
“ Hey yo, bukankah ini Luna Aliester?”
Luna dan Mark langsung menoleh ke sumber suara.
Ternyata itu adalah tante Xio dan sepupunya Camelia, sepertinya mereka baru datang.
Mareka melihati tangan Luna yang memegangi tangan Mark.
Luna sontak menarik tangannya, namun Mark menarik kembali dan menggenggam tangan Luna. Luna menatap Mark dengan senyum.
“Tante Xio, Camelia kebetulan sekali kita bertemu.” dengan senyum.
Tante Xio dan Camelia menatap Luna dengan penuh iri. Apa lagi Camelia dia menatap Mark seperti ada ketertarikan pada Mark.
“Luna kenapa kamu tidak mengundang tante di acara pertunangananmu?” dengan nada sangat lembut dan akrab.
“Iya Luna, apa kamu sudah melupakan lami. Kami adalah satu-satunya keluargamu.”
Mark memandangi wajah Luna, meskipun Luna tersenyum pada 2 orang itu tapi Mark mengerti bahwa Luna tidak menyukai tante dan sepupunya itu.
“Tuan muda Mark, Luna pasti tidak menceritakan tentang kami pada anda. Karena memang dari dulu Luna selalu tidak menyukai kami. Padahal kami selalu mendukungnya.” ucap tante Xio dengan aktingya seolah-olah ia merasa sangat sedih.
“Maaf tante soal itu bukan salah Luna. Pesta pertunanganan itu saya yang mengatur semuanya, jadi maaf karena saya melupakan tante.” jawab Mark.
Luna menatap Mark dengan tatapan tidak setuju dengan jawaban Mark. Tapi Mark memberikan Isyarat matanya agar Luna menurut saja.
“Cih sial, dia malah membela Luna.” gumam Camelia dengan tidak senang.
“ Oh haha.. tuan Mark tidak perlu minta maaf.”
Luna menarik tangannya dari genggaman Mark. “Tante kita tidak seakrab ini, jadi tolong jangan bertingkah seolah kalian peduli padaku.” dengan nada kesal.
Luna tidak tahan melihat tantenya dan cara pandang Camelia pada Mark yang sangat jelas berusaha mencari perhatian.
“Mama lihatlah dia, sampai sekarang dia masih membenci kita. Meskipun kita sudah baik padanya. Dia sangat tidak sopan.” ucap Camelia berusaha menyudutkan Luna di depan Mark.
“Luna kenapa kamu selalu kasar pada kami, huhuhu... Lihatlah tuan muda, dia sangat membenciku bahkan dia menggunakan kata yang tak sepantasnya berbicara denganku sebagai tantenya.” dengan acting yang makin menjadi-jadi.
“Mama aku sudah mengatakannya padamu, dia tidak peduli lagi pada kita. Tapi mama masih saja bersikeras.” sambil menopang mamanya.
Beberapa orang di restoranpun melihat ke arah mereka dan berbisik-bisik.
“Haha,, rasakan. Kami akan membuatmu kehilangan muka” bisih hati Camelia senang.
Luna semakin kesal melihat tingkah kedua orang itu, karena membuat orang lain salah paham padanya.
“Aishh.. aku benar-benar ingin mencakar-cakar kedua orang ini, agar dia tidak punya muka lagi untuk berpura-pura begini.” Gumam Luna.
Mark berdiri dan memengangi tangan Luna untuk berdiri bersama dengannya.
“Tante, anda jangan seperti ini. Itu hanya pesta pertunanganan, di pesta penikahan kami aku pasti mengundang tante. Sebagai permintaan maafku dan Luna, maka aku akan mengundang tante sekeluarga secara khusus untuk makan malam. Untuk lebih lanjutnya, orangku akan mengabari tante nanti.”
Luna terkejut mendengar ucapan Mark, dia langsung memberikan ekspressi tidak senang.
Tante Xio dan Camelia saling bertatapan. Mereka merasa rencanaya berhasil untuk mengambil perhatian Mark. Mereka merasa sangat senang mendengar perkataan Mark.
“Huhu.. anda sangat bijaksana tuan muda.” jawab tante Xio.
“Baiklah, sekarang kami harus kembali ke kantor. Saya harap tante bisa menikmati makan siang tante.”
Mark pun berjalan dengan menggenggam tangan Luna.
“ Mark kau percaya dengan ucapan 2 orang itu.” bisik hati Luna sambil menatap wajah Mark yang terlihat dingin.
***
Mark dan Luna sudah dalam perjalanan kembali ke kantornya.
Suasana di mobil sangat hening, wajah Luna terlihat sangat kesal. Dia sama sekali tak bicara sepatah katapun pada Mark.
“Luna apa kau marah padaku?”
Luna diam saja.
“Luna bicaralah!” dengan lembut.
“Aku tidak marah. Kau berhak dengan penilaianmu sendiri.”
“Apa yang kau pikirkan Luna?” sambil menggelengkan kepalanya.
“Ka..”
Tiba-tiba Mark memberikan isyarat untuk diam pada Luna, dan mengaktifkan earpodsnya.
Luna semakin kesal dengan sikap Mark yang seenaknya saja. Dia langsung mengarahkan pandangannya keluar.
“Bereskan urusan di restoran S, jangan sampai ada permbicaraan buruk tentang nona yang beredar dan berikan undangan makan malam pada keuarga Xio.” perintah Mark pada orang tersebut.
Mendengar perkataan Mark Luna terkejut dan langsung menatap Mark kembali. Mark juga melihat Luna dan melemparkan senyumnya.
“Mark jadi kau seperti itu untuk melindungiku?”
“Ya.”
“Kau sungguh tidak percaya dengan ucapan tante dan sepupuku tadi?”
“Luna aku bukan orang bodoh. Untuk apa aku percaya pada mereka dengan acting yang sangat jelek itu. Aku tidak akan membiarkan mereka menyudutkanmu.”
“Tapi kenapa kau mesti mengundang mereka untuk makan malam?, aku benar-benar membenci mereka. Mereka selalu meremahkanku. Hari ini mereka tiba-tiba bersikap begitu, pasti mereka sudah merencanakan sesuatu. Mungkin mereka tertarik padamu.”
“Oleh karena itulah aku mengundangnya. itu untuk membalas kembali mereka.”
“Apa? berbicaralah lebih jelas.”
“Luna, menghadapi orang seperti itu kau memerlukan taktik. Kau jangan langsung menyerangnya. Mereka sangat licik, bisa saja membalikkan keadaan bila kau menyerangnya secara langsung. Seperti tadi, mereka memanfaatkan situasi agar orang bergosip yang tidak tidak tentangmu.”
__ADS_1
“Mark aku masih belum mengerti dengan ucapanmu.” dengan sangat kesal.
“Aku akan membantumu menghukum mereka. Aku akan membuat mereka sadar bahwa kau bukanlah tandingannya.”
Luna merebahkan kepalanya ke samping.
“Mark aku tak pernah belajar sastra, jadi aku tidak mengerti dengan ucapanmu yang berbelit itu.” dengan loyo.
Mark tersenyum melihat tingkah Luna.
Beberapa menit kemudian Luna dan Mark sudah sampai di kantornya.
Mark dan Luna memasuki Lift khusus presdir.
“Mark kenapa Rangga tidak bersamamu?”
“Karena aku menyuruhnya menyelesaikan beberapa urusan di luar.”
“Apa aku boleh menanyakan sesuatu?”
“Boleh.”
“Hubunganmu dengan Rangga tidak hanya sekedar atasan dan bawahankan?” sambil menatap Mark yang di sampingnya.
Mark tersenyum “Tentu saja bukan, dia adalah sahabatku. Aku, Rangga dan Key sudah berteman cukup lama. Hubungan kami sudah seperti keluarga sendiri. Kami saling menguatkan satu sama lain.”
“Memang sangat menyenangkan mempunyai sahabat.” jawab Luna.
“ Tapi sayangnya, sahabatku sekarang teralu sibuk, hingga tak punya waktu untuk bertemu. Huh, ini pertama kalinya aku iri pada seseorang. Aku iri pada hubungan 3 orang pria ini. Meskipun mereka mempunyai kesibukan masing-masing, tapi mereka selalu punya waktu untuk bertemu. Bahkan bisa saling mendukung dalam kesibukan mereka tersebut**.” bisik hati Luna.
‘ ting’ pintu lift terbuka dan mereka langsung pergi ke ruangan.
Di ruangan Luna langsung melanjutkan pekerjaannya yang tertunda, dia mengerjakan berbagai dokumen itu dengan serius.
Sebenarnya Mark tidak ada hal yang dia kerjakan lagi mengenai urusan kantor. Karena semuanya berkas sudah dia tandatangani dan juga semua berkas tersebut sudah dia ambil oleh sekretarisnya.
Mejanya bersih tanpa dokumen, yang ada dia hanya mengotak atik laptopnya, sesekali Mark melirik Luna yang sedang serius itu.
***
Jam sudah menunjukkan pukul setengah 5 sore. Luna merapikan semua berkas-berkasnya, dia menyusunnya menjadi satu tumpukan dan membawanya ke meja Mark.
“Presdir saya sudah memeriksa dan mengerjakan semua berkas ini. Sekarang saya membutuhkan tanda tangan presdir.” sambil meletakkan di meja Mark.
Luna menahan tawanya setelah berbicara formal pada Mark.
“Tertawa saja, jangan menahannya.” ucap Mark.
Lua terkejut, ternyata Mark mengetahui bahwa dia sedang menahan tawa.
“Hehe,” Luna tetawa canggung.
“Tapi aku tidak bisa menandatanganinya sekarang, karena ini sduah waktunya pulang.”
“Eh, Mark tidak bisakah kau tanda tangani saja sebentar” pinta Luna dengan memohon.
“Aku ini atasanmu, kenapa bisa bawahan memaksa atasannya untuk lembur.”
“Ini hanya beberapa dokumen, tidak akan menghabiskan waktu setengah jam. Itu tidak terhitung lemburkan?” balas Luna dengan kesal.
“Kau kenapa ingin aku menandatanganinya sekarang, besok pagi juga bisa.”
“Aku berencana besok langsung pergi ke lokasi.” jawab Luna dengan cemberut.
“Ya sudah , kalau begitu berkas-beras ini bawa saja pulang. Aku akan mengerjakannya di rumah.”
“Terimakasih, kamu memang presdir paling pengertian terhadap bawahannya.”
Luna langsung melemparkan senyum penuh terimakasihnya pada Mark.
Luna pun langsung mengambil kembali berkas-berkas itu.
“Ayo kita pulang.” dengan semangat.
Mark mendekati Luna dan mengambil setumpuk berkas itu di pegangan Luna.
“ Eh, “ Luna terkejut.
“Biar aku yang membawanya.”
“Tapi bukankah itu keterlaluan, jika orang lain melihatmu membawa begitu banyak berkas ini. Mereka akan bergosip Seorang Asisten Menyiksa Atasannya dengan Setumpuh Dokumen” dengan ekspresi was was.
“Apa kau bodoh, jika aku membiarkanmu yang membawa ini. Maka aka nada Gossip Presdir Mark Rendra Menyiksa Tunangannya dengan Setumpuk Dokumen.” balas Mark dengan gurauannya.
“Aahh.. Mark kau jangan bercanda. Aku serius.”
“ Ahahaha.. aku juga serius. Sekarang kemasi tasmu. Ayo pulang.”
Luna hanya bisa patuh pada Mark.
***
\= Di kediaman Key \=
Rangga dan Key sedang berbincang-bincang diruang kerja Key.
Tiba-tiba pintu terbuka.
‘ krak’
__ADS_1
Ternyata yang datang adalah Mark.
“ Maaf membuat kalian menunggu.”
“ Tidak apa-apa. Tapi hal apakah yang membuatmu lama?” tanya Key.
Mark duduk di sofa, “ Itu gara-gara Luna. Dia terus memaksaku untuk menandatangni berkas-berkas yang dia butuhkan.” keluh Mark.
“ Ah haha.m lihatlah bahkan seorang presdir lembur karena bawahannya.” ejek Rangga.
“ Itu tidak dikantor. Aku menyuruhnya membawa berkas-berkas itu pulang dan akan aku kerjakan di rumah. Tapi ketika dia tahu aku akan keluar dia menahanku dan tidak memberiku jalan untuk keluar. Dia bertingkah seperti satpam di depan pintu kamarku. Aku sudah bilang, aku akan pulang dan akan ku kerjakan setelahnya. Tapi dia tidak percaya dan terus memaksaku untuk segera menandatanganinya. Yah.. dari pada terus berdebat dengannya, aku terpaksa menandatangani.”
“ Haha.. akhirnya ada orang yang bisa memerintahmu.” balas Key.
Rangga dan Key mentertawai Mark. Tapi Mark hanya masa bodoh saja, kali ini dia tidak terpancing, sehingga Key dan Rangga merasa garing dan langsung berhenti tertawa.
“Sudah tertawanyanya?” tanya Mark dengan tatapan dingin.
“Huh, tidak asyik.” ucap Key dan Rangga kecewa.
“Sekarang ayo fokus, Rangga mana berkas-berkas dari tuan Jors?”
“Oh ini.” sambil menyerahkan.
Mark lansung membuka berkas-berkas itu dan melihatnya dengan hati-hati.
“Hah, tidak di sangka. Perusahaan ayah yang begitu besar dan rerjaya, sekarang ada masalah seperti ini. Hal bodoh apa yang di lakukan pamanku sehingga dia bisa kehilangan 8% sahamnya?”
“Aku dengar dia ikut judi tapi dia tidak pandai bermain, dia hanya menyombongkan hartanya yang tiada habisnya. Karena itulah dia bisa kehilangan sahamnya besar dalam tahun ini.”
Markpun melanjutkan untuk melihat berkas lainnya.
“Aku mendapatkan informasi bahwa bulan mereka akan mengadakan rapat pemegang saham.”
“ Baiklah, saat itu kita mulai bertindak.”
“Mark lawanmu tidak hanya paman keduamu, Roland juga akan menjadi lawanmu. Apa kau tak apa?” tanya Rangga memastikan.
“Itu bukan masalah.”
“Apa kau yakin?” tanya Key.
“Di sini targetku adalah paman kedua. Jadi bagaimanapun caranya, Roland tidak akan bisa di hindari. Lagian dia hanya akan merasakan sebagian dari sakit yang ku terima saja, jadi tidak masalah.”
Mereka membahas satu persatu mengenai senjata yang mereka miliki. Kemudian membuat strategi penyerangannya.
Malam itu sangat panjang, mereka mendiskudikan berbagai hal. Hingga mereka lupa waktu.
Jam menunjukkan pukul 4 pagi hari, mereka baru saja mengakhiri diskusinya.
“Kalian menginap di sini saja.” tawar Key.
“Aku tidak bisa. Tapi Rangga mungkin bisa.” jawab mark sambil berdiri.
“Baiklah. sepertinya kau memang sangat sibuk. Tapi tetaplah istirahatkan tubuhmu. Kau mungkin marasa kuat, tapi fisikmu juga membutuhkan istirahat yang cukup.” nasehat Key.
“Kau jangan cerewat.” sambil berjalan keluar.
key dan Rangga pergi keluar untuk mengantarkan Mark ke mobilnya.
***
\= esok pagi \=
Luna sudah menghabiskan sarapannya, dia menatap Mark yang masih dengan tenang menikmati sarapannya.
“Mark, aku berangkat duluann ya. Lagian kita juga ke arah yang berbeda.”
“Siapa bilang kita ke arah yang berbeda.”
“Eh bukannya kau ke kantor?, sementara aku pagi ini akan pergi mengecek lokasi pembangunan.”
“Aku ikut denganmu.” sambil mengakhiri sarapannya dan mengusap tisu di bibirnya.
Luna terkejut “Tidak bisa, kau itu seorang presdir. Sudah seharunya ke kantor saja. Pasti banyak karyawan yang membutuhkan tandatanganmu.”
“Tandatangan, aku bisa lukan kapan saja. Kenapa kau sepertinya tidak menginginkan aku pergi? Apa kau merasa waktu berduanmu dengan Alexs akan terganggu?"
“ Hah, kau ini apa-apaan. Aku tidak punya hubungan apa-apa dengannya.” tegas Luna.
“Jika tidak ada hubungan apa-apa. Maka kau tidak perlu melarangku untuk pergi. Aku ini presdir dalam proyek ini, juga sudah menjadi kewajibanku untuk mengunjungi lokasi.”
Luna mengusap keningnya.
“ Baiklah, kalau begitu kita langsung berangkat saja.” sambil berdiri.
“Baiklah.”
mereka akhirnya pergi ke lokasi pembangunan Pusat pembelanjaan Ling.
***
\= Di Bandara Internasional Beijng \=
Sebuah pesawat pribadi sedang mendarat. Saat pesawat itu sudah menyentuh aspal, beberapa orang bodyguard berbaris dengan rapi untuk menyambut orang yang akan turun dari pesawat itu.
Pintu pesawat terbuka, maka muncullah seoarang pria dengan kacamata gelap, jam bermerek, rambut yang rapi, stelan yang sangat rapi di tambah dengan long Coat yang membuat penampilannya semakin fashionable.
Dia mulai menuruni tangga dan di belakangnya juga diikuti oleh 2 orang bodyguard.
Dia melangkah menuruni tangga dengan gagahnya.
“Luna aku datang, sekarang saatnya aku melindungimu.” ucap pria itu sambil membuka kaca matanya.
Dan pria itu ternyata adalah Jiang He.
__ADS_1