
‘Krack,’ pintu terbuka. Luna keluar dari ruangan Ranie Su dengan tenang, tutup pintu.
"YES!" teriak Luna dengan sedikit melompat dengan gerak tangannya penuh kemenangan. Wajah dan binar matanya di penuhi kebahagiaan.
Saking bahagianya, Luna tidak menyadari beberapa orang lewat menatapnya aneh.
Saat menyadari orang-orang menatapinya, Luna langsung berdehem.
"Hem, hem.." mengenakan kaca mataya kembali.
"Kerja bagus sayang." ucapnya sambil mengelus perut ratanya, lalu berjalan dengan bibirnya yang meyunggingkan senyum tipis. Dia sudah kembali ke penampilan awal saat memasuki ruangan Ranie Su.
‘Drrt drrt’ Luna merogoh ponselnya yang bergetar.
Kening Luna berkerut saat melihat nomor tidak dikenal di layar ponselnya. Meski ragu, tapi Luna tetap menjawab panggilan tersebut.
“Hallo.”
“Luna ini aku.” Suara pria di seberang sana. Luna sangat mengenal suara itu.
“James Lu..” ucap Luna terkejut, bahkan langkah kakinyapun terhenti saking terkejutnya.
Kenapa James Lu mnghubunginya? Selama ini, selain pertemuan 1 kali dalam 3 tahun, tidak ada kontak lain antara mereka.
Apa yang terjadi? tiba-tiba seperti ini, apa yang salah dengan pria ini?
“Luna kenapa kau begitu terkejut?” tanya James Lu tertawa. Pria ini sedang berdiri di depan kaca tempered menikmati pemandangan kota Beijing dari ketinggian gedung pencakar langit.
“Hah? Ah haha..” Luna tertawa awkward.
“Tentu saja, ini sungguh sangat mengejutkan.” Tutur Luna yang kembali melanjutkan langkah kakinya.
“Ada apa? kenapa tiba-tiba menghubungiku?” tanya Luna yang sudah memasuki lift.
“Aku hanya memastikanmu baik-baik saja.” kening Luna berkerut heran.
“Memastikanku? Apa maksudmu?”
“Hahaha.. Apa aku sudah ketahuan?” menundukkan kepala dan tangan yang satunya merogoh saku celananya.
“Hah haha..” Luna kembali tertawa awkward sambil mengusap tengkuknya. Dia sungguh tidak tahu maksud dari James.
.
“Hmm.. baiklah aku akan menutup telfonnya.”
“Begitu saja?” tanya Luna semakin heran. Lift terbuka. Dia sudah sampai di parkiran.
“Aku sudah mendengar suaramu. Itu cukup.”
“Mmmmh..” Luna angguk-angguk pelan sambil membuka pintunya. “Baiklah, aku juga akan menyetir.”
“Jaga dirimu baik-baik Luna.”
__ADS_1
Bibbb. Telepon terputus. Tangan Luna yang hendak menutup pintu mobil berhenti sejenak. Mencerna kalimat terkahir James.
“Ah, sudahlah.” Menggelengkan kepalanya. Dia tidak ingin berfikiran aneh-aneh.
Luna segera menutup pintu mobilnya dan langsung melajukan mobilnya keluar.
Hari ini dia bebas. Papa dan mamanya masih liburan, Zhaon mendadak harus segera kembali ke Hongkong dan mata-mata Mark dia rasa juga sudah berhasil dia kelabui saat menuju rumah sakit ini.
Cincin? Luna memandangi jarinya yang kosong. “Maafkan aku sayang.” Gumam Luna dengan senyum tipisnya. Dia meninggalkan cincin pertunanganan dan pernikahannya di rumah.
“Sebentar saja. Sekarang aku pulang.” Melepaskan penutup kepala dan kacamata hitamnya. Kemudian melajukan mobil lebih kencang.
***
“Nona,” sambut seorang pengawal. Luna hanya tersenyum tipis, bergegas memasuki rumah. Dia harus segera memakai cincinya kembali.
Saat sampai di kamar, Luna langsung membuka lemari perhiasannya. Dan mengenakan cincinnya. Senyum lembut terukir di bibirnya.
“Maaf ya sayang,.. mmucahh..” mencium cincin yang sudah melekat di jemarinya.
‘Drrtt drrrt.’ Ponsel Luna kembali bergetar.
Luna segera mengambil ponselnya yang berada di dalam tas.
“Ren,” dengan semangat Luna segera menjawabnya.
“Halo Ren.”
“Luna, aku sudah menyelidiki perihal Lily. Haaaahh…” jelas Ren dengan napas berat di akhir kalimatnya. Ren berada di dalam mobilnya sambil membalik dokumen.
“Karir mereka hancur semua.”
“Maksudmu?”
“Aku tidak tahu pasti bagaimananya. Kamu tahu saat pameran Emmely Jhonatan dua tahun lalu?”
“Iya, aku mendengarnya. Tapi aku tidak mengikutinya.”
“Lily dan teamnya ikut serta. Setauku acara pameran itu sangat lancar dan meriah, tapi ternyata ada insiden di balik layar. Beberapa karya rusak, pihak Emmely sangat marah karena karya tersebut tidak bisa di tampilkan lagi. Semenjak kejadian itu karir mereka merosot. Mereka sudah di cap tidak berintegritas dan lalai. Tidak ada yang menggunakan jasa mereka lagi.” jelas Ren panjang lebar.
Luna serasa tidak bisa berucap lagi, bibirnyanya bergetar.
“Luna..” Panggil Ren yang tidak mendengar respon dari Luna.
Waktu itu Luna sedang di sibukkan degan perkara keluarganya. Dia memang benar-benar tidak mengetahui tentang perihal ini. Ada rasa bersalah di hatinya.
“I-iya Ren. Terimakasih informasinya. Maaf sudah merepotkanmu.”
“Ah, tidak apa-apa Luna. Jujur aku juga ingin mengetahui perihal ini. Jika kamu tidak menghubungiku waktu itu, mungkin aku tidak akan pernah mengetahui tentang kepedihannya. Aku sungguh berterimakasih padamu. Sekarang aku perlu menghiburnya.”
“Hum, baiklah. Tapi Lily masih di Hangshzou, Ren. Kemaren aku menghubunginya, dia belum tahu kapan akan kembali ke Beijing. Dan dia tidak mau di kunjungi.”
“Arghh.. anak itu.” eram Ren. “Terimakasih Luna, jika begitu aku menghubungi saja.”
__ADS_1
“Ya..”
Pebicaraan mereka berakhir. Luna menurunkan ponselnya dari telinga dengan lesu. Masih sangat tidak menyangka jika team kuratornya yang handal mengalami seperti ini. Dan parahnya, dia sama sekali tidak mengetahui ini. Jika saja dia tahu lebih awal, setidaknya dia bisa menghibur dan memberi semangat.
“Tapi bagaimana bisa mereka melakukan kesalahan? Saat bersamaku, mereka adalah kurator handal. Kerjanya sangat memuaskan.” Batin Luna mencoba menelaahnya.
“Hufftt… baiklah. Aku harus segera memulai untuk melukis dan melakukan pameran. Aku harus membantu mereka bangkit.”
Luna berdiri. Berjalan menuju ruang lukisnya.
***
Nindy menyesap minumannya. Wajahnya terlihat kesal. Dia berada di sebuah restoran.
“Kebiasaan seperti ini.” Nindy berdecih sambil melihat jam di tangannya yang sudah menujukkan pukul 5 sore.
“Kau mengumpatiku?” suara pria yang mengejutkan Nindy. Suara yang sukses membuat matanya membulat sempurna. Siapa lagi jika bukan Jiang He, pria yang di tekati untuk selalu di kejarnya.
Nindy berbalik badan dengan cengingisan.
“ Hehe..”
Jiang He tersenyum tipis, “Aku terjebak macet.” Terang Jiang He sambil menuju ke kursi di depan Nindy.
“Oooo..” Nindy mennggembungkan pipinya di sertai dengan anggukan.
“Kau belum memesan?” tanya Jiang He.
“Belum. Aku menunggu kakak.”
Jiang He Tersenyum dan langsung memanggil pelayan. Dia memesan menu dengan lugas tanpa menanyai Nindy, karena dari beberapa pertemuan mereka, pria ini sudah mengetahui dengan baik apa yang di sukai dan tidak di sukai oleh Nindy.
Nindy tersenyum puas bahagia memanndangi Jiang He. Sangat bahagia, meski status mereka sekarang masih kejar dan di kejar. Nindy memang sudah dibuat terpesona oleh pria di depannya ini. Hingga Jiang He telah selesai memesanpun, matanya masih saja tidak berkedip memandangi pria itu.
Jiang He mendengus senyum, “ Nindy setelah ini mari kita ke bioskop.”
“Iya,” jawab Nindy yang masih terpesona. Detik berikutnya dia langsung tersadar. “Apa? bioskop?” tanyanya lagi tidak percaya. Kesadarannya baru saja kembali.
“Iya? apa kau sudah ada jadwal.” Tanya Jiang He. Dia mengangkat alisnya menunggu jawaban Nindy.
“Tidak.. tidak. Aku free.” Nindy tampak antusias. Dia masih tidak percaya Jiang He akan mengejaknya. Ini pertama kalinya.
“Aaa.. ini nyatakan? Akau sungguh berdebar.” Sorak hati Nindy. Bahkan pipinya sekarang memerah karena saking bahagianya.
“Oh God! Sangat sulit mengontrol perasaanku. What should I do?”
Bersambung…
Vidio ala trailer "TUAN MUDA AKU BENCI KAMU." akan aku upload dalam minggu ini ya.
Silahkan follow ig aku bagi yang berkenan dan penasaran.
Jika tidak, ya Syudahlah. Abaikan saja 😁
__ADS_1
@pupearnia