TUAN MUDA AKU BENCI KAMU

TUAN MUDA AKU BENCI KAMU
S2 BANYAK HAL


__ADS_3

“Bajing*n!! aku tidak akan membiarkan kau sedikitpun mencelakai temanku.” teriak seorang wanita penuh gejolak emosi. Matanya memerah, air matanya terus mengalir tanpa suara.


Wanita itu berdiri dengan sangat menyedihkan. Kedua tangannya di ikat dengan rantai dari dua sisi. Dia meronta berharap tenaga dari tubuh kecilnya mampu menghancurkan rantai yang melingkar di tangannya.


“Vetro, kau manusia terkutuk yang pernah aku kenal." Bergetar suaranya. Sorot matanya memandang penuh kebencian pada pria bernama Vetro itu.


Mengenakan stelan jas di lengkapi dengan topi cowboy. Vetro duduk dengan santai di depannya dan di samping Vetro ada seorang pria dengan perawakan menyeramkan. Berdiri tegap dengan badan berotot desar, kepala botak dan sorot mata yang menakutkan. Sungguh dapat membuat nyali kicut dengan hanya melihatnya.


“Haha..” Vetro tertawa dengan sangat mengerikan. Menggema di ruangan yang memilki sedikit pencahayaan itu. Hanya lampu sorot yang menerangi Vetro dan dan wanita itu. Berhenti tertawa lalu menatap nanar wanita menyedihkan di depannya.


“Bajing*n?” suara itu terdengar sangat tidak senang.


Vetro berdiri. Melepas topinya yang langsung disambut oleh pria di sampingnya.


“Misya, kau berani meneriakiku bajing*n?” mendekat dan mencengkram kasar dagu wanita yang bernama Misya itu. “Ayolah sayang! Kenapa sekarang kau sangat kasar padaku.” sangat geram kalimat itu terdengar. Matanya yang berwarna amber seperti mata srigala itu tampak ingin mencabik-cabik Misya.


“Cih,” Misya mengalih pandangannya. Sangat enggan menatap Vetro.


Sudut bibir atas Vetro terangkat menerima perlakuan ini. Dia tampak ingin bicara, tapi terhenti ketika mendengar suara resah dari sudut lain. “Kenapa ribut?” ucapnya seraya melepas dengan kasar dagu Misya. Menyapu kedua telapak tangannya seolah jijik telah telah menyentuh Misya.


“Apa hati kalian sakit melihat pemandangan ini?” memutar badan ke arah sumber suara. Tampak 2 orang pria terikat di kursi, mulut meraka juga diperban.


“Sudah ku peringatkan pada kalian, jangan bersuara ketika aku tidak berbicara dengan kalian.” melemaskan jemari dan lehernya dengan cara memutar.


“Tak” dia menjentik jarinya. Dalam seketika lampu sorot pada 2 pria itu langsung menyala. Dan ternyata 2 pria itu adalah Key dan Rangga yang sudah yang tampak sudah babak belur. Luka dan darah dimana-mana.


Key tampak sangat parah. Matanya bengkak, menghasilkan warna ungu dan becak darah di sana. Sehingga dia terlihat tak mapu membuka satu matanya itu.


Rangga meronta sekuat tenaga yang tesisa. Semantara Key sungguh terlihat lemah tidak berdaya. Pandangan mata satunya juga kabur.


“Hahaha..” lagi-lagi Vetro tertawa mengerikan. Dia tampak puas dengan pemandangan di depan matanya. “Aku sungguh menikmati ini.” masih tertawa. Usap-usap kening dan menggelengkan kepalanya.


“Kalian sungguh para pria bodoh. Berani berurusan denganku hanya demi wanita tidak tahu diri ini.” Suaranya meninggi di akhir kalimatnya. Menoleh pada pada Misya dengan tatapan menyeramkan. “Kalian tahu, dia adalah wanita licik yang penuh intrik memainkan perasaanku.” Mata srigalanya tampak berkaca-kaca. “Wanita jal*ng yang melakoni wanita polos.” Lanjutnya dengan suara memelan.


Dia mendekati pria botak berotot besar, mengulurkan tangan meminta topi. Lalu mengenakan topi cowboy nya kembali.


“Sekarang, aku sungguh tidak peduli pada wanita ini lagi.” melangkah keluar dengan arrogant.


Satu langkah lagi menuju pintu, Vetro menghentikan langkahnya. ”Hei 2 pria bodoh!! akan menyuguhkan tontonan manis untuk kalian.” seringai licik dan berlalu pergi.


Seiring perginya Vetro, maka muncullah 3 orang pria dengan tawa busuk mereka. Tawa yang membuat Misya yang mendunduk langsung menatapnya dengan ketakutan.


“Siapa kalian?” tanyanya dengan suara bergetar .”Jangan medekat!” teriaknya menggila. Sementara para pria itu tertawa dengan puasnya.


Tampak Key dengan mata sayu menahan kemarahan. Ingin melindungi wanita itu, tapi dia untuk bergerak saja tidak sanggup. Rangga kembali meronta, dibalik perban itu dia sangat rusuh. Mereka benar-benar telah di lumpuhkan.


“Hei gadis manis.” Para pria itu mendekat. Masih tertawa dan mencengkram kasar Misya.


“Cantik. Kenapa bos menyuruh kita memakannya.” Tawa kurang ajar menggelegar.


“Apa?” Misya langsung memucat mendengar kalimat itu. Dia menggeleng frustasi. “ Tidak.” Rintihnya memohon.

__ADS_1


Para pria itu tidak peduli, bahkan melihat ekspresi frustasi dan menyedihkan Misya membuat mereka malah makin bersemangat. Dengan kasar mereka merobek baju Misya dan memulai hal biadab itu.


Rangga meronta. Begitupun Key mencoba meronta, di sudut matanya keluar air mata pilu, berteriak di balik perban dengan sisa tenaga yang tidak seberapa.


‘ brugk’ dia bersama kursi ikatannya terjatuh. Sontak mulutnya mengeluarkan darah. Matanya semakin sayu, suara tangisan Misya dan tertawa para pria biadab itu masih menggelegar di telinganya.


“Kakak, kakak.” suara familiar memanggilnya.


“Misya..” teriak Key seraya bangkit dari tidurnya.


“Kakak mimpi buruk lagi?” Nindy menangis dan memeluk Key. “Mimpi apa yang sering menyiksa kakak?” tersedu memeluk Key yang masih mematung. Nyawanya belum kembali, setelah bangkit dari mimpi yang buruknya. “Kakak, berbagilah denganku.”


Key tersadar, dia menhembus nafas pelan dan mengusap keningnya. “Kakak tidak apa-apa. ini hanya mimpi.” Berucap lembut, agar tangis Nindy mereda.


“Tapi kakak cukup sering seperti ini.” melepaskan pelukan dan menatap wajah Key yang sudah mengembang senyum.


“Dasar bodoh! ini sungguh hanya mimpi buruk.” Mengusap air mata sang adik dengan sayang. ”Aku mimpi di kejar wanita jelek.” Sambil tertawa. Bohong! tapi itu lebih baik, dari pada membuat adik jahilnya ini khawatir.


“Seberapa jelekkah Misya itu?” tanyanya dengan masih tersedu.


Key diam sejenak. “Sebenarnya tidak terlalu jelek. Tapi..” kalimatnya terhenti. Seolah bingung untuk melanjutkannya dengan apa.


“Tapi kenapa?” dengan polos Nindy bertanya.


“Ah.. entahlah. Kakak benar-benar tidak bisa menilainya. Sudah jangan di bahas lagi. Sekarang kembalilah ke kamarmu.!” Menepuk lembut pipi sang adik.


“Kakak sungguh tidak apa-apa?” tanyanya masih khawatir.


“Ya ampun..!! sungguh kakak yang tidak tau terimakasih.” Celoteh Nindy menerima perlakuan seperti itu kesekian kalinya. Karena ini bukan pertama kali Key terbangun dari mimpi yang mengkhawatirkannya.


Nindy menoleh pada pintu kamar sang kakak.


”Kakak sebenarnya kau bermimpi tentang apa? raut wajahmu saat mimpi itu sangat memilukan.”


Key sudah berada di dalam kamar mandi. Dia membasahi wajahnya, lalu menatap refleksi wajahnya di cermin.


“Kenapa kenangan pahit ini muncul semakin jelas ke permukaan? Kenapa selalu menggangguku? SHITTT!!!” tinjunya memukul kuat meja wastafel.


“Misya maafkan aku.” Suara tiba-tiba lirih. Key mengusap wajahnya hingga rambutnya ke belakang. Lalu menumpu kembali yangannya di meja wastafel. Menundukkan wajah frustasi. “Kau pasti sangat membenciku kan? Hingga selalu mengingatkanku tentang ini. Baiklah, aku memang pantas mendapatkannya. Maafkan aku, aku sungguh minta maaf.”


***


Masih di Dubai. Mark dan Luna berada di desert safari atau gurun pasir yang terletak hanya sekitar 1 jam dari jantung kota Dubai. Gurun pasir yang sangat luas.


Mark dan Luna tampak sedang menaiki ATV (All Train Vehicle) , dimana Mark sendiri sebagai pengendara dan Luna berada di belakangnya.


Mereka benar-benar gila-gilaan. Naik turun bukit-bukit pasir yang seolah tidak ada habisnya. Suara pekikan Luna mengundang tawa Rangga yang juga ikut bermain di belakang mereka.


Selesai dengan ATV yang menantang. Selanjutnya, mereka menyaksikan pertunjukan elang pemburu. Elang di lepaskan. Terbang tinggi ke udara, lalu menangkap mangsa dengan tepat dan sangat cepat.


“Wah.. ini sangat keren.” Decak kagum Luna diiringi tepuk tangannya yang antusias.

__ADS_1


Tidak hanya sampai di situ. Luna juga ingin mencoba mengadu nyalinya untuk membawa elang itu sesaat. Tapi setelah beberapa kali mencoba, nyalinya tidak sekuat itu. Hingga akhirnya Mark yang mengambil alih dan dengan sangat mudah elang itu langsung bertengger di lengan Mark.


“Sayang kenapa sangat enteng sekali bagimu?” tanya Luna tampak iri.


“Haha.. mungkin elang ini betina.” Sambil tertawa dan mengusap lembut punggung elang.


“Hah? Apa kaitannya?” Luna membulatkan matanya.


“Karena tidak ada satupun wanita yang menolak pesonaku. Dan mungkin itu juga berlaku pada hewan betina, mereka kagum akan pesonaku.” Berucap tanpa malu.


“Jadi apakah elang ini sungguh betina? Hei Mark Rendra, barusan kau mengelusnya. Bukankah aku sudah bilang tidak boleh menatap lawan jenismu lebih dari 3 detik.” Dia menunduk melihat jenis kelamin elang. Sungguh konyol.


Mark terkekeh mendengar ucapan Luna serta tingkah konyol istrinya ini.


“Sayang untuk melihat jenis kelamin elang bisa di lihat dari pangkal lidahnya. Kau kenapa menunduk?” masih terkekeh sambil elus-elus lembut sang elang yang terlihat patuh.


“Aaa.. ini memalukan.” Luna langsung berdiri dan melirik pemandu elang pemburu yang masih berdiri dekat mereka.


“Apa dia mengerti bahasa Mandarin?”


Mark tau apa yang di pikirkan Luna. Masih terkekeh menikmati ekspresi bodoh istrinya ini. Sementara sang pemandu tampak senyum-senyum kecil. Sungguh dia tidak mengerti apa yang dibicarakan pasangan ini. Memang banyak bahasa asing yang dia mengerti, tapi kebanyakan hanya dasar-dasarnya saja. Yang benar-benar di kuasai hanya beberapa.


Mark berhenti tertawa, lalu menjelaskan pada Luna cara melihat jenis kelamin elang.


“Kita bisa melihat jenis kelamin elang dari warna pangkal lidahnya. Jika berwarna hitam, itu jantan. Jika lidahnya polos, biaanya itu betina.” Jelas Mark yang di lanjutkan denagn penjelasanya lainnya. Dia tampak banyak mengetahui tentang hewan ini.


Di sisi lain tampak wanita dengan pakaian kasual yang dominan hitam. Berkaca mata dan mengenakan penutup kepala, seperti mengenakan kerudung yang di lilit seadanya. Dia memperhatikan Mark dan Luna dari jarak yang tidak begitu jauh.


“Kau di sini.” suara seorang pria yang tak asing memanggilnya dari belakang. "Kenapa sangat suka bermain sembunyi-sembuyian?" lanjut pria itu yang tak lain adalah Rangga.


"Permisi/aedhirni اعذرني"


berucap dengan bahasa Arab. Lalu ingin bergegas pergi.


"Zhaon jangan mencoba untuk menipuku!"


"Ahk.. kenapa dia mengenaliku dengan mudah?"


Zhaon berbalik badan dengan cengigisan. "Tuan Rangga."


Smirk di bibir Rannga. Senang menangkap basah penguntit ini. Sepertinya kali ini Zhaon tidak akan bisa kabur dengan mudah darinya.


"Aura ini. Aku sangat mengenalnya."


Zhaon masih senyum bodoh memandang Rangga. Tapi hatinya sungguh sudah sangat khawatir.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2