TUAN MUDA AKU BENCI KAMU

TUAN MUDA AKU BENCI KAMU
S2 Key: Wanita Bodoh!


__ADS_3

Di dalam ruang tunggu khusus pengguna Private jet terlihat ada suasana aneh. Mark menatapi Rangga, keningnya berkerut, alisnya menyatu, sorot matanya penuh tanya.


Sementara Rangga tampak tersenyum memelas dengan Zhaon yang berdiri di sampingnya.


“Halo tuan.” Sapa Zhaon dengan meleambaikan tangan dan senyum cengingisan yang canggung.


“Dia akan menjadi teman wanitaku.” Ujar Rangga yang dengan arogantnya. Harus terlihat biasa, jangan buat malu.


“Ya ampun Rangga. Ternyata daya pikirmu sangat singkat. Dimana letak gengsimu yang tinggi itu sekarang?”


Mark menatapi Rangga, lalu beralih pada Zhaon. Dia masih diam, enggan mengeluarkan suara. Tidak meyangka sahabatnya tiba-tiba bodoh begini.


“Eh, tapi tunggu! Apa mungkin dia menganggap serius ucapanku waktu itu?”


Mark teringat akan gurauannya pada Rangga saat dalam perjalanan beberapa waktu lalu.


“ Sayang..” panggil Luba dari belakang. Suaranya parau dan dia terlihat sedang berbaring di sofa yang mewah.


“ Iya sayang.” Mark langsung kembali duduk. Membantu Luna bangun, lalu memberinya minum. Sementara Rangga dan Zhaon masih berdiri dengan gejolak emosi masing-masing.


“Nona kenapa, apa dia sakit?”


Zhaon mencuri pandang, lalu dengan cepat menunduk kembali.


Luna selesai minum dan kembali tidur. Dia tidak memperdulikan keadaan sekitar sama sekali, hingga tidak menyadari kebaradaan Zhaon maupun Rangga.


“Istriku sangat lelah. Kalian duduklah, tapi jangan berisik.” Ucap Mark dengan setengah berbisik, kemudian dia mengusap tangan Luna.


“Lelah? Apa itu karena olahraga yang kau maksud semalam? Tenaga apa yang kau gunakan Mark Rendra?


Rangga langsung berspekulasi sesukanya. Setelahnya dia melirik jam tangannya, lalu dia berdehem. “ Hem, tapi sekarang sudah saatnya kita berangkat Mark."


“Baiklah.” Mark langsung menggendong Luna. “ Kalian pasangan juga boleh segera pergi. kenapa menunggu kami? Atau kau juga ingin di gendong oleh Rangga Zhaon? Aku bisa meminta Rangga untuk melakukannya.” Ujuar Mark untuk sekedar menggoda 2 orang ini.


“Mark..” eram Rangga kesal.


“Haha..” tawa ringan yang menyebalkan. “Zhaon, jika kau takut pada Rangga kau boleh memintaku untuk memerintahnya. Jangan sungkan. Aku akan sedikit berbaik hati untuk urusan ini padamu.” senyum lembut, tapi menyebalkan.


Zhaon tidak sanggup menjawab, dia melirik Mark dan kembali menunduk saat mendapati mata Mark menatapnya. “Baik tuan.” Jawabnya kaku. Yah, yang penting mejawab.


“Apa?”


Rangga serasa tidak percaya mendengar Zhaon yang meladeni perkataan Mark. Sungguh gila.


“Ayolah Zhaon, kau jangan berharap lebih. Aku hanya memintamu karena terdesak. Sepertinya kau tidak mengindahkan kalimatku semalam ya.”


“Anak yang patuh.” Ujar Mark. Jalan duluan yang kemudian langsung di ikuti oleh Rangga dan Zhaon dari belakang.


“Zhaon, kau jangan berharap banyak.” Bisik Rangga dengan arrogant.


“Hah?” Zhaon melirik Rangga yang sudah menatapnya tajam. “Tidak tuan. Aku hanya asal menjawab. Semalam aku sudah bilang, jika aku sudah punya orang lain yang ku suka. Jadi, tuan tidak perlu khawatir.” Zhaon tersenyum lembut, tapi di balas dengan dengusan kesal oleh Rangga.


“Itu bagus.” Berjalan lebih cepat. Meninggalkan Zhaon yang dibuat serba salah olehnya.


“Sebenarnya harus menjawab apa. Kenapa aku selalu salah tuan?” pasrah dan mengikuti dari belakang.


***


Cour Media, China.


"Kakak ipar, aku mohon. Beri aku kesempatan. Aku berjanji tidak akan mengecewakan Nindy lagi."


Lean duduk berlutut di depan Key. Dia mengusap kedua tangannya penuh permohonan.


Di ruangan itu terdapat Lery yang berdiri di samping Key. Dia memberi beberpa dokumen pada Key, tapi tiba-tba Lean datang menerobos masuk ke ruangan Key. Sehingga suasana ini terjadi.


"Kau tidak perlu melakukan ini. Sekarang pergilah. Aku tidak ada waktu mengurus orang sepertimu. Mataku sakit melihat manusia sepertimu." acuh tak acuh dan lanjut menandatangani dokumen.


"Kakak ipar, aku.. "


'Clatak.. ' Pulpen yang di pengangi Key langsung melayang dan tepat mengenai kening Lean. Sehingga Lean langsung terdiam. Untung tidak sisi tajam pulpen itu mengenainya.


Hal ini tentu membuat Lery yang berdiri samping Key menjadi sedikit terkejut.


"Lean, kau jangan membangkitkan jiwa iblisku. Masih beruntung aku hanya memutuskan kerja sama denganmu. Apa sekarang kau menginginkan aku menghancurkan perusahaanmu?"


"Ti-tidak kakak ipar."

__ADS_1


"Jangan panggil aku dengan sebutan itu lagi! sangat menjijikkan kalimat itu keluar dari mulutmu."


Key masih berusaha menahan dirinya. Dia mengulurkan tangannya pada Lery pertanda meminta pulpen baru. Dengan cepat Lery langsung memberikan.


Key menandatangani cepat dokumen. Selesai, lalu Lery langsung mengemasinya dan berjalan keluar.


Saat Lery melewati Lean, tiba-tiba Lean berdiri dan manawan Lery. Dengan cepat tangan Lean melingkar kasar di leher Lery.


"Aa-apa yang anda lakukan?" Ronta Lery namun seketika dia diam saat Lean menodongkan pulpen yang tajam ke lehernya.


"Apa-apaan ini? aku tidak tau apa-apa kenapa malah jadi tawanan."


Mata Lery menatap penuh kewaspadaan. Dokumen di tangannya langsung Lery lempar ke sisi lain yang menurutnya aman. Tidak ingin merusak dokumen itu. Akan menyusahkan jika harus membuatnya kembali nanti.


Key menatap hal itu tenang. Dia tetap diam di kursinya.


"Kakak ipar. Jika kakak tidak mau memberiku kesempatan, maka aku akan melukai sekretaris kakak." ancamnya dengan gusar.


Key tetap diam, dia hanya memandangi tingkah bodoh pria ini. Mengancam di kandang orang lain, sama saja menceburkan diri sendiri ke dalam lubang neraka.


"Aku serius kakak. Apa kakak tidak percaya? aku sangat mencintai Nindy, aku bisa gila tanpanya." kalimat tidak tau malu keluar dari mulutnya. Semakin gusar karena Key tidak ada respon sama sekali.


Ayolah, jika memang sangat mencintai. Kau tidak akan menyakiti hatinya Lean.


"Lakukan saja. Jika kau membunuhnya, Cour cukup membayar kompensasi atas kecelakaan kerja dan kau dengan sangat mulus untuk masuk penjara." Sangat santai kalimat itu.


Key berdiri, sedikit mendekati posisi Lean menawan Lery. Geraknya tampak tidak ada ingin menyerang sama sekali, dia malah mengambil furnitur logo Cour dan mengusapnya.


"Apa? jadi nyawa karyawanmu tidak berarti apa-apa bagimu? dasar presdir gila.... "


Lery meneriaki kekesalannya dalam hati, namun tiba-tiba Lery menangkap kode dari gerak tangan Key. Dimana kode itu mengisyaratkan agar Lery untuk tetap tenang.


Lery mengerti akan kode itu, namun dia tidak peduli. Lery menginjak kuat kaki Lean dengan high heels nya. Lean yang teriak kesakitan, langsung di ambil kesempatan oleh Lery untuk merebut pulpen dan membuangnya jauh.


Saat Lery ingin melepaskan diri, Lean tampak kembali baraksi. Ada senjata pistol di pinggang Lean, namun dengan gerak cepat Key menarik Lery hingga ke dekapannya. Serta tampak Key juga mengeluarkan pistolnya.


Dan pemandangan menakjubkan tercipta. Dimana dua pria itu saling menodongkan senjata.


Deg, debar jantung Lery jangan di tanya lagi. Di kondisi yang menegangkan ini, dia berada di dalam pelukan Presdir yang selalu dia kutuk. Sungguh debar berkali-kali lipat. Apalagi Key mendekapnya erat.


Deg,


Deg,


Apalagi sekarang satu tangannya tepat menempel di dada Key. Debar jantung Key yang tetap tenang dengan jelas dapat dia rasakan.


"Nyalimu besar juga Lean. " ujar Key memecah ketegangan situasi ini.


"Maafkan aku kakak ipar." ucapnya masih saja berani memanggil Key dengan sebutan itu.


Key tersenyum sinis. Dia melepaskan Lery dari dekapannya, lalu menyuruh Lery untuk bersembunyi di belakangnya.


"Kau yakin mau melawanku?"


Lean diam. Tidak berani menjawab, dia juga semakin gusar.


Key mendekati Lean, hingga Lean memundurkan langkahnya. Dan kesempatan ini di manfaatkan Lery untuk bersembunyi di balik meja Key. Dia khawatir, dan mengintip di sana.


"Apakah akan terjadi saling tembak di sini? aku harus bagaimana?" lirihnya. "Oh iya. aku harus meminta bantuan dari luar." Lery mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan pada sekretaris lainnya.


Sekretaris yang menerima pesan, langsung terkejut membacanya. Ribut-ribut kecemasan langsung terjadi di luar.


"Aku tidak akan pernah rela melepaskan adikku pada pria bejad sepertimu."


"Kakak.. "


'brugh' Key langsung melakukan penyerangan. Saat Lean gelagap akan menjawabnya dia manfaatkan kesempatan itu.


Senjata Lean terlempar. Beberapa pukulan juga langsung melayang pada Lean.


Lery yang tadi masih sibuk saling membalas pesan, langsung mengintip kembali. Dia terkejut karena Lean sudah terkapar di lantai.


"Lean, karena ini pilihanmu. Maka mendekamlah di penjara." Key berbalik badan. Mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi orangnya.


Siapa sangka ternyata Lean yang sudah terkapar masih punya trik. Dia juga punya pisau, dia bangkit dan menyerang Key.


Lery melihat gerak Lean.

__ADS_1


"Tuan awas..!!!" teriaknya penuh kekhawatiran.


'tusk..' sedikit terlambat. Key berbalik dengan posisi dalam melakukan panggilan, pisau itu mengenai lengannya.


"Hah," Key melihat lengannya yang berdarah dengan seringai licik.


Orangnya sudah menjawab panggilan semakin mempercepat gerak mereka. Karena mereka nuga sudah mendapat kabar dari sekretaris yang di hubungi Lery.


'krak' pintu terbuka. Para pengawal lansung cengo, karena Lean sedang di ikat oleh Lery.


"Tuan maaf kami terlambat." ucap mereka cepat. Apalagi melihat lengan Key yang sudah berdarah, mereka semakin khawatir. "Cepat bereskan pria ini." lanjutnya.


Dua orang pengawal langsung mengambil alih.


"Serahkan pada kami nona." ucapnya sopan.


"Ya silahkan."


"Buat dia mendekam di penjara dengan semua kejahatan yang telah dia lakukan." titah Key.


"Baik tuan." mengeret kasar Lean.


"Tuan anda terluka." Ujar pengawal yang sedari tadi mengomando berbicara.


"Ini tidak seberapa. Kalian keluarlah."


Dengan hormat dia keluar, karena sudah sangat mengerti sifat tuannya yang tidak suka di khawatirkan.


"Tuan anda harus ke rumah sakit." Lery langsung menghampiri.


"Bukankah sebelumnya aku sudah bilang, jika aku tidak suka rumah sakit." duduk di sofa dan melepaskan jasnya.


"Mana ada. Tuan hanya bilang, jika tuan tidak suka obat resep dokter."


"Itu sama saja. Sekarang kau bantu aku membalut luka ini. Ini semua juga salahmu yang tidak mengikuti intruksiku."


Lery langsung mengangguk, karena dia juga sadar akan kesalahannya. Meskipun jawaban Key untuk tetap menolak ke rumah sakit aneh baginya.


"Dimana letak peralatan obatnya?"


"Di laci kiri mejaku."


Lery langsung bergegas mengambil.


Dia langsung membersihkan luka Key, dia melakukannya dengan sangat telaten. Matanya tak sedikitpun berkedip saat merawat luka Key. Raut wajah khawatirnya juga tergambar di wajahnya.


Tanpa sadar Key tersenyum tipis melihat pemandangan wanita yang merawatnya ini.


"Apa kau khawatir atau merasa bersalah?"


"Keduanya. Aku aku merasa bersalah dan juga khawatir. Luka ini cukup dalam."


"Jika begitu aku memberimu kesempatan untuk menebus rasa bersalahmu."


"Caranya?"


"Ikut aku ke Jepang besok."


"Hah?" Lery yang sedang membalut luka dengan perban langsung berhenti dan menatap Key.


"Aku ada kegiatan penting dan luka ku harus tetap ada yang merawat luka ku." berucap dengan sangat santai.


"Lalu bagaimana dengan pekerjaanku." wajah polosnya terlihat bingung.


"Kau pergi dengan atasanmu, kenapa masih mengkhawatirkan pekerjaan." suara Key terdengar kesal.


"Haha.. Baiklah tuan." dengan polosnya Lery menjawab, lalu dia melanjutkan balutan perban.


"Kenapa aku? ini pasti urusan pekerjaan kan? . Lery, ayolah. Dia itu presdir gila, jangan terpesona."


Lery sibuk dengan hatinya dan debar jantungnya yang ternyata tidak sepolos wajahnya yang tenang. Di dalam sana dag dig dug luar biasa menguasainya.


Bersambung...


.


.

__ADS_1


Jika like dan komentnya banyak. Aku pasti makin semangat kakak. Sekarang ini likenya semakin lama semakin sedikit saja.


__ADS_2