuk-garuk kepala dengan ekspresi bingung dan mempercepat langkahnya mengikuti Luna dari belakang.


“Kenapa kau terlihat kesal Luna? seharusnya kau senang karena Lukisanmu terjual hanya dalam hitungan menit. Ini bertanda nasib baik, kelak kau akan menjadi pelukis hebat.”


“Aku tidak tahu harus merasa senang atau bagaimana. Yang jelas ini terlalu janggal.” Jawab Luna yang membuat Zico semakin bingung.


“Ini pameran pertama yang aku ikuti sejak aku mendapatkan penghargaan di Perancis. Namaku juga tidak terlalu famous saat itu. Dan sekarang tiba-tiba lukisanku laku keras. Bukankah ini aneh?”


Saat Luna telah sampai di bagian administrasi pembelian, dia melihat profesornya juga berada di sana. profesornya tampak sedang berbincang dengan staf di sana.


“Profesor.” Sapa Luna.


“Luna, apa kamu ke sini untuk menanyai siapa yang membeli lukisanmu?”

__ADS_1


“Iya prof.” Luna menjawab dengan senyum.


“Ok. Sekarang ayo ikuti aku.” Ucapnya sambil berjalan duluan.


Mendengar perkataan profesornya, Luna sedikit mengangkat alisnya. Dia melirik pada staf administarsi, namun staf tersebut hanya memberikan respon tersenyum. Lalu dengan cepat Luna segera menyusul profesornya.


Zico yang mematung hanya bisa main mata untuk bertanya pada staf,sekali lagi staf hanya menggelengkan kepalanya.


“Luna, apa yang kamu rasakan sekarang? lukisanmu terjual hanya dalam hitungan menit, ini mengalahkan para pelukis senior.”


Professor memulai percakapan, sambil berjalan menelusuri koridor galery seni. Dimana koridor itu tidak menjadi bagian tempat pameran. Hanya beberapa staf yang lalu lalang di sana.


“Aku tidak tahu harus bagaimana menanggapinya prof. Sekarang aku hanya ingin mengetahui siapa saja yang membeli lukisan itu. Aku sangat penasaran siapa yang menyukai karyaku.” Luna menjawab dengan tawa ringan di akhirk kalimatnya. Karena dia dan professornya cukup dekat, jadi Luna tidak canggung.


“Apalagi aku dengar ada satu lukisan yang terjual melebihi harga yang kita tetapkan. Ini sungguh membuatku penasaran. Apa prof sudah mengetahui siapa pembelinya?” tanya Luna sambil menoleh pada profesornya.


“Kita tidak bisa mengetahuinya.” Professor menjawab sambil menggelengkan kepala.


“Hah? Maksud prof?” tanya Luna bingung.


“Mereka menyembunyikan identitas dan meminta untuk di kirimkan ke alamatnya.”


“Lalu apakah pembelinya tidak mendatangi pameran saat ini prof?”


“Entahlah. Kata staf yang bertugas, tadi hanya perwakilan yang datang untuk melakukan proses pembayaran. Lalu pembicaraan di lanjutkan dalam telepon.”


Luna semakin bingung, dia menatap profesornya dengan tatapan butuh penjelasan lebih detail.


“Dan kamu tahu, yang membeli kelima lukisanmu itu hanya 2 orang.”


“Apa???” tanya Luna terkejut. Dia menghentikan langkahnya, sehingga profesornya juga berhenti dan tertawa melihat ekspresi Luna.


“Ekspresi apa ini?” ucap professor dengan masih tertawa.


“Prof aku ingin mengatahui detailnya.” pinta Luna dengan ekspresi bersungguh-sungguh.


“Apakah kamu mempunyai kenalan selevel Mark Rendra?” Lanjutnya bertanya dengan serius pada Luna.


“Hah?” Kening Luna langsung berkerut, lalu dia mengedipkan matanya. Pertanyaan yang frontal baginya.


“Hey Prof, aku tidak hanya kenal dengannya. Dia adalah suamiku.”


Hanya berani berteriak dalam hatinya.


“Haha.. mana mungkin prof.” Luna menjawab sambil tersenyum canggung, lalu mereka lanjut berjalan.


“Aku berfikiran bahwa penggemar lukisan Shadow Home mu adalah orang selevel dia. Lukisan itu terjual dengan harga yang fantastis.”


“ Kenapa bisa? kita sudah menetapkan harga.”


“ Awalnya kelima lukisanmu di beli oleh orang yang sama, tapi tiba-tiba pihak lain menawarkan harga tinggi untuk lukisan Shadow Home. Pada akhirnya staf menerima harga tertinggi tersebut, karena orang yang membeli 4 lukisan mu itu juga tidak sanggup menawarkan harga yang lebih tinggi lagi.” professor memberi jeda di kalimatnya, lalu dia menatap Luna yang terlihat masih bingung.


“Ya Tuhan.. apa itu kau Mark.” bisik hati Luna, dia tampak mengusap kepalanya dengan senyum dan anggukan kecil.


“Semua lukisanmu memang sangat menarik Luna, kau adalah murid terbaikku. Kau pantas mendapatkan ini.”


“Terimakasih prof.” jawab Luna dengan senyum cerahnya.


Mereka terus berbincang menyelusuri koridor itu. Membicarakan kemungkinan-kemungkinan yang ada.


***


Luna berada di dalam toilet, dia berdiri didepan kaca, membungkuk mengambil air dan membasahi wajahnya. 3 kali dia membasahi wajahnya, lalu berdiri dan menatap wajahnya di kaca.


“Aku sungguh penasaran hingga tidak tenang begini.”


Luna merogoh tasnya lalu mengambil tisu untuk mengeringkan wajahnya.

__ADS_1


‘ krack ‘ suara pintu terbuka.


Luna awalnya cuek, tapi ketika melihat refleksi Mark di kaca, dia terkejut dan langsung berbalik badan.


“Sayang kenapa kamu di sini?”


“Aku ingin menemui istriku. Aku sedari tadi mencarinya. ” Mark berjalan mendekati Luna.


“Tapi ini toilet wanita sayang. Apa kau ingin di teriaki?”


“Orangku sudah berjaga di luar.”


“ Ya Tuhan.. aku mohon musnahkan sikap suka berkuasa suamiku ini. Ini toilet umum.”


“ Sayang, apa ada yang mengganggu pikiranmu?” Mark bersandar di meja westafel dan menoleh pada Luna.


Luna mengambil nafas dalam, lalu berbalik badan dan lanjut mengeringkan wajahnya sambil bercermin.


“Iya sayang . Kau tauu kelima lukisanku telah terjual?”


“Aku tau.”


“Tentu saja kau tau. Apa suamiku salah satu dari pembeli rahasia itu?” tanya Luna dengan santai.


Mark mendengus senyum, lalu dia menarik Luna dalam pelukannya. Dia mengambil tisu di tangan Luna dan mengusapkan dengan Lembut. Sementara Luna hanya diam memandangi sikap lembut suaminya ini.


“Aku tahu kau sangat menyukai lukisan itu. Makanya aku mempertahankannya.” Mark berucap dengan terus mengusap wajah Luna dengan tisu.


“Sayang, boleh saja berbuat baik. Tapi jangan menghilangkan hal yang kau sukai.” lanjut Mark.


“Aku bisa mebuatnya kembali sayang. Aku bisa membuatnya jutaan kali dengan goresan yang sama persis.”


‘ tak ‘ sentilan di kening Luna.


“Sayang.” Rengek Luna sambil mengusap keningnya.


“Sekarang aku malah meragukan pola berfikir istriku sebagai pelukis. Meskipun kau bisa membuat jutaan kali dengan goresan yang sama, tapi goresan pertama adalah yang paling bermakna. Untuk selanjutnya kau hanya membuat replica. Huffft.. istriku mendadak bodoh.”


“Apa, kau bilang aku bodoh?” Luna menahan tangan Mark yang masih mengusap wahahnya dengan tisu. Memandang Mark dengan kesal, lalu dia menciumi bibir Mark sebanyak yang dia mau.


“ Hei hei.. apa istriku maniak ciuman.” Mark menahan Luna dengan menghindarkan wajahnya, karena Luna sangat jelas bermain dengan ciuman itu.


“Kenapa? kau tidak suka dengan ciuman istrimu ini? humm?” Luna memanyun-manyunkan bibirnya dengan kesal. Dia melepaskan diri dari Mark, lalu kembali bercermin sambil merapikan rambutnya. Mark tersenyum tipis melihat kekesalan di wajah sang istri.


“Sayang, menurutmu siapa yang membeli lukisanku yang lainnya?”


“Aku akan memeriksanya.”


“ Memang harus sayang, aku sangat ingin bertemu dengannya.” Luna masih sibuk dengan rambutnya. Tapi Mark malah terlihat kesal dan menarik Luna kembali ke pelukannya. kali ini Luna benar-benar terkejut. dia hanya menatap Mark dengan mengedip-ngedipkan matanya.


“Kenapa sangat penasaran hingga ingin bertemu dengannya? humm? Apa melihatku saja tidak cukup?”


“Hei hei.. sayang, kamu sungguh cemburu pada siapapun ya? Bahkan ini belum jelas, bagaimana jika dia seorang wanita.”


“Tidak peduli dia pria atau wanita, kau tidak boleh menemuinya.”


“Sayang, aku hanya ingin berterimakasih dan sedikit berbincang dengannya.” suara Luna memelan di akhir kalimatnya sambil menatap Mark dengan cengingisan.


Mark menatap tajam, lalu langsung mencium bibir sang istri sebagai menumpah kecemburuannya.


“ Ayolah, di sini bukan aku yang maniak ciuman. Tapi kau Mark Rendra….”


.


.


Bersambung….

__ADS_1


__ADS_2