
Langit Beijing tampak sudah menggelap, siang telah berganti malam. Langit Beijing di hiasi dengan letusan dan ledakan kembang api yang begitu indah. Karena sebentar lagi musim semi dan untuk menyambut musim semi tersebut begitu banyak festival diadakan.
Sementara di dalam gedung Cour Media, tepatnya di ruang Presdir yang megah, terlihat Key merebahkan kepalanya di atas meja. Matanya terpejam dan juga tidak bergerak sama sekali.
“ Tuan boleh saya masuk.” Panggil seorang wanita dari luar sambil mengetuk pintu.
‘ tok tok ‘ sudah beberapa kali ketukan dan 2 kali panggilan, tapi tidak ada respon sama sekali.
“ Kenapa tidak ada jawaban? Tidak mungkin tuan tidak ada di dalam kan? Kata kak Ketrin, seharian dia tidak melihat tuan keluar dari ruangannya.”
Bisik hati wanita itu. Dia terlihat bingung, memegang erat dokumen di tangannya, lalu berbalik badan.
“Eh, tapi dokumen ini tuan sendiri yang memintanya dengan segera di selesaikan.” Bisik hatinya lagi. Dia mengambil nafas panjang, lalu berbalik badan.
“Tuan saya masuk ya. Saya mengantarkan dokumen yang tuan minta.”
‘ krek’ dia membuka pintu, mengintip sedikit sebelum membuka pintu dengan lebar.
“Tuan..” teriaknya dengan sangat terkejut karena melihat Key yang merebahkan kepalanya. Dengan segara dia masuk dan mendekati meja Key.
“Tuan , anda kenapa? ” ucapnya khawatir sambil meletakkan dokumen di atas meja, lalu mendekati Key.
Saat dia sudah berda di samping Key, wanita itu tidak berani menyentuh atasannya. Wajah tampan yang memejamkan mata tak sadarkan diri itu membuatnya mematung.
“Oh my God, ternyata Presdir Cour sangat tampan.”
Wanita itu malah terpesona hingga matanya tak berkedip sedikitpun. Dipandangnya, siluet wajah Key dengan seksama. Dia melihat kelopak Mata Key tertutup dengan halus serta deru nafas Key yang tenang dan halus.
“Dia hanya tertidur?”
bisik hatinya seraya dengan senyum di bibirnya. Sekali lagi dia memperhatikan wajah Key, hingga dia tak sadarkan diri berjalan mendekat.
Entah keberanian dari mana, dia menekan telunjuknya ke pipi Key, hingga Key memberikan respon dengan sedikit mengerutkan keningnya.
“ Haha.. manis sekali.” Teriak hatinya dengan antusias.
‘ tuk tuk ‘ di tusuknya kembali Key, lalu dia memingkemkan bibirnya untuk menahan tawa. Sungguh wanita itu telah hilang kesadaran akan dirinya, hingga berani berbuat demikian pada atasannya.
“Apa ini?”
Key bermonolog dengan kesadarannya yang entah dimana. Tiba-tiba dia mendengar tawa-tawa kecil.
“ Nindy.. berhenti bertinggkah seperti bocah.” Teriak Key kesal sambil menangkap tangan wanita itu dan membuka matanya lebar.
‘duuuarttt ‘ suara guntur keras seakan menjadi backsound dari moment itu.
Mata keduanya saling bertemu. Wanita itu gelagap terkejut, apalagi Key yang masih merebahkan kepala itu.
“Mati aku.”
Wanita itu menelan ludah, lalu dia berusaha menarik tangannya dari genggaman Key.
__ADS_1
“ Siapa kamu?”
Key menahan tarikan wanita itu dan mengangkat kepalanya. Dia menatap tajam wanita itu. Siapa wanita asing ini, dia sungguh tidak pernah melihatnya.
“Apa Cour sudah tidak menjaga keamanan lagi? Sampai-sampai ada wanita ini berkeliaran di ruanganku.”
“Maafkan saya tuan muda Cour.” Ucap wanita itu seraya dengan gerak tubuhnya yang langsung berlutut di depan Key.
“ Tuan Cour? Haha.. wanita dari mana ini?”
Key di buat kesal dengan sebutan itu. Lalu dia menatap wanita yang sudah berlutut itu.
Wanita itu menundukkan kepalanya. Tangan kirinya tampak meremas tepi roknya yang selutut. Sementara tangannya yang di pegang Key terlihat gemetaran dengan jemarinya yang dikepal.
“Ibu maafkan aku. Sepertinya aku telah membuat masalah besar. Hiks..”
“ Hei kau belum menjawabku,” Key berucap dengan menggoyangkan tangan wanita yang di pegangnya.
“Sa-saya Lery Mu.” Terbata-bata wanita itu menjawab. Tangannya menggenggam lebih erat tepi roknya. Tetap menunduk dan menggigit bibirnya penuh kecemasan.
“Hey aku di sini, apa kau berdialog dengan lantai?”
Dengan cepat wanita itu mengangkat kepalanya dan menatap Key.
“Saya Lery Mu tuan.” Dia mengulang kalimatnya dengan suara bergetar.
“Kau sudah mengatakan hal yang sama. Media atau adikku yang mengirimmu?”
“Lalu?”
“Aku..”
‘ Zhhrtt..' getar ponsel Key memotong kalimat wanita itu. Key langsung menoleh pada ponselnya yang terletak di meja. Tampak di layar nama Nindy.
“ Ini dia si setan kecil. Apa wanita ini utusan dia lagi? Cih.”
Bibir atas Key tampak terangkat seiring dengan gerutu di dalam hatinya.
“ Hei, setan kecil. Apa kau mngirim teman setanmu ke kantorku?” Tanya Key saat menjawab telepon dari sang adik.
“Hah?” wanita yang di depan Key membelalakkan matanya.
“Aku bukan setan, apalagi setan kecil.” teriak Nindy dengan kesal. Sekarang Nindy berada di dalam mobil bersama Jiang He.
“Baiklah, jika begitu ratu setan.”
“Kakak.. Kenapa kakak menyebalkan sekali.”
“Ayolah Nindy setan kecil, apa kau menelvonku karena merasa teman setanmu telah tertangkap? Kau akan sangat menyesal karena telah mengirim wanita seberani ini padaku.”
Key berucap sambil menatap wanita asing itu di depannya. Dimana wanita itu juga menatapnya dengan mengedip-ngedipkan matanya yang tampak bingung.
__ADS_1
“Kakak aku tidak mengirim wanita manapun untukmu. Hari ini aku sibuk, jadi tidak ada waktu untuk itu.”
“Sungguh bukan kau yang mengirimnya?”
“Iya. Memangnya ada apa?”
“Tidak ada apa-apa.” nada bicara Key berubah tenang. “Kapan kau kembali?” lanjutnya.
“Besok kak.”
“Hmmm, baiklah. Ingat tetap jaga dirimu.”
“Pasti kak. Aku akan menjaga diriku dengan baik.” suara Nindy terdengar sedikit lirih.
“Kau kenapa? apa pria itu menyakitimu?” Tanya Key spontan saat mendengar suara lirih adiknya.
“Haha.. tidak kakak. Kami bersenang-senang di sini. Aku hanya sedih mengingat kakak yang masih saja sendirian.” Jawab Nindy dengan tawa kecil di akhir kalimatnya. Dia tidak ingin memberitahu kakaknya mengenai hal yang telah dia alami.
Jiang He yang menyetir langsung melirik Nindy mendengar jawaban Nindy yang tak jujur pada Key. Menatap Nindy yang berbicara bohong, sementara ekspresi Nindy tampak menahan kesedihan.
“Sudahlah. Jangan menelvon jika hanya ingin mengejekku. Aku masih ada pekerjaan, aku tutup dulu.”
“Baiklah. Tapi kakak jangan bekerja terlalu lelah ya. Bye-bye.”
Nindy mengakhiri panggilannya, lalu mengusap air matanyanya dengan tangan.
“Ini.” Jiang He mengulurkan sapu tangan pada Nindy.
“Hiks, terimakasih.” Nindy sesegukkan, dan mengambil sapu tangan tersebut. Wajar saja, mana mungkin dia bisa melupakan kekasihnya yang berkhianat itu dengan cepat. Apalagi moment indah juga masih teringat dengan jelas di pikirannya.
Kembali pada Key dan wanita asing itu. Sekarang Key tampak memperhatikan tangan Lery Mu yang di peganginya, masih gemetaran dan juga terasa dingin.
“Ya Tuhan.. tanganku sudah mati rasa.” Kata hati Lery dengan mengiba.
“Sekarang jelaskan siapa dirimu.” Key memulai introgasinya.
“ Aku Lery Mu..”
“ Lery Mu , Lery Mu. Kau sudah mengucapkan itu sebanyak 3 kali. Aku tidak menanyakan namamu.” Bentak Key dengan tatapan nanarnya.
Ekspresi Lery Mu semakin membeku, tangannya tak lagi meremas roknya. Tapi meremas lututnya. Tampak sangat khawatir.
“Aku Lery Mu calon pengganti seketretaris Ketrin.” Teriak wanita itu tiba-tiba. “ Aku memasuki ruanganmu karena perintah dia. Dia harus segera pulang karena harus ke dokter kandungan, dan meyuruhku mengantarkan dokumen yang kau minta.” Lanjutnya dengan teriakan yang sama.
Key mengerutkan keningnya melihat keberanian Lery Mu. Sungguh unik wanita ini. Dia tampak polos, dan ekspresinya tampak ketakutan. Tapi bisa mengeluarkan suara keras untuk menjawab atasannya, bahkan memanggil atasannya dengan sebutan kamu.
Suasana menjadi Hening dan mereka saling bertatapan seolah ada dendam kesumat diantara keduanya.
Bersambung..
Jangan lupa like & koment ya!!!
__ADS_1