
⚠WARNING!!! ⚠
Bagi yang puasa, mohon dibaca saat sudah berbuka puasa. Karena ada part yang bisa mengugurkan pahala puasa.
---------------------------------------
Nindy menyandarkan kepalanya ke belakang dan pandangannya tertuju ke luar jendela mobil. Air matanya masih saja mengalir. Sangat sulit baginya, karena jujur saja selama ini Lean selalu memperlakukannya dengan baik dan lembut. Oleh karena itu penghianatan ini begitu menyakitkan.
“ Luna, lantai 3 tadi sangat sepi. Apa kamu menyewanya?” Nindy mengusap air matanya, lalu menoleh pada Luna yang menyetir.
“ Iya.” Luna menganggukkan kepalanya.
“ Privasi lebih penting.” Lanjutnya.
“ Terimakasih Luna. Terimakasih telah memperdulikanku.”
“ Kau memang harus berterimakasih padaku. Jika tidak, mungkin wajah keluarga Wu dari Cour media akan muncul di platform media lain.” Luna berucap sambil tertawa kecil.
Nindy mendengus senyum lalu menundukkan kepalanya. “ Kau benar. Aku ini terlalu bodoh. Karena emosi, akau malah ingin mempermalukan diri sendri.” Nindy tertawa ringan lalu menggelengkan kepalanya.
“ Apakah hanya seperti ini pewaris Cour berterimakasih?” goda Luna.
“ Haha.. baiklah. Jika begitu, apakah yang di inginkan Nyonya Rendra dariku?” Balas Nindy tak mau kalah menggoda Luna.
Mereka saling tatap, lalu tertawa. Merasa lucu dengan guyonan yang meraka buat.
“ Nindy bagaimana jika kita Street food?” ajak Luna setelah tawa meraka berakhir.
“ Street food?”
“ Hmm..” jawab Luna sambil menganggukkakan kepala.
“ Kau masih sering melakukan itu?”
“ Sejak bertemu Mark sudah tidak pernah. Hufft..” Luna menghembu nafas dalam.
“ Padahal itu adalah hal yang menyenangkan. Menjadi orang biasa dan menikmati waktu senggang seperti orang biasa. Sungguh rindu.”
“ Baiklah, aku setuju. Terakhir, waktu masa sekolah dulu, aku sudah tidak pernah lagi melakukannya.”
“ Ok, jika begitu kita langsung berangkat.” Luna berucap semangat, lalu mempercepat laju mobilnya. Nindy yang berada di sampinyanya tampak tersenyum tipis melihat Luna.
Mereka sudah sampai di tempat tujuan. Di tengah keramaian itu Luna dan Nindy tampak tersenyum bahagia. Seakan mereka merasakan kebebasan dan kembali pada masa SMA mereka.
Sangat ramai, karena ini merupakan H-2 festival musim semi. Tempat ini di penuhi dengan pernak-pernik berwarna merah.
Nindy dan Luna menghembuskan nafas. Bergandengan tangan, lalu mulai untuk mencicipi makanan khas musim dingin di sreet food ini.
Mereka tampak bahagia, senyum dan tawa tidak lepas dari bibir mereka ketika salah satunya melakukan hal yang konyol saat mencicipi makanan. Ici-icip, dari satu stand ke stand lainnya. Mereka mencicipi banyak makanan di sini.
Tentu saja moment ini tidak lupa mereka abadikan. Membuat vidio dan mengambil foto selfie. Bahkan mereka juga meminta tolong kepada orang yang lewat untuk mengambilkan gambar penuh mereka.
Makan-makan sambil melihat hasil foto, lalu tertawa renyah karena melihat beberapa foto konyol mereka.
Luar biasa, siang yang menyakitkan tadi telah di sulap dengan tawa bahagia dengan street food yang sederhana ini.
***
__ADS_1
Malam hari, di kamar Luna dengan cahaya lampu yang remang. Terdengar percakapan yang berasal dari laptop, namun Luna terlihat sudah tertidur di sofa dengan menyelimuti setengah badannya.
‘ kreck ‘ Mark membuka pintu. Dia masih mengenakan pakaian kerjanya. Memasuki kamar, lalu tersemyum tipis saat menemukan sang istri yang tertidur dengan layar laptop yang masih menyala.
Mark melepaskan jasnya, melonggarkan dasinya, lalu berjongkkok di dekat Luna dan menarik selimut Luna hingga leher.
Di lihatnya drama yang di tonton Luna ternyata masih drama romantis-komedi saat di pesawat waktu lalu. Mark tersenyum miring , lalu mematikannya. Kemudian dia kembali fokus pada sang istri.
Mmuuach.. sebuah kecupan di bibir sang istri, lalu dia membelalai kening Luna, menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah cantik istrinya. Mmuuach.. kecupan kedua di kening Luna.
Luna mengeryitkan keningnya, lalu membuka matanya perlahan. Luna tersenyum tipis saat mendapati wajah Mark tepat di depannya. “ Sudah pulang.” Ucap Luna dengan suara parau.
“ Hemm. Kau menungguku?” tangannya masih mengusap kening sang istri.
“ Iya. Kenapa lama sekali?”
“ Ada banyak hal yang di urus. Maafkan aku.”
“ Kenapa minta maaf? Bukankah sudah seharusnya seorang istri menunggu suami pulang?” sambil tersenyum. Kemudian bengkit dari tidurnya. “ Duduklah.” Sambil menepuk tempat di sampingnya.
Saat Mark telah di sampingnya, Luna langsung bermanja. Memeluk Mark dan menyandarkan kepalanya di dada bidangnya. Begitupun Mark mendekap lembut bahu Luna dan tangannya bermain dengan rambut panjang Luna.
“ Memangnya apa yang suamiku lakukan?” Luna mendongakkan wajanya dan tangannya menyusap lembut pipi Mark.
“ Bukan apa-apa. Hanya pekerjaan lama.” Mark berucap sambil mendengus senyum.
Luna diam, lalu menyandarkan kembali kepalanya di di dada Mark. Dia paham, jika Mark berkata perkerjaan lama, itu pasti berkaitan dengan hal paling menyakitkan bagi suaminya, yaitu tentang kematian ayah suminya atau mertua yang tidak akan pernah bisa dia temui.
Satu-satunya hal yang belum bisa Mark pecahkan meski sudah bertahun-tahun. Oleh karena itulah Mark mengatakan jika itu adalah pekerjaan lama.
“ Sayang, ingatlah. Aku Luna Aliester akan selalu mencintaimu. Dan jangan pernah ragukan itu. Aku ingin selalu bersamamu.” Luna membenamkan wajahnya di dada Mark.
“ Aku juga sangat mencintaimu istriku. Ya, tentu saja aku akan selalu bersamamu. Ingatlah Luna Aliester hanyalah milik Mark Rendra dan Mark Rendra hanyalah milik Luna Aliester.” Mark mencium puncak kepala Luna dan mengusap lembut punggung Luna. sementara Luna tersenyum dan menganggukkan kepalanya di dada Mark.
Kalimat itu walaupun ribuan kali mereka ucapkan, tapi tak pernah bosan untuk mereka ulang. Kata-kata untuk saling mencintai dan saling memiliki selamanya.
***
“ Sayang, apa kau sudah memikirkan tempat untuk bulan madu kita?” tanya Mark pada Luna yang berada dalam pelukannya di balik selimut tebal. Sekarang mereka sudah di ranjang dan Mark juga sudah berganti pakaian.
Luna diam sejenak. Waktu sesuai perjanjian memang semakain dekat dan pembahasan ini juga tidak bisa di elakakkan lagi. Lagian membuat Mark untuk bisa menahan diri selama ini, bukanlah termasuk hal yang sangat luar biasa? tidak mungkin dia akan mengelak lagi.
Apalagi hatinya juga sudah penuh di rasuki rasa cemburu dan super curiga gara-gara ini. Dia takut Mark akan melakukan kesalahan karena ini.
“ Aku tidak begitu bisa menentukan pilihan sayang. Terlalu banyak tempat bagus hingga ingin mengunjungi semuanya. Hihi.” Luna tertawa kecil menatap Mark. Cium bibir, lalu membenamkan kembali wajahnya di dada Mark.
“ Wah.. kau tampak begitu semangat ya. kau ingin kita bulan madu berapa lama?”
“ Sayang..” Rengek Luna. Dia tidak menyangka jika Mark akan menanggapinya seperti ini. Pipinya memerah karena malu. Namun dia menyembunyikan hal dengan semakin membenamkan wajahnya di dada Mark.
“ Hei apa yang kau lakukan? memangnya kau fikir tubuh ku ini apa? apa kau ingin mengukir wajahmu di dada suaminu ini?” geli-geli di dadanya karena kelakuan Luna.
Namun Luna tidak memperdulikan kalaimat Mark. Dia tetap membenamkan wajahnya meski Mark mencoba untuk mundur, tapi Luna malah ikut beringsut mengikuti tubuhnya.
“ Haha.. baiklah.” Mark terkekeh lalu memeluk Luna erat kembali, sanagat gemas sekali pada tingkah Luna.
Dia tahu apa yang sedang berusaha di sembunyikan Luna darinya. Ya, istrinya memang begitu, masih sangat pemalu.
__ADS_1
Pipinya sangat sering merona dan selalu berusaha menyembunyikan darinya meskipun dalam cahaya remang seperti ini. Tapi yang pastinya, Mark sangatlah senang. Karena rona itu, dialah sebabnya.
“ Sayang.” Ucap Mark lembut.
“ Hemm..”
“ Sayang kau mau punya anak berapa?”
Luna langsung mengangkat kepalanya, melirik menatap Mark dengan mengedipkan mata. Sementara dalam hatinya berdebat apakah pertanyaan ini perlu di jawab atau serahkan saja pada Mark mau berapa. Tapi dia takut Mark nanti meminta di luar dugaannya.
“ Dua sayang.” Luna berucap sambil menunhukkan 2 jarinya. “ Jika bisa aku 1 laki-laki dan 1 perempuan.” Lanjutnya.
“ Apakah istriku hanya ingin hamil 2 kali?” bertanya lembut sambil mencubit gemas hidung Luna, dan kemudian di jawab dengan anggukan oleh Luna.
“ Baiklah, sepertinya kita harus bekerja keras sayang. Aku ingin punya anak paling sedikitnya 7.”
“ Apa?” Luna membulatkan matanya. Benar saja tebakannya, Mark pastk meminta banyak anak.
“ Karena kau hanya ingin hamil dua kali, itu berarti kau harus memberiku 7 anak dalam 2 kali periode kehamilanmu.”
“ Hah?” lebih terkejut lagi dengan kalimat ini. Suaminya sungguh gila. “melahirkan 7 anak dalam 2 kali periode kehamilan? Memangnya kau pikir aku ini kelinci? kucing?” Luna mengeram kesal mendengar keinginan gila suaminya.
Mark terkekeh, lalu mendekap Luna dalam pelukannya. “ Itu terserah padamu saja. Jika tidak bisa, ya harus melahirkan sebanyak yang ku minta. Kita harus merencanakannya dan menyipkannya dengan baik.”
“ Huh.” Luna merasa sangat kesal.
“Ini bukan rencana kita, tapi rencanamu saja. dasar gila.”
“ Sayang apa kau tidak penasaran dengan angka maksimal anak yang ku inginkan?”
“ Tidak.” Tegas Luna dengan suara kesalnya.
“ Aku akan tetap mengatakannya.”
“ Aku tidak mau dengar.” Luna berusaha menutup telinganya, tapi dia kalah cepat mengendalikan tangannya sendiri. Mark memeganginya dan seringai nakal pada Luna.
“ Aku tidak punya angka batas maksimal, aku ingin sebanyak-banyaknya.”’ Bisik Mark.
“ Gila…..” teriak Luna meronta. Kaki, tangannya, semuanya bergerak tidak tahan mendengar ide gila suaminya. “ Memangnya kau pikir aku ini mesin pembuat anak apa?”
Mark tertawa puas. Dia mengunci kaki Luna dengan kakinya dan membiarkan tangan Luna memukul-mukul dadanya.
“ Sekarang lebih baik kau buat list tempat yang kau sukai. Lebih banyak lebih bagus!”
“ Eh” Luna berhenti memukul dada Mark. “ Bukankah semakin banyak semakin sulit membuat pilihan?” tanyanya polos.
“ Tidak sayang.” Jawab Mark dengan menggoyangkan jari telunjuknya.“ Karena kita akan berbulan madu ke semua tempat itu.”
“Aaaa.. suami psikopat……” teriak Luna semakin kuat. Tidak tau harus berucap apa lagi.
Teriakan Luna dan tawa Mark memenuhi kamar.
.
.
Bersambung…
__ADS_1