TUAN MUDA AKU BENCI KAMU

TUAN MUDA AKU BENCI KAMU
S2 Akhir Nasib Jhon


__ADS_3

'Tok tok.’


“Silahkan masuk.” Jawab seorang wanita dengan jas putihnya. Di papan nama terukir dr. Ranie Su. Dia sedang membaca sebuah berkas.


Pintu terbuka. Ranie Su terkejut hingga membulatkan kedua matanya melihat sosok yang masuk ke ruangannya.


“Huh, dokter Su tatapan apa ini? apa begini caramu menyambutku?”


Wanita yang datang tidak lain adalah Luna Aliester. Dia sudah pulang dari Polinesia, Prancis dua hari yang lalu. Datang ke rumah sakit dengan mengenakan kaca mata hitam dan penutup kepala tentu membuat Ranie Su heran.


Apakah wanita ini sedang keluar diam-diam? Ranie Su cukup mengetahui tabiat Luna.


“Haha.. maafkan aku.” Ranie Su berdiri dan memeluk Luna. “Aku merindukanmu.”


“Aku rasa kita tidak sedekat itu untuk saling merindu.” Luna berucap sambil tertawa ringan.


“Terserahmu Luna, kau memang tidak pernah mau berdamai denganku.” Melepaskan pelukan.


“Silahkan duduk.” Lanjut Ranie Su sambil kembali ke kursinya.


Luna melepaskan penutup kepalanya, mengangkat gagang kacamata hitamnya, menaikkan di atas kepala. Kemudian duduk di kursi di depan meja Ranie Su.


Ranie Su sejenak memandangi Luna.


“Penampilan apa ini Luna? apa kau keluar tanpa sepengetahuan orang rumah?” Ranie Su tidak bisa menahan untuk tidak bertanya.


“Tidak. Mereka tau.” Alis Ranie Su terangkat mendengar jawaban Luna.


“Tapi tidak tau kemana aku akan pergi.” lanjut Luna sambil tertawa.


“Arghh.. itu sama saja.” jawab Ranie Su dengan memutar bola matanya kesal. “Kau mau apa datang diam-diam ke sini? merindukanku?” suara Ranie Su sangat percaya diri. Dia menumpu kedua siku dan menopang dagu di kedua tangannya yang bertautan.


“Apa aku benar?” tanyanya lagi, karena tidak ada respon dari Luna.


“Karena kau sangat percaya diri, maka aku tidak akan mempermalukanmu.”


“Kau masih saja menyebalkan.” Ranie Su menarik diri dari meja, menyandarkan diri ke kursinya.


Luna Aliester dan Ranie Su saling mengenal pada masa kanak-kanak. Di masa sekolah kanak-kanak Luna dan Ranie tidak pernah damai untuk waktu yang lama, ada saja yang meraka ributkan.


Meraka berpisah di tahun kedua sekolah menengah atas, karena Ranie Su dan keluarganya pindah ke Australia. Dan Ranie Su baru kembali ke tanah air. Belum genap 2 bulan dia berada di sini.


Mereka memang tidak dekat, ketika bertemupun mereka hanya sekedar menyungging senyum. Itupun senyum ejekan. Namun mereka mempunyai chemistry unik hingga sampai sekarang masih mengingat satu sama lain. Dan sekali, dua kali bertukar kabar.


“Apa kau akan menetap di China?” tanya Luna.

__ADS_1


“Humm.. ya, untuk sementara anggap saja begitu.”


“Kau tidak yakin? Apa perlu aku mencarikanmu kekasih dari China agar bisa mengikatmu tetap di sini?” goda Luna sambil mengedipkan matanya.


“Haha.. kedengarannya tidak buruk.”


Luna dan Ranie saling melempar senyum lembut. Sudah sangat lama mereka seperti ini, terakhir di acara wisuda masa kanak-kanak mereka berinteraksi seperti ini.


“Humm.. baiklah, kita langsung saja.” Ranie Su bangkit dari tempat duduknya.


“Apa maksudmu?” tanya Luna dengan mengangkat alisnya.


“Kau datang ke sini bukan hanya untuk menemuiku kan?”


“Selain usil, sekarang kemampuanmu bertambah ya! bisa menyetahuinya hanya dengan menatapku.” Jawab Luna dengan senyum dan langsung menuju bangsal.


Luna datang ke sini memang dengan tujuan untuk periksa apakah dia hamil atau tidak. Awalnya Luna masih mencari-cari dokter kandungan, dan kebetulan saat itu dia mendengar kabar bahwa Ranie Su kembali ke China.


Ranie Su adalah dokter kandungan, jadi dia memutuskan untuk memilih Ranie Su. Selain bisa di ajak kerja sama, memilih Ranie Su pasti akan membuatnya lebih nyaman dalam berbagai hal.


“Kau terlihat masih langsing, sudah berapa usianya?” tanya Ranie Su sambil memasangkan Sfigmomanometer di lengan Luna.


“Aku bahkan belum tau apakah dia sudah ada atau belum.”


“…” Ranie Su terdiam sejenak tangannya juga berheti beraktifitas. Dia tersentuh melihat Luna yang mengusap perut dengan senyum.


“Semoga saja. Aku sangat menantikannya.”


***


“Terimakasih atas kerjasamanya tuan Mark.” Charles Scot mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Mark.


“Sama-sama Polidirektur Charles.” Ucap Mark dengan berjabatan.


“Aku tidak akan melupakanmu tuan. Ini bantuan yang sangat besar, untuk keluargaku dan juga pihak kepolisian.” Tambah Charles.


Mark hanya tersenyum, lalu menoleh pada Jhon yang di seret oleh polisi memasuki mobil. Tampang Jhon sangat kasihan, murung seperti orang gila.


“Baiklah tuan Mark, jika begitu kami pergi dulu.” Ucap Charles.


“Baiklah. Silahkan.”


Charles tersenyum lalu memasuki mobilnya. 3 mobil polisipun pergi meninggalkan mansion Mark, suara serinai mengiringi kepergian mereka.


“Mark kau yakin melakukan ini?” tanya Rangga sambil mendekati Mark. Sedari tadi dia berdiri di ambang pintu bersama Louis.

__ADS_1


Rangga masih tidak percaya mengapa Mark menyerahkan Jhon pada polisi. Bukankah selama ini dia selalu ingin membalas hingga tuntas dendam ini. Mata di balas mata, nyawa dibalas nyawa.


“Keputusanku tidak akan salah.” Jawab Mark yang sukses membuat Rangga dan Loius saling tatap bingung.


“Dia sudah sangat tersiksa, bahkan dia memohon untuk ku habisi saja. Jadi tidak ada gunanya di lanjutkan lagi.”


“Jadi ini tujuanmu memanipulasi video istri dan anaknya serta kematian putra dan putrinya?” tanya Louis tidak sabaran.


“Ya.. ini jauh lebih menyiksanya. Tidak aka nada yang menemuinya di penjara sampai batas waktu yang aku tentukan.”


“Jadi dia di seret ke penjara….”


“Karena kasus penahanan dan penculikan identitas. Cukup itu saja, jika kasus kematian Rune Skjold Asisterende polidirektur di ungkap hanya akan membuat dia di hukum mati.” Suara tegas Mark memotong kalimat Louis.


“Aku tidak menyangka kau akan sedikit berbaik hati padanya.” Timpa Rangga dengan sedikit senyum. Dia sungguh belum percaya akan hal ini.


Sementara Louis bahkan diam-diam mencubit tangannya sendiri, memastikan bahwa ini bukan mimpi. Kemana perginya dendam dan aura membunuh yang sangat kuat dari adiknya ini?


“Arh.. sakit.”


Louis menahan sakit karena ulahnya sendiri.


Mark tersenyum. Tiba-tiba bayangan di malam sebelum dia pergi ke Norwegia teringat kembali olehnya.


“Sayang, aku tahu betapa sakit dan menderitanga kamu atas kepergia ayah yang tiba-tiba. Disaat kamu masih sangat membutuhkan kasih sayangnya. Serta kepergiannya membawa perubahan yang sangat besar dalam hidupmu. Tapi... sayang, balas dendam tidak harus dengan prinsip ‘eye for an eye’ mata di balas mata, nyawa di balas nyawa.” Luna berucap lembut dalam pelusakan Mark. Lanjut bicara karena tidak ada tanggapan dari Mark.


“Hal seperti itu hanya akan menambah panjang rantai kebencian. Sayang, dendam tidak harus di puaskan. Jika kau bisa berbesar hati untuk tidak sekejam itu, kenapa harus membunuh? Ingat sayang kita tidak tau bagaimana kehidupan kita, keluarga kita, teman, sahabat dan anak kita nantinya. Mereka yang tidak bersalah bisa saja akan terkena dampaknya. Tidak ada yang bisa memastikan bahwa kami bisa membasmi bersih semua yang berkaitan dengan Jhon di Norwegia nanti.” Luna kembali menjeda kalimatnya, sementara Mark masih bergeming tidak ada niat untuk berbicara, dia hanya mengusap dengan sayang kepala Luna.


“Aku bukannya tidak percaya akan kemampuanmu. Maksudku.. kita tidak bisa untuk menjamin orang-orang terkasih kedepannya.” Tutup Luna sambil menaruh tangan Mark di perutnya.


Senyum masih membingkai di bibir Mark mengingat moment malam itu. Malam itulah membuat Mark tertegun dan mencoba menimbang-nimbang nasehat Luna perkatanya.


Mark membuat keputusan dalam hatinya dan beberapa rencana kejamnya sedikit diubah.


Dimana kematian Lexis, putra Jhon bukan karena di bunuh oleh Mark, melain dia meninggal akibat kecelakaan saat balapan liar. Mark memanfaat hal itu dan memanipulasi seakan di mata keluarga Jhon kemataian Lexis berkaitan dengannya.


Begitupun dengan Sofi. Dia mati bunuh diri dengan meminum racun karena frustasinya saat mengetahui bahwa pacarnya terjangkit HIV. Sakit hati bercampur takut menghantuinya, karena dia juga sudah beberapa kali berhubungan intim dengan pacarnya tersebut. Jadi dia pasti juga sudah tertular. Depresi, mabuk-mabukan, narkotika, menyayat diri sendiri akibat narkotika dan meminum racun. Di sini Mark juga mengambil peluang.


Selanjutnya video tembakan Keni, istri dan putri kecil Jhon juga hanya manipulasi. Ibu dan anak itu masih hidup dan baik-baik saja. Vidio itu hanya untuk menekan Jhon. Suara tembakan di ruangan waktu itu tidak lain hanyalah intrik.


“Terimakasih sayang. Terimakasih telah mengingatkanku untuk tidak membunuh dan terlalu kejam. Aku akan selalu menjaga orang-orang tekasih kita. Orang tua, sahabat dan keluarga kecil kita nantinya.” Batin Mark.


Rangga dan Louis saling tatap bingung melihat Mark yang senyum-senyum. Hal apa yang membuat pria dingin dan menyebalkan ini tersenyum?


“Ayo segera ke Bandara, aku sudah sangat merindukan istriku.” Ucap Mark yang langsung memasuki mobil yang sudah di bukakan pintu oleh pengawal.

__ADS_1


“Ba-baik.” sedikit terbata. Rangga dan Louis juga segera memasuki mobil.


Bersambung….


__ADS_2