TUAN MUDA AKU BENCI KAMU

TUAN MUDA AKU BENCI KAMU
S2 BARBEQUE PARTY


__ADS_3

Di bandara Beijing, tampak Luna dan Mark jalan bergandengan, serta di ikuti oleh Rangga belakangnya.


Penampilan 3 orang itu tampak sangat stylish. Luna dengan pakaian serba putihnya, rok panjang belah depan, kemeja dan sepatu high hells. Sementara Mark dan Rangga dengan stelan jas hitam mewah mereka yang sangat rapi. Mereka bertiga kompak mengenakan kaca mata hitam yang membuat penampilan mereka tampak sangat elegant.


Tiga orang itu tampak tersenyum melihat Key, Nindy dan Hanny dari kejauhan melambaikan tangan ke arah mereka. Dan tidak sungkan-sungkan, bahkan Nindy membuat kertas penyambutan dengan tulisan [ Minggir!! Saya sedang menyambut famous painter yang pulang untuk beberapa minggu.] Nindy mengangkat tinggi kertas itu sambil senyum merekah.


Luna berpapasan dengan seorang pria yang di ikuti oleh beberapa orang pegawal di bekangnya. Pria itu tampak rapi dan juga mengenakan kaca mata hitam. Luna menghentikan langkahnya dan menoleh pada pria yang di lewatinya tadi. Dia merasa familiar dengan sosok itu. Tapi dia juga tidak yakin.


“ Ada apa sayang?” tanya Mark yang juga menhentikan langkahnya melihat Luna beehenti.


“ Hah?” Luna tampak terekejut. ” Tidak ada sayang. Aku hanya merasa melihat seseorang. Tapi sepertinya aku salah.” Luna tersenyum dan lanjut berjalan. Namun saat itu Luna masih penasaran, hatinya terus bertanya-tanya.


“ Apa itu dia?”


Mark menyadari kegundahan Luna, dia menatap Luna yang terlihat memikirkan sesuatu. Lalu Mark menoleh kebelakang, melihat apa yang di lihat oleh Luna tadi. Mark tidak mendapatkan apa-apa, dia hanya melihat jajaran orang berjas rapi seperti pengawal yang juga sudah mulai menghilang dari kejauhan itu.


Mark, Luna dan rangga sudah dekat. Tampak Key dan Nindy jinggkrak-jingkrak kegirangan, sementara Hanny tetap pada pesonanya yang tenang dan dewasa.


“ Ya ampun.. ini apaan?” Luna mendelik pada kertas yang di pegang Nindy , lalu mereka berpelukan.


Di saat yang bersamaan Key juga kegiranngan menyambut 2 orang sahabatnya.


“ Akhirnya aku bisa memeluk kalian.” Key langsung merentangkan tangannya. Berharap Mark dan Key memeluknya. Tapi sialnya Mark dan Rangga malah mengambil jarak lalu melewati Key begitu saja. Alhasil Key yang terkecoh, langsung berhenti, memutar kepala, menyumpahi dan menatap kesal Mark dan Rangga.


Tentu saja hal itu membuat yang lainnya tertawa melihat tingkah lucu dan manis persahabatan 3 orang pria ini.


Selepas itu, Hanny langsung memeluk Luna dia mengucapkan selamat datang pada dan di balas dengan anggukan serta senyuman oleh Luna.


***


Malam hari, di taman rumah keluarga Aliseter, semua orang tampak sibuk. Mereka melakukan barbeque party dengan olahan daging sapi dan juga ada seafood.


Di taman juga sudah terdapat meja bundar besar, dan di sana juga sudah di tata dengan rapi. Cukup ramai, teman –teman mereka di sana dan tak rerkecuali Jiang He yang terlihat sedang mengipas panggangan barbeque bersama dengan Nindy dan Rangga di sampingnya. Mereka terlihat dekat, berbincang dengan tawa.


Di sebelahnya, tampak pasangan Luna dan Mark yang juga memanggang barbeque. Tapi di bandingkan dengan memanggang mereka tampak lebih fokus bermesraan.


Mark yang mengipas panggangan, sementara Luna malah asyik makan barbeque yang telah matang, lalu meguapi Mark.


“ Aaa-aa.. panas.” Rengek Mark dengan mulutnya yang masih terbuka.


“ Haha.. maaf sayang. Huf.. huf.” Luna meniup makanan yang berada di mulut Mark, tapi sialnya Luna malah di kerjai oleh Mark. Saat Luna meniup, Mark malah menciumnya.


“ Sayang..” rengek Luna memukul-mukul dada Mark. Mark tertawa, lalu merangkul Luna dengan tangannya yang masih megipasi barbeque. Gelak tawa dan rengekan Luna pecah saat itu, seolah hanya mereka yang berada di taman itu.


“ Kakak, apakah Luna sudah hamil?” Nindy menoleh pada Rangga yang sedang menusuk daging dan paprika.


Pertanyaan Nindy mengejutkan Jiang He, hingga dia terbatuk tiba-tiba. Sementara Rangga menatap Nindy kesal.


“ Mana aku tau. Cih, kenapa kau menanyakannya padaku?.” Sudut bibir atas Rangga terangkat, gerak tangganya menusuk barbeque juga cepat, karena efek kesal.


“ Haha.. maaf maaf. Karena kakak selalu bersama kakak Mark, aku kira kakak akan mengetahui segalanya.”


“ Cih,.” Rangga masih terlihat kesal.


Barbeque daging sudah terhidang di meja. Key, tuan dan nyonya Aliester juga sudah bergabung, mereka duduk melingkari Meja.

__ADS_1


“ Semuanya sudah siap.” Luna dan Mark menghampiri sambil memebawa hasil panggangan mereka.


“ Wangi sekali. Ayo.. kita segera mulai.” Ucap Nindy antusias.


Gelak tawa memenuhi taman, mereka segera mulai menikmati barbeqeu sambil berbincang banyak hal.


Sesi makan telah usai. Sekarang di lanjutkan dengan duduk bersantai sambil menikmati suasana, dimana di depan tampak Key yang sedang bernyanyi, sementara yang lainnya angkat tangan sambil melambai-lambaikan seperti menonton konser. Mereka menikmati suara Key yang terdengar lumayan bagus.


Nindy merekam penampilan sang kakak, ikut bernyanyi menikmati lagu romantis yang di nyanyikan Key. Namun tiba-tiba ponselnya bergetar dan di layarnya menampilkan nama Lean Hou.


Mata Nindy membulat dan langsung menurunkan ponselnya.


Ekspresinya langsung berubah, karena itu adalah kekasihnya yang berkhianat, namun sampai sekarang Lean masih juga belum sadar bahwa Nindy sudah megetahui kebusukannya. Karena Nindy juga tidak pernah mengangkat telvon Lean sejak kejadian itu.


Nindy beranjak dari tempat duduknya, dia menjauh untuk menjawab telvon dari Lean. Karena dia merasa sudah waktunya juga untuk mengatai pria yang brengs*k ini.


Saat Nindy menjauh, terlihat Jiang He sedikit melirik. Tersenyum tipis, lalu dia menoleh pada Luna dan Mark. Dimana Luna terlihat masih asyik makan.


“ Apa dia benaran sudah hamil?”


Jiang He mengusap memandangi gelas yang berisi anggur di tangannya, mengoyang-goyangkan diiringi dengusan senyum pahitnya.


“ Untuk apa aku memikirkan hal ini. Luna tampak bahagia, ini sudah cukup bagiku.”


Nindy berada di sisi lain taman. Dia mondar-mandir di depan bangku taman, sambil menggigit ujung jempol tangannya. Dia menghubungi kembali Lean, karena saat dia sampai di sini, telvon dari Lean sudah terputus. Beberapa detik kemudian, Lean menjawab telvon dari Nindy.


“ Sayang kenapa kau tidak menjawab telvon dariku? kau bahkan melewati anniversary kita. Sangat sibukkah, hingga melupakan kekasihmu ini?” Lean berucap seolah dia merajuk.


“ Anniversarry pantatmu?”


Caci Nindy dalam hatinya. Tangannya gemetaran karena menahan emosinya. Kalimat Lean sangat menjijikkan baginya. Tidak pantas kalimat ini keluar dari pria brings*k seperti dia.


“ Iya sayang. Kenapa suaramu terdengar begitu? apa kau merindukanku?” Lean berucap dengan tawa ringan.” Kau tenang saja, besok aku akan menyusulmu ke Beijing. Karena kekasihku sangat sibuk, aku rela menyusul.” Lean berucap dengan nada menghangatkan , kedengaran sangat tulus. tapi sayangnya itu hanyalah kebohongan bagi Nindy.


“ Jadi kau ke sini? Baiklah, aku serasa tidak sabar untuk memakimu secara langsung.”


“ Sungguh sayang? Baiklah, aku sangat menantikan kedatanganmu.” Balas Nindy dengan ramah, seolah tidak ada kejadian.


Nindy mengubah rencananya, dia pikir akan lebih memuaskan apabila bisa mengungkapkan segala sesak di dadanya ini secara langsung.


Hanya percakaapan singkat di telvon itu, setelah menentukan tempat untuk bertemu, mereka mengakhiri percakapapan mereka.


Nindy menggenggam erat ponselnya, lalu dia terduduk di bangku dengan suara tangis lirihnya yang tiba-tiba. Dia terenyuh, menundukkan kepala dan mencengkram lututnya. Ternyata hatinya masih sangatt rapuh, pengkhianatan ini terlalu menyakitkan.


“ Lihatlah, gadis ini menjadi bodoh lagi.”


Nindy mengehentikan tangisnya dengan tersedu, dia melihat sosok kaki pria. Lalu mengangkat kepalanya. Tampak Jiang He dengan tersenyum tipis berdiri di depannya.


“ Kau ke sini hanya untuk menangis.” Jiang He Duduk di samping Nindy sambil memberikan sapu tangan.


“ Terimakasih.” Nindy menerimanya, lalu langsung mengeluarkan ingusnya dengan keras tanpa segan kembali.


“ Dia benar-benar tidak menjaga sikap ya? sama seperti kakaknya yang aneh itu.”


Jiang He bergedik ngeri, karena moment Key mencubit pipinya masih teringat jelas baginya. Itu sangat menjengkelkan.

__ADS_1


“ Ini.” Nindy mengembalikan sapu tangan Jiang He.


“ Aish.. kau ambil saja.” Tolak Jiang He sambil mendorong tangan Nindy dengan telunjuknya.


“ Baikalah.” Sekali lagi mengeularka ingusnya.


Tangais Nindy mulai reda, dia mendongakkan wajahnya memandangi langit malam yang suram, tidak ada bulan apalagi bintang. Hanya terpaan angin dingin yang semakin menusuk tulang.


“ Kakak bagaimanakah cara membunuh cinta?” tanya Nindy dengan masih menatap langit. Namun dia tampak mengusap-usap telapak tangannya.


Jiang He yang menyadari itu, mengeluarkan hotpack di balik saku mantelnya.


“ Pakailah.” Jiang He memberikan hotpack tersebut pada Nindy.


“ Tapi kakak juga kedinginan.”


“ Aku masih punya.” Jiang He menunjukkan hotpack miliknya.


Nindy menganggukkan kepalanya, lalu menerima hotpack tersebut. Gosok-gosok, lalu tersenyum tipis.


“ Cinta itu tidak bisa di bunuh dengan paksa. Karena jika di paksa akan semakin menyakitkan.” Jiang He berucap sambil menyandarkan tubuhnya ke belakang, melipat kaki, dan melipat tangan di dadanya.


Nindy menghentikan aktivitasnya saat mendengar kalimat Jiang He. Melirik sedikit lalu tersenyum tipis.


“ Kau tahu apa yang sangat menyakitkan saat aku berusaha melupakan Luna?” Jiang He menoleh pada Nindy, dan sontak saja Nindy menggelengkan kepalanya.


“ Kami terlalu dekat untuk jauh. Begitu jauh untuk dekat.” Jiang He tersenyum pahit dengan kalimatnya. Sementara Nindy terdiam. Dia sangat paham dengan kalimat ini, begitu dalam dan menyakitkan.


“ Hubungan Kami tidak segampang itu di akhiri dengan kebencian. Oleh karena itu aku tidak bisa membunuh cinta ini dengan paksa. Hatiku akan semakin sakit, jika aku melakukan itu.”


“ Namun kisah kita berbeda. Aku benar-benark di khianti dan aku membencinya.” Sela Nindy dengan suara lirih.


“ Meskipun begitu, kau tidak bisa membunuhnya dengan paksa. Karena kau masih mengharapakannya. Buktinya, kau masih saja menangisi pria itu.”


“ Tapi..” Nindy mencoba protes, tapi Jiang He tidak memberinya kesempatan.


“ Ada tiga tahab sampai cinta itu mati. Periode pertama setelah berakhir, kau tidak akan terlalu sakit hati. Periode kedua, kau menjadi khawatir dan menyalahkan orang lain. Tahab terakhir, cinta itu mati, tapi kau akan menjadi manusia paling sensitif dan kehilangan emosional tentang cinta. Hingga kau sendiri tidak mencintai dirimu lagi.” jelas Jiang He.


Nindy menatap Jiang He, memandang lekat dan mengambil kesimpulan sesuka hatinya.


“ Jadi apakah sekarang dia berada di tahap ketiga?”


“ Kau kenapa menatapku dengan tatapan menyedihkan itu? apa aku terlalu menyedihkan bagimu?. Hah, aku tidak berada di tahap manapun. Karena aku memilih untuk tidak membunuh cintaku.” Jiang He kembaki tersenyun. Sementara Nindy mengangkat alisnya, merasa bingung dengan jawaban Jiang He.


“ Nindy... Kamu jangan memaksa untuk membencinya. Karena sesuatu yang di paksakan akan rentan menjadi lemah. Jalani saja perlahan. Jangan berusaha untuk membencinya. Tapi berusahalah untuk menerima kenyataan, bahwa dia bukan orang yang di takdirkan denganmu. Dengan begitu tanpa kau bunuh paksa rasa cinta itu akan menguap dan dan mengulang dengan sendirinya.”


“ Baiklah. Sepertinya misi mengejar kakak juga merupakan takdir. Hihi.. " Goda Nindy. Dia berdiri dan melangkahkan kakinya. Tapi malapetaka menimpanya, dia tesandung kakinya sendiri.


“ Aaa…”


Jiang He dengan cepat menarik tangan Nindy. Tubuh Nindy berbutar dan seolah seperti slow motion adagan romantis di dalam drama.


‘ Brugh.’ Nindy sudah berada dalam pelukan Jiang He.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2