TUAN MUDA AKU BENCI KAMU

TUAN MUDA AKU BENCI KAMU
S2 TMABK


__ADS_3

Mark dan James Lu sudah berada di ruangan rawatan VVIP itu. Masih suara detik dari AED ( Automated External Devibrillator) yang terdengar di sana, sementara penghuni ranjang  masih belum sadarkan diri.


James Lu menoleh pada Mark sebagai tanda meminta izin. Mark mengangguk. Setelahnya James Lu langsung maju lebih dekat pada ranjang Luna.


“Hai Luna.” tangannnya di lambaikan seolah Luna dapat melihat kehadirannya. James Lu tersenyum kecut, matanya berkaca-kaca. Gadis ceria dan energik ini hanya diam dan kaku dihadapannya sekarang. Tanpa sadar air mata menetes. Pertama kali dia menangis untuk seorang wanita selain ibunya.


Air mata di usap, “Luna aku datang. Aku James Lu yang kau gelar pria 1to3.” James tertawa sambil mengingat gelaran ini pertama kali Luna tuturkan padanya. Gelaran itu dia dapat saat pertemuan kali keduanya dengan Luna. Ah, gadis itu menghitung dengan baik waktu kemunculan dirinya. 


“Aku suka dengan gelaran itu. Tapi lihatlah, sekarang kau harus menggantinya sekarang. Aku muncul lagi ditahun yang sama di hadapamu. Ini adalah penghargaan untukmu, untuk itu segeralah bangun. Kau harus berfikir keras sekarang, beri aku gelar yang lebih estetik, okey?” 


James berdehem. Entah kenapa pembicaraannya serasa awkward. Dia melirik Mark yang berdiri di belakangnya. Malu juga. Dia memang bukan jenis pria yang pandai berkata-kata.


Sejambang bunga mawar di tangan dia taruh di nakas dengan geragakan yang agak kaku.


Mark yang sedari tadi memperhatikan tersenyum tipis. Dia tahu James Lu pasti tidak nyaman dan kurang leluasa karena keberadaannya di sini.


“James, aku keluar. Berbicaralah dengan nyaman dengan istriku.” 


“Hah?” James Lu seolah keliru dengan kalimat Mark.


Mark tersengih, “Aku keluar.” 


“Kamu serius? Kamu percaya padaku?” gaya seolah siap menjadi orang ketiga.


“Istriku tidak akan tertarik padamu. Cintanya hanya untuk aku seorang.” Mark mengembangkan senyum penuh percaya diri, berbumbu angkuh dan pamer itu.


“Okey dokey. Now..”


Belum selesai James Lu berucap, Mark lebih dulu keluar. 


James Lu ketab gigi. Dia tertawa sambil menahan kesal, “Okey Mark Rendra! You win. Okey.” ucapnya dengan kepala di angguk-anggukkan. Dia juga mengepal tangan dan mangayun tinju di udara saking kesalnya.


But, napas kembali diatur.  James Lu kembali menghadap ke arah Luna. Dia  kembali tersenyum.


“Luna, kamu memang sangat pandai memilih suami. Dia selalu membuatku kesal, sama sepertimu."


Diam! James Lu dia untuk sesaat menatap Luna yang tiada reaksi itu.


"Luna, aku mengenalmu dan aku tahu kamu akan melawan semua ini. Bagun dan segera jadi dirimu yang luar biasa my… princess.”


***


Mark melangkah masuk ke dalam ruangan anaknya di tempatkan. Dia mengembang senyum melihat anak pertamanya itu. Bayi mungil itu sedikit bergerak seakan sadar orang tuanya ada di situ. Tangan Mark menempel di kaca incubator. 


Wajah si bayi mungil terlihat tenang. Hidung, mata, alis, bibir dan bulu mata itu benar-benar indah. Hasil mix antara dia dan istri benar-benar padu. 


Mark memejamkan mata perlahan. Ingatan berputar kembali di saat usia kandungan Luna masih satu bulan.


“Sayang.” Luna menoleh pada suaminya itu. Mark tengah membelai rambutnya.

__ADS_1


“Iya sayang.” Mark pun menoleh. Anak mata Luan ditatap lembut.


“Kamu sudah ada nama tidak untuk anak kita?”


“Humm.. tentu saja sudah.” Hidung istrinya di cubit, “Memangnya kenapa? kamu juga sudah ada?” 


“Ada, tapi kalo kamu sudah ada, aku ikut kamu saja.” 


Mark tertawa mendengar suara Luna yang pasrah tapi ada nada merajuk. Pinggang istrinya itu di tarik lebih dekat dalam pelukannya. Perut istrinya yang masih kempes itu juga di usap.


“Begini saja, kalau anak kita perempuan aku yang kasih nama. Kalau anak kita lak-laki kamu yang kasih nama. Bagaimana?” 


Luna merenggang dekapan untuk bisa melihat wajah suaminya.


“Kamu serius?”


Lembut mark mengangguk, “Iya sayang.”


“Kalau begitu kamu mau beri nama apa untuk anak perempuan kita?” tanya Luna.


“Bao-yu Aliester.” 


Luna terdiam sejenak. Bao-yu, yang bermakna permata yang berharga.


“Aku suka nama itu.” wajah suaminya ditatap dalam penuh cinta. Entah kenapa emosionalnya tersentuh dengan nama yang telah disiapkan sang suami.


“Allard Rendra. Putraku pasti akan seperti Papanya kan?”


Mark mengangguk. Lalu ubun-ubuk istrinya itu di kecup.


Mark menatap anaknya dengan mata yang berkaca-kaca. 


“Allard Rendra, itulah nama yang Mama berikan untukmu putraku.” tutrbya dengan bibir yang bergetar. Hatinya sungguh sendu melihat kedua orang kesanyanganya masih terkapar lemah.


Terdengar saja pintu ruangan dibuka dari luar. Cepat Mark mengusap air matanya. 


“Mark.”


Mark menoleh perlahan pada pemilik suara yang memanggilnya itu. Tuan dan Nyonya Aliester. Kedua mertuanya itu menghampirinya.


“Kamu sudah makan?” tanya Nyonya Aliester lembut.


Mark hanya menggeleng perlahan. Tidak berselera. Semenjak kejadian itu Mark sudah tidak bernafsu untuk makan apapun. Dia hanya sibuk menunggu di ruangan Luna dan Putranya berganti-gantian. Berharap istri dan anaknya cepat membaik.


“Mark, Please.. jangan seperti ini. Luna kalau tahu kamu seperti ini, dia pasti sedih. Kamu juga harus tetap menjaga kesehatan. Kamu harus kuat. Kamu juga harus istrihat.” Nyonya Aliester membcoba membujuk. Sangat kasihan pada menantunya itu.


“Tapi Ma, aku harus menjaga istri dan putraku. Mereka berdua membutuhkan aku. Aku tidak mau ketika Luna nanti sadar, aku tidak ada di sisinya.”


Tuan Aliester menggeleng melihat menantunya itu. Dia tahu Mark sangat mencintai putri dan cucunya itu. Terlalu cinta. Tapi bukan begini juga caranya.

__ADS_1


“Mark.” giliran Tuan Aliester yang berbicara dengan suara tegasnya.


Mark terdiam menatap Papa mertuanya itu. 


“Pergi makan dan istrihat.” Arahnya tegas.


Mark terpaksa akur. Perlahan dia menganggukkan kepala bersamaan dengan bulir jernih yang jatuh di sudut matanya.


***


“Mark.” 


Langkah kaki Mark terhenti. Dia menjungkit kening melihat sosok yang sedang berjalan ke arahnya sekarang.


“Camelia? kenapa kamu di sini?” Tanya Mark. Sudah cukup lama dia tidak melihat gadis ini. Bukannya dia tidak tahu jika Camelia kerap kali ingin mendekati dan menjebaknya. Namun dalam bulan ini Mark tidak lagi melihat pergerakan gadis itu. Sudah menyerahkah? Entahlah, Mark berharap demikian. 


“Aku mau menjenguk Luna.” sejambang buket bunga dan keranjang buah dia tunjukkan pada Mark. Semberingah saja senyumnya ketika itu, “Kenapa? memangnya tidak boleh?” tanyanya lagi ketika melihat Mark tidak menunjukkan reaksi.


“Bukannya tidak boleh. Sekarang Papa, Mama Luna ada di sini dan Luna juga sedang ada tamu diruangannya. Tidak baik terlalu ramai-ramai di ruangan pasien.”


“Aku bisa menunggu. Bagaimanapun Luna adalah sepupuku. Masih lingkup keluargaku juga.”


Mark tarik senyum segaris, “Baiklah jika begitu. Silahkan menunggu, aku pergi dulu.” Ujarnya seraya membawa langkah beranjak dari situ.


Camelia tersenyum menatap punggung Mark yang menjauh, kemudian dia juga beranjak dari situ.


***


Tuan Aliester membuka pintu rawatan tempat Luna di tempatkan. Setelah melihat cucunya, sekarang putrinya pula yang dikunjungi. Hanya seorang diri karena istrinya dan Camelia menjaga si bayi mungil.


Tuan Aliester menoleh pada bunga yang terdapat di nakas. Ya, Mark tadi ada bilang padanya jika James Lu datang. Tuan Aliester juga sengaja datang ke sini setelah James Lu itu pergi, karena dia tidak ingin membuat James Lu terkejut akan kemunculannya yang tiba-tiba. Dia menghrgai privasi James Lu, karena mereka juga belum pernah bertemu. Tuan Aliester tahu tentang James Lu juga hanya dari Mark.


Perlahan tuan Aliester membawa langkah mendekati ranjang Luna.


“Luna, kesayangan Papa.. bangunlah, cepat bangun sayang. Semua orang menunggumu putriku. Papa, Mama, Mark suamimu, terutama putramu. Bayi mungilmu pasti merindukan belaian dari ibunya. Bangunlah sayang.” Tuan Aliester memandang sayu pada Luna yang terbaring lemah itu.


Dia sangat berharap putrinya itu segera sadar, walaupun sejauh ini kondisi putrinya itu masih saja stagnan belum ada menunjukkan perubahan yang positif.


Air mata sudah bertakung di belopak matanya. Siapa yang sampai hati melihat anaknya terbaring lemah dengan alat medis yang melekat ditubuh.


Tiba-tiba vital machine yang berada di sebelah Luna berbunyi nyaring, sebagai tanda adanya perubahan mendadak dalam bacaan vital sign itu.


“Luna, Luna sayang.” 


Tuan Aliester panic dan segera berlari keluar memanggil dokter.


“Dokter…”


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2