
Pagi harinya Luna bangun dari tidurnya, sedikit menguap dan membuka matanya perlahan.
“Hoaahh! tidur yang berkualitas.” dia kembali memejamkan mata.
Sesaat kemudian dia tersadar, dan membuka matanya kembali.
“Ini bukan kamarku,” Luna sangat terkejut dan kembali mengingat.
“Semalam.. aaa, aku di bawa Mark ke kamar hotel.” tiba-tiba panik.
“Aku dan Mark semalam berduaan di kamar hotel?”
Dia bergegas memeriksa pakaiannya.
“Ah, syukurlah semuanya aman tidak ada masalah."
Bodoh, bisa-bisanya dia tertidur dengan mudah. Bagaimana jika pria itu berbuat macam-macam, apa kau tidak takut Luna?! Dia memukul kepalanya.
Luna melihat ke samping, kasur di sampingnya masih rapi. Sepertinya pria itu tidak tidur di sini semalam. Dia saja yang berfikir berlebihan.
Luna melihat di meja sudah tersedia sarapan. Dia mendekati meja tersebut dan membuka penutup makanan tersebut.
Ada dua potong roti bakar kesukaannya, beberapa potong buah, segelas susu dan air putih.
Luna tersenyum. Apa orang-orang di hotel masih ingat dengan seleranya? Ini sudah cukup lama tidak mengunjugi hotel ini.
Luna mengambil gelas yang berisi susu. Ternyata ada secarik memo yang di tempel di balik gelas susu tersebut.
S****arapanlah dengan baik. Aku sudah mengirim pengawal untukmu, mereka berjaga di pintu kamar. Pulang dengan mereka. Semua keperluan mu ada di lemari.
“Jadi... si brengsek ini yang memesan ini?”
Tiba-tiba sesikit kecewa, dia berharap orang di hotel yang menyiapkan ini untuknya.
“Sudahlah, lebih baik aku makan. Untuk apa aku berharap orang lain untuk selalu mengingatku. Lagian ini sudah cukup lama, pasti sudah banyak pergantian pegawai.” celoteh Luna dan langsung menyantap sarapannya.
Selesai sarapan, beristirahat sejenak, kemudian mandi
.
.
Luna tengah mengeringkan rambutnya dengan Hairdryer, tiba-tiba ponselnya bergetar. Luna melirik layar dan ternyata panggilan dari Si Brengsek!
“Mau si brengsek ini menelepon?" Luna tidak senang, tapi tetap menjawab panggilan
“Ada apa?"
“Kamu kenapa lama sekali? siput saja iri denganmu karena kau mengalahi kelambatannya.” Mark memerahi Luna.
Luna terkejut dan menjauhkan ponselnya dari kupingnya.
“Kamu tidak bisa bicara dengan lembut sedikit ya? siput? sekarang kamu membandingkanku dengan seekor siput? haha... anda romantis sekali Tuan muda. Aku ingin meneteskan air mata karena skin terharunya.“ teriak Luna Balik dengan sangat kesal.
“Kamu memang pantas di sandingkan dengan siput. Sekarang dengar baik-baik, aku tunggu kau 10 menit lagi harus sampai di rumah.” ucap Mark dengan nada mengancam.
“Ah apa-apan ini, 10 menit? Mana bisa. Aku belum siap-siap. Mark brengsek apa kamu gila?! perjalanan dari hotel ke krumah saja menghabiskan 26 menit, 42 detik.”
Mark malah memutuskan panggilan.
Tut! tut! tut!
“Apa? Dia mengakhiri panggilan lagi sebelum mendengarkan kalimatku? dasar brengsekkkk sialaannnn!" teriak Luna ke ponselnya dengan panggilan yang sudah terputus.
Luna mengambil nafas panjang.
“Aku harus tetap tenang, tidak boleh marah. Aku harus tenang.”
Dia mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada Mark.
“Kita Lihat saja, aku akan mengerjaimu.” Luna senyum jahat.
***
Mark, Rangga dan Key sedang berbincang di ruang kerja Mark.
Ting!
1 messagge dari Luna.
Mark membuka pesan tersebut, alangkah terkejutnya dia membaca pesan tersebut.
“ Aishh, aku harus ke rumah sakit. Kalian lanjut saja diskusinya.“ ucap Mark dengan sangat Khawatir dan langsung berjalan dengan cepat
“Eh ada apa? Siapa yang sakit? ” Tanya Rangga.
Mark tidak menghiraukannya.
“Rangga lebih baik kita ikuti saja dia.“ ucap Key.
“Ok ok, aku setuju. Siapa yang sakit, sampai dia segitunya.” Rangga penasaran.
Rangga dan Key mengikuti Mark. Ketika mereka sudah sampai di bawah, Mark sudah melajukan mobilnya dengan kencang. Rangga dan Key dengan cepat memasuki mobil. Rangga mengambil yang mengemudi juga melajukan mobilnya dengan cepat.
Para pengawal kebingunang melihat mereka.
__ADS_1
“Ada apa? kenapa mereka seperti main kejar-kejaran.”
“Lebih baik kamu diam saja, kita tidak perlu ikut campur urusan mereka.” ucap pengawal lainnya.
"Kenapa kehidupan pengawal sangat menyedihkan begini. Kami melihat banyak hal setiap harinya, tapi kami tidak berhak membuka mulut bahkan sedikit bicara saja tidak bisa. Kami harus selalu diam dan berdiri dengan tegak. Jika ada musuh hadang, jika tidak ya diam begini saja. Parahnya lagi, apabila tuan muda dan nona Luna bertengkar kami selalu di hadapkan dengan situasi sulit.” celoteh pengawal tersebut dalam hatinya dengan sedih.
“Yoo! coba ku tebak. Ini pasti ada kaitannya dengan Luna.” ucap Key sambil berpegangan erat.
Rangga yang menyetir sedikit melirik Key,
“Aku juga berfikiran begitu. Tapi, setahuku Luna sekarang masih di hotel.”
"Terus jika bukan Luna, siapa lagi orang bisa membuat dia seperti ini?” ucap Key dengan yakin.
“Kamu benar, tapi aku harap Luna baik-baik saja.”
“Luna, apa yang terjadi denganmu? Siapa yang menyakitimu.” bisik hati Rangga.
Ekspresi wajah Rangga berubah dan Rangga menambah kecepatan laju mobilnya.
Key memperhatikan Rangga. Ada apa dengan ekspressinya ini?
Luna masih sedang asyik merias dirinya, dia senyum-senyum sendiri di depan kaca.
Ponselnya bergetar.
Panggilan dari Rumah. Luna dengan semangat menjawab telepon tersebut.
“Halo, bagaimana Zhaon?”
“Iya Nona, baru saja Tuan muda keluar. Tuan pergi dengan sangat bergegas.” ucap Zhaon.
“Haha... bagus.”
“Nona, memangnya apa yang terjadi?”
“Tidak terjadi apa-apa. Hanya sedang senang. Sudah ya, Zhaon. Aku tutup dulu.” ucap Luna dan memutuskan panggilan.
Luna tersenyum puas sambil menyisir rambutnya.
“Sudah selesai, sekarang saatnya mengenakan pakaianku.” Luna berjalan menuju lemari.
Membuka lemari, di sana ada sebuah gaun berwarna ungu pastel yang sudah di gantung.
“Bukankah ini Gaun Channel musim ini, ini edisi terbatas. Bagaimana dia bisa mendapatkan gaun ini? Aku saja tidak berhasil mendapatkannya hari itu.”
Luna mengambil bagpaper yang ada di dalam lemari tersebut.
“Ini memang ukuranku. Jangan bilang si berengsek itu yang membelikan semua ini untukku! Rasanya aku tidak punya muka lagi untuk berhadapan dengannya.” rengeknya.
Ada flat shoes juga, memang menyediakan semuanya.
Luna segera mengenakan pakaiannya dan merapikannya di cermin.
Setelah selesai beres-beres, diq langsung pergi keluar.
“Nona.” dua orang pengawal seraya membungkuk.
“Ayo, kita langsung pulang saja."
.
.
Dalam perjalanan pulang, Luna sibuk membaca katalog dengan serius, kemudian dia ingat sesuatu dan menutup katalognya.
“Oh iya, nanti selama dalam perjalanan jika Mark mennghubungi kalian. Jangan di jawab.” perintah Luna
“Tapi, Nona... “
“Hum, begini kakak pengawal, meskipun Mark adalah Tuan kalian, tapi sekarang kalian sedang bekerja untukku. Jadi kerjakan saja apa yang ku perintahkan, oke?” ucap Luna dengan santai.
Ponsel salah satu pengawal tersebut bergetar.
“Apakah itu dia?” tanya Luna.
“Iya, Nona.”
“Dia panjang umur. Abaikan saja!”
“Baik, Nona.”
Luna tersenyum puas, “Sepertinya rencanaku berjalan dengan lancar.”
***
Luna memasuki rumah dengan bernyanyi-nyanyi kecil dengan ceria, dia merasa berhasil mengerjai Mark.
Ketika memasuki ruang tamu, langkah Luna terhenti.
Ini.. ini tidak mungkin?
Mark sedang duduk di kursi dengan ekspressi yang menyeramkan.
__ADS_1
Key duduk dengan santai, karena dia memag tidak mengerti dengan apa yang terjadi jadi hanya bersikap masa bodoh.
Sementara Rangga terlihat gelisah dan dan mondar mandir di depan Mark dan Key.
Ketika menyadari kedatangan Luna, mata ketiga laki-laki itu menatap Luna.
Apa yang terjadi? Sekarang dia harus bagaimana? Sepertinya diacsedang dalam keadaan yang tidak menguntungkan.
Luna menundukkan kepalanya, berusaha mengabaikan orang itu dan berjalan menuju tangga dengan rasa khawatir.
“Apakah sangat menyenangkan bisa mengerjai orang, Luna?” tanya Mark dengan nada marah.
Langkah Luna terhenti. Siapapun, tolong aku....
Luna berusaha untuk tenang.
“Apa maksudmu Mark? Aku tidak mengerjai mu. Pesan itu aku hanya bercanda.” ucap Luna merusaha memelas.
Pesan apa yang kamu krim Luna? aku selalu mengkhawatirkanmu. Tapi, kamu selalu saja berani bermain-main dengan Mark. Sejak awal aku sudah memiliki firasat buruk saat melihat ekspressi Mark yang seperti ini. Rangga benar-benar khawatir.
Sementara Key hanya kebingungan melihat situasi ini.
Aku benar-benar tidak tahu apapun. Tadi ku masih bisa santai walaupun Mark memasang ekspresi yang tidak mengenakkan ini. Tapi, sekarang aku mulai merinding. Susasananya sangat mencekam.
“Pesan seperti itu, kamu bilang bercanda? Hah, aku pikir nyawamu sangatlah berharga bagimu, tapi kamu sendiri menggunakannya untuk bahan candaan.” ucap Mark.
Luna tertegun mendengar ucapan Mark, dia hanya diam dan tak bisa berbicara apapun lagi.
Mark mendekati Luna, “Kamu ingatlah, nyawa orang tuamu ada di tanganku. Termasuk nyawamu, hanya aku yang boleh menghilangkan nyawamu. Bahkan dirimu sendiri tidak boleh menghilangkannya.” ucap Mark dengan nada mengancam.
Mendengar ucapan Mark, mata Luna langsung memerah karena menahan amarahnya, tangannyapun mengepal.
“Ada apa dengan tatapanmu yang seperti itu? apa sekarang kau menyumpahiku di dalam hatimu?”
Luna tetap diam, dia menatap Mark dengan penuh kebencian.
“Heh, sudahlah. Sekarang kemasi barangmu. 30 menit lagi kita ke bandara.” ucap Mark dan berlalu pergi.
Luna menatap punggung Mark, kemudian dia menunduk. Dia berusaha menahan air matanya.
Rangga mendekati Luna, "Nona Luna, sebenarnya ini ada apa?”
Luna yang sudah berusaha menahan tangisnya, tapi arena di tanya oleh Rangga, akhirnya dia tidak bisa menahan air matanya lagi.
Luna menangis tersedu-sedu.
“Ya menangislah, jangan ditahan. Akan sangat menyakitkan bila Nona menahannya.” ucap Rangga dengan lembut.
“Kenapa dia bisa berbicara seperti itu kepadaku? tadi aku benar-benar hanya ingin sedikit mengerjainya saja. Dia membuatku kesal, aku ingin membalasnya, lalu aku mengirimkan pesan. Dalam pesan itu aku mengatakan aku terpeleset di kamar mandi, badanku sakit semua dan banyak darah di keningku dan aku dalam perjalan ke rumah sakit."
Mendengar penjelasan Luna, Rangga hanya menggelengkan kepala. Dia mengambil napas panjang.
“Baiklah, lain kali jangan melakukan hal seperti itu lagi. Jangan pernah berfikir untuk mengerjainya lagi. Nona tahu, bagaimana reaksinya ketika membaca pesan yang nona kirim tadi tadi?”
Luna melihat Rangga dan menggelengkan.
“Nona kamu tahu, dia langsung meninggalkan diskusinya dengan kami. Padahal kami sedang membahas hal yang sangat penting. Dia menyusulmu ke rumah sakit, dia melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, sehingga hampir mengalami kecelakaan. Untung saja pengawal yang bersama Nona mengirimkan pesan padaku, dia mengatakan bahwa Nona baik-baik saja. Barulah aku bisa menghentikan Mark agar tidak bersikeras lagi untuk tidak melanjutkan pergi ke rumah sakit.” jelas Rangga.
Luna menyapu air matanya, “ Aku tidak mengirakan akan separah itu.” ucap Luna.
Namun disaat bersamaan Luna mendapat kesimpulan lainnya. Memang tidak ada yang bisa dia percaya di rumah ini sekarang. Pengawal itu memang tidak menghubungi Mark, tapi menghubingi Rangga itu sama saja artinya.
“Baiklah aku mengerti, aku ke atas dulu.” ucap Luna.
Luna menatap Key sekilas.
“Hai, Luna.” sapa Key.
"Jika aku tahu kakak mengenal Mark, maka aku tidak akan pernah minta tolong sama kakak." ucap Luna dengan dingin.
“Luna, aku bisa jelaskan ini.”
“Sudahlah, aku tidak butuh penjelasan apapun. Sekarang aku sudah mengenal dengan baik bagaimana sifat orag di sekitar Mark. Sekalinya Orang Mark, ya akan tetap akan menjadi orangnya.” setelah kalimatnya, dia menaiki tangga.
“Sepertinya dia akan membenciku.“ ucap Key dengan sedih.
***
Bandara Internasional XX.
Mark, Luna, Key dan Rangga menaiki jet pribadi. Sekarang sedang lepas landas.
Luna duduk berjauhan dengan Mark.
“Apakah dia benaran akan membawaku untuk menemui papa dan mama? Atau hanya untuk menipu media, bahwa kami telah pergi keluar negeri untuk menemui orang tuaku?”
Begitu banyak pertanyaan di hati Luna.
“Sudahlah, aku tidak boleh berharap terlalu banyak. Dengan sifatnya yang seperti itu, dia tidak mungkin semurah hati itu kepadaku. terlebih lagi aku baru saja membuat dia marah. Sepertinya, alasan kedualah yang tepat, dia hanya ini menipu media.”
Mark, Key dan Rangga sedang berdiskusi. Luna hanya memperhatikan mereka dari kejauhan.
“Kolombia?"
Kemudian Luna memejamkan matanya.
__ADS_1