
Di depan pintu privateroom sebuah restoran tampak di jaga dengan ketat, ada beberapa pengawal yang berjaga di sana. tampak Mark dan Rangga berjalan mendekati ruangan tesebut.
Saat mereka sampai, langsung saja salah satu pengawal itu menggeledah keduanya sebelum masuk. Rangga tampak tidak senang saat melihat mereka menggeledah Mark berlebihan.
“ Hei, apa yang kalian lakukan?” suara Rangga terdengar marah. Sangat lancang sekali pengawal itu hingga menyuruh Mark untuk melepaskan jam tangan yang entah kenapa mencurigakan menurut mereka. Mata Rangga menatap tajam pengawal tersebut.
“ Tidak apa-apa. Mereka hanya memastikan.” Ucap Mark seraya mengangkat tangannya.
Rangga menganggukkan kepalanya, mengerti dengan apa yang di maksud Mark. Tapi dia tetap menatap tajam pengawal tersebut.
“ Kalian jangan melewati batas, kami bukan orang rendahan yang menggunakan trik licik ketika berurusan dengan tuan kalian.” tegas Rangga.
“ Maaf, jika ini menyinggung tuan. Tapi ini memang selalu di lakuan.” Jelas pengawal itu.
Pengawal tersebut memberikan jam tangan Mark pada temannya, menyuruh untuk memeriksanya. Rangga mendengus kesal melihat itu.
“ Sekarang tuan silahkan masuk, jam anda akan kami kembalikan nanti.” pengawal berucap dengan gerak tangannya mempersilahkan masuk. Sementara 2 pengawal di pintu dengan segera membukakan pintu.
Pintu terbuka lebar, pengawal berdiri dengan tegap mempersilahkan. Mark segera masuk dan di susul Rangga di belakangnya. Di dalam ruangan tersebut, Mark dan Rangga juga di sambut oleh beberapa orang wanita dengan stelan rapi.
“ Silahkan tuan.” Ucap wanita itu dengan hormat dan gerak tangannya mengarahkan pada sebuah ruangan yang di batasi dengan kaca transparan. Di sana terlihat punggung seorang pria yang sedang menanti mereka dan di sampingnya ada pria tegap dan kekar. Mungkin itu orang kepercayaannya. Tanpa berlama-lama lagi Mark dan Rangga segera memasuki ruangan tersebut.
Ketika Mark dan Ragga masuk, tampak pria tegap itu berbicara menbisikkan kedatangan mereka.
Pria di sofa berdiri dan berbalik badan.
“ Selamat datang tuan muda Mark Rendra.” Sambutnya.
Ternyata pria itu adalah pangeran Tris, dia tampak tersenyum dan di tangannya memegangi gelas yang berisikan cocktail.
“ Tidak disangka seorang pangeran menyambutku dengan begitu hangat.” Mark terlihat tersenyum tipis dengan ucapannya.
“ Hahaha.. aku memang harus memperlakun dengan baik seorang pebisnis global. Mari silahkan duduk."
Mark dan Rangga langsung duduk di sofa berhadapan dengan pangeran Tris. Ini adalah pertemuan kali ketiga antara Mark dan pangeran Tris, setelah pertemuan pertama kedua mereka saat perjamuan akhir tahun di kerajaan.
__ADS_1
“ Maaf, karena telah mengganggu. Pangeran Tris pasti sangat sibuk.” Mark bicara dengan santai.
“ Tidak masalah. Lagian aku saat ini aku sedang bersantai. Aku sangat beruntung bisa melewati waktu santaiku dengan Tuan muda Mark Rendra.”
Nada bicara 2 pria itu seperti ada sesuatu di baliknya. Bicara formal, tapi seolah sindiran dengan nama besar masing-masing.
“ Hal apakah yang ingin Tuan muda bicarakan padaku? sepertinya sangat penting sekali.” tanyanya pangeran Tris di sela di menaruh gelasnya di meja. Sementara, orang kepercayaanya menuangkan cocktail untuk Mark dan Rangga, serta mengisi kembali gelas pengeran Tris.
“ Pangeran Tris ternyata orang yang tidak suka bertele-tele. Baiklah, jika begitu aku tidak akan sungkan.”
Rangga langsung mengeluarkan sebuah dokumen dan memberikannya pada Mark.
“ Aku ingin menayai pangeran mengenai perihal ini.” Mark menaruh dokumen itu di meja dan mendorongkan pada pangeran Tris. Tatapan mata Mark tidak bisa di baca, entah apa isi dokumen itu.
Mata Mark dan Tris saling beradu, tatapan sama tajamnya, lalu mereka saling tersenyum penuh makna.
“ Dokumen apa yang membuat tuan muda Mark Rendra ingin menemuiku? Aku sungguh sangat penasaran.” Sambil melirik dokumen di meja. Pangeran Tris tampak mendengus dengan sudut bibir atasnya yang terangkat.
Orang kepercayaan pangeran Tris bergerak mengambil berkas itu, mewakilkan pangeran untuk membukanya, karena memang seperti itulah dia bekerja biasanya. Tapi kali ini berbeda, pangeran Tris langsung menyuruhnya berhenti saat orang kepercayaannya itu baru akan menunduk untuk mengambil dokumen.
“ Biar aku saja. Keluarlah!” titahnya.
“ Mark kita minum dulu, sebelum membicarakan hal yang serius.” Ajak pangeran Tris sambil meraih gelasnya.
“ Maaf sekali pangeran Tris, kami tidak boleh minum. Karena setelah ini kami masih harus mengurus hal penting lainnya.” Tolak Mark. Sangat jelas, Mark telihat juga tidak ingin bertele-tele.
Pangeran Tris tersenyum, dia meletakkan gelasnya kembali. Lalu meraih dokumen di atas meja. Tanpa basa-basi lagi pengeran Tris membuka dokumen itu.
Saat melihat isi dokumen, pangeran Tris langsung menatap Mark dengan mengerutkan keningnya. Sementara Mark tersenyum sinis dengan menarik salah satu sudut bibirnya. Tatapan kedua pria itu kembali menajam seolah ada sengatan listrik dari keduannya.
***
Shanghai, China.
“ Hiks hiks,” tangisan Nindy menderu dengan langkah kakinya yang cepat keluar dari sebuah café. Dia tampak rapuh dengan menutupi mulutnya dengan satu tangan.
__ADS_1
Saat sampai di luar café, Nindy berhenti sejenak, memandang kembali kedalam café. Air matanya megalir deras, dia juga menggigit bibirnya kelu.
“ Dasar pria bajing*an.” Teriak lirih hatinya yang tergambar dengan raut kesedihan yang mendalam.
Peristiwa di dalam café menghancurkan seluruh hatinya. Pasalnya, hari ini dia pergi ke Shanghai menyusul sang kekasih untuk memberikan kejutan annyversery mereka. Nindy sudah menyiapkan kue dan pesta kejutan di café itu, karena di café itu tempat pertama kali mereka bertemu.
Sungguh malang nasibnya. Berharap hari special ini akan menjadi sangat membahagiakan dengan kejutan yang telah di siapkannya, namun hatinya malah di patahkan dengan penampakan sang kekasih dengan wanita lain. Dan lebih parahnya sang kekasih juga tampak merayakan anniversary dengan wanita itu, memesan kursi yang bersebelahan dengan kursi yang di pesan oleh Nindy.
Di saat kejadian dramatis itu, Nindy menatapnya tak percaya. Namun sang kekasih tidak menyadari keberadaannya karena sibuk dengan kemesraannya bersama wanita di sampingnya. Tidak jelas di sini, entah siapa yang di yang menjadi selingkuhan, dia atau wanita itu. Apalagi annyversarypun sama.
Haha.. ini sungguh gila. Membuat Nindy frustasi, oleh karena itu dia langsung keluar, dimana sang kekasih tidak menyadari keberadaannya. Hanya dia seorang yang merasakan sakit yang teramat sangat ini.
Nindy tersedu, dia memeluk tas di dadanya, lalu berjalan memasuki keramain di streetscape. Cuaca dingin dan hembusan angin lembut di penghujung musim dingin seolah mendukung kebekuan hatinya yang bersedih.
Orang-orang memakai baju hangat dan para pasangan saling bergandengan tangan memenuhi streetscape yang di lewati oleh Nindy.
Nindy berjalan dengan hanya memandang kebawah, menatapi susunan beton yang dia pijaki. Dia tampak menggumam-gumam bibirnya, menahan suara tangis. Cukup air matanya saja yang mengalir deras.
Seolah sangat mengerti perasaannya, rintik hujanpun turun, dari ukuran kecil hingga rintik itu semakin deras. Orang tampak berlarian untuk mencari perlindungan, tapi tidak dengan Nindy.
‘ brack.’ Seseorang menabrak Nindy, tapi Nindy tidak menghiraukan. Dia malah mengambil arah lain dan lanjut berjalan tanpa menoleh.
“ Hiks hiks..” tangisnya pecah, pelan-pelan suara tangisnya keluar. Sungguh sulit menahan sesak di dadanya. Di tengah keramaian itu Nindy langsung berjongkok dan menangis dan pilunya.
“ Ini sungguh menyesakkan.” Teriaknya di susul tangis histerisnya di tengah hujan itu.
Namun tiba-tiba seseorang memayungi Nindy, melindungi gadis malang itu dari jamahan hujan yang semakin ganas.
Nindy terkejut hingga menahan tangisnya berubah sesegukan, karena merasa hujan tak lagi menimpanya. Lalu dia mengangkat kepalanya, mendongak untuk melihat siapa yang orang yang memayunginya.
“ Ka..” kalimatnya tertahan. Nindy tampak membulatkan matanya yang membengkak yang masih penuh air mata.
.
.
__ADS_1
**Bersambung…
Jangan lupa like & koment**.