
Kak Jiang He: Luna, apa kamu benar-benar akan bertunangan? Aku sudah mengetahui semuanya. Aku tidak percaya dengan semua berita yang ku lihat dan yang orang-orang katakan. Apa benar-benar mencintai pria itu? aku merasa ada yang salah dengan ini. Jika kamu masih menganggap ku, hubungi aku dan berbagilah denganku. Aku akan membantumu lepas dari pria itu.
Rangga meremas ponsel di tangannya.
“Haruskah aku memberitahu Mark tentang ini? Sebentar lagi mereka akan bertunangan, aku takut Mark akan salah paham. Dia memiliki temperamen yang buruk akhir-akhir ini. Aku khawatir dia akan menyakiti Luna.”
Rangga meng-scrool layar ke atas, dia membaca pesan Jiang He dan Luna sebelumnya.
“Mereka sangat dekat, tapi sepertinya bukan sepasang kekasih. Pria ini sangat peduli dengan Luna.”
“Aku tidak punya pilihan. Maafkan aku Luna. Meskipun Mark memperlakukanmu dengan kurang baik, dan akupun tidak tahu apa rencana Mark terhadapmu, tapi Mark bukanlah orang mudah untuk di lawan. Aku merasa Jiang He ini tidak akan bisa membantumu lepas dari Mark. Jiang He, biar aku yang menggantikan mu untuk menjaga Luna.” ucap Rangga dan mengepalkan tangannya.
Rangga menghapus pesan baru dari Jiang He, juga membersihkan panggilan dari Jiang He. Taj tanggung-tanggung Rangga juga memblokir kontak Jiang He di ponsel Luna.
“Tapi aku akan tetap menyelidiki mu.” Rangga segera kembali ke mobilnya dan pergi menuju ke rumah sakit.
Beberapa menit kemudian Rangga telah sampai di rumah sakit Taikang,
“Aku datang.”
Suasana di dalam hening. Luna sedang membaca buku, sementara Mark sibuk dengan laptopnya. Tak ada yang mengacuhkan kedatangan Rangga.
Eh kenapa begini. Apa mereka bertengkar lagi?
Melihat ini saja, Rangga frustasi.
“Ehemm ehem, kamu sangat bekerja keras Mark, di rumah sakit juga masih sibuk dengan pekerjaan.” ucap Rangga berusaha memecahkan suasana.
Tapi Mark sama sekali tidak memperdulikan Rangga.
“Dasar Mark brengsek, berani sekali mengabaikanku. Aku bicara sama Luna saja kaluu begitu.” Bisik hati Rangga.
“Nona Luna ini tas mu.” sambil menyerahkan.
Luna mengambil tasnya dan kembali membaca.
Apa salahku? kenapa dua orang manusia ini memperlakukanku begini? Teriak Rangga dalam hatinya.
“Baiklah aku akan segera pergi, sepertinya kedatanganku tidak diharapkan.” ucap Rangga.
“Tunggu!”
Mark dan Luna dengan serentak.
Rangga sampai terkejut, Luna dan Mark pun merasa malu dan canggung.
Rangga tentu tidak ingin hilang kesempatan untuk mengejek dua orang ini, “Haha... kenapa kalian bisa kompak begini? sehati sekali."
Rangga menahan tawa melihat dua orang itu sama-sama diam, "Ayoo, ada apa kalian menahanku?” Rangga menggoda Mark dan Luna.
“Itu, aku Lapar. “ Luna sedikit malu dan tiba-tiba perut Luna pun berbunyi saat itu.
Eh? Luna semakin Malu
“Mark percuma saja kamu di sini jika makan Nona Luna saja tidak kau perhatikan." ucap Rangga dengan kesal.
“Dia saja yang keras kepala menolak makanan dari, aku sudah membelikan begitu banyak makanan untuknya.” Mark tentu membela diri dong. Tangannya menunjuk pada satu arah.
Rangga melihat ke meja yang sudah penuh dengan makanan.
“Eh, ini banyak sekali." Rangga terkejut.
“Tapi, aku tidak mau makanan itu. Sekarang aku mau sup teratai buatan bi Ina. Mark tidak mau melakukannya.” Luna mengadu pada Rangga sepertu anak kecil.
“Rangga, karena kamu di sini tolong hubungi bi Ina untukku. Bilang kamu mau sup teratai yang banyak.” pinta Luna.
“Kenapa aku? Aku sudah membawakan ponsel Nona lho.”
“Ya sudah kalau kalian tidak mau.“ ucap Luna sambil tidur dan menutupi dirinya dengan selimut.
“Kamu lihat sendiri, dia sangat kekanak-kanakkan. Aku bukannya tidak mau menghubungi bi Ina, tapi dia yang banyak tingkah. Dia tidak mau berbicara sendiri dengan bi Ina. Heh, mau makanannya, tapi tidak mau orangnya, sangat memalukan.”
“Jadi begitu saja?Mark, Nona Luna sedang sakit. Tapi, kamu masih saja perhitungan.” Rangga memerahi Mark.
“ lAnda tenang saja, Nona Luna. Saya akan menghubungi bi Ina, dan memintanya untuk membuatkan sup teratai yang banyak." katanya lagi pada Luna.
Luna hanya diam saja di balik selimutnya.
Sudah mau mati begini, tapi sup teratainya saja masih baru mau di pesan.
Hati Luna menjerit karena sangat lapar.
Eh, tapi tunggu dulu. Kenapa Rangga tidak sehormat biasanya pada Mark? Tadi dia sangat berani memarahi Mark. bahkan dia memanggil Mark tidak dengan sebutan tuan muda. Dipikir-pikir lagi, ah sudahlah! tu bukan urusannya.
***
Pukul 04.00 di Rumah Sakit.
Luna bangun dari tidurnya.
“Tidak nyaman sekali tidur di rumah sakit. Aku harus segera pulang.”
Luna melihat ke sofa, di sana ada Mark yang sedang tidur.
Luna turun dari tempat tidurnya dan medakati Mark.
“Berengsek begini, tapi masih mau menemaniku di rumah sakit. Bahkan rela tidur sofa, pasti tidak nyaman kan?" Luna merapikan selimut Mark.
Dia duduk dan memandangi wajah Mark, "Saat tidur begini wajahnya seperti malaikat, tampan dan menenangkan." Luna tersenyum sambil menyentuh pipi Mark.
“Yo, kamu tertangkap!” ucap Mark sambil memegang tangan Luna yang menyentuh pipinya.
Luna sangat terkejut dan menarik tangannya, tapi Mark menahannya.
Mark membuka matanya dan tersenyum jahat, "Ternyata kamu begitu mengagumiku Luna, haha...”
Luna tetap berusaha menarik tangannya dari Mark.
Ini sangat memalukan! rasanya mau menggali lubang dan menyubur dirinya di sana. Benar-benar memalukan!
“Aku tidak bermaksud begitu, tadi aku hanya melihat sesuatu di pipimu.” ucap Luna mencari alasan
“Apa? sekarang masih saja mencari alasan. Jika memang tidak beniat menyentuh wajah tampanku, terus apa maksud dari ucapanmu? “ tanya Mark.
__ADS_1
“Itu,itu, aku hanya mengingat temanku yang tampan, perkataanku tadi tidak di tujukan untukmu!” jawab Luna asal-asalan dan masih berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Mark.
“Hah, semakin tidak masuk akal saja. Baiklah jika kamu ingin menyentuh wajahku, sentuh saja.” ucap Mark sambil menarik tangan Luna ke pipinya.
“Mark kau ini apa-apaan. Lepaskan tanganku.” pinta Luna
“Jika tidak punya jantung yang kuat jangan pernah berfikir untuk mendekatiku.” Mark dengan smirk nya, lalu dia melepaskan tangan Luna.
Melihat Mark seperti itu, hati Luna terasa sakit. Dia menunduk dan lansung kembali ke ranjangnya.
Dasar bodoh, dia adalah musuhmu. Luna memarahi dirinya sendiri.
Luna mengambil nafas panjang dan menatap Mark.
“Mark aku mau pulang.“
“Kamu masih perlu di rawat. Dua hari lagi kita akan bertunangan, harus sahat.“
“Aku tidak mau di sini, aku sudah merasa sehat sejak makan sup buatan bi Ina. Lagian di rumah juga banyak orang yang bisa menjagaku. Jadi, kamu tidak perlu menemaniku seperti ini."
“Baiklah jika itu maumu. Tapi, ini masih gelap, kita tunggu terang dulu."
“Tidak, aku mau pulang sekarang. “ ucap Luna.
“Huh, kamu memang tidak penurut. Baiklah, tapi kamu belum cukup kuat. Aku akan menggendongmu ke mobil."
“Tidak perlu, aku sudah cukup kuat. Kamu tidak perlu menggendongku.“ teriak Luna sambil berdiri dan mengambil tasnya.
Mark menggelengkan kepalanya melihat tingkah Luna.
“Terserahmu saja. Aku akan menyuruh pengawal untuk mengurus surat keluarmu." Mark pasrah.
Beberapa menit kemudian mereka sudah sampai di rumah.
Hari yang masih gelap, keadaan di rumah juga masih sepi. Luna berjalan masuk, tapi ketika menaiki tangga Mark memapah Luna.
“Kamu masih belum begitu kuat.” ucap Mark dengan lembut.
Luna terkejut, dia mengedipkan matanya beberapa kali.
Setibanya di depan pintu kamar, Mark melepaskan Luna.
“Karena kamu keras kepala, aku tidak akan memperhatikanmu lagi." ucap Mark dan pergi ke kamarnya.
Luna terkejut dengan ucapan Mark, “Apa dia marah?"
Luna menampar pipinya, “Huh, sudahlah. Jangan tertipu lagi Luna.” Luna segara masuk ke kamarnya.
***
Hari sudah terang, matahari pagi memasuki kamar Luna.
Luna bangun dan mengangkat kedua tangannya ke atas.
“Mataharinya kenapa cepat sekali muncul?” Luna masih setengah sadar.
Ketika dia membuka matanya, Luna sangat terkejut.
“Ini bunga dari mana? kenapa banyak sekali?“
Di meja kamar Luna sudah ada 5 buket bunga mawar dan bunga bunga irish.
“C****epat sehat, kau masih belum mengerjakan proyek kita sudah sakit saja. jangan mengecewakanku. “ Alexs Hou. Ada 3 buket bunga dari Alexs.
“Kakak ipar, cepat sehat. Jangan mengecewakan sepupuku di hari pertunanganannya.“ Roland Rendra. Dua buket bunga mawar dari Roland.
“Cepat sehat, aku menunggumu.“ buket bunga tanpa nama.
“Dari siapa? Kenapa misterius begini?" kening Luna berkerut.
“Dia memberiku bunga Irish Kuning yang artinya Harapan.“ Luna mengambil Bunga tersebut dan menciumnya.
“Aku benar-benar penasaran.”
Luna keluar dan membawa bunga irish tersebut.
“Kak Zhaon...” panggil Luna dari tangga.
“Iya, ada apa Nona?”
"Siapa yang mengirimiku bunga irish ini?"
“Aku tidak tahu, Nona. Bahkan kurir yang mengantarkannya juga tidak mengetahuinya.” jelas pelayan Zhaon.
Luna hanya terdiam.
“Memangnya ada apa, Nona?” tanya pelayan Zhaon.
“Tidak apa-apa. Aku mau mandi dulu.” Luna menggelengkan kepalanya dan berlalu pergi.
Luna masih memkirkan siapa yang mengiriminya bunga tersebut.
Dia terlikirkan seseorang. Tidak mungkin dia kan? bisik hati Luna.
Luna menggelengkan kepalanya, “Jangan berfikiran yang tidak-tidak lagi Luna." ucap Luna dan langsung masuk ke kamar mandi.
Beberapa menit kemudian, Luna turun ke bawah.
“Nona, sarapan anda sudah siap. Tuan berpesan agar Nona harus makan banyak dan minum obat dengan teratur.” ucap pelayan Zhaon.
“Memangnya kemana perginya si brengsek itu?”
“Itu saya tidak tahu, Nona. Tad, pagi-pagi sekali Tuan sudah pergi dan menitipkan obat dan beberapa vitamin ini untuk Nona." jelas pelayan Zhaon sambil menyerahkannya ke Luna.
"Baiklah.” jawab Luna.
“Dan..”
“Dan apa lagi?” tanya Luna dengan dingin.
“Tuan bilang, anda tidak perlu kemana-mana sampai hari pertunanganan. Nona cukup beristirahat saja, jangan memikirkan urusan pekerjaan sedikitpun.”
Luna hanya diam mendengar ucapan pelayan Zhaon dan memulai memakan sarapannya.
Saat sarapanpun, Luna masih memikirkan siapa pengirim bunga Irish itu.
__ADS_1
Kenapa nona Luna, sedikit beda hari ini? dia terlihat memikirkan sesuatu. Ah, sudahlah! mungkin karena Nona Luna kurang sehat saja. Zhaon menggeleng, menepis kekhawatiran di hatinya.
***
Malam Pesta Pertunanganan.
Tamu sudah berdatangan. Hotel mewah dan dekorasi yang mewah nan elegan. Benar-benar menggambarkan sosok Mark dan Luna.
Mark sudah selesai merapikan diri dan dia menyapa tamu-tamu kehormatan.
Mereka memberi selamat dan berbincang hal lainnya. Perbincangan tentang bisnispun tak terlakkan lagi.
Meskipun ini pesta pertunanganan, tapi pembicaraan bisnis akan sulit di hindari jika para pebisnis sudah berkumpul.
Sementara, Luna masih berada di ruang rias.
“Nona canti sekali." puji penata rias, kagum dengan kecantikan Luna.
Luna hanya tersenyum mendengar pujian tersebut.
“Saatnya memakai gaun anda, Nona." ucap yang lainnya.
“Baiklah.“ Luna memasuki ruang ganti.
Beberapa saat kemudian, Luna keluar.
“Wah, ini sangat sempurna. Gaun yang indah dan Nona Luna yang cantik. Seperti putri dari negeri dongeng.”
“Iya, Nona Luna sangat cantik."
Semua orang di ruangan tersebut memuji kecantikan Luna.
“Saatnya Nona keluar.” kata mereka.
Tiba-tiba seseorang datang dari luar.
“Tunggu, Tuan Mark berpesan ingin bicara dulu dengan Nona Luna, sebelum Nona muncul di pesta. Ayo kita keluar dulu.” ucap orang tersebut.
Para perempuan di sana saling tukar senyum, "Tuan Mark pasti ingin menenangkan Nona Luna agar tidak gugup.”
"Iya, memang pasangan yang sangat serasi.”
Luna hanya tersenyum masam mendengar ucapan orang-orang tersebut.
“Ayo kita segera keluar, sebentar lagi Tuan Mark datang.”
“Iya, iya.” semua orang keluar meninggalkan Luna sendirian.
Luna membalikkan badannya, “ Apa yang mau dia bicarakan padaku, sampai-sampai menyuruh semua orang pergi.”
Kreck!
Suara pintu terbuka.
Luna langsung menoleh.
“Kamu?” Luna sangat terkejut.
Seorang pria berbaju serba hitam, memakai topi dan masker. Sangat misterius.
“Kamu siapa?” tanya Luna dengan ketakutan.
“Ssstt!“ orang tersebut menyuruh Luna untuk tidak bersuara.
Dia mengunci pintu.
Melihat itu, Luna semakin khawatir.
“Apa yang kamu lakukan?” secara naluriah Luna berjalan mundur.
Orang itu membuka topi dan maskernya,
“Luna ini aku, jangan takut."
Alangkah terkejutnya Luna.
“Kak Jiang He?”
Luna mendekati Jiang He dan langsung memeluknya. Dia menangis dalam pelukan Jiang He.
Jiang He juga memeluk erat Luna, "Jangan menangis Luna, aku sudah di sini. Aku akan melindungi.”
“Apa maksud kakak dengan melindungiku?” Tanya Luna dengan tersedu-sedu.
Jiang He mengerutkan dahinya, dia memegang pipi Luna dengan kedua tangannya, dan Luna memandanginya.
“Bukankah kamu sudah membaca pesanku? Kenapa masih bertanya?"
Luna mengedipkan matanya, pesan apa?
“Apa maksud kakak, aku tidak mengerti?” Tanya Luna bingung.
Jiang He diam, seperti memikirkan sesuatu. Lalu dia tersenyum, “Sudahlah, bukan hal penting, yang jelas sekarang aku sudah menemukanmu.” ucap Jiang He sambil menyapu air mata Luna dengan tangannya.
Berarti fellingku benar, Luna tidak mengetahui tentang pesanku. Seseorang sudah menghapusnya dan memblokir nomorku di ponsel Luna. Benar-benar licik.
Di ruang lain Mark sedang melihat Luna dan dan Jiang He di layar laptop.
Mark tersenyum sinis, “Ternyata ini yang di sembunyikan Rangga dariku?”
Pada saat H-1 acara pesta pertunanganannnya. Mark mencurigai Rangga, karena sifat Rangga tidak seperti biasanya.
Karena kecurigaannyanya itu Mark mencari kesempatan untuk mencari tahu apa yang di sembunyikan oleh Rangga darinya.
Lalu Mark menyuruh Rangga untuk mengerjakan berbgai hal, dia membuat Rangga sibuk. Kemudian Mark pergi ke apartemen Rangga, dia mengecek computer Rangga dan menemukan riwayat bahwa Rangga sedang mencari Informasi tentang Jiang He.
Setelah itu Mark menyuruh orang kepercayaannya untuk menyelidiki keberadaan Jiang He ini.
Setelah mendapatkan informasi, Mark berinisiatif untuk memasang camera tersembunyi di ruang tata rias Luna. Dia punya felling Jiang He akan muncul dihari pertunaganannya. Dan benar, felling Mark sangat tepat.
.
__ADS_1
.
Apakah yang akan terjadi selanjutnya? apakah pertunanganan Mark dan Luna akan gagal?