
Haihai.. kembali lagi dengan cerita TUAN MUDA AKU BENCI KAMU S2.
Author harap para reader suka. Karena season 2 ini, bahasannya akan lebih luas, tidak hanya terfokus pada Luna dan Mark saja. Tapi author tetap minta pendapat para Readers ya, agar memudahkan author untuk mencari ide. Terkadang dari komentar kalian itulah akan mendatangkan imajinasi author.
Jadi jangan Lupa Like dan Komentnya ya.
Happy Reading....
---------------------------------------
London, Inggris.
Di sebuah ruang kamar yang besar, tersusun dengan rapi dan juga terlihat megah semua furniturenya. Sangat elit dan juga ada kesan feminimya, karena berbagai aksesoris kamar itu di dominasi oleh warna kuning yang elegant.
Kamar yang mewah itu terlihat kosong, namun jika di sorot kembali di dinding bagian kepala ranjang yang berukuran king size terpajang sebuah foto pernikahan. Ya, itu adalah foto pernikahan pasangan suami istri Mark Rendra dan Luna Aliester.
‘ krack ‘ terdengar suara pintu terbuka dan di sana keluarlah Luna dengan dengan mengenakan baju tidur warna kuning kesayangannya dan rambut basahnya juga di balut dengan handuk warna senada.
Senyum terukir di bibir Luna ketika dia membuka penutup rambutnya di depan meja rias, lalu tangan satunya membuka laci untuk mengambil hairdryer. Sambil bersenandung kecil dia mengeringkan rambutnya, memandang dirinya kaca, lalu melirik bingkai foto collage di meja riasnya. Foto manisnya dengan sang suami Mark Rendra saat menikmati musim dingin di tepi pantai 13 bulan lalu.
Luna sudah melewati 1 tahun masa pendidikannya di London, dia sudah hampir menyelesaikan pendidikannya, sekarang saja dia hanya sedang menunggu pengukuhan gelar magisternya.
Namun, saat ini dia disibukkan dengan kegiatan seni dengan profesornya, serta sesekali dia juga harus pergi memantau kerja samanya dengan Alexa dan Camelia di Polinesia, Prancis.
Mengenai tempat tinggal di London, ini di luar ekspektasinya. Dulunya dia hanya berharap bisa tinggal di apartement yang penting nyaman saja. Dia ingin hidup seperti orang biasa, tidak ingin menonjolkan dirinya sebagai istri dari pebisnis besar dunia.
Tapi siapa yang rela, istri dari seorang pebisnis yang super kaya mana mungkin hidup berhemat-hemat sementara begitu banyak uang yang bisa di hambur-hamburkan. Ya.., mungkin begitulah pemikiran orang yang tidak mendelik lebih dalam.
Sementara Mark melakukan hal ini demi keamanan sang istri tercinta, meski dia bisa mengirim orang untuk selalu mengawasi Luna, tapi tempat tinggal juga harus bisa menjamin keamanan, itulah yang di fikirkan oleh Mark.
Oleh karena itu dia tidak segan-segan membeli sebuah aprtement dengan harga yang fantastis, yaitu sekitas USD 440 juta. Apartement dengan segala kemewahan kelas premium yang di lengkapi dengan kaca anti peluru serta dijaga oleh pihak keamanan khusus. 24 jam pelayanan, juru masak pribadi, ruang hiburan hingga kolam renang tanpa batas ( Infinity pool), serta ruang simulasi golf yang dapat digunakan oleh para pemilik apartemen.
Soal pemandanganpun tak perlu di tanyakan lagi. Ketika menyibak tirai, maka keindahan kota London akan langsung menyambut. Semuanya terlihat di atas ketinggian gedung apartement ini. Jika di tanya ingin Luna, ini semua sesuai seleranya.
Maklum sebagai seorang wanita yang memang selalu dimanjakan dengan kemewahn sedari kecil, dia sendiri tidak bisa menolak saat Mark menyuruhnya untuk mempertimbangkan untuk tinggal di sini.
Lagian jika di pikir-pikir ulang Mark memang benar adanya. Dia memang harus selalu menjaga diri. Soal siapa dirinya saat di kampus, itu bisa saja di atur.
Luna sudah selesai dengan urusan rambutnya, dia matikan hairdryer dan membiarkan rambutnya begitu saja. Luna berjalan mengambil segelas air putih yang terletak di meja sofa kamarnya, lalu berjalan menuju tirai dan menarik tirai tersebut, hingga terlihatlah keindahan London di malam hari.
Gedung-gedung tinggi menjulang dan kelap-kelip bintang di langit serta kelap-kelip lampu bangunan dan sekitarnya benar-benar sangat mempesona, menyatu menciptakan panorama malam yang sangat epic dan tak terlupakan.
‘ ddrrt ddrrt ‘ getaran ponsel yang berada di atas ranjang, langsung mengalihkan pandangan Luna yang sedang minum sambil memandangi keindahan kota London di malam hari.
Luna mendeguk minumannya, lau berjalan mendekati ponselnya. Saat melihat nama panggilan vido di layar ponsel, Luna langsung mengembang senyumnya. Siapa lagi yang membuat senyumnya merekah, jika bukan panggilan video dari sang suami Mark Rendra.
Luna menaruh gelasnya di meja sisi ranjangnya. Lalu menjawab panggilan video tersebut.
__ADS_1
“ Sayang, kenapa belum tidur?” hal pertama yang di ucapkan Luna. Karena perbedaan waktu antara London-Beijing, di mana Beijing lebih cepat 7 jam dari London, Britania Raya.
Sekarang di London menunjukkan pukul 20.05 dan tentunya sekarang di Beijing adalah jam 03.05 dini hari.
” Aku merindukanmu. Ini sudah hampir 2 bulan kita tidak bertemu, waktu terlama kita berpisah sepanjang 1 tahun ini.” ucap Mark lirih.
Mark sedang menyandarkan dirinya di kepala ranjang, dan memangku laptopnya. Dia tampak mengenakan baju tidur berwarna terang pilihan Luna. Karena benar saja, sejak malam pertama mereka di hotel waktu itu, Luna benar-benar membeli baju tidur yang imut-imut untuk dia dan Mark kenakan.
“ Sayang aku juga merindukanmu.” Luna sudah bersandar di kepala ranjangnya, melakukan hal yang sama dengan Mark.
“ Sayang maafkan aku ya.”
“ Tidak apa-apa, jangan terganggu dengan ini. Aku di sini baik-baik saja. Fokus saja pada pekerjaanmu. Ingatlah, di sini istrimu butuh biaya yang sangat besar.” Ucap Luna dengan nada gurauannya. Dia ingin sedikit menghibur Mark, karena dari ekspresi Mark terlihat murung, rindu dan juga rasa bersalah terlihat sangat jelas dari ekspresi itu.
“ Baiklah.” Mark mendegus senyum dengan gurauan Luna yang berusaha menghiburnya.
“ Bagaimana proyek di Prancis? apakah berjalan dengan lancar?” tanya Mark, karena Luna baru saja kembali dari Prancis untuk memantau perkembangan proyek kerjasamanya dengan Alexa dan Camelia.
“ Lancar sayang. Semuanya berjalan sesuai rencana dan sebentar lagi proyek itu akan rampung.” jelas Luna dengan senyum.
“ Bagaimana dengan Camelia, dia tidak mengganggumu kan?” sorot mata Mark terlihat menyelidik, sehingga membuat Luna tertawa, tapi juga ada kekesalan disana.
“ Ya ampunn.. sesi wawancara lagi? sayang apa kau ingin aku jadi wanita pengadu ya?”
Bisik hati Luna gemas kesal. Karena Mark selalu menanyai setiap aktivitas yang dia lakukan, meski juga sudah ada mata-mata yang mengikutinya dari kejauhan.
“ Tidak sayang, dia masih ramah seperti biasanya.” Luna masih terlihat menahan tawanya.
“ Istri Mark Rendra memang pintar. Tapi.. tetap kabari suamimu ini tentang apapun yang membuatmu merasa tidak nyaman. Jangan bertindak sendirian, ingatlah kita harus mengadapi semuanya berdua.” Pinta Mark. Mark tidak bosan-bosannya mengingatkan Luna akan hal itu. Karena dia sangat tau sifat istrinya yang suka bertindak sendirian.
“ Iya sayang, aku akan melaporkan semuanya padamu. Jika ada alat pembaca pikiran, dengan senang hati aku akan menggunakannya untukmu. Agar suamiku ini tidak perlu khawatir lagi karena bisa mengetahui apapun yang aku pikirkan.” Luna berucap dengan manja.
Jika saja Mark di sampinya, mungkin sudah dia cium-cium karena gemas melihat Mark yang terlalu mengkhawatikannya. Padahal sejak pernikahannya dia tidak ada lagi mengalami tragedy seperti sebelumnya, bahkan hidupnya terasa sangat santai.
Satu-satunya beban terberat baginya saat ini adalah menahan rindu pada orang-orang tercinta, apalagi pada sang suami.
Mark tersenyum mendengar suara manja istrinya, membuat dia semakin sulit menahan rasa rindunya. Rasanya ingin sekali memeluk sang istri saat ini. “ Baiklah, aku percaya padamu. Tunggu aku, setelah pekerjaanku selesai aku akan segera menyusul ke sana.”
“ Ok sayang, istrimu ini akan selalu menunggumu. Sekarang kamu lebih baik istirahat, besok juga harus bekerja. Jaga kesehatanmu, suamiku harus selalu kuat. Istrimu tidak suka pria lemah.” kalimat Luna di sambung dengan tawa renyah di akhirnya.
“ Cih, apa kau meragukan kekuatan suamimu ini? hum?” suara kesal dan seringai licik di wajah Mark.
Tawa Luna terdengar semakin renyah, dia merasa puas melihat reaksi Mark kesal tapi tidak bisa melakukan apa-apa padanya. Saat berjauhan seperti inilah Luna bisa membalas dengan tawa. Jika mereka berdekatan, Luna langsung kicut dan diam. Karena dia pasti kalah dan akan di hujami dengan ciuman ganas oleh sang suami.
“ Tunggu saja ya setelah upacara kelulusanmu. Aku akan memakanmu.” Sambung Mark semakin kesal melihat Luna tertawa semakin renyah. “ Cih, kenapa aku setuju dengan perjanjian konyol menunggu sampai kau lulus ya. Benar-benar menyebalkan.” Lanjutnya.
“ Hahaha.. karena aku wanita yang pintar.”
__ADS_1
“ Cih, “ jawab Mark dengan mengangkat sudut atas bibirnya.
“ Sayang, sekarang kamu istirahat ya.” bujuk Luna kembali.
“ Baiklah. Kau juga istirahat dengan baik.”
“ Siap suamiku.” Diiringi dengan anggukkan kepalanya dengan imut dan manja.
“ Oh iya, kegiatan amal pameranmu bagaimana? apa ada kendala?”
“ Tidak sayang, lukisanku yang akan ikut serta sudah di pilih . Profesorku juga membantu. Besok aku akan mengunjungi gedung pameran, melihat dimana saja bagian lukisanku diketakkan.”
“ Jadi besok tidak akan sibukkan?”
“ Sepertinya tidak.”
“ Baiklah. Jika begitu sekarang langsung istirahat saja, aku akan menamanimu.”
“ Hah?” Wajah Luna terlihat bingung.
“ Sayang, karena aku sangat merindukanmu. Aku ingin tidur dengan melihatmu tidur. Lakukan saja perintahku!.” Mark berucap kesal, dia menaruh laptop di sampingnya laku beringsut merebahkan dirinya. Memandangi Luna di layar yang masih terlihat bingung.
“ Jadi panggilan Vidio ini akan tetap berlanjut sampai kita tertidur?” tanya Luna dengan polos.
“ Iya. taruh saja ponselmu di sampingmu. Aku ingin memandangi wajah cantik istriku sampai terlelap.”
“ Mark Rendra… kenapa semakin hari kau semakin gila saja. kenak-kanakkan sekali.”
Luna menggerutu di dalam hatinya, sementara wajahnya menampilkan senyum tidak percayanya. Dia juga tidak bisa menolak, meski kelakuan suaminya menurutnya aneh. Dia beringsut, merebahkan diri. Mengambil boneka untuk menopang ponselnya di belakang. Dia memiringkan badannya ke arah ponsel. Sementara di layar terlihat Mark yang tersenyum memandanginya.
“ Sayang good night.” Ucap Mark diiringi dengan senyum malaikatnya yang membuat Luna tersipu.
“ Good night too sayang.” Jawab Luna dengan senyum-senyum malu.
Sungguh Luna sendiri juga sangat merindukan sang suami. Hanya saja dia berpura-pura tegar agar tidak mengganggu pekerjaan Mark. Karena jika saja Luna merengek ingin bertemu, Mark pasti langsung menyusulnya. Tidak peduli dengan rapat, meeting atau hal penting lain yang sudah di depan mata, saat itu menyusul Luna adalah yang terpenting baginya.
Hal seperti itu sering terjadi ketika di awal-awal mereka LDR. Tapi semakin lama, Luna paham akan kesibukan sang suami yang tidak hanya perkara perusahaan saja.
Dia tidak ingin egois, hingga menyusahkan suaminya yang bisa saja akan mendatangkan masalah untuk suaminya sendiri. Oleh karena itu dia belajar untuk mengolah rasa rindunya, memendam meski tak jarang juga dia meneteskan air mata karena rindu itu.
“ Love you sayang.” Ucap Luna diringin dengan senyum yang lembut.
Mark tersenyum tipis, lalu menjawab Luna dengan tak kalah lembutnya.“ Love You too sayang.”
Mereka saling menatap penuh cinta. Meski hanya hanya saling memandang di layar, setidaknya itu cukup untuk meredakan rasa rindu yang bergejolak.
.
__ADS_1
.
Bersambung..