
Waktu berlalu dengan begitu cepat, tidak terasa 1 minggu sudah berlalu. Keadaan begitu tenang, tidak ada keributan atau semacam serangan dari orang seperti Camelia maupun Hyena yang menimpa Luna.
Dalam waktu satu minggu itu, setengahnya di habiskan Mark untuk urusannya di luar negeri. Begitupun dengan dengan Jiang He, dia juga kembali ke paris untuk beberapa hari.
Hingga Luna yang berencana untuk menemuinya, harus menunda niatnya.
Kegiatan Luna saat ini hanya terfokus pada perusahaan. Seperti biasa, dia pergi ke kantor untuk menjalankan tugasnya sebagai asisten presdir.
Dia mengemban tugas Mark selama Mark berada di luar negeri denga baik. Sehingga Mark sendiri kagum dengan kegesitan Luna. Dia berkembang dengan sangat cepat, semenjak proyek pertamanya berhasil.
Dia semakin eksis, tidak hanya sebagai putri Aliester ataupun tunangan Mark Rendara sebagai pria pebisnis nomor satu di Negaranya. Tapi dia Eksis dengan kemampuannya sendiri. Orang-oang mulai mengagumi cara dia berbisnis.
Bayangkan saja dalam 1 minggu, tanpa bantuan dari Mark dia berhasil menggaet 2 proyek luar Negeri, yaitu di Brazil dan Kerja sama resort bersama Alexa Hou di pulau Moorea-Maiao, Polinesia Prancis. Hal ini di karenakan Alexa begitu puas dengan kinerja Luna pada proyek Golden Resource Ling Shopping Mall.
Namun di luar itu semua ada hal yang paling membahagiakan. Yap, dengan berjalannya waktu tentu saja waktu pertemuan Luna dengan papa dan mamanya juga semakin dekat. Hanya tinggal beberapa hari lagi.
Oleh karena itu Luna melakukan berbagai persiapan di hari liburnya.
Luna mengganti peralatan yang ada di kamar orangtuanya dengan model terbaru, dan tentunya itu juga sesuai dengan selera mamanya. Dia terlihat sangat sibuk hari itu, tapi meskipun begitu dia tidak lelah sama sekali.
Jam sudah menunjukkan pukul. 16.03, Luna baru selesai dengan tugasnya. Dia keluar dari kamar orang tuanya sambil memegangi pundaknya. Lalu dia langsung pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri.
Seperti biasa, Luna melakukan ritualnya. Dia berendam dengan busa aroma vanilla kesukaannya sambil mendengarkan alunan music klasik yang santai.
Dia menyandarkan kepalanya di bathub sambil memejamkan matanya.
“ Pa ma..Luna sangat rindu” ucapnya dengan senyum yang terukir di bibirnya.
‘ zhrrtt ‘ tiba-tiba ponsel yang ada di sampingnya bergetar.
Luna membuka matanya dan melirik ponselnya.
“ Mark..” ucapnya dengan senyum bahagia. Lalu Luna memperkecil suara musiknya.
“ Halo Mark..”
“ Luna..apa kau merindukanku?” goda Mark tanpa basa-basi. Mark berdiri di depan kaca jendela dan di balik jendela terbentang hamparan laut yan luas. Meskipun malam hari, tapi laut memancarkan keindahannya karena cahaya bulan yang menerangi.
“ Tentu saja, kau cepatlah pulang. Aku sudah sangat rindu” dengan senyum manisnya.
“ Bersabarlah beberapa hari lagi. Aku datang dengan papa dan mama mertua. Jadi kau harus bersiap-siap untuk menjadi istriku” goda Mark.
“ Mark Rendra..kenapa isi otakmu hanya menikah saja. Memangnya hari itu kau akan segera meminta restu orang tuaku?” Luna mulai kesal, karena Mark akhir-akhir ini selalu menggodanya.
“ Tentu saja.”
“ Apakah itu tidak terlalu buru-buru. Mark aku ingin bersama papa dan mamaku dulu.” Bujuk Luna dengan suara manjanya.
“ Untuk sementara kita tidak perlu pindah. Kita tetap di rumah, setelah kau kau siap. Baru kita pindah ke vilaku” dengan santai.
“ Haha..kau tidak mengerti. Sebenarnya aku ingin melanjutkan pendidikanku dan menggapai impianku terlebih dahulu. Aku ingin membuka galeri seniku. Meskipun aku masih punya tanggung jawab kerjasama dengan Alexa, tapi aku sudah membicarakan ini padanya dan dia bersedia. Dia tidak mempermasalakan jika aku tidak secara aktiif di Lixing nantinya, yang dia inginkan agar aku tetap membantunya dalam proyek resort itu. Dan untuk proyek di Brazil, sepenuhnya itu tanggung jawab Mark.” bisik hati Luna.
“ Luna..kau kenapa diam?”
“ Ah iya iya Mark.”
__ADS_1
“ Ah sudahlah. Lagian papa tidak mungkin memberinya restu dengan mudah.”bisik hatinya lagi.
“ Baiklah. Seperti yang sudah ku katakan sebelumnya, jika papa dan mama memberi restu maka aku tidak akan menolak.”
“ Kau memang yang terbaik.” Dengan senyum bahagia.
‘ srush..’ suara air bergeming, karena Luna mengangkat kakinya. Hingga Mark juga mendengar suara air itu.
“ Sayang kau sedang apa?”
“ Hah..kenapa dia bertanya?? Ini darurat. Aku tidak boleh memberitahunya jika aku sedang berendam. Pria adalah makhluk imajinatif, nanti dia malah berfikiran yang aneh-aneh” gumam Luna sangat khawatir dan juga malu.
“ Haha.. aku sedang cuci tangan sayang. Terdengar sangat jelas ya?”
“ Kau mencuci tangan dengan mendengarkan alunan music? Aku malah berfikir kau sedang berendam cantik di bathtub.” Tebak Mark dengan suara menggoda.
“ Aahh..kenapa tebakannya benar? Tidak..aku harus menghentikannya.”
“ Hahah..kamu salah dengar sayang, mana ada musik di sini. Pendegaranmu mulai terganggu sayang. Besok pergi periksa ya” sambil mematikan musiknya.
“ Sayang pendengaranku sangat bagus tidak mungkin aku salah dengar. Bukan hanya itu, sekarang aku juga sudah melihat kau sedang berendam cantik.”
“ Aaa..Mark Rendra dasar kau mesum. Kau jangan gunakan otakmu itu untuk berfikiran liar mengenaiku!” teriak Luna sangat kesal.
‘ brush..” tanpa ia sadari tangan kirinya menghempas air. Sehingga hal itu membuat Mark yang berada di sebarang sana tertawa puas.
“ Hahaha..Luna kau masih berani membohongikau?”
“ Aish sial” umpat Luna pada dirinya sendiri.
“ Mark kau jangan sesekali berfikiran aneh tentang aku. Aku tidak suka pria mesum. Jika sampai begitu, aku tidak akan menyambutku ketika kembali nanti” ancamnya suara yang merajuk.
“ Mark brengsek” umpat Luna.
Dia tidak mau lagi melawan Mark bicara, karena hal itu hanya akan membuat Mark semakin bersemangat mengerjainya.
“ Ehem, sayang jangan marah. Aku hanya bercanda” bujuk Mark dengan lembut.
“ Kau jahat.”
“ Haha..maaf maaf. Sayang aku benar-benar sangat merindukanmu?” sambil menghempaskan dirinya di ranjang.
“ Baiklah. kau dimana sekarang?”
“ Diranjang.”
“ Ok. Jika begitu dengar dan ikuti intruksi melepas rindu dariku” dengan santai tapi serius.
“ Benarkah. Kau punya hal semacam itu?” tanya Mark dengan excited.
“Tentu saja. Selimuti tubuhmu dengan baik”
Mark langsung masuk ke selimut.
“ Sudah”
__ADS_1
“ Ambil nafas dalam-dalam!”
“ hhmmmhuuufftt.. sudah”
“ Pejamkan matamu!”
“ Sudah” sambil memejamkan mata.
Tiba-tiba sunyi. Luna tak lagi bersuara. Tapi Mark masih diam, dia menunggu intruksi selanjutnya. Tapi Luna masih saja diam.
“ Sayang kenapa diam. Apa intruksi selanjutnya?”
“ Kamu cukup diam dan tidur saja sayang. Itu sudah intruksi terakhir, kenapa kau bersuara.”
Mark langsung membuka matanya, dia mengumpulkan kemarahannya.
“ Lunaa….kau mengerjaiku ya??” dengan penuh kekesalan.
Teriakan Mark membuat Luna menjauhkan ponsel dari telinganya.
“Mark kau kenapa mengaum seperti singa? Aku tidak mengerjaimu, huh.” dengan merajuk.
“ Lalu apa maksudnya ini? kau menyuruhku tidur sementara hatiku dan pikiranku berkecamuk selalu memikirkanmu.”
“ Lalu aku harus bagaimana? Aku harus bilang kita akan bertemu dalam mimpi? Kau bukan anak kecil lagi yang bisa ku bujuk dengan hal semacam ini. Kau harus tetap tidur meskipun hanya 2 jam lagi matahari menampakan dirinya.”
“ Jika begitu lakukan sesuatu yang bisa membuatku tidur dengan tenang.”
“ Sabar Luna” gumam Luna.
“ Humm..baiklah. Tunggu sebentar ya sayang” dengan suara lembut, namun di paksakan.
Luna mengumpulkan busa dan membentuknya seperti gambar hati. Lalu dia memfotonyasembari memberi fingerheart.
‘cekrek’
Luna tampak mengetik dan setelah itu dia langsung mengir pesan pada Mark.
Di seberang sana, Mark langsung membaca pesan Luna. Sebuah foto busa hati dan fingerheart dari Luna yang di lengkapi dengan caption.
“ Sayang tidurlah dengan nyenyak! Semoga hari lekas berganti, hingga kita semua berkumpul dan saling melepas rindu. Cup.”
Dia tersenyum puas meihat yang dikirim Luna, apalagi dengan caption yang begitu manis baginya.
“ Terimakasih sayang. Baiklah sekarang aku akan tidur. Luna aku sangat mencintaimu ” ucapa Mark dengan lembut.
“ Aku juga Mark. Humm.. Sekarang tidurlah. Bye bye..”
Mereka mengakhiri percakapan dengan manis. Mark meletakkan ponselnya di meja samping ranjangnya, lalu menutup matanya dengan senyum yang masih terukir di bibirnya.
Sementara Luna juga meletakkan ponselnya, lalu dia menepuk\-nepuk wajahnya.
“ Aaaa..kenapa aku tidak bisa berhenti tersenyum. Ini sangat gila.”
Luna kemudian mengambil nafas dalam, lalu dia menghidupkan kembali musiknya.
__ADS_1
“ Aku masih ingin menikmatinya untuk beberapa menit lagi.”
Dia kembali bersandar dan memejamkan matanya dengan senyum yang masih belum bisa kendalikan.