TUAN MUDA AKU BENCI KAMU

TUAN MUDA AKU BENCI KAMU
S2 Testpack


__ADS_3

“Terimakasih sayang, terimakasih telah hadir di perut mama.” Luna memandangi testpack yang bergaris merah dua. Berdiri di depan kaca kamar mandi dengan senyum yang tak luput dari bibir merah mudanya.


Luna mendesah menghembuskan napasnya kuat. “Baiklah sayang, untuk sementara mari kita sembunyikan kabar bahagia ini dari semua orang.” tuturnya sambil melepaskan balutan handuk di kepalanya. Luna baru saja selesai mandi dan masih mengenakan jubah handuk.


Luna berencana untuk menjadikan berita kehamilannya sebagai hadiah ulang tahun Mark yang terhitung 5 hari lagi. Dia sendiri sudah tidak sabar menunggu hari itu, tidak terbayang olehnya bagaimana raut bahagia suami, papa dan mamanya mengetahui kabar bahagia ini.


Selesai menaruh handuk, Luna keluar sambil bernyanyi kecil.


女:像夏天的可樂


nǚ: Xiàng xiàtiān de kělè


Seperti coca cola di musim panas.


像冬天的可可


xiàng dōngtiān de kěkě


Seperti coklat di musim dingin.


你是對的時間對的角色


nǐ shì duì de shíjiān duì de juésè


Kau (hadir)di waktu yang tepat dengan peran yang tepat.


“Akh..” Luna tersedak.


“Pletak”


Seketika testpack yang di pegangnya terjatuh di lantai. Matanya membulat melihat sosok Mark yang sudah duduk di tepi ranjang sambil melepaskan dasi.


“Sayang..” Mark menoleh. Senyum bahagia melihat sang istri yang sangat dirindukannya.


Luna tersadar. Dia menelan salivanya. Melirik ke lantai di mana testpacknya tergeletak di sana


“Sayang kamu datang.” Tanyanya dengan kakinya yang berusaha menarik testpack yang tergelatak.


“Baru saja.” tutur Mark lembut sambil merentangkan tangannya, berharap sang istri segera menghambur dalam pelukannya.


“Hummm…” Luna tersenyum, dan masih berdiri di tempat. Kakinya sudah menginjak lembut testpack.


Kening Mark berkerut. Sang istri tidak menyambutnya, malah berdiri seperti orang bodoh.


“Apa tidak merindukanku?” tanya berkedip kecewa. Rasanya ingin marah.


Mark menarik tangannya kembali, berdiri menatap tajam rada kesal pada Luna yang sibuk dengan isi pemikirannya yang sekarang terlihat hanya mengedipkan mata, senyum-senyum pada Mark.


“Ayolah sayang, jangan sampai papa mengetahuinya sekarang. Mama mohon.” Tetap senyum-senyum pada Mark, sementara Mark sudah naik darah melihatnya.


“Apa tidak menyambutku?. Apa kau hanya akan tetap berdiri di sana?” Mark berusaha keras menahan kekesalannya.


“Aku sangat merindukan.” Jawab Luna sumbringah.


“Lalu?” suara Mark mulai terdengar kesal, dia juga memperhatikan kaki Luna yang bersilang kebelakang.


“Sayang kakimu kenapa?” Mark mendekat dengan wajah menyelidik.


“Aaa..jangan mendekat.” Teriak hati Luna.


Tangan Luna membuka cepat pintu kamar mandi dan langsung mendorong kuat testpack tersebut dengan kakinya berbalut sandal. Dan diapun langsung berlari, menghamburkan diri pada Mark yang sudah dekat.


“Aku baik-baik saja sayang.” senyum bodoh sambil memegangi wajah.

__ADS_1


Testpack yang masih melayang dan.. “Pletak..” jatuh dengan bunyi yang cukup keras kali ini.


“Bunyi apa itu?” Mark menoleh ke pintu kamar mandi yang terbuka.


“Bukan apa-apa sayang.” Luna segara menarik wajah Mark menatap.


Mark mengangkat alisnya, merasa aneh dengan tingkah Luna.


“Aku akan mengeceknya.” Berjalan tapi dengan cepat Luna menahannya. Luna berdiri di depan Mark.


“Bukan apa-apa sayang. Aku merindukanmu.”  Memeluk Mark manja dengan gerak mendorong tubuh Mark menjauh dari sana.


“Sayang tapi aku ingin memastikan dulu ada apa di dalam.”


“Tidak! aku merindukanmu. Aku ingin memelukmu. Apa kau tidak merindukanku?” menatap Mark dengan memanyunkan bibirnya.


Mark tersenyum, diapun langsung mengecup lembut bibir sang istri. “Mana mungkin. Aku sangat merindukanmu, aku bahkan serasa sulit bernafas akhir-akhir ini karena merindukanmu.”


Luna tersenyum penuh kemenangan. Dia mendorong tubuh Mark, hingga tubuh meraka jatuh di ranjang. Aroma tubuh Mark entah kenapa membuatnya tertarik.


“Sayang..” Mark tersenyum bahagia melihat Luna yang agresif.  Namun hal itu tidak bertahan lama. Luna tiba-tiba merasa mual, namun dia mencoba menahannya.


“Sayang, apa kamu mulai bereaksi? Kamu tidak meyukai aroma papa?” bisik hati Luna dan langsung bangkit dari tubuh Mark.


“Luna ada apa?” tanya Mark yang juga bangkit.


Luna menggeleng, masih sibuk dengan pemikirannya.


“Hoek, hoek..” mualnya semakin menjadi. Luna langsung lari ke kamar mandi.


“Sayang kamu kenapa?”  Mark mengikuti Luna khawatir.


“Brack…” Luna menutup pintu kamar mandi kuat dan menguncinya dari dalam.


“Hoek, hoek..” Luna mengeluarkan semua isi perutnya. Wajahnya pucat, sungguh tidak enak sekali perutnya. Di luar sana Mark semakin khawatir mendengar Luna yang terus mual.


“Luna buka pintunya.” Ingin sekali Mark mendobrak pintu itu sekarang, tapi tertahan karena Luna bersuara.


“Aku tidak apa-apa sayang. Hanya sedikit mual.”


“Iya, tapi kenapa bisa mual? Apa kau sakit? aku akan memanggil dokter untukmu.”


Luna terkejut bukan main. “Tidak perlu sayang.” Berkumur cepat. Sia-sia rencananya, jika dokter datang memeriksa. Luna segera berlari ke pintu, mengambil tespack yang masih tergelatak dan meletakkannya di tempat yang menurutnya aman di kamar mandi tersebut.


“Sayang aku tidak perlu dokter.” Keluar dan melihat Mark yang sudah berbicara dengan seseorang di via telepon.


“Ya sekarang juga Rangga.. dalam 5 menit kau dan dokter terbaik harus sampai!”


“Tidak! Ini tidak boleh terjadi.”


Mark mengakhiri telepon dan langsung menghampiri Luna yang membatu menatapnya cemas.


“Sayang apa yang sakit.” menatap Luna penuh kekahawatiran, memengi wajah Luna dengan kedua tangannya.


“Mark..”


“Humm.. katakan padaku, apa yang sakit?”


“Aku tidak sakit. Aku bilang aku tidak sakit.” pekik Luna tiba-tiba marah. Dia bahkan menepis tangan Mark kasar.


“Luna..” Mark tidak percaya. Apalagi Luna menatapnya tajam, seolah membencinya.


“Aku baik-baik saja. Aku tidak butuh dokter, aku tidak sakit..”  teriak Luna semakin keras, matanya bahkan berkaca-kaca. Dadanya naik turun, nafasnya tidak beraturan.

__ADS_1


“Sayang aku hanya menghkawatirkanmu.” Bujuk Mark mendekat


Luna mundur, “Aku bilang tidak! ya tidak.” Pekiknya sekali lagi dan langsung berlari keluar kamar. Tangisnya pecah.


Mark terdiam mamandangi Luna punggung Luna yang menjauh.  Dia sungguh tidak percaya dengan apa yang di lihatnya. Dia hanya khawatir, tapi kenapa Luna malah marah bahkan menatapnya penuh kebencian. Tatapan Luna tadi sama seperti saat Luna memandangnya penuh kebencian dulu. Tatapan ini pertama kalinya dia lihat sejak mereka menikah. Apa yang salah?


“Luna…” teriak Mark yang menyusul Luna keluar.


Luna tidak menghiraukan teriakkan Mark dan langsung masuk ke dalam kamar lainnya. Dia menutup pintu keras dan tangisnyapun mulai bersuara.


“Luna, sayang buka pintunya. Maafkan aku.” Ucap Mark sambil mengetuk pintu. Dia sangat khawatir dan perasaanya sangat tidak karuan.


Luna tidak menjawab, dia bersandar di pintu hanya meresapi tangisnya.


“Sayang, kau tidak mau dokter. Baik, mereka tidak akan memeriksamu.”


Luna hanya menggeleng. Diapun tidak percaya akan bertingkah seperti ini. Tapi yang jelas dia tidak ingin kehamilannya di ketahui sekarang. Antara merasa bersalah dan kesal pada Mark saat ini. Hormon kehamilan tanpa di sadari sudah mempengaruhinya.


“Mark..” panggil Rangga yang datang dengan napas terengah dengan seorang dokter pria. Mereka bahkan menunduk menaruh tangan di lutut untuk menstabilkan napas mereka.


Mark menoleh sebentara, kemudian lanjut memanggil Luna.


“Sayang please.. buka pintunya. Aku salah, aku minta maaf. Aku akan menyuruh dokter ini kembali.”


“Hah?” Rangga dan dokter pria itu saling tatap. Napas mereka masih belum stabil. Lalu menatap Mark kembali. mereka baru sadar. Bahwa Mark sedang memanggil-manggil Luna. Hanya bingung dan heran ekspresi 2 orang pria itu.


Mark berhenti. Hatinya sakit, Luna sama sekali tidak menanggapinya, rasa rindunya ingin memeluk dan bermanja malah berakhir seperti ini.


“Baiklah. Aku tidak akan mengganggumu. Selamat malam sayang, gantilah handukmu dengan pakaian hangat. Beristirahatlah dengan tenang. Aku mencintaimu, aku merindukanmu.” Menarik tangannya dari handle pintu dan berjalan lemah melewati Rangga dan dokter. Dua pria itu hanya diam menatap Mark yang melewati mereka.


Mark berhenti, “Kalian pulanglah!” ucapnya, kemudian lanjut berjalan.


“Hah?” Rangga dan dokter tidak percaya, mereka bahkan menerobos lampu merah agar bisa sampai dalam waktu 5 menit ke rumah ini.


“Tapi kenapa?” tanya Rangga.


“Apa masih kurang jelas?” Mark berbalik badan menghadap 2 pria itu.


“Ini semua karena dokter..” tunjuk Mark.


“Sa-saya?” tanya dokter itu menunjuk dirinya sendiri bingung. Begitupun dengan Rangga tidak kalah bingung.


“Ke-kenapa…”


“Aku bilang pergi ya pergi atau kalian ingin ku tendang..” ucap Mark memotong kalimat Rangga dia bahkan mengkayangkan kakinya.


“Tidak, tidak…” Rangga dan dokter berjalan mundur dengan tangan terangkat di dada tanda menyerah.


“Ssstt..” decis Mark kesal dan menuju kamarnya.


“Apa yang terjadi?” tanya Dokter pada Rangga setelah kepergia Mark.


Rangga menggeleng, “Entahalah. Aku rasa dia dia bertengkar dengan Luna. lalu melampiaskannya pada kita.” tutur Rangga mengusap wajahnya kasar.


“Mari dok,” ajak Rangga. Dokter mengikutinya.


“Apa lagi kali ini?” Rangga menoleh belakang menatap punggung yang masih terlihat.


Bersambung…


Hai kakak aku udah upload foto dan 3 vidio "Tuan Muda Aku Benci Kamu." Di Instagram.


Bagi yang penasaran, yuk kepoin. Koment juga ya kak, gimana menurut kakak.

__ADS_1



__ADS_2