
'krack' Nindy membuka pintu ruangan Key dengan tergesa-gesa. Wajahnya terlihat cemas karena baru mengetahui perihal tadi.
Sontak saja pandangan Key dan Lery juga langsung tertuju pada Nindy.
"Kakak." ucapnya pelan. Keningnya berkerut mendapati Key sedang sedang di rawat oleh Lery. "Kakak terluka? apa parah?" tanyanya beruntun sambil mendekat.
"Tidak. Ini hanya luka kecil." jawab Key tenang.
Lery tampak canggung, dia mempercepat kerjanya. Dia sudah selesai membalut luka Key dan dengan cepat dia membereskan obat dan peralatan.
"Ya ampun.. ini bukan luka kecil kakak." Nindy memperhatikan balutan luka Key yang telihat cukup lebar.
"Tuan, nona semuanya sudah beres. Saya permisi dulu." ucap Lery yang sudah berdiri memegangi kotak obat.
"Ya. Terimakasih sekretaris Lery." ucap Key. Itu hal yang biasa, tapi tidak bagi Lery. Ucapan terimakasih Key malah membuat dia semakin tidak karuan.
"Sama-sama tuan." senyum ramah "Saya menaruh kotak obatnya dulu." langsung beranjak menaruh kotak obat ke tempat semula.
"Ya ampun.. ada apa denganku? canggung sekali."
Kecanggungan Lery dibaca dengan mudah oleh Nindy. Dia memperhatikan Lery, kemudian kakaknya. Terlintas di pikirannya, bahwa kakaknya memang sangat ramah pada semua karyawannya, tapi untuk menyentuh tubuhnya walau saat terluka bukanlah hal yang sembarangan.
Selama ini, hanya sekretaris Ketrin seorang yang bisa melakukan banyak hal untuk sang kakak. Itupun karena Key memang sudah menganggap sekretaris Ketrin sebagai keluarga sendiri.
"Tidak mungkin hanya karena sekretaris Lery pengganti kak Ketrin, hingga kakak tidak keberatan di sentuh olehnya kan?"
Nindy mulai menaruh kecurigaannya. Lagi-lagi di pandanginya wajah sang kakak, lalu Lery yang sudah selesai menaruh kotak obat dan sekarang sedang mengemasi dokumen yang tadi dia lempar.
"Saya permisi tuan, nona." ucap Lery ramah, lalu langsung keluar setelah mendapat anggukan dari Key.
"Kenapa menyembunyikannya dariku?" suara tegas Key dan sorot mata tajamnya pada Nindy.
"Aku tidak mau membuat kakak khawatir." suara manja yang memelas.
"Nindy ini bukan hal sederhana yang bisa kamu atasi sendiri. Pria brengsek seperti itu memang harus di beri pelajaran. Berani-beraninya menyelingkuhi setan kecilku ini."Key tersenyum tipis sambil mengacak-acak rambut Nindy.
"Syukurlah. Sepertinya kakak tidak mengetahui tentang kejadian di jembatan. Jika sampai kakak tau, aku sungguh tidak bisa membayangkan bagaimana bajing*n itu akan berakhir."
__ADS_1
Nindy melebarkan senyumnya, lalu memeluk kakaknya dengan manja. "Kakak memang yang terbaik. Aku sangat menyanyangi kakak."
"Nindy, kamu adalah adik kakak satu-satunya. Kakak akan selalu menajagamu. Kakak tidak akan pernah membiarkan satu orangpun menyakitimu sesuka hatinya. Kamu adalah adik kakak yang sangat berharga."
"Aku tau itu." sambil tertawa dan melepaskan pelukannya. "Kakak, aku akan menyuruh orang untuk membawa pakaianmu ke sini." mengambil ponselnya dengan cepat.
"Tidak perlu. Kakak punya 1 pakaian di sini." sambil menunjuk ke arah stelan jasnya tergantung rapi di stand hanger.
"Lengan kakak terluka, tidak mungkin mengenakan stelan jas lagi. Bisa-bisa itu menyakiti luka kakak, " ucap Nindy dengan setengah kesal. "Atau kakak akan memotong lengan jas tersebut?" tertawa dan melirik kemeja Key yang sekarang sudah pendek sebelah. Karena Lery memotongnya agar memudahkan untuk di obati.
"Itu tidak akan menyakitiku. Ini hanya luka kecil. Cepat bawa ke sini." Balas Key yang juga terdengar kesal. Aku ini pria, tidak akan meringis kesakitan hanya karena luka sekecil ini. Begitulah sorot matanya mengatakan.
"Baiklah. Jika luka kakak berdarah jangan salahkan adikmu yang sudah menasehati ini."
Nindy langsung mengambik stelan jas tersebut dan membantu sang kakak untuk mengenakannya.
"Kakak aku mau ke jepang besok." sambil memasangi kancing kemeja Key.
Key mengerutkan keningnya. "Ada kegiatan apa di Jepang?"
"Aku mau liburan sejenak. Sekalian menemui teman lama. Reunian teman kuliah." senyum penuh bujukannya mengembang.
"Ok brother.."
***
Bandara Beijing.
Key bersama dengan seorang pengawalnya berada di Gold Lounge/ruang tunggu khusus first class. Key mengambil jadwal keberangkatan pagi, agar saat di Jepang bisa beristirahat atau melakukan kegiatan lain, sebelum agenda malam hari yang diatur oleh Mark. Sesekali dia melirik jamnya karena Lery belum juga muncul.
"Kenapa lama sekali?" tuturnya kesal dan menoleh ke arah pintu.
Disaat yang bersamaan tampak Lery muncul di pintu. Waah.. ini si luar dugaan. Lery tampil berbeda. Dia terlihat sangat fashionable.
Gingham Skir black and white dengan sedikit belah di depan, dipadukan dengan T-Shirt putih, long coat abu-abu muda dan sepatu kets putih membuat penampilannya semakin manis.
Key tampak lama memandanginya. Matanya seolah tidak bisa di alihkan. Apalagi Lery membiarkan rambut panjangnya tergerai, berjalan dengan full senyum. Wajah polos dan lembut Lery benar-benar menyihirnya.
__ADS_1
"Maaf tuan, saya sedikit terlambat." ucap lery saat dia sudah di depan Key. Senyum lembutnya masih lekat.
"Hem hem.. iya tidak apa-apa." Sekarang Key yang tampak salah tingkah.
"Silahkan duduk nona!" ujar pria yang berdiri di samping Key.
"Baik. Terimakasih." sambil duduk, lalu dia menoleh kembali pada Key yang tampak mengenakan stelan jas.
"Apa aku salah kostum?"
Lery memperhatiakan dirinya sendiri. Takut jika hal ini memalukan dirinya sendiri dengan fashion santainya. Bagaimana jika tujuan ke Jepang memang urusan pekerjaan? Ah, ini benar-benar akan memalukan.
"Tuan, apakah sampai di Jepang kita langsung pada urusan bisnis?" tanyanya dengan sedikit ragu-ragu.
"Lihat saja nanti. Aku juga belum memikirkan apapun yang akan di lakukan di sana."
"Hah?" Lery semakin bingung.
"Apa maksudnya? kenapa tuan tidak menjawabnya secara jelas?"
"Apa tidak masalah dengan penampilanku seperti ini?" Lery masih berusaha, tidak ingin bingung terlalu lama.
"Tidak masalah. kau terlihat cantik, sangat cocok untukmu." spontan kalimat itu keluar. Key sendiri mengumpati dirinya dalam hati, kenapa bisa memuji sembarangan begini.
"Hak?" Lery langsung membulatkan matanya. Apa dia tidak salah dengar?
"Maksudku, item ini cocok untuk musim semi."
Lery langsung tersenyum canggung. Semenatara Key tampak hanya tersenyum tipis.
"Ayolah Key, sadarlah! jangan mempermalukan diri sendiri." Key.
"Ada apa dengan tuan hari ini? kenapa aku merasa berbeda? dan kau jantungku!!! kenapa kau sekarang sangat suka berpacu debar?" Lery.
.
.
__ADS_1
Bersambung..