
Pintu ruangan itu dibuka. Misya langsung terkejut dan berdiri dari duduknya. Wajahnya yang hancur itu dia coba sembunyikan. Dia tidak biasa seperti ini. Selalunya dia tampil dengan sempurna. Misya menunduk menekur lantai.
“Kenapa? terkejut saya datang?” sinis James bertanya. Dia menghampiri Misya dan menarik kursi yang ada di situ.
Misya memundurkan dirinya lebih jauh dari James. Lebih baik dia menikus, dari pada di dekat pria itu. Dia takut jika James menghajarnya lagi. Dia tidak sanggup, rasa sakit karena pukulan tadi saja masih belum hilang.
“Siapa kamu? ada hubungan apa kamu dengan Luna?” meskipun takut, Misya tidak hilang keberanian untuk bertanya.
“Perlukah kamu mengetahui siapa aku? setelah tahu, memangnya kamu mau berbuat apa?” pertanyaan Misya, dijawab dengan pertanyaan juga oleh James.
Misya diam sejenak. Dia sedikit mengangkat wajah untuk melirik James. Sialnya, James juga sedang menatapnya tajam. Mata mereka beradu, matanya beradu tatap. Cepat Misya melarikan anak matanya. Ah, Pria dengan topi cowboy ini menakutkan sekali.
“Mana Luna?” Misya sengaja mengubah topic.
James mendengus sinis, “Angkat wajahmu! Dengan siapa kamu berbicara sekarang?”
Misya menelan ludah mendengar suara tegas James. Pukulan James tadi terbayang kembali olehnya. Sakit! Mau tidak mau Misya beranikan angkat wajah dan menatap pria di hadapannya itu.
James cukup puas melihat kepatuhan Misya.
“Kenapa kamu perlu menanyai Luna? kamu tahu apa yang sudah kamu perbuat? kamu sudah menghancurkan sebagian dari dirinya. Sekarang coba aku tanya, setelah Mark kehilangan Luna, apa yang akan kamu perbuat? mengambil hati Mark Rendra itu? kamu pikir Mark akan semudah itu tergoda oleh gadis yang telah dibuangnya?”
Mata Misya berkaca-kaca. Entah kenapa hatinya begitu terasa dengan ucapan James. Dia sendiri tidak paham. Sudah banyak nasehat yang dia terima, namun kata-kata itu langsung tidak masuk dalam hatinya. Hanya masuk telinga kiri keluar telinga kanan. Sebab kalimat orang-orang itu hanya menyuruh give up saja yang dibalut rasa kasihan padanya. Hal itu hanya membuat dia semakin merasa kasihan pada dirinya.
Namun, berbeda dengan James. Meski hanya beberapa kalimat dan menghantam, tapi dia merasa ada sebuah semangat yang mencoba menariknya keluar dari keegoan ini.
“Misya,”
Misya tertegun menatap James. Dia tahu namaku?
“Ketahuilah, banyak orang yang telah kamu kecewakan. Banyak orang yang telah kamu lukakan hatinya, kamu musnahkan kepercayaannya padamu. Kamu sanggup mencelakai Luna. Sedangkan Luna memperlakukanmu dengan baik selama berada di rumahnya. Kenapa sangat sulit bagimu untuk terima kenyataan? Luna adalah perempuan yang di pilih Mark untuk mengharungi kehidupan. Kenapa kamu tidak bisa menerima hakikat itu? terlalu sulitkah hingga kamu hilang akal sehat Misya? Kamu benar-benar sudah sangat jauh terperosot Misya. Saya tidak salahkan kamu atas kematian Vetron, dia layak untuk itu. Tapi, untuk Luna.. saya tidak izinkan seujung kuku pun kamu melukainya.”
Sekali lagi Misya tertegun. Siapa pria ini sebenarnya? kenapa sangat banyak mengetahui tentang dirinya? lalu dari mana juga dia mengetahui bahwa dia lah yang membunuh Vetron? Sementara di keluarganya saja, hanya ayah dia seorang yang mengetahui perihal ini. Ayah berusaha keras menutupi dirinya, agar tidak terseret ke ranah hukum.
“Siapa kamu? Siapa kamu sebenarnya?” bergetar suara Misya. Tanpa segan lagi, dia bahkan berjalan setapak demi setapak mendekat James. Wajah James dia lihat dengan teliti.
Keras Misya berfikir, namun tidak dia temukan memory akan pria dengan wajah pria di hadapannya ini ada dalam kehidupannya. Perlahan tangannya diangkat untuk mencapai wajah James. Awalnya James diam saja. Hampir saja tangan Misya menyentuh kulit lembut itu, namun dengan sigap James menepis.
Misya seakan menahan napas sekarang.
“Misya lebih baik kamu renungkan semua dosamu. Saya tidak memusnahkan kamu, bukan berarti saya akan lepaskan kamu begitu saja. Kamu akan dapat balasan yang setimpal. Bersiaplah!” James bangkit Dari duduknya. Lalu mengayun langkah keluar begitu saja.
Misya masih kaku berdiri di situ. Air matanya menetes dengan tangis yang mulai bersuara.
“Beritahu aku siapa kamu?” jerit Misya.
Langkah James terhenti tepat selangkah dari pintu. Namun tidak lama, dia kembali melanjutkan langkahnya. Pintu juga langsung ditutup oleh dua orang yang berjaga di sana.
__ADS_1
Tubuh Misya langsung melorot ke bawah. Dia menangis sejadinya. Barulah sekarang dia merasa sangat bersalah. Wajah orang-orang tersayang dan orang telah di sakitinya silih berganti membayanginya. Suara tangis memenuhi ruangan itu.
***
Mark tekun memandikan Allard. Meski ada pengasuh, Zhaon dan ibunya sudah menawarkan untuk memandikan Allard, namun Mark tetap pada pendiriannya. Bagaimanapun dia akan memandikan Allard setiap sore. Dia tidak akan melewati masa itu.
Mark mencoba menahan rasa sesak di dadanya. Sangat sepi. Hatinya sepi. Biasanya tawa Luna meramaikan moment memandikan Allard, sekarang dia hanya seorang diri. Ini sudah tiga hari Luna menghilang. Bukan dia tidak berusaha, segala upaya dia kerahkan. Namun belum saatnya saja untuk bertindak.
Beruntung Allard tidak terlalu rewel seperti hari pertama Luna hilang. Mungkin putranya ini tahu akan kondisi dan tidak ingin merepotkannya dan semua orang.
Selesai memandikan Allard, Mark juga langsung memakaikan baju putra kecilnya itu. Setelahnya, dot susu masukkan ke bibir putranya yang berbaring di ranjang itu.
“Sayang, air susu Mama tidak banyak lagi yang tersedia di freezer. Habis ini, sayang tidak apa minum susu formulakan? Papa pastikan susu pilihan terbaik dan Papa janji akan bawa Mama secepatnya kembali pada kita. Humm?” pipi Allard di usapnya lembut. Bohong saja jika hatinya tidak pedih melihat Allard yang begitu kuat minum susu. Tapi sebentar lagi Allard tidak akan mengesap susu yang sama lagi. Maafkan Papa sayang. Maafkan kelalaian Papa dalam melindungi keluarga kecil kita.
‘Mark,”
Mark tersentak. Dia menoleh memandang Ibunya yang sudah berdiri di depan pintu.
“Ada apa, Bu?”
Zia melangkah mendekati putranya itu. Lalu mengambil tempat di sebalah Mark. Matanya memandang Allard yang tampak mulai mengantuk. Mata cucunya itu mulai terpejam dengan bibir yang masih aktif menghisap ujung dot itu.
“Ini sudah tiga hari. Apa masih belum ada kabar tentang Luna?”
Mark tersenyum tipis. Namun dia melepaskan dot Allard terlebih dahulu. Allard juga di angkat dan di pindahkan ke baby kot, agar anaknya itu lebih nyaman tidur. Zia hanya memperhatikan tindakan anaknya itu. Jatuh kasihan melihat Mark, meski putranya itu senantiasa terlihat tenang. Namun dia tahu, Mark pasti sangat tersiksa dari siapapun. Terlebih ketika melihat Mama dan Papa Luna yang terkulai lemah ketika mendapat kabar Luna hilang. Itu pasti membuat Mark semakin tertekan.
“Ibu.” Mark kembali mendekati ibunya itu. Bokong dilabuhkan di sana, tangan ibunya itu digenggam dengan kedua tangannya.
Zia langsung merasa sebak. Cepat saja air matanya keluar.
“Maafkan Ibu sayang. Maafkan ibu pernah memperlakukan Luna tidak adil serta mengabaikan mu bertahun-tahun. Maafkan ibu..” Zia menundukkan kepalanya lemah. Dia juga merasa sangat menyesal karena tidak mengungkapkan ini lebih cepat.
Jika saja lebih awal, Luna menantunya itu pasti lega.
“Tidak Ibu. Aku tidak pernah salahkan Ibu karena mengabaikan ku. Aku paham. Namun aku mohon, jangan salahkan diri lagi karena tidak bisa mengurusku setelah Ayah pergi. Aku memang tumbuh besar atas asuhan Paman Gu, namun itu bukan berarti Ibu telah gagal membesarkanku. Paman Gu adalah tangan yang di kirim semesta untuk kita. Dan itu di dapatkan atas kebaikan Ayah dan Ibu juga. Aku benarkan?” Dagu ibunya itu diangkat agar menatapnya.
Laju Zia mengangguk. Mulai hari ini dia tidak akan menyia-nyiakan siapa lagi. Mark, memang selalu bijak, tapi rasa malu dan bersalah dulu melangitkan keegoan Zia. Hari ini kan dia runtuhkan Ego itu.
“Terima kasih sayang. Terima kasih karena selalu memahami Ibu.”
Mark menarik ibu dalam pelukannya, “Ibu dan Luna adalah wanita yang paling berharga bagiku. Keduanya melekat indah di hatiku.” Ungkap Mark.
Zia menekup mulut agar suara tangisnya tidak keluar. Takut jika Allard akan terganggu.
“Ibu mau Luna. Bawa dia pulang Mark.”
Mark mengangguk, “Pasti, Bu.”
__ADS_1
***
Luna duduk melamun sendiri di balkon Villa mewah itu. Angin laut dapat di rasakan dari sini. Luna sangat tidak menyangka jika James setega ini padanya. Tega menjauhkan dirinya dari Mark dan Allard, putranya yang masih sangat kecil.
Luna sudah tidak mengeluarkan air matannya lagi. Sudah terlalu lelah dia menangis selama beberapa hari ini. Dia tidak tahu dimana posisinya sekarang. Hari dan tanggal juga tidak tahu. Sudah berapa hari dia menghilangpun dia tidak tahu.
James Lu tidak memberi izin pada pelayan untuk mengatakan itu padanya. Yang Luna tahu dia sekarang berada di sebuah pulau. Pulau yang jauh, karena sejak dia sadarkan diri dari kapal waktu itu, masih membutuhkan waktu sehari untuk sampai di pulau ini.
“Mark maafkan aku..” memory Luna kembali membayangkan akan kekerasan kepalanya menolak Zhaon ikut dengannya waktu itu. Mark tidak salah akan penjagaan terhadap dirinya, dia saja yang keras kepala dengan ribuan alasan agar tidak diikuti. Karena hal ini, James pula menyalahkan Mark. Sekarang Luna juga tidak tahu apa rencana James pada suaminya itu.
“Mark, aku yakin kamu pasti akan temukan aku. Aku tunggu.” Gumannya sendiri.
***
“James apa lagi yang kamu lakukan pada ponselku?” tanya Luna saat melihat James tiba-tiba sudah berada di dalam kamarnya. Padahal dia sebentar saja di dalam kamar mandi ini.
Luna mendekati James dengan langkah cepat dan berusaha merebut ponselnya itu. Namun James mengelak.
“Aku belum selesai menghapus foto-foto Mark.”
Luna terkedu. Rahangnya mengeras dan matanya memerah memandang James. Tidak cukupkah telah memutuskan signal dan meniadakan jaringan internet di sini? fotopun mau di hapus?
PANG!
Satu tamparan dilayangkan di wajah James Lu. Keras.
“Kamu jangan keterlaluan James!” berombak dada Luna ketika itu.
Tangan james naik mengusap pipinya yang panas akibat tamparan Luna. Dia sekedar tersenyum miring memandang Luna yang sudah memandangnya seperti memandang iblis.
CRACKK!
Ponsel Luna dipatahkan dengan mudah oleh James. Di remas sekuat tenaga hingga pecah. Penuh kemarahan. James tidak memperdulikan rasa sakit dan tangannya yang berdarah akibat dia meremas ponsel itu.
Luna menggeleng pedih. Tidak!
James menjatuhkan ponsel yang sudah hancur itu. Berderai dilantai.
“Tidak!” Luna lansung duduk dilantai dan memandangi ponselnya yang sudah hancur tidak berbentuk itu.
“Tidak! Mark, Allard.. aku selalu ingin melihat kalian. “ Pecahan-pecahan ponsel itu Luna kumpulkan satu persatu. Luna tidak bisa menahan tangis.
James mengangkat wajahnya ke atas. Bohong saja hatinya tidak sakit melihat Luna yang seperti itu. Luna tidak ubahnya seperti orang gila. Menangis dan mengemasi barang tidak berguna itu lagi. Sekuat hati, James membawa langkahnya keluar dari kamar itu.
“Mark, Allard…” isak Luna semakin tergugu.
James tersenyum kecut. Ya, nama itu selalu dilafazkan Luna. Bahkan ketika tidur, Luna juga mengigau dengan menyebut nama suami dan anaknya itu, 'Mark, Allard.'
__ADS_1
“Mulai sekarang kamu harus terbiasa Luna.” gumam James perlahan. Suara Luna masih terdengar jelas sepanjang langkahnya. Sangat memilukan dan mengiris hati siapapun yang mendengarnya.
Bersambung…