TUAN MUDA AKU BENCI KAMU

TUAN MUDA AKU BENCI KAMU
S2 PELUK TERUS


__ADS_3

Luna memasuki kamarnya. Melepas sepatu dan menggantinya dengan sandal yang tersedia di sana.


Luna segera menghubungi Rangga. Duduk di sofa dan menaruh ponsel di meja untuk mencepol rambutnya sejenak. Entah kenapa dia tiba-tiba merasa gerah.


Satu panggilan Luna tidak di jawab oleh Rangga.


“Apa dia langsung istirahat?”


Otak-atik ponsel, dan melakukan panggilan kedua. Cukup lama, Rangga tidak juga mengangkat panggilannya. Gurat gelisah di wajah Luna, dia bahkan menggigit jempolnya.


‘brugh’ Luna menjatuhkan dirinya di sandaran sofa. Matanya menarawang menatap langit-langit kamar. Teringat kembali sifat suaminya yang tiba-tiba pendiam serta interaksi para pria yang terasa berbeda saat dia dan yang lainnya pulang dari jalan-jalan.


“Apa mereka membahas sesuatu saat kami keluar? apa yang meraka bahas?"


‘Drrt drrrt’ pikir Luna langsung buyar mendengar ponselnya yang bergetar. Dia bangkit dan mengambil ponselnya. Senyum tipis karena Rangga yang menelepon. Cepat dia menjawabnya.


“Halo Luna. Maaf tadi aku sedang memasak.” Rangga dari kamarnya menuju dapur. Duduk di meja makan dengan semangkuk mie yang sudah matang di depannya.


“Hmm, aku hanya ingin menanyaimu sesuatu. Tapi sepertinya kau sibuk.” gurat kecewa di wajahnya. “Jika begitu, nanti saja.”


Rangga mengerutkan keningnya. “Sekarang sudah tidak.” Jawabnya cepat. Penasaran dengan apa yang ingin di tanyai Luna padanya. “Aku sudah selesai memasak. Sekarang tinggal menikmatinya. Kita bisa bicara.” Meraih sumpit dan menyantap mienya.


“Baiklah.” bangkit dan menuju balkon. “Rangga hal apa yang mengganggu suamiku? Kenapa dia jadi aneh?” tanya Luna tanpa basa-basi.


Rangga terdiam. Tangannya yang tadi hendak menyuap langsung di turunkan kembali.


“Haha.. memangnya hal apa yang berani mengganggu suamimu Luna. Singa saja tidak berani padanya.” Jawab Rangga dengan tawa ringan. Luna tidak boleh apa yang sebenarnya.


“Rangga aku serius! Kalian menyembunyikan sesuatu dariku kan? Kalian semua terlihat aneh sejak kami kembali malam itu.” tanya Luna langsung mengintimidasi.


“Arrgh.. Luna bukan wanita bodoh. Bagaimana caraku membohonginya.” Garuk kepala frustasi.


“Kau kenapa diam?” bentak Luna. kesal, karena Rangga tidak menjawabnya.


Beriringan dengan bentakan Luna. Rangga tersenyum, dia menemukan ide.


“ Baiklah.” serius. Minum, menyiapkan aksinya untuk sedikit mengelabui Luna. Hendak bersandar tapi terkejut karena suara Luna yang meneriaki namanya di sana.

__ADS_1


“Katakan saja cepat! Jangan memberi debar menegangkan seperti di dalam drama.” ketus Luna. tangannya terkepal kesal. jika Rangga di depannya, mungkin sudah dia pukuli.


“Baik-baik.” Rangga mengusapi telinganya. Teriakan Luna, menyakiti telinganya.


“Suasana hati Mark tidak menentu sekarang.” Luna serius mendengarkan. Kalimat pertama Rangga membuat dia mengeryitkan keningnya. Tidak sabar mendengarkan keseluruhannya.


“Baru-baru ini mendapat pesan dari Louis. Dia harus segera pergi ke Norwegia. Mark hanya merasa sedih, karena harus berpisah beberapa saat denganmu.” Tertawa ringan.


“Dan untuk alasan kenapa kami sedikit canggung, karena saat Mark mengatakan ini, Key mengoda Mark habis-habisan. Kau sendiri taukan, betapa jahilnya Key. Membuat Mark sedikit mengamuk dan memarahi kami. Oleh karena itu kami saling diam, agar Mark tidak kembali mengamuk. Dia bilang tidak ingin mendengar suara kami, kecuali dia yang meminta.” Jelas Rangga dengan menyakinkan.


Luna menganggukkan kepalanya. Ini masuk akal. Suaminya memang begitu.


“Kau tidak berbohongkan?” masih ingin memastikan.


“Tidak. Kau bisa buktikan. Nanti Mark pasti mengatakannya padamu, bahwa dia akan ke Norwegia.”


“Baiklah. Terimakasih penjelasannya. Dan maaf sudah mengganggumu.” Tertawa ringan di ujung kalimatnya.


“Tidak apa-apa.” jawab Rangga dengan senyum. Dalam hatinya dia merasa sangat lega. Dia berhasil mengelabui Luna.


“Aku akan menutup telvonnya. Kau lanjutlah makan.”


Percakapan via teleponpun berakhir. Luna menghembuskan nafasnya lega. Namun pada akhirnya dia tersenyum kecut, khawatir dengan keberangkatan suaminya ke Norwegia.


‘Ceklek’ Luna langsung menoleh. Tersenyum dan mendekati Mark yang baru datang.


“Sayang.” Bertingkah manja. Peluk erat. Membuat Mark sedikit bingung.


“Kenapa sayang?”


“Tidak apa-apa.” menggelengkan kepalanya di dalam pelukan hangat sang suami.


***


Setelah selesai makan malam, Luna, Mark dan kedua orangtuanya berkumpul di ruang keluarga. Saat itulah Mark mengatakan kepada mertuanya bahwa 2 hari lagi dia akan pergi ke Norwegia. Suasana sedikit tegang, karena sangat tau apa tujuan Mark ke sana.


Luna sebenarnya sangat khawatir. sejak mengetahui perihal ini dari Rangga, Takut terjadi hal buruk pada suaminya. Namun dia tidak ingin egois, dia tidak ingin kekhawatirannya membuat suaminya menjadi terganggu nantinya.

__ADS_1


“Berhati-hatilah. Kamu harus kembali dengan selamat. Papa, mama dan Luna menantimu di sini.” tuan Aliester menepuk bahu menantunya.


“Pasti pa. Aku akan menjaga diriku dengan baik.” senyum lembut meyakinkan. Tangannya menggenggam tangan Luna. Dia tau akan kekhawatiran istrinya ini.


Di kamar Luna terus memeluk suaminya. Sangat enggan lepas. Mark beringsut sedikitpun dimarahinya.


Kali ini Mark yang kewalahan. Bukannya tidak suka di peluk istrinya, hanya saja tadi saat pergi ke toilet perlu berdebat panjang dulu.


Luna benar-benar tidak ingin melepaskan pelukannya. Sudah sangat kebelet, akhirnya di bebaskan. Tapi Luna menunggunya di depan pintu kamar mandi. Tidak boleh lama-lama katanya. Bahkan dia mengira Mark berbohong.


“Sayang, aku sungguh akan baik-baik saja di sana. Kau jangan meragukan kemampuan suamimu ini.” mengelus kepala Luna dengan lembut.


“Tidak” menggelengkan kepalanya. “ Aku seperti ini bukan khawatir. Aku percaya suamiku sangat hebat. Aku hanya ingin memberikan kekuatan pada suamiku dengan pelukan ini.”


Mark tergelak mendegar jawaban Luna. “Sayang ini sungguh kekuatan yang luar biasa. Tapi aku pikir, kau bukan hanya memberi kekuatan untukku, melainkan untuk dirimu juga. Pasti sangat berat ya, nanti tidur tanpa suamimu ini.” masih tertawa.


“Memang.” Jawab Luna singkat membuat Mark langsung berhenti tertawa. Sadar bahwa bercandanya tidak tepat. Istrinya lagi sensi.


Mark menepuk-nepuk lembut bahu sang istri. Mencium kembali puncak kepala Luna.


“Aku janji akan kembali cepat.” Bujuknya.


“Hmm.” Luna mendongak menatap suaminya, lalu mengangguk disertai senyum di bibirnya.


“Setelah kembali. Kita pindah ke Villa ya sayang. Jangan lupa bawa ibu tinggal bersama kita.” pinta Luna.


Dalam hati Mark terkejut. Ingat, dulu Luna juga pernah berkata ingin tinggal bersama ibunya. Ternyata istrinya serius. Tidak ingin mengecewakan istrinya, Mark mengangguk setuju, meski sebenarnya dia tidak tenang. Mengingat bagaimana kasarnya mulut ibu menuduh Luna hamil dulu, membuat dia khawatir.


Apalagi hubungannya dengan ibu masih dingin. Tidak tau apakah ibu mau tinggal bersamanya.


“Aku tidak mungkin membiarka ibu hanya menerimaku setengah hatinya. Aku harus membuat ibu menerimaku sepenuhnya. Dan aku juga ingin membuat hubungan Mark dengan ibu kembali hangat. Sayang kita berjuang bersama ya mendapatkan kasih sayang ibu.” Tekad Luna dalam hatinya.


Bersambung..


Hallo, aku mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1441 H, bagi yang merayakan.


Taqobballahuminna wa minkum, taqobbal ya Kariim.

__ADS_1


Minal aidil wal faidzin, mohon maaf lahir bathin 😊


__ADS_2