TUAN MUDA AKU BENCI KAMU

TUAN MUDA AKU BENCI KAMU
S2 KELUARGA DRAMA


__ADS_3

“Luna, Camelia.. aku juga duluan ya.” ujar Alexa yang saat itu tiba-tiba mendapatkan panggilan telepon.


“Iya hati-hati.” Ucap Luna dan Camelia bersamaan dan melambaikan tangannya pada Alexa yang terlihat buru-buru memasuki mobilnya.


Luna merogoh tasnya untuk mengambil ponselnya. Dia ingin mengabari Lily akan jadwalnya besok yang harus berangkat ke Prancis.


“Camelia aku juga langsung pergi ya. Ada yang harus aku urus.” Berjalan duluan menuju mobilnya. Tapi entah kenapa Camelia mengekor dari belakang. Luna diam saja walau merasa aneh, kenapa Camelia mengikutinya padahal mobil yang biasa di bawa Camelia tidak ada di dekat parkiran mobilnya.


“Luna,” panggil Camelia lirih. Luna menghentikan tangannya yang hendak membuka pintu mobil. Berbalik badan, menurunkan genggaman ponsel dari telinganya karena Lily tidak menjawab panggilannya.


“Apa dia tidak membawa mobil lagi?”


Terka hati Luna. Walau selama ini Camelia tidak pernah lagi berbuat semena-mena padanya, namun Luna tetap waspada. Mengingat kebaikan Camelia sekarang, bisa jadi hanya karena papa dan suaminya memberi kesempatan untuk ikut serta dalam proyek luar negeri Lixing. Proyek yang sangat di damba-dambakan oleh pamannya itu.


“Iya ada apa?” melirik sedikit, lalu sibuk kembali dengan ponselnya. Luna sengaja melakukan hal itu.


Camelia diam, dia hanya menatapi Luna yang terlihat sibuk tersebut. Lama dia menunggu, tapi Luna tetap tidak menatapnya.


“Camelia sebenarnya kamu mau apa?” melirik lagi dan masih berusaha menghubungi Lily.


“Lun..” Luna langsung mengangkat tangannya bertanda untuk tidak berbicara dulu. Cemalia langsung menutup mulutnya, menundukkan kepala. Terlihat dia mendengus senyum, entah apa itu maksudnya.


“Lily, apa kita bisa berjumpa sekarang saja? besok aku harus pergi ke Prancis.” Terang Luna.


“Maaf sekali Luna, untuk sekarang tidak bisa. Aku di Hangzhou sekarang..” kalimat Lily terpotong karena seseorang memanggilnya di sana. “Iya kek, tunggu..”.


“Luna, sudah dulu ya. Jika kamu sibuk, urus saja urusanmu. Hal yang aku ceritakan juga tidak terlalu penting, fokuslah. Maafkan aku karena membuatmu penasaran. Tapi yang je..” kalimat Lilly terpotong lagi.


“Iya, iya..” soraknya di sana. Luna paham, Lily sibuk. Dia tidak ingin membebani temannya itu.


“Ya sudah. Sekarang kamu juga urus urusanmu di sana. Kita bertemu lain kali saja.” ujar Luna. Karena untuk bercerita melalui via telepon rasanya juga tidak mungkin, mengingat Lily yang terdengar benar-benar sibuk.


“Iya Luna, aku minta maaf ya...” tuut, telepon tiba-tiba terputus. Bahkan Lilly sepertinya juga belum menyelesaikan kalimatnya.


Luna membuang nafasnya pelan, melirik Camelia yang masih stay di depannya.


“Dengan siapa kamu bicara Luna? kenapa terlihat kecewa begini?” Camelia memulai pembicaraan.


“Teman.” Tersenyum masam, lalu menyimpan ponselnya. “Oh iya, kau mau bicara apa Camelia?” tanyanya santai.


“Itu, aku tidak membawa mobil.” ujarnya sedikit ragu-ragu, namun berakhir dengan mengembangkan senyum saat Luna menatapnya dengan satu alis yang terangkat.

__ADS_1


“Ya sudah, ayo masuk!” ajaknya tanpa basa-basi lagi. Memang sudah terbaca olehnya rencana sepupunya itu.


Camelia tersenyum lebar. Sedikit berlari menuju ke sisi lain mobil.


“Terimakasih ya Luna.” ucapnya yang masih tersenyum merekah saat sudah berada di dalam mobil.


“Sama-sama. Kamu mau langsung pulang?” tanya Luna sambil memasang sabuk pengamannya.


“Iya.” di sertai dengan anggukan oleh Camelia.


Luna mengangguk dan langsung melajukan mobilnya menuju rumah Camelia. Ah, tidak! Lebih tepatnya rumah peninggalan Almarhum kakek. Rumah yang seharusnya menjadi milik papanya.


Sementara itu di belakang tampak Key mengikuti mobil Luna. “Jiang He, awasi yang lainnya. Aku mengikuti Luna.” ucapnya dengan earpod di telinganya.


“Ok.” Jawab singkat dari Jiang He yang berada di ruang pantauan.


***


“Luna, apa kamu tidak mampir dulu?” tawar Camelia saat sudah sampai di rumahnya. “Kamu sudah sangat lama tidak pernah ke sini. Kebetulan Kak Juan pulang hari ini, seharusnya dia sudah di rumah sekarang.”


“Hmm, baiklah.”


Luna sebanarnya malas, tapi untuk sedikit menghargai ajakan Camelia yang terlihat tulus, dia menerimanya. Dia menghembuskan nafasnya pelan, membuka sabuk pengaman dan keluar dari mobil bersamaan dengan Camelia.


“Luna, kakek berjanji akan selalu ada untuk kamu. Meskipin kakek sudah tidak ada di dunia ini lagi, tapi kakek akan selalu abadi di dalam hati kamu dan sampai kapanpun kakek akan selalu membela dan menyayangimu, meski jasad kakek sudah tidak berwujud lagi.” ujar kakek yang memangku dirinya. Kakek yang sudah tua, bahkan sudah mengenakan kursi roda. Di usia senja itu , kakeknya harus menyaksikan perperangan antara anak-anaknya perihal harta.


Meski Zhan Aliester atau papa Luna sudah mengalah, bahkan sejak di usia yang masih sangat muda. Tapi entah kenapa Noman Aliester atau pamannya tidak senang. Terlalu serakah, hingga takut kecolongan.


Semua harta jatuh ke tangan Noman Aliester, namun warisan rahasia yang di miliki kakek di limpahkan sepenuhnya pada Luna, cucu kesayangannya. Dan hal itu tidak di ketahui oleh Noman sedikitpun.


Luna menahan kesedihannya, lalu masuk bersama dengan Camelia.


“Pa, ma.” Camelia menggandeng Luna dengan hangat. “ Lihat siapa yang datang.” Senyum bangganya merekah. Setelah beberapa tahun, ini pertama kalinya Luna menginjakkan kaki di rumah ini.


"Luna.. " entah kemasukan setan mana, nyonya Xio dengan ramahnya menghampiri dan memeluk Luna dengan hangat.


"Bagaimana keadaanmu sekarang sayang?" Sungguh Luna merinding mendengar tantenya ini.


"Sehat tante. Seperti yang tante lihat. Cantik tanpa cela," Luna menahan senyum dengan jawabannnya sendiri. Apalagi dia melihat tantenya ini menperhatikan penampilannya dari atas hingga bawah. Dan terakhir lagi-lagi terfokus pada perutnya yang masih rata.


"Mari sayang." ajak nyonya Xio untuk duduk. Luna tersenyum, namun dia menyapa Juan terlebih dahulu.

__ADS_1


"Kak Juan." ujarnya pelan.


"Ini sudah sangat lama, mari kita berbaikan semuanya. Kakak merindukanmu." gerak tubuh Juan hendak memeluk terhenti, karena Luna memundurkan tubuhnya sebagai penolakannya.


"Aku juga merindukan kakak. " senyum lembut disertai gerak matanya yang teduh.


Juan dan yang lainnya tertawa menutupi rasa malunya atas penolakan Luna yang akan memeluknya.


"Baiklah, jika begitu lebih kita makan bersama. Luna mari! Anggaplah sebagai rumahmu sendiri." Merangkul keponakannya dengan hangat.


"Sombong sekali. Jika bukan karena proyek luar negeri itu, aku pasti sudah menguburmu hidup-hidup."


Di meja makan semua pujian dan jilatan keluar dari mulut orang-orang tersebut. Berlebihan, hinggga Luna benar-benar muak mendengarnya.


"Oh iya Luna, tante dengar kamu baru pulang bulan madu ya? tante dengar kalian mengunjungi banyak negara." topik pembicaraan mulai berubah. Nyonya Xio tampak antusias dengan pertanyaannya.


"Huh, kalo mandul ya mandul. Mau bulan madu keliling duniapun, ya tetap saja tidak akan berhasil." Nyonya Xio mengutuki Luna sepuas hatinya.


"Iya tante. 3 negara saja, jangan berlebihan." menguapi makanannya dengan santai.


"Lalu bagaimana hasilnya? apa sudah hamil? " tanpa basa-basi lagi nyonya Xio berucap. "Kamu harus ingat Luna, pria pasti menginginkan kehadiran anak dengan cepat. Kalian sudah memasuki tahun kedua pernikahan. Ini seharusnya kehamilan anak kedua. " nada lembut, tapi sangat jelas mengejek.


"Bukankah begitu pa?" melirik suaminya yang memberikan anggukan. "Seperti Juan dan Megin, jarak mereka sangat rapat. Habis pamanmu ingin tante melahirkan anaknya lagi." tawa ringan di ujung kalimatnya.


"Ma.." Tegur Camelia cepat. "Luna dengan suaminya pasti sudah merencanakan perihal anak dengan baik. Mama jangan mendikte seperti ini."


"Tau apa kamu Camelia. Mark adalah pebisnis global, pasti dia menginginkan anak segera. Tidak ada alasan baginya untuk menunda memiliki anak." malah berdebat dengan perihal yang bukan urusan mereka. Membuat Luna merasa jengah melihat drama ini.


"Tante benar." Luna tersenyum masam. Setika semua mata menoleh padanya penuh penasaran. "Tapi kami belum berhasil. Kami akan terus berusaha." senyum kecut sambil mengelus perutnya. Luna sengaja, agar para aktor dan atris di depannya bahagia.


"Yang sabar ya sayang, tante akan berdoa yang terbaik untuk kalian. Tante juga sudah tidak sabar menimang cucu darimu. " Nyonya Xio mengusap lembut bahu Luna.


"Haha.. tebakanku benar. Humm.. putriku punya peluang bagus." seringai licik dari bibir nyonya Xio dan Noman.


"Sungguh mereka tidak akan pernah berubah. Selalu ingin tau tentang kehidupan pribadiku. Apalagi yang kalian rencanakan sekarang?"


Luna mendeguk minumannya. Tersenyum puas bisa menipu keluarga penuh drama di depannya ini.


Bersambung...


.

__ADS_1


.


Maaf kemeren gak up ya kak. Sungguh aku butuh asupan, supaya semangat buat nulis.


__ADS_2