
Mark dan Luna sudah sampai di atap. Di atas bangunan tua tersebut mereka bisa melihat panorama bangunan-bangunan tua yang menakjubkan.
Di sana juga tersedia tempat bersantai yang sudah di beri atap agar bisa berlindung dari panasnya terik mata hari. Tempat tersebut di design dengan sederhana tapi sangat nyaman.
“ Waw..ternyata pemandanga di atap sangat bagus, di sini juga ada tempat untuk bersantai. Kenapa kau tidak memberitahuku sebelumya?” tanya Luna.
“Di sini memang menyenangkan untuk bersantai, tapi kita tdak boleh terlalu sering di sini”.
“Kenapa?” tanya Luna bingung.
“ Karena ini adalah tempat rahasia. Kadang orang mengirimkan camera pengintai, untuk melihat situasi di sini” jelas Mark.
“ Eh..terus sakarang?”.
“Sekarang tidak apa-apa” jawab Mark dengan senyum.
“ Hufftt..syukurlah” ucap Luna lega.
“ Humph..apa kau mempunyai banyak musuh?” tanya Luna pada Mark dengan polos.
“ Orang berbakat, muda , tampan dan kaya sepertiku, akan selalu mempunyai banyak musuh. ” jawab Mark.
“ Baiklah, menyombongkan diri memang sudah menjadi kebutuhan pokokmu. Terserah mau bilang apa, aku tidak mendengarnya” bisik hati Luna kesal.
“ Hmm..apa yang kau lakukan hingga kau mempunyai banyak musuh. Atau kau benaran seorang mafia?” tanya Luna berusaha mencari tau.
“ Aku tidak melakukan apa-apa. Mereka saja yang menyerangku, bahkan sudah menargetkanku di saat aku masih anak-anak yang belum tau apa-apa.” jawab Mark dengan santai.
Mark mendekati Luna “ Dan soal mafia, sebelumnya aku juga sudah mengatakan. Aku lebih kejam dari mafia. Jadi kau harus membuang pikiranmu mengenai itu” ucap Mark sambil menjentik kening Luna.
“ Aww.. itu sakit” ucap Luna sambil memegangi keningnya dengan cemberut.
Luna pergi berjalan menjauhi Mark.
“ Si brengsek ini masih saja suka menjentik keningku” gumam Luna.
Pelayan sudah datang untuk mengantarkan alat-alat lukis. Melihat para pelayan datang Mark menghampirinya dan duduk di kursi.
Para pelayan menysunnya dengan rapi, dan juga menyiapkan Kursi yang nyaman untuk Luna yang akan melukis nantinya.
“ Tolong bawakan juga beberapa cemilan dan minuman ke sini” ucap Mark pada pelayannya.
“ Baik tuan” ucap pelayan tersebut dan lansung pergi.
Luna berdiri di tepi bangunan, dan merentangkan kedua tangannya.
“ Anginya menenangkan” ucap Luna sambil menutup kedua matanya.
“ Semua alat lukismu sudah siap, kemarilah” teriak Mark memanggil Luna.
“ Baiklah” jawab Luna.
Luna berbalik badan dan menghampiri Mark yang sedari tadi menatapnya dari kejauhan.
“ Apakah kau sudah memikirkan apa yang ingin kau lukis?”.
“ Belum” jawab Luna sambil menggelengkan kepalanya.
“ Hmm, baiklah. bagaimana kau melukisku saja”.
“ A a apa? Melukismu? Apa aku tidak salah dengar?” tanya Luna sangat terkjut.
“ Hei hei..kenapa ekspressimu begitu. Aku adalah pria yang mempunyai wajah seperti di pahat, wajahku sangat sempurna. Menjadikanku model lukisanmu, adalah suatu keberuntungan bagimu” ucap Mark dengan percaya diri.
“ Ah haha..baiklah. Tapi apa kau sanggup untuk menjadi modelku?” tanya Luna.
“ Tentu saja aku sanggup” jawab Mark dengan yakin
“ Baiklah. Aku setuju, tapi kau harus patuh!” pinta Luna.
“ Aku mau menjadi modelmu saja sudah cukup. Kau jangan banyak mengaturku nantinya. Sekarang apa aku perlu mengganti pakaianku?, apakah tema yang akan kau gunakan untuk melukisku?’ tanya Mark dengan tak sabar menunggu jawaban dari Luna.
Luna memperhatikan penampilan Mark, dimana Saat itu Mark hanya memakai pakaian santai saja.
“Tidak perlu kau cukup berpenampilan seperti ini saja” ucap Luna sambil mendekati Mark.
“ Ah..begini saja?”.
“ Iya” jawab Luna sambil mengangguk.
" Huh..orang tampan sepertiku memang sudah tidak di ragukan lagi. Tidak perlu menggunakan pakaian yang berlebihan. Begini saja sudah membuat orang tertarik denganku” jawab Mark dengan sikap super PD yang menyebalkan.
Luna menyentuh keningnya dan menggelengkan kepalanya.
“ Kenapa dia senarsis ini. Jika aku mengigatkan sifat narsisnya saat dia marah, apa dia tidak malu? “ bisik hati Luna.
Luna mengambil nafas panjang, “ Hufftt.. sudahlah” ucap Luna.
Mark tersenyum puas melihat Luna yang kesal dengan sikapnya.
Luna memperhatikan Mark.
“ Baiklah sekarang kita mulai saja. Kita butuh kursi untukmu” ucap Luna sambil berjalan memilih kursi yang cocok.
“ Mark kau juga perlu untuk memegang buku, agar kau tidak terlalu monoton nantinya” ucaap Luna.
“ Hah..apa kau ingin melukisku seperti pria cupu dan juga kutu buku?” tanya Mark kesal.
__ADS_1
“ Bukann..disini aku yang mengaturmu, bukan kau. Jadi menurut sajalah” teriak Luna kesal.
“ Baiklah, aku akan menyuruh pelaayan untuk mengantarkan buku untukku” jawab Mark tidak senang.
“Seharusnya kau memanfaatkan wajah tampanku ini dengan baik. Tema seorang pangeran pada zaman Kuno menurutku itu sangat cocok dengan proporsi wajahku ini” celoteh Mark pada Luna.
“ Kau jangan meremehkan aku dulu. Kita lihat saja nanti bagaimana hasil lukisanku. Pasti tidak akan mengecewakan” jawab Luna dengan antuasias sambil membayangkan.
“ Baiklah baiklah, buktikan ucapanmu padaku. Kau tidak boleh merusak wajahmu dengan Lukisanmu”.
“ Ya Tuhan..ingin sekali rasanya aku mencakar-cakar wajahnya, agar dia tidak bisa sombong dan narsis lagi” teriak hati Luna dengan sangat kesal.
Beberapa saat kemudian semuanya sudah siap. Luna sudah menyusun dan memilih angel yang tepat untuk kursinya dan pelayan juga sudah membawakan buku untuk Mark. Luna juga sudah menyiapkan warna-warna cat yang akan di gunakannya.
“ Apa kita sudah bisa mulai?” tanya Mark.
“ Ok. Kau duduklah dengan nyaman.” Printah Luna.
Mark mengambil bukunya dan duduk.
“ Baiklah, aku bisa melanjutkan membaca dan kau melukisku. Bukankah ini hobi suatu yang menarik? Kita sama bisa menyalurkan hobi kita di waktu yang bersamaan dan juga menghasilkan sebuah karya”.
Luna tersenyum mendengar ucapan Mark.
“ Apa kau sudah nyaman dengan posisimu itu?” tanya Luna.
“ Ya, kau sudah bisa memulainya” perintah Mark.
“ Eh tapi tunggu dulu” ucap Luna sambil berjalan mendekati Mark.
“ Kau mau apa lagi?” tanya Mark bingung.
Luna sedikit menunduk dan menyentuh rambut Mark.
” Aku perlu merapikan sedikit ramputmu” ucap Luna sambil merapikan rambut Mark dengan kedua tangannya.
Saat itu Mark hanya bengong dan Patuh, Luna merapikan rambut Mark dengan lembut.
“ Hum..begini lebih baik!” ucap Luna dengan senyum puas dan kembali ke tempat duduknya.
“ Ehem ehem..baiklah sekarang aku mulai, kau rilex lah” perintah Luna sambil memegang kuasnya.
Luna mulai menggoreskan kuasnya di kanvas. Dia melukis denga dengan serius hingga ia hanyut dengan suasana dan begitu juga dengan Mark juga membaca dengan rilexs dan santai.
***
Rangga dan Key masih berada di Restoran X, mereka masih menunggu Tris atau orangya Tris untuk menemuinya.
“ Kenapa mereka lama sekali, apa mungkin dia tidak melihat jelas kode darimu?” ucap Key dengan gelisah sambil menggigit jarinya.
“ Aku yakin dia melihatnya dengan jelas, karena dia juga berusaha menutupi pergelangan tanganku dari pengawalnya. Mungkin dia juga mempunyai sedikit kesulitan” jawab Rangga tetap optimis tapi sebenarnya dia juga gelisah.
“ Mudah-mudahan saja kau benar. Karena meskipun dia seorang pangeran tapi dia tidak bisa melakukan apapun dengan bebas” ucap Key juga berusaha optimis.
Mereka masih tetap menunggu, dan beberapa saat kemudian Key sudah tidak sabar lagi.
“ Rangga, aku tidak bisa menunggu lagi. kita harus melihat situasi di luar” ucap Key sambil berjalan keluar.
Rangga mengejar Key
“ Key Key..kau jangan gegabah. Biar aku yang melihat ke ruangan tadi. Karena aku yang sudah memancingnya, maka aku juga yang harus menuntaskannya.”
“ Baiklah, tapi aku akan tetap mengawasimu”.
“ Tidak perlu, kau tunggu saja aku di sini.” Ucap Rangga dan berjalan pergi.
Rangga berjalan sambil merapikan dasinya.
“ Kenapa dia lama sekali, apa mungkin mereka sudah pergi?. Tapi apapunya yang terjadi, aku tidak boleh kehilangan kesempatan ini. Karena ini menyangkut nyawa Luna. Aku sudah berjanji untuk melindunginya.” bisik Hati Rangga.
Rangga sampai di ruangan yang di tempat yang di tempati oleh Tris tadi sudah tidak ada lagi pengawal.
Rangga membuka pintunya dan benar saja, ruangan tersebut sudah benar-benar kosong. Sepertinya mereka baru saja pergi karena para pelayan belum datang untuk membersihkan ruangan tersebut.
“ Sial, apa dia sebodoh itu. Dia benar-benar pergi begitu saja?" ucap Rangga sambil berlari ke Lift untuk mengejar Tris.
Saat Rangga sedang menunggu pintu lift terbuka, tiba-tiba ada yang datang.
“ Ikuti aku!” bisiknya ke Rangga dan berlalu pergi.
Rangga terkejut, dia melihat orang tersebut.
“ Ah apakah itu dia?” bisik hati Rangga
Rangga mengikuti orang tersebut dari belakang.
Orang tersebut masuk ke toilet pria, dan Rangga juga ikut masuk.
“ Apa itu kau?” tanya Rangga.
__ADS_1
“ Ya, ini aku” jawabnya sambil membuka topi dan maskernya.
Melihat itu Rangga langsung mengunci toilet tersebut.
“ Huft..syukurlah. Aku pikir kau tidak peduli lagi dengan Luna” ucap Rangga mengambil nafas lega.
“ Apa yang terjadi dengannya, dimana dia sekarang?” tanya Tris dengan dingin tapi tetap saja terlihat khawatir.
“ Saat ini dia aman-aman saja. Ta.."
Tiba-tiba Tris mendekati Rangga dan memegangi leher baju Rangga, dan mengayunkan pukulannya ke Rangga
'brugh'
“ Berapa yang kau butuhkan? Kau tinggal bilang saj. Aku bisa memberikan dua kali lipat lebih banyak dari yang ayahku janjikan padamu” ucap Tris dengan sangat marah.
“ Kau salah paham!” ucap Rangga dan mendorong Tris untuk lepeaskannya, tapi Tris tidak melepaskannya dan Tris semakin menekan Rangga ke dinding.
“ Aku datang bukan untuk memerasmu dan yang terpenting lagi aku bukan suruhan ayahmu” jawab Rangga.
“ Jadi kau siapa?” tanya Tris dan melepaskan Rangga.
“Aaishh..pukulanmu sakit juga” ucap Rangga sambil mengusap bibirnya yang sudah berdarah akibat pukulan Tris.
“ Aku adalah teman Luna, aku ingin menemuimu karreana ada orang yang ingin mencelakai Luna, tapi dia bersembunyi di belakangmu” jelas Rangga.
“ Apa maksudmu? Kau jangan bertele-tele” Tanya Tris tidak sabaran.
“ Kami mengetahui bahwa sebelumnya Luna datang untuk menemuimu. Karena kami penasaran, kami mengikutimu ke penginapanmu dan memasang penyadap suara di kamarmu.”
“ Apa kalian menyadap kamarku?” ucap Tris sangat emosi.
“ Kau tenang dulu, dengarkan penjelasanku. Saat itu Kami mengira kamu mempunyai niat buruk padanya. Tapi tidak di sangka saat itu kami malah mendapatkan suara seorang wanita yang sedang berbicara di telvon, dia menyuruh orang tersebut unuk mencelakai Luna” Jelas Rangga.
“ Suara wanita?”.
“ Sebenarnya kami ingin menyelesaikan masalah ini tanpa melibatkanmu. Tapi kami benar-benar tidak mendapatkan informasi siapa wanita itu. Kami berfikir suara wanita itu adalah wanita yang bersamamu saat sarapan hari itu. Oleh karena itu aku ingin menemuimu!” lanjut Rangga.
“ Wanita yang sarapan denganku? itu tidak mungkin, dia adalah adikku. Meskipun ayahku tidak setuju jika aku menjalin hubungan dengan Luna, tapi adikku adalah satu-satunya orang yang mendukungku. Kau jangan asal bicara” ucap Tris memarahi Rangga.
“ Aku tidak asal bicara. Sepertinya ini sangat rumit. Kau lebih baik mendegarkan dulu rekaman ini, karena wanita itu berada di kamarmu, aku rasa dia pasti orang kau kenal” ucap Rangga sambil menyerahkan sebuah Flashdisik.
Tris mengambil flashdisk tersebut, kenudian dia memegangi keningya dia tampak frustasi.
“ Baiklah aku akan mendengarkannya. Tapi sekarang aku harus pergi. Aku sudah cukup lama, takutnya pengawalku akan mencurigaiku. Beri aku kontakmu, nanti aku akan menghubungimu” ucap Tris.
“ Baiklah” ucap Rangga sambil memberikan kartu namanya.
“ Tapi ingatlah, aku akan membuat perhitungan denganmu karena telah berani menyadap kamarku” ucap Tris dan berlalu pergi.
“ Haah,, ternyata persoalan ini lebih rumit dari yang aku bayangkan. Siapakah wanita itu?” ucap Rangga.
Rangga kemudian menghidupkan air di wsstafel dan membersihkan sisa darah di bibirnya.
“ Tapi setidaknya Tris sudah mau bekerjasama. Semoga masalah ini bisa di selasaikan dengan cepat” gumam Mark sambil menggenggam tangannya,
***
Luna sudah hampir menyelesaikan Lukisannya, dia melukis dengan sangan tenang. Begitupun Mark dia juga sudah hanyut dengan buku yang di bacanya.
Saat menyelesaikan sentuhan akhir pada Lukisannya, Luna berhenti sejenak.
“ Dia memang memiliki proporsi wajah yang sempurna. Bagaimana Tuhan tidak adil begini, kenapa memberikan seorang yang sombong dan misterius badan yang begitu sempurna?. Dia memiliki segalanya dan juga mempunyai wajah yang tampan.
Meskipun hanya mengenakan kaos dan sweter putih sederhana ini dia terlihat begitu elegant. Aku ingin berbohong kalau dia terlihat buruk, tapi itu juga sulit untuk ku lakukan” bisik hati Luna
“Pakaian putih dengan wajahnya yang lembut dan tenang saat membaca sangat menakjubkan. Tunggu..dia membaca buku The Legends of King Arthur and His Knights? Ternyata dia juga membaca buku seperti itu. Kisah raja Arthur sudah banyak di filmkan, dengar-dengarnya dalam film tersebut raja Athur sangat tampan dan dia juga memiliki banyak ksatria-ksatria tampan.
Hmm,, aku tidak tahu tentang kisah raja Arthur, tapi aku banyak mengetahui tentang kisah Dinasti Jin Barat. Pada masa itu juga banyak pria tampan.
Jika aku ibaratkan Mark ini mungkin seperti sastrawan Pan Yue/Pan An. Aku sangat ingat bagaimana buku yang aku baca mendeskripsikan ketempanannya. Dan berdasarkan dalam lukisan kontemporernya memang sangat tampan. Apakah dia memiliki silsialah keturunan dari sastrawan Pan An ?” bisik hati Luna dalam lamunannya.
“ Hei hei” ucap Mark sambil melambaikan tangannya ke Luna.
Luna tersadar dari lamunannya.
“ Eh, kenapa kau ke sini?” tanya Luna terkejut.
“ Aku sudah memanggilku ribuan kali tapi kau tidak menjawabku” jawab Mark kesal.
“ Benarkah? Ah haha,, maaf maaf” ucap Luna canggung.
“ Kau kenapa melamun begitu memandangi Lukisanku? Apa kau sudah jatuh cinta padaku?” tanya Mark menggoda Luna.
“ Enak saja. Aku kagum dengan karyaku. Meskipun sudah beberapa bulan tidak memegang kuas ini, tapi kemampuanku tidak berkurang sama sekali. Lihatlah lukisanku bukankah sangat sempurna” ucap Luna
“Hmm.. coba ku lihat” ucap Mark sambil membungkuk dan wajahnya berdekatan dengan Luna.
"Tapi di bandingkan lukisan ini, coba kau lihat aslinya, mana yang lebih menarik” ucap Mark menatap Luna.
Lunapun menatap Mark, “ Tentu saja hasil lukisanku lebih menarik” jawab Luna.
“zhrttttt..”
ponsel Mark yang berada di atas meja bergetar . Mark dan Lunapun langsung melihatnya.
“ Panggilan dari Dr. Mico”
__ADS_1
Mark mengambil ponselnya dan ekspressinya langsung berubah.