TUAN MUDA AKU BENCI KAMU

TUAN MUDA AKU BENCI KAMU
PESTA PERNIKAHAN ( Part 1)


__ADS_3

Hari yang di tunggu-tunggu akhirnya datang, hari yang paling di nantikan oleh Mark Rendra dan Luna Aliester, ya.. tentu saja adalah hari pernikahan mereka.


Siang hari pukul 13:30 Salju tipis berjatuhan, di sebuah gereja megah sudah di hiasi dengan dekorasi bunga mawar putih dan daunan hijau seperti akar yang menjalar.


Di luar sudah banyak wartawan berkumpul di tengah hujan salju tersebut, mereka menggunakan pakaian hangat versi masing-masing.


Mulai dari jalan masuk hingga setiap sudut bangunan sudah berdiri pengawal untuk berjaga. Karena Mark dan Luna akan mengikat janji suci pernikahan mereka secara tertutup sesuai dengan permintaan Luna. Hanya keluarga, kerabat dan teman dekat yang menyaksikannya.


Namun untuk resepsi yang di laksanakan pada hari ini juga, tentu saja di laksanakan dengan terbuka untuk para tamu undangan, dan acara resepsi nanti juga akan di tayangkan secara live oleh Cour Media.


Di kamar hotel, Mark berdiri menatap dirinya di depan cermin.


“ Bagaimana?” Mark merapikan kancing jas. Meminta pendapat Rangga dan Key. Kedua sahabatnya itu mendekat lalu mengusap bahu Mark.


“ Kau memang sangat tampan, sahabat kami yang paling tampan.” Puji Rangga seraya tersenyum.


“ Ayolah, apa kau merasa sangat gugup sekarang?” goda Key sambil merapikan dasi Mark.


Mark tersenyum, menatap kedua sahabatnya itu. “ Tiba saatnya, kalian juga akan merasakannya.”


Mark Rendra manusia dingin yang sudah terbiasa dengan ratusan camera yang memotret, orang yang selalu percaya diri di depan siapapun dan kondisi apapun. Bahkan berdri di depan ratusan lawan tak pernah membuatnya cemas. Tapi hari ini ada sedikit rasa gugup di hatinya, debar jantungnya tak beraturan.


“ Haha.. kau jangan mengejek, Rangga akan menyusul secepatnya.” Key tertawa terbahak menaggapi perkataan Mark, tapi dia malah menyeret Rangga dalam gurauannya di bandingkan mengatakan dirinya sendiri yang akan segera menyusul.


Rangga tidak terlalu menanggapi gurauan Key, dia hanya menunduk dengan senyum.


“ Sudahlah, sekarang waktunya kita pergi ke lokasi.” Berhenti sejenak menatap wajah Mark.


“ Mark..” Rangga menepuk bahu Mark, lalu Mark tersenyum serayakan menganggukkan kepala.


***


Di dalam semuanya sudah siap, keluarga, kerabat dan teman dekat sudah duduk di kursi. Sementara Mark berdiri di depan untuk menunggu Luna. senyum bahagia terukir di bibir masing-masaing, apalagi sang pengantin pria yang berdiri di depan.


‘ krack.’ Sebuah pintu terbuka.


Dari sana muncullah Luna dengan gaun berwarna putih yang kaya detail. Terbuat dari satin ivory dengan detail lace pada bagian lengan serta bentuk kerah v-neck. Luna semakin menawan dengan riasannya yang tipis, rambut dicepol berkepang di kedua sisi yang dilengkapi dengan veil di belajkangnya serta mengenakan tiara cartier yang di taburi lebih dari seribu berlian.


Sangat cantik dan anggun, dengan senyum mengembang seperti buket bunga mawar putih yang di pegangnya.


Luna mulai memasuki altar, berjalan dengan tenang menggandeng papanya tuan Aliester. Di belakang mereka di ikuti oleh mamanya dan Hanny. Senyum dan haru tergambar menjadi satu.


Tiga langkah berjalan, Jemari Luna mencengkram semakin erat tangan papanya, wajahnya terlihat tegang namun tetap berusaha tersenyum. Sangat sulit mengendalikan rasa gugupnya.

__ADS_1


Tuan Aliester mengusap tangan putrinya dan menatapnya dengan hangat agar putrinya lebih rilexs. Di wajah tuan Aliester tergambar rasa bahagia dan haru yang juga tidak bisa di sembunyikan karena hari ini putrinya akan menjadi tanggung jawab orang lain.


Semua yang menyaksikan memandang takjub Luna, di sana juga ada air mata haru dan senyum kebahagiaan menyaksikan pemandangan ini. Apa lagi bagi mereka yang mengetahui bagaimana kisah Mark dan Luna di mulai, kisah pahit, dingin dan diawali dengan niat buruk.


Namun hari ini 2 orang itu melangsungkan pernikahan, mengikat janji suci saling menjaga untuk selamanya. Sungguh seperti mimpi.


Di satu sisi terlihat Tuan Gu, Louis, Key dan Rangga menatap Luna dengan senyum haru yang sulit untuk di jelaskan. Karena merekalah orang yang tau persis kisah Mark dan Luna.


Di sana juga terlihat Jiang He dengan Nindy di sampingnya, senyumnya kecut namun dia beusaha untuk bisa senyum lebih tulus. Tentu saja dia begitu, tidak mudah untuk memalingkan perasaanya dari Luna yang sedari dulu memang selalu ia jaga.


Luna mengatur nafasnya dan menoleh ke depan, dimana Mark menyambutnya senyum yang hangat. Luna tersenyum dengan debar jantungnya yang juga berpacu semakin kencang.


Saat sampai di depan Luna dan papanya saling bertatapan, lalu papanya mengecup hangat kening Luna dengan menahan air matanya. setelah itu baru tuan Aliester menyatukan jemari Luna dan Mark, menyerahkan untuk segera mengucapkan janji suci.


Tuan Aliester, nyonya Aliester dan Hanny duduk di kursi depan bersama dengan Ibu Mark dan Tuan Gu. Bersiap menyaksikan ikrar janji Suci putri kesangangan mereka.


Archbishop mempersilahkan mereka untuk mengikrarkan janji suci mereka.


Mark dan Luna berdiri saling berhadapan, saling mentap penuh cinta dan ketegangan seolah telah hilang.


“ Saya Mark Rendra, membawa anda Luna Aliester untuk menjadi istri sah saya. Saya berjanji untuk mencintai, menghormati, menghibur dan melindungi anda, untuk lebih baik, lebih buruk, untuk kaya, untuk miskin, sakit, dan kesehatan. Semua hari-hari kehidupan kita, sampai kematian memisahkan kita.” Ucap Mark mantap.


“ Saya Luna Aliester, membawa anda Mark Rendra untuk menjadi suami sah saya. Saya berjanji untuk mencintai, menghormati, menghibur dan melindungi anda, untuk lebih baik, lebih buruk, untuk kaya, untuk miskin, sakit, dan kesehatan. Semua hari-hari kehidupan kita, sampai kematian memisahkan kita.” jawab Luna mantap.


Mark dan Luna memasangkan cincin pernikahan mereka di jari manis. Mark dan Luna memakai cincin pertunaganan dan pernikahan mereka di jari yang sama. Karena cincin safir yang di taburi berlian sebagai cincin pertunagan, memiliki ukuran yang tipis jika di tambah dengan cincin pernikahan emas wales murni dan langka 18 karat tidak masalah sama sekali. Malah telihat semakin menarik kedua cincin itu di sandingkan.


‘ prok prok ‘ semua orang berdiri dan tepuk tangan langsung pecah di dalam ruangan itu, rintik air mata jatuh di mata orang tua Luna, sahabat dan kaerabat yang hadir. Begitupun dengan ibu Mark, meski tidak di ketahui apa alasannya belum bisa menerima Luna, tapi dia terlihat menunduk dan mengusap air matanya.


“ Sekarang kalian sudah sah sebagai suami istri. Pengantin pria di perbolehkan mencium pengantin wanita.” Ucap Archbishop.


“ Cium, cium, cium.” Semua kerabat dan sahabat bersorak. Kata itu bergema dengan indah.


Luna menatap semua orang dengan senyum malu-malu, lalu terfokus pada papa dan mamanya, dia menatap seolah meminta izin. Dengan isyarat mata yang lembut dan senyum dibalut wajah haru dengan air mata yang masih mengalir papa dan mamanya menganggukkan kepala pada putrinya.


Luna kembali menatap Mark. Pria yang sekarang ini sudah resmi menjadi suaminya, menatapnya dengan senyum lembut. Mark memegang wajah Luna dengan lembut, lalu mendekatkan wajahnya hingga bibir keduanya bertemu, kecupan yang manis.


‘ prok prok’ tepuk tangan kembali bergema dalam ruangan itu.


“ Wah.. aku iri dengan mereka. Mereka sangat serasi, seperti pangeran dan putri kerajaan.” Ucap Nindy dengan nada manja penuh haru, hingga tanpa sadar dia menyandarkan kepalanya di tubuh Jiang He.


“ Iya iri. Tapi ini apa-apaan?.” Bisik hati Jiang He merasa ilfeel yang di balut dengan senyum canggungnya.


Mark mengakhiri ciumannya dengan lembut. Wajah mereka masih berdekatan, Mark mengusap bibir Luna dengan jemarinya.

__ADS_1


“ Istriku, Luna Aliester, suamimu Mark Rendra pasti akan memperlakukanmu dengan sangat baik. Terimasih karena telah menerimaku. Sekarang aku seutuhnya milikmu dan kamu seutuhnya milikku.” Bisik Mark dengan mesra.


Sungguh Luna tersipu malu mendengarnya. Dia tidak bisa berucap, dia hanya bisa melengkungkan senyumnya dengan rona pipinya yang semakin memerah.


Mark tersenyum, lalu dia mengandeng Luna untuk menuju pada ibunya yang di sana juga ada tuan Gu sebagai pengganti ayahnya, dan tentu saja kedua orang tua Luna juga. Luna dan Mark memeluk orang tua mereka, pelukan yang hangat dan juga penuh rasa haru hingga yang lainpun ikut meneteskan air mata haru mereka.


Ibu Mark menumpahkan air matanya dalam pelukan putranya, begitupun saat dia memeluk Luna juga terlihat hangat. Entah itu tulus atau emang karena kehebatannya dalam berakting, tapi sungguh jika itupun berakting, sudah cukup membuat Luna bahagia.


Tangis Luna semakin pecah saat memeluk sang mama, entah kenapa hingga dia tersedu-sedu.


“ Sayang jangan menangis lagi, ini adalah hari bahagiamu.” Nyonya mengusap air mata putrinya.


“ Iya. Mark Luna kemarilah.” Tuan Gu meminta untuk mendekatinya.


“ Hari masih panjang. Masih ada pesta yang menanti, tamu yang menunggu kedatangan kalian. Tersenyumlah.” tuan Gu berucap dengan senyum cerahnya sambil mengusap bahu Mark dan Luna.


Mark melihat Luna yang masih belum bisa mengontrol emosianalnya, dia menggenggam tangan Luna dengan lembut hingga Luna menoleh padanya.


“ Sayang ini hari bahagia kita, tersenyumlah.” Mark berusaha menenangkan sang istri. Luna tersenyum haru dengan air mata terus mengalir itu, lalu menganggukkan kepalanya.


Setelah semua urusan selesai di dalam, Mark dan Luna bersiap-siap keluar untuk menuju lokasi resepsi pesta pernikahan mereka. Mereka berjalan dengan tenang, di mana di belakang mereka di ikuti oleh orang tua, kerabat dan sahabat mereka.


‘ krack ‘ pintu terbuka dengan lebar.


“ Mereka keluar” sorak para wartawan yang menunggu di luara. Sontak saja camera para wartawan tersebut memotret mereka dari jarak yang cukup jauh itu. para wartawan tak bisa mendekat karena, sudah di halangi oleh para pengawal profesional.


Di depan sudah berderet puluhan mobil mewah untuk memboyong pasangan pengantin dan kerabatnya ke lokasi pesta. Para pengawal juga sudah membukakan pintu untuk mereka.


Mark dan Luna berjalan penuh senyum menuju mobil yang akan mereka gunakan menuju pesta mereka. Sebelum masuk ke mobil, Mark dan Luna berhenti sejenak, melontarkan senyum dan melambaikan tangan, agar para wartawan tetap bisa mengambil gambar dengan bagus.


Setelah merasa cukup meraka masuk ke mobil.


“ Aah hufft..” Luna mengambil nafas lega.


Mark tersenyum melihat Luna, dia menarik Luna agar bersandar di bahunya, lalu menggenggam tangan Luna. Tidak ada pembicaraan, mereka hanya diam, namun hati mereka sudah seperti taman bunga yang mekar. Sangat cerah dan penuh kenbahagiaan.


Bersambung...


.


.


Jangan lupa like dan komentnya ya readers, biar author semangat buat ceritanya.

__ADS_1


__ADS_2