
Mobil mereka sudah sampai di gerbang. Para pengawal membukakan pintu seraya menundukkan kepala.
Luna memperhatikan semuanya, dia merasa tidak ada yang aneh. Para pengawal mengenakan jas modern, taman yang indah dan dekorasi Vila juga modern. Hanya saja ada sesuatu yang unik, ada beberapa bangunan dari kayu dengan dekorasi seperti di taman budaya ala pavilium zaman kerajaan.
“ Apa dia menipuku?” Luna menatap tajam Mark dengan kesal.
“ Kenapa menatapku begitu? seperti singa yang ingin menerkam saja.”
“ Aku hanya sedang mencium aroma penipuan. Sayang apa kau senang melihat calon istrimu ini terlihat bodoh?” melipat tangan di dada dengan mode merajuk.
“ Aku hanya berkata kau akan melihat istana pedalaman. Apakah hal seperti itu disebut penipuan?”
“ Ya ya.. suamiku memang sangat pandai bersilat lidah. Aku saja yang terlalu bodoh.”
Mark tersenyum lembut melihat Luna yang merajuk.
“ Istriku jangan marah-marah, sebentar lagi akan bertemu ibu mertua. Harus tersenyum ya!” jemari Mark menyentuh bibir Luna, mengembangkan bibir Luna agar tersenyum. Sontak saja hal itu membuat rasa kesal Luna hilang. Dengan spontan dia mengembangkan senyum cerianya atas perlakuan Mark. Luna merasa lucu saja, seperti anak kecil yang merajuk dan yang satunya membujuk.
“ Iya seperti ini. Memang istri kesayangan.” Sambil mengusap kepalaa Luna denagn lembut. Sementara Luna menatap Mark dengan senyum kehangatan.
Mobil mereka berhenti, para pengawal membukakan pintu untuk mereka.
“ Selamat datang tuan muda.” sambut seorang pria yang sudah paruh baya, tapi telihat masih sangat kuat dan sehat.
Dia menyambut Rangga penuh rasa hormat. Lalu di susul dengan menyapa Mark dan Key dengan sama perlakuan yang sama.
“ Selamat datang juga Nona.” sambutnya pada Luna dan Nindy.
Luna memperhatikan ekspresi Rangga yang kali ini juga terlihat berbeda, dingin, sorot mata yang tajam, tak ubahnya seperti ekspresi Mark yang dingin.
“ Ya ampun. Inikah tampilan yang sebenarnya dari Rangga?” gumam Luna sambil menarik tepi lengan baju Mark.
“ Kakak, kenapa kak Rangga terlihat berbeda?” bisik Nindy pada Key yang juga merasakan hal yang sama.
“ Hush..” Key mengisyaratkan untuk diam. Nindy langsung menutup rapat bibirnya, lalu berdiri lebih dekat pada sang kakak.
“ Kepala pelayan Chen, sejak terakhir bertemu tidak ada yang berubah sama sekali dengan anda, malah terlihat semakin muda sekarang.” Sapa Key pada pria paruh baya itu sambil tertawa.
“ Tuan Muda Key bisa saja.” balasnya menanggapi dengan hangat gurauan Key.
“ Tuan muda sekalian dan nona silahkan masuk, semuanya sudah menunggu.” Lanjutnya
Mereka berlima langsung melangkah masuk beriringan dengan posisi Rangga di tengah.
Mark melirik Luna yang masih terkejut dengan ini, lalu dia menggenggam tangan Luna. Sementara Nindy juga menggandeng tangan Key lebih erat.
“ Selama ini aku selalu menganggap enteng kak Rangga. Setelah melihat ekspresinya sekarang aku rasa tidak akan berani lagi.” gumamnya Nindy jera.
Lalu dia melirik sang kakak, “ Tapi jika di pikir-pikir kak Key juga memiliki sisi yang dingin ketika menghadap papa, hanya saja dia lebih sering menampilkan sisi lembutnya di depan semua orang. Apakah setiap orang yang memiliki tanggung jawab besar selalu seperti itu? ”
__ADS_1
“ Selamat datang tuan muda dan nona.” sapa pengawal di depan pintu, lalu mereka mempersilahkan masuk dengan penuh hormat.
Ketika masuk ke ruang utama itu, semua mata langsung tertuju pada mereka.
“ Kakek, ibu kami datang.” Sapa Rangga sopan.
“ Ah kalian semua sudah datang.” Jawab dari pria tua berjenggot yang di panggil kakek itu.
Mark Key juga menyapa dengan sopan. Sementara Luna memperhatian yang ibu Mark yang tak terlihat di sana. 6 orang di sana, pria tua yang di panggil kakek, ibu Rangga, 2 gadis remaja kembar yang cantik, 1 orang pria remaja dan 1 lagi pria yang terlihat dewasa.
“ Kenapa ibu tidak menyambut? Mark pasti sangat sedih.” Gumamnya sambil melirik Mark.
“ Luna Nindy sapa kakek dan tante.” Ucap Mark.
Dengan sedikit terkejut Luna dan Nindy menyapa bersamaan dengan sopan.
“ Wah.. gadis yang manis.” puji ibu Rangga dengan senyum lembut. Lalu Ibu Rangga berdiri dan memeluk Rangga dengan hangat.
“ Aku sudah sangat merindukanmu putraku.” Elus-elus lembut punggung Rangga.
“ Aku juga ibu.” Sikap Rangga kembali seperti semula, tak ada sorot mata tajam dan dingin lagi.
“ Ibu kenapa yang lainnya tidak datang?” lanjutnya.
Ibu Rangga melepaskan pelukannya. “ Ibu melarangnya. Mereka hanya akan membuat suasana canggung saja. Ibu tidak ingin kepulanganmu di sambut dengan wajah mereka yang menyebalkan itu.” jelasnya terlihat kesal.
“ Eehh..” gumam Luna dan Nindy sangat terkejut melihat pemandanga ini.
“ Haha.. tentu saja. Ibu tidak akan memberikan penyambutan yang mengecewakan untuk kalian.” jelas ibunya.
“ Sepertinya keluarga Rangga juga memiliki masalah yang tidak sederhana. Saat di depan tadi dia terlihat dingin, lali sekarang kembali bersikap hangat. Kemungkinan sikap.berbedanya itu karena mengira orang yang tidak di senanginya akan ikut menyambu.” Gumam Luna mengerti dengan situasi ini.
“ Mark, Key tante juga sangat merindukan kalian. Sini peluk!” Ibu Rangga melebarkan kedua tangannya. Dengan patuh Mark dan Key langsung mendekat dan memeluk bersamaan dengan senyum yang mengembang.
“ Haha.. kalian memang putra-putraku yang berharga.” Ibu Rangga terlihat sangat bahagia.
“ Tante mengetahui tentang tunangan Mark. Tapi Key kenapa tante tidak pernah mendengarnya?” bisik ibu Rangga pada Mark dan Key yang berada dalam pelukannya.
“ Haha.. tante sepertinya sudah salah paham. Itu adalah Nindy adikku.” Jelas Key dengan berbisik.
Lalu mereka saling melepas pelukan.
“ Sungguh? Syukurlah jika begitu. Tante kira hanya Rangga saja yang sendirian.” Dengan suara keras dan tawa yang puas.
“ Ibu..” teriak Rangga yang sudah duduk di samping kakeknya. Teriakan itu terdengar sangat kesal.
Gelak tawa pecah di ruangan itu, tapi berbeda dengan Luna dan Nindy yang ikut tertawa tapi mereka tidak tahu maksudnya.
“ Mereka tertawa tentang apa ya?” gumam keduanya, tapi tetap tertawa seperti orang bodoh.
__ADS_1
***
Semua orang di sana sudah saling tegur sapa dan memperkenalkan diri pada Luna dan Nindy karena baru kali ini pertama bertemu. Setelah itu mereka duduk dengan nyaman di sofa.
Dari perkenalan awal menghasilkan 2 gadis kembar yang bernama Chira dan Chici langsung menempel pada Luna dan Nindy. Saat dudukpun mereka saling berbagi, Chira duduk di sisi kiri Luna karena di sisi kanan Luna adalah ibu Rangga. Sementara Chici duduk di sebelah Nindy.
Ternyata gadis kembar itu adalah anak dari kakak Rangga yang bernama Steven, pria dewasa yang ada di ruang utama itu. Sementara pria remaja yang bernama Jief adalah adik Rangga. Semuanya ramah dan hangat, membuat Luna dan Nindy tidak terlalu canggung.
Ibu Rangga memengangi tangan Luna dengan lembut serta dengan senyum hangat yang mengembang di bibirnya.
“ Luna, tante akan selalu mendoakan yang terbaik untuk hubungan kalian. Kalian harus tetap saling mencintai dan mempercayai apapun yang terjadi.”
“ Baik tante.” Luna senyum hangat. Tapi hatinya terus bertanya-tanya dimana ibu Mark, kenapa tidak ada yang menyinggung dari tadi.
Luna melirik Mark, dari sorot matanya sangat jelas menanyakan dimana ibu Mark sekarang. Mark mengerti dan semua orang di sana juga mengerti, karena alasan mereka ke sini memang sudah di ketahui oleh semuanya.
“ Kakek dan semuanya. Saya akan membawa Luna berkeliling dulu.”
“ Baik, silahkan.”
“ Luna pergilah.” Ucap ibu Rangga sambil mengusap lengan Luna.
“ Baik tante.” dengan senyum.
Mark dan Luna berjalan beriringan keluar. Tidak ada pembicaraan untuk sejenak, meski Luna sendiri bingung kenapa Mark membawanya keluar.
“ Mark kenapa kita keluar? tadi kamu bilang berkeliling, bukankah kita mau menemui ibu?” tanya Luna setelah mereka keluar dari Villa.
Mark menghentikan langkahnya, dia tersenyum dan meraih tangan Luna.
“ Kita memang akan menemui ibu.” Sambil menautkan jemarinya dengan jemari Luna.
“ Dimana?”
“ Sayang ikuti saja aku ya.!” dengan lembut. Lalu Luna tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Mereka berjalan melewati taman bunga yang di tutupi salju tipis, lalu menuju bangunan dengan dekorasi unik ala pavilium zaman kerajaan. Suasana di sana sangat menenangkan, angin beresbus lembut dan di hiasi pohon-pohon.
Tidak ada pembicaraan, genggaman Mark bagi Luna sudah mewakilkan segalanya. Adanya sedikit kegundahan di sana, oleh karena itu Luna juga diam dan tak bersuara. Dia hanya sesekali melirik wajah sang calon suami yang terlihat tetap tenang itu.
“ Tap” Mark menghentikan langkahnya, sementara Luna yang sedang menatap Mark langsung menoleh kedepan. Ternyata mereka sudah sampai di ujung pavilium dan di sana dengan jarak sekitar 6 meteran, Luna melihat punggung seorang wanita yang duduk bersandar di kursi. Serta 2 orang wanita yang berdiri di sampingnya.
“ Apakah itu ibu Mark?” Gumam Luna sambil menoleh pada Mark yang masih memandangi punggung wanita itu. Tatapan Mark sangat dalam dan juga ada kesedihan di sana, sehingga membuat Luna tak mampu bersuara.
Tiba-tiba Mark tersenyum dan menundukkan kepalanya, lalu dia menoleh pada Luna yang sedari tadi menatapnya.
“ Sayang ayo, sepertinya ibu sudah menunggu kita.” Mark berucap dengan lembut. Luna menganggukkan kepalanya, dan mereka langsung berjalan mendekat.
‘ deg deg deg ‘ debar jantung Luna langsung tak beraturan.
__ADS_1