TUAN MUDA AKU BENCI KAMU

TUAN MUDA AKU BENCI KAMU
S2 TMABK


__ADS_3

“Zhaon…” Jerit Luna dari taman.


“Iya Nona. Tunggu sebentar.” Terkocoh-kocoh Zhaon datang dengan sepiring spageti dan segelas air putih di nampan.


“Yeay.. sayang akhirnya spageti kita datang.” Luna bertepuk tangan ceria.


Zhaon geleng kepala melihat Nona nya itu. Sudah seperti anak-anak saja. Spageti diletakkan di hadapan Luna. Langsung saja Luna mengaduk dan memakannya. Dia menikmatinya dengan sangat lahab.


Usia kandungan Luna sudah memasuki trimester ketiga. Akhir-akhir ini entah kenapa Luna selalu menginginkan hasil kerja Zhaon. Mark sendiri sampai cemburu karena apa-apa selalu Zhaon yang Luna inginkan. 


Betapa beruntungnya anda Tuan Muda, punya orang multitalent sepertiku, kata Zhaon. 


Sementara itu.. apa kelebihanmu sehingga istriku lebih tertarik padamu Zhaon? 


Haha.. suka-suka aku Tuan Muda Mark Rendra. Mungkin bayiku berdendam denganmu.


“Nona.” 


“Humm?” 


“Sepuluh menit lagi instruktur Selin akan datang.” Ujar Zhaon sambil menunjukkan jam tangannya pada Luna.


Luna mengeluh perlahan. Dari semua kegiatan yang sudah diatur Zhaon, inilah sesi yang paling dia malas untuk mengikutinya. Bukan apa, Luna malas saja bergerak. Terlebih nanti tiba-tiba saja ada sesi senam bersama suami. Dan ketika itu Mark sering mengambil kesempatan untuk menggodanya. 


Mark sering kali membisiknya Montok lah, Pooh lah, Jempol lah.  Kalau dibilang montok untuk pujian sah-sah saja. Ini tidak! Mark sengaja mengusiknya. 


Mentang-mentang tubuh dan jari-jariku membengkak semua, enak saja dia menggelar aku dengan panggilan itu. Dasar suami Julid.


“Selamat pagi Mrs. Luna.” sapa instruktur Selin tiba-tiba muncul.


What? Luna menatap Zhaon tajam. Katanya sepuluh menit lagi. Tapi ini baru satu tarikan napasku instruktur menyebalkan ini sudah datang.


Zhaon menggeleng dengan ekpresi ikut bingung. Lalu dia menoleh pada Instruktur Selin.


“Instruktur Selin, anda datang lebih awal.”


“Iya, Tuan Mark yang meminta.” 


Mark yang minta? Luna sudah merengus geram. Sah ini sesi senam dengan pasangan lagi. Bergetar garfu di tanggannya sekarang. Pantas saja suaminya tadi terlihat santai di kamar. Tenyata telah merencanakan ini dan tidak pergi ke kantor.


“Instruktur Selin, anda sudah datang.” Muncul juga Mark di situ. Sudah lengkap juga dengan pakaian yoga. Sempat juga dia tersengih pada Luna.


Hish,  balas Luna dengan jelingan mautnya.


Zhaon dan Isntruktur Selin simpan senyum melihat pasangan imut ini.


***


Sudah diruang Yoga. Luna serilexs mungkin mengikuti kelas kali ini. Meski malas, Luna tidak pernah main-main mengikuti kelas. 


Sekarang Luna melakukan pose tailor atau yoga kupu-kupu.


Senam hamil pose tailor atau lebih di kenal pose kupu-kupu ini berguna untuk melatih otot perut dan mengurangi resiko sakit punggung yang sering dialami ibu hamil. Untuk ibu hamil yang memasuki trimester tiga, tentu sangat aman.


Gerakan ini dilakukan dengan duduk bersila dengan posisi punggung tegak. Pertemukan kedua telapak kaki di depan, lalu di dorong lutut hingga menyentuh lantai. Tahan posisi seperti itu selama kurang lebih 10-20 detik dan ulangi beberapa kali.


Mudah dan gerakan ini biasanya Luna lakukan sendiri. Tapi kali ini instruktur Selin menyuruh Mark untuk membantu di belakang. 


Aku tahu ini pasti akal-akalamu Tuan Muda Mark Rendra!!!


Mark sudah sembringah sambil mengusap-ngusap jahil tangan istrinya itu. Luna buat acuh-tidak acuh saja. Malas melayani keusilan suaminya itu. 

__ADS_1


Mark berdehem. Tidak seru juga kalau istrinya itu tidak menanggapinya. 


“Sayang..”


Luna diam.


“Sayang, sayang tidak lelah ya bawa drum kemana-mana?”


BRUGH! Luna membenturkan kapala belakangnya itu pada Mark. Keras.


“Aduh-aduh..” jarit Mark sambil menekup hidungnya. Bisa patah hidungnya karena kepala keras istrinya itu.


Zhaon dan Selin terkejut. Mulut mereka sedikit tenganga dengan mata yang berkedip-kedip. Apa lagi sekarang? mereka sudah banyak melihat berbagai tingkah suami istri ini, namun ini yang paling ekstrim.


“Tidak bosan-bosannya mengejek. Montoklah, Pooh lah, Jempol dan kali ini bawa drum. Di dalam sini anak kamu Mark Rendra…” Gerutu Luna. Dia kembali melanjutkan gerakan yoganya.


Mark tertawa. Senang akhirnya Luna bersuara. Tapi tunggu, sakit juga. Hidungnya masih di pegang.


“Luna apa kamu ingin membunuh suamimu.” Suara Mark dibuat kasihan.


Luna mencebik. Tidak akan mati kamu hanya karena ini tuan muda. Tapi malas Luna menjawab.


Mark kembali tersengih. Tangan yang tadi menekup hidung di lepas.


“Darah.” Jerit Zhaon.


Mark juga heran. Hidungnya di usap dan benar hidungnya itu mengeluarkan darah. Pun Luna juga langsung menoleh pada suaminya itu. Sudah penuh tangan suaminya itu dengan darah.


“Sayang..” ujar Mark lemah dan kemudian pingsan. Tubuhnya jatuh di bahu Luna.


“Mark…” jerit Luna. 


Zhaon dan Selin awalnya ingin membantu. Tapi tidak jadi karena melihat gerak tangan Mark mengibas tanda melarang.


Luna sudah menangis. Pipi Mark di tepuk-tepuk.


“Sayang bangun. Jangan begini. Zhaon panggil dokter cepat!”


“Zhaon!” pekik Luna karena melihat Zhaon yang diam dengan tampang bodoh.


“Ah iya-iya Nona.” Dia terpaksa ikut drama tuannya ini. 


“Sayang maafkan aku. Aku janji lain kali tidak akan begini..” 


Mark tidak tahan lagi dan akhirnya dia tertawa.


“Hah?” Luna langsung berubah ekspresi. Apa-apaan?


Geram tapi lebih banyak bersyukur. Tadi dia kira suaminya itu benar-benar pingsan. Sudah lain-lain pikirannya tadi. 


“Sayang I’m sorry.” Ujar Mark yang masih tertawa. Imut saja melihat istrinya yang sudah cemberut.


“Nyenyenye..” sungut Luna.


Mark kembali tertawa. Dia tarik Luna dalam pelukannya.


“I’m sorry. Aku hanya iseng. Tenyata kamu sangat takut kehilanganku.”


Dada Mark di pukul.


“Aduh sayang, sakit..” 

__ADS_1


Ruangan itu gemuruh dengan tawa. Zhaon dan Selin hanya sebagai pajangan menyaksikan romantic manja pasangan suami istri itu.


Sementara itu di luar Misya berdiri di depan dengan pintu yang sedikit tebuka. Dia menatap Mark Luna dengan sayu. Jika saja perkara dulu tidak terjadi, pasti dia yang berada di sana sekarang, bukan Luna. Tangannya  dibawa ke dada yang mulai terasa sesak. Kemudian dia beranjak dari situ dengan mata yang sudah menitiskan bulir jernih.


Zia kebetulan lewat di situ. Keningnya sedikit berkerut.


“Misya.” Gumam Zia ketika melihat Misya berlari dengan menekup wajah.


***


Luna terbangun dari tidurnya. Dia merasa tenggorokannya kering. Haus. 


Luna bangkit untuk mengambil air di nakas. Namun gelas dan botol di sana sudah kosong.


“Habis?” Keluh Luna. 


Luna menoleh pada Mark yang neyenyak tidur. Terndengar dengkuran halus dari mulut Mark. Pasti sangat lelah. Biasanya tenang ja suaminya itu tidur. Luna merasa tidak tega membangunkan suaminya itu hanya karena dia haus.


Jam di nakas di kerling. 02.17 dini hari.


“Okey baby, kita yang bergerak ya. Kasihan Papa kalau di bangunkan.” 


Kaki Mark yang melilit di kakinya di geser perlahan. Luna turun dari ranjang dengan menyarungkan sandal kelinci kegemarannya. Kemudian langkah di bawa keluar kamar.


Luna sedikit pelik ketika melihat keadaan villa yang lebih gelap dari biasanya. Perlahan Luna menekan saklar lampu. Tapi tidak menyala.


“Memang rusak ya? perasaan tadi aman-aman saja.”


Tombol lift di tekan. Tapi juga tidak berfungsi. Mau tidak mau akhirnya Luna harus turun lewat tangga.


Pelan saja Luna melangkah menuruni anak tangga itu. Satu tangannya juga berpegangan pada pagar tangga.


“Hufft..” Luna berhenti pada tangga kelima. Dia terengah.


“Lelah juga." keluhnya. Sejak usia kandungannya berusia 7 bulan, dia memang sudah tidak lagi turun lewat tangga. Selalu dengan lift.


Langkah dilanjutkan kembali.


“Sayang, kalau kamu sudah besar nanti. Kamu harus membalas mama dengan menggendong Mama menuruni anak tangga ini.” Luna tertawa sendiri dengan ucapannya.


Tiba-tiba Luna di kejutkan dengan suara petir yang tiba-tiba. Luna menutup telinganya dengan suaran jeritan kecil. Napasnya juga sedikit terengah dengan dada yang berombak naik turun.


Disaat yang bersamaan Luna merasakan pergerakan dari bayinya.


“Ah, tidak apa-apa sayang. Calm down okey.” perutnya di usap dan lanjut menuruni anak tangga. Sedikit lagi sampai. Namun…


“Aaaahkk….”


Entah bagaimana Luna menginjak anak tangga yang licin. Luna jatuh  dan terduduk di situ.


Di saat yang bersamaan petir kembali bergemuruh keras.


“Luna..” Mark terbangun dari tidurnya. Dadanya beromabak coba di tenangkan. Dia mengusap wajahnya.


Mark terkejut ketika tidak lagi melihat Luna di sampingnya. Hatinya mulai merasa tidak tenang. Mark langsung bangkit dan berlari keluar.


“Luna…” jerit Mark melihat istrinya yang sudah terduduk bawah sana. 


Luna menoleh. Pipinya yang sudah basah dengan air mata. Sakit! ini teramat sakit.


“Mark..” ucapnya dengan bibir yang bergetar.

__ADS_1


Bersambung….


__ADS_2