
Moorea-Maiao, Polinesia Prancis.
Luna keluar dari mobilnya. Silimir angin laut langsung menyapanya. Rambut panjangnya yang tergerai langsung menari-nari oleh terpaan angin. Menyejukkan sekali terpaan angin atas panasnya terik matahari.
“Luna..” sorak Alexa dan Camelia dari arah resort yang berjejeran di laut yang tenang.
“Selamat datang om, tante.” sapa Alexa pada tuan dan nyonya Aliester. Begitupun dengan Camelia, dia bahkan memeluk tuan dan nyonya Aliester.
“Bagaimana perjalanannya tante?” tanya Camelia sambil melepaskan pelukannya dengan nyonya Aliester.
“Menyenangkan. Pemandangan selama perjalanan sungguh menyejukkan mata.” Senyum ramah dengan sorot mata teduhnya.
“Kalian bertiga memang cocok bekerja sama. Om melihat dari awal kerja kalian, om suka cara kerja kalian. Resort ini pasti akan menarik banyak wisatawan dalam maupun luar negeri.” Puji tuan Alister yang langsung merekahkan senyum ketiga wanita itu.
“Desainnya ide Luna om.” Ujar Camelia.
“Ah, Camelia.. ini ide kita bersama.” sanggah Luna sambil tertawa.
“Tapi memang kau yang berkonribusi besar. Detail designnya sangat menarik.” sela Alexa.
“Sudah, aku hanya menyalurkan ide. Dan yang mendesign adalah designer kita. Jadi mohon jangan begini.” Luna mengusap keningnya di sertai dengan gelengan dan senyuman senyum kecut. Sungguh dia tidak suka pujian berlebihan. Lagian memang sudah seharusnya dia melakaukan ini, namanya juga kerja sama.
“Haha.. baiklah. Jika begitu kita langsung ke vila saja. Beristirahatlah sebelum acara nanti malam.” Ajak Alexa.
Mereka semua langsung menuju Villa sambil berbincang yang menimbulkan gelak tawa. Semuanya tampak akrab. Hanya saja sedari tadi Camelia menoleh pada Zhaon. Penasaran siapa Zhaon ini. Ingatannya antara ragu bahwa Zhaon ini adala pelayan yang sering dia lihat di rumah Luna.
“Siapa dia? Kenapa Luna membawanya?”
Camelia terus melirik Zhaon. Bahkan memperhatikan penampilan Zhaon yang kasual dari atas hingga ke bawah. Sementara Zhaon tampak tersenyum miring. Sadar akan Camelia yang terus memperhataikannya.
***
Oslo, Norwegia.
__ADS_1
“Bagaiamana keadaan di sana?” tanya Mark dengar earpods di telinganya. Dia berada di dalam mobil dan Rangga sebegai pengemudinya.
“Sampai tahap ini aman-aman saja. Kami bahkan belum menemukan tanda-tanda James Lu.” Jawab Key yang berada di dalam mobil. Di samping Key terdapat Jiang He yang sedang meneropong helicopter yang akan mendarat. Mata tajamya menyorot dengan serius. Mereka juga sudah berada di pulau Moorea-Maiao.
Satu sisi bibir Mark tampak tertarik. Dia tersenyum penuh arti. ”Tetap awasi. Aku penasaran semisterius apa pria yang ingin mendekati istriku.”
“Ok Mark. Kau tenang saja, aku dan Jiang He akan memastikan tidak akan ada hal buruk yang terjadi. Orang-orang kita juga sudah diatur di setiap sudut. Jadi.. jadi kau fokuslah dengan urusan di sana. Cepat kembali, kalian jangan terluka!” Tutur Kay panjang lebar.
“Jangan khawatirkan kami seperti bayimu lag Key.” Ketus Mark yang membuat Key sedikit tergelak.
“Baiklah. Jika begitu selamat bertugas.” Lanjut Mark.
“Kalian juga.” Percakapan teleponpun berakhir.
“Mark sebagaimana mana kau melindungi orang yang ku sayang waktu itu, begitu juga aku akan melindungi Luna, istrimu.” Tekad Key sambil menyimpan kembali ponselnya. lalu ikut memantau dengan teropong bersama Jiang He.
Rangga melirik Mark yang sudah selesai menelepon di kaca spion tengah, lalu dia menambah kecepatan laju mobil.
Tidak lama setalahnya mobil mereka sudah sampai di sebuah hotel yang sangat mewah. Mobil mereka berhenti, petugas hotel langsung siaga membukakan pintu mobil untuk mereka.
“Kau siap Rangga?” merapikan Jasnya dan menoleh pada Rangga yang berada di sampingnya.
“Tentu saja.” balas Rangga yang juga menoleh padanya. Keduanya sama-sama menyunggingkan senyum, lalu melangkah ke dalam.
“Velkommen Sir/Selamat datang tuan.” Mark langsung di sambut dengan hangat oleh pemilik pesta. Ini adalah pesta ulang tahun pernikahan pengusaha ternama di Norwegia, kedatangan Mark sebagai bisnis global tentunya sebuah penghargaan bagi mereka.
“Ja. Gratulerer med bryllupsdagen din, Mr. Jack/selamat atas ulang tahun penikahan anda tuan tuan Jack.”
Tuan Jack dan istrinya tertawa renyah, masih tidak menyangka Mark datang ke pestanya. Lalu mereka langsung masuk ruangan pesta sambil berbincang.
Di ruangan pesta setelah berbincang sesaat, Mark bersama dengan Jack Dag dan Adele Dag naik ke panggung. Mark menerima mic, ia akan memberika ucapan selamat kepada pasangan suami istri, Jack Dag dan Adele Dag.
Tepuk tangan memenuhi ruangan saat Mark menaiki panggung. Mark tersenyum ramah dengan mengedarkan pandangannya. Matanya yang penuh menyelidik. Semuanya yang hadir adalah tamu-tamu kehormatan, para pejabat-pejabat Norwegia dari berbagai kalangan.
__ADS_1
Para pebisnis tentunya tidak akan asing dengan sosok Mark ini. Namun bagi orang yang tidak mengenalnya mulai berbisik menayainya siapa pria di depan mereka ini? para waniat mulai jejeritan, melihat ketampanan dari seorang Mark Rendra.
Mata Mark langsung terfokus ketika dia melihat sosok pria yang di hormati di kepolisian, dialah Charles Scot yang sedang berdiri memperhatikannya dengan pejabat lainnya. Mata mereka bertemu, langsung saja keduanya saling melempar semyum tipis.
“Terimakasih semuanya.” Ucap Mark yang seketika tepuk tangan langsung berhenti.
“Saya Mark Rendra mengucapkan selamat ulang tahun pernikahan ke 27 untuk tuan Jack Dang dan nyonya Adele Dag.” Menatap pasangan suami istri yang matanya sudah berkaca-kaca. “Semoga anda memiliki lebih banyak bab dalam kisah cinta ini.”
Kalimat Mark langsung meruntuhkan air mata pasangan suami istri tersebut. mereka menatap Mark yang di sertai dengan anggukan.
Lagi-lagi tepuk tangan begremuruh memenuhi ruangan. Beberapa tamu yang ikut terharu dengan kalimat singkat seta melihat moment pasangan yang erat di panggung.
Mark menyatukan tangan pasangan tersebut. Klik, seiring dengan jentikan jari Mark music romantis langsung di mainkan. Pasangan tersenyu tersenyum haru, lalu mereka berdua berdansa, begitupun para tamu juga mencari pasangan masing-masing dan ikut berdansa. Mark tersenyum, lalu turun dari panggung.
Mark menerima cocktail yang di berikan Rangga padanya, lalu menuju pada Cherles Scot yang tampak duduk sendirian karena temannya ikut berdansa.
“Ya beginilah nasib kita yang tidak di temani istri.” Ujar Mark yang membuat Charles Scot langs menoleh padanya.
“Tuan Mark,” ucapnya dengan sedikit kaget.
Mark tersenyum. “Boleh saya duduk?”
“Tentu saja. Silahkan tuan.” Mengambil gelas dan meminumnya.“Tuan Mark sudah menikah?” tanyanya bersahabat.
“Sudah. Istriku mempunyai kesibukan sendiri, sehingga aku terpaksa sendiri yang menggantikan paman untuk menghadiri pesta ini.” sambil tertawa. “Lalu bagaimana dengan anda Polidirektor Charles Scot?”
Charles Scot tampak terkejut kembali, dia mentap Mark tajam, lalu tertawa. “Tidak jauh beda. Istriku juga sibuk dia sibuk mengurusi anaknya, sungguh aku diabaikannya jika membandingkan aku dengan putra-putriku.” Ujarnya dengan masih tertawa sambil memperhatikan Mark yng menganggukkan kepalanya, lalu meminum coktailnya.
“Apa tuan Mark mengenalku?” tanya Charles yang membuat Mark langsung menghentikan minumnya. Mark menatapnya tajam, mata keduanya saling beradu.
“Tentu saja.” jawab Mark dengan suara dinginnya dan tatapannya yang berubah menyeramkan.
Seketika mata Charles langsung menyipit. Tampak tidak percaya pria di depannya ini mengenalnya. Tangannya tampak memegang erat gelas di genggamannya.
__ADS_1
Bersambung…