
“ Camelia..aku buatkan kopi dingin untukmu” sambil keluar dari pantry dengan membawa 2 cup kopi dingin.
Camelia tetap diam dan memejamkan matanya, hingga Luna menggelengkan kepalanya. Luna meletakkan kopi di meja, lalu dia duduk di sofa samping Camelia. Dia memandangi sejenak wajah Cemelia, lalu menghembuskan nafas. Luna mengambil 1 cup kopi dan berjalan menuju meja kerja.
“ Camelia, jika kamu tidak mau bicara ya sudah. Aku bekerja dulu, sebentar lagi akan makan siang. Kau pilihlah mau di makan dimana aku akan mentraktirmu.”
Ketika Luna sudah hanyut dengan pekerjaannya, Camelia bangkit dari tidurannya. Dia meminum kopi yang telah di sediakan, lalu dia mengotak-atik ponsel sambil sesekali berdecis. Suara decisan dan kasak-kusuk Camelia menarik Luna untuk melirik apa yang di kerjakan Camelia.
“ Ada apa Camelia?” dengan memangku dagu dengan kedua tangannya. Dia memandangi Camelia dengan rasa penasaran.
“ Luna..aku harus bagaimana, sekarang ada tas keluaran terbaru dari Gucci. Tapi aku tidak punya uang” sambil memperlihatkan layar ponselnya pada Luna.
Luna merasa maklum saja, Camelia memang selalu mendapatkan apa yang dia inginkan dan terbiasa berfoya-foya. Tapi siapa sangka ternyata hidupnya tak semulus itu, dia beberapa kali mendapat hukuman dari papanya hingga semua fasilitasnya di tarik oleh papanya.
“ Pesanlah. Nanti setelah makan siang kita jemput!”
“ Sungguh?” Camelia excited, hingga dia mendekati Luna dengan wajah bahagia.
“ Tapi aku tidak ingin menerima begitu saja darimu. Bagaimana anggap itu sebagai utangku. Nanti setelah papa mengembalikan semuanya, maka aku akan membayarmu.”
“ Baiklah, terserah kau saja.”
Luna melihat jam tangannya, ternyata sudah menunjukkan pukul 12.50. Luna merapikan mejanya, lalu mereka berdua pergi makan siang ke sebuah restoran pilihan Camelia.
Hari ini hubungan mereka menjadi dekat dan akrab. Hubungan saudara sepupu yang hangat, Luna juga sejenak melupakan sakit hatinya pada Camelia, mesikipun dia sendiri tidak tahu isi hati Camelia saat ini. Apakah itu benar ketulasan dari Camelia atau drama baru yang lakoni Camelia.
Mulai dari makan siang hingga ke toko untuk menjemput tas yang di inginkan Camelia mereka bercerita dengan nyaman dan nyambung. Meski tidak ada kenangan baik antara mereka di masa kecil, tapi ada saja yang mereka bahas. Seperti rekan-rekan bisnis yang genit atau hal lain yang mengundang gelak tawa.
“ Sekarang kamu mau kemana Camelia, rumah, NR atau..”
“ NR saja, nanti papa menyalahkan aku lagi, jika aku masih berkeliaran di luar. Tapi setidaknya rapat kita untuk proyek tadi pagi sudah bisa sedikit membungkam mulut papa. Oh iya Luna, ini kartu nama Designer yang aku bicarakan tadi pagi. Mana tau kau tertarik, dia sudah banyak mendesain proyek-proyek besar.” sambil menyerahkan.
“ Baiklah.” menyambilnya dengan senyum.
“ Tapi Luna, aku rasa aku naik taksi saja ke NR. Kamu masih benyak pekerjaan, aku tidak mau menjadi bebanmu.” Sambil melepaskan kembali sabuk pengamannya.
“ Tidak apa-apa. Aku bisa mengantarmu, tidak perlu naik taksi.”
__ADS_1
“ Ah..aku sungguh tidak enak. Ini baru hari pertama kita bisa akur begini, tapi aku sudah banyak menyusahkanmu. Pokoknya aku naik taksi saja.” Camelia mengambil paper bagnya di kursi belakang lalu dia keluar dari mobil.
“ Baiklah, jika itu mau mu. Behati-hatilah!” sorak Luna dari dalam mobil.
“ Sip” jawab Camelia sambil mengacungkan jari jempolnya.
Luna menutup kaca mobilnya, lalu melajukan mobilnya dengan perlahan. Dari kaca spion, Luna memperhatikan Camelia yang sedang menelvon taksi. Benar-benar tidak ada mimik jahat dari Camelia yang Luna dapati. Luna tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, lalu dia menambah kecepatan mobilnya.
Pergantian hari membuat Luna semakin melebarkan senyumnya, karena akan mengantarkannya pada waktu dimana dia akan segera bertemu dengan kedua orang tuanya.
Didalam bekerja Luna melewati hari-hari dengan penuh senyum. Rasa waspada tentu tidak akan hilang, walau sebaik apapun Camelia padanya. Karena walau bagaimanapun, sebelumnya Luna sudah menaruh berbagai kecurigaan padanya.
Apalagi Luna juga sudah pernah di khianati oleh sahabatnya sendiri, tentu saja tidak akan mudah baginya untuk mudah percaya lagi pada orang lain.
***
Diruang tamu dengan pintu utama yang sudah di buka lebar-lebar, Luna terlihat sangat tidak tenang. Dia berdiri bolak balik kiri kanan, duduk dan berdiri lagi. Saat duduk Kedua tangannya saling bermain, jemarinya saling meremas. Tubuhnya serasa ringan sekali bagaikan kapas yang terbawa angin, debar jantungnya berpacu kencang.
Dia begitu bukan karena mengkhawatirkan sesuatu, tapi ini wujud dari bahagia yang sebentar lagi akan meledak. Karena siang ini orang tuanya akan segera datang. Luna sebenarnya ingin sekali menjemput mereka di bandara, tapi Mark tidak menyetujuinya. Dia menyuruh Luna untuk menunggu di rumah.
‘ tit’ suara suara clakson mobil dari gebang rumahnya.
“ Itu mereka.” Luna langsung berdiri dan berlari keluar. Dia menanti dengan ekpresi bahagia yang teramat sangat. Saat dia sampai di teras rumah, mobil hitam mewah berhenti tepat di depannya.
Pandangan Luna sedetikpun tak teralihkan dari mobil itu. Pengawal membuaka pintu mobil dan keluarlah sosok yang dia rindukan selama ini. Luna langsung menuruni 3 anak tangga teras itu dan langsung memeluk mamanya, di susuli oleh papanya yang datang memeluk kedua wanita yang sangat dia sayangi.
Mark dan Rangga keluar dari mobil dan menatap dengan penuh senyum haru dan bahagia pemandangan itu. Dia lega bisa mengembalikan kedua orang tua Luna dengan utuh.
“ Hiks hiks.. Luna sangat merindukan mama dan papa. Maafkan Luna” ungkap Luna dengan perasaan yang sangat mendalam.
“ Tidak sayang, kamu tidak salah apa-apa” mama Luna menciumi putrinya begitupun papanya juga mencium istri dan putrinya dengan lembut.
“ Luna akan menjaga kalian. Luna tidak akan membiarkan siapapun yang mencalakai kalian lagi.” dengan suara tangis yang benar-benar sudah pecah.
Suasana haru itu membuat semua semua orang di sana meneteskan air mata. Para pengawal yang berbadan kekar diam-diam menyeka air mata mereka. Para pelayan menundukkan kepala dengan air mata yang megalir.
Bi Ina sebagai orang kepercayaan mama Luna memandangi majikannya itu penuh rasa syukur.
__ADS_1
“ Selamat datang kembali tuan, nyonya. Aku sangat bahagia, akhirnya suasana rumah ini akan kembali hidup.” Sambil menyusap air matanya.
“ Mama dan papa tidak ada yang lukakan?” sambil memengangi wajah mamanya dengan kedua tanganya, lalu melihat bagian tubuh lainnya. Begitu denga papanya Luna juga melakukan hal yang sama.
“ Sayang..jangan khawatir, Mark memperlakukan kami dengan baik.” sambil memandang Mark.
Luna memandangi kekasihnya dengan senyum penuh terimakasih lalu memeluk papanya dengan erat dan membenamkan wajahnya di tubuh papanya. Sangat jelas menahan isak tangisnya.
“ Maafkan Luna pa, ma ini terjadi karena Luna. Jika saja Luna mendengarkan nasehat papa waktu itu, hal ini tidak akan terjadi” bisik hatinya pernuh rasa bersalah.
“ Sayang papa dan mama baik-baik saja. Jangan menangis lagi.” sambil menepuk lembut pundak putrinya dan mencium puncak kepala putrinya. Luna menganggukkan kepalanya dengan isak tangisnya. Sementara mama Luna tersenyum dan mengusap punggung putrinya.
“ Aku tidak pernah menyesal dengan apa yang telah terjadi. Meskipun di awali dengan kesalahpahaman, namun mengantarkanku pada cintaku. Beginilah cara Tuhan mempertemukan kita. Luna aku akan melindungimu dan orang-orang yang kamu sayangi.” bisik hati Mark dengan senyum yang terukir di bibirnya.
“ Luna..pelukannya lanjut di dalam ya. Om dan tante baru datang, mereka pasti lelah.” Saran Mark dengan lembut.
Luna menganggukkan kepalanya, lalu dia melepas pelukannya.
“ Terimakasih Mark” dengan seenyum lembutnya. Mark membalasnya dengan anggukan kecil dan isyarat mata serta senyum yang hangat.
Luna menggandeng tangan kedua orang tuanya. Dia seperti anak kecil yang terus menempel dan tak mau melepaskan kedua orangnya, lalu mereka melangkahkan kaki masuk ke dalam.
“ Selamat datang kembali tuan dan nyonya” sambut pelayan dan pengawal dengan hormat dan lembut.
“ Iya terimakasih semuanya.” Mama Luna kemudian melirik ke arah bi Ina, lalu melemparkan senyum penuh terimakasih karena telah menjaga Luna sepeninggalannya.
Bi Ina memebalas dengan senyum dengan air matanya menetes.
.
.
.
Likenya jangan turun dong reader. Tetap sempatkan untuk menekan tanda jempol yah!!!. Dan jangan lupa koment juga. Koment review, kritik, saran atau lainnya. Supaya aku makin semangat buat up. hehe.
Oh iya, berdasarkan chapter DISKUSI dapat disimpulkan bahwa role model tokoh pendukung di tampilkan ketika cerita ini tamat aja ya.
__ADS_1
Walaupun yg koment sedikit, tapi setidaknya itu mewakili. Terimakasih untuk semua yang udah respon...